Jam mengunjukkan pukul 3 sore saat Robert sampai ke rumah Mike bersama Dr. Louis. Robert baru saja pulang rapat saat memutuskan pergi menjenguk Mike sekaligus membawa dokter ke rumah Mike. Robert masuk dengan santai, ia memiliki kunci cadangan. Matanya memperhatikan lantai 1, dari ruang tamu, dan dapur, namun tidak menemukan keberadaan Sean.
Langkahnya menuju kamar Mike yang memang dekat tangga. Dr. Louis mengikuti dari belakang, dalam hati ia tidak dapat menyembunyikan kekaguman nya. Ini adalah kawasan elit dan tidak semua orang bisa tinggal di lingkungan ini. Dan Mansion ini benar-benar indah dan megah. Bahkan lukisan-lukisan yang ada adalah lukisan-lukisan terkenal. Tapi suasana mansion ini sangat sunyi dan sepi. Sejak tadi ia bahkan tidak melihat satu pun pelayan.
Robert tidak tau apa yang dipikirkan dokter di belakangnya, ia hanya menuju kamar Mike dan mengetok pintu. Memanggil Mike, Robert masuk meski tidak menerima jawaban. Ia mendapati Mike duduk di sofa tidak bergerak, di hadapannya masih ada nampan makanan yang tidak tersentuh. Robert menghela napas
"Mike… kau harus makan meski hanya sedikit” ujar Robert sembari duduk di sebelah Mike.
“Aku membawa dokter. Ini Dr. Louis, ia yang akan memeriksa dan menjadi dokter pribadi ke depan"
“Halo… Mr. Anderson, saya Louis” ujar sang dokter memperkenalkan diri. Ia ingin memberikan kesan dan membangun hubungan baik dengan orang-orang kaya. Terutama yang dapat tinggal di lingkungan seperti ini. Namun Mike hanya diam, wajahnya benar-benar dingin, membuat suasana ruangan terasa canggung.
Robert memberi isyarat sang dokter untuk langsung memeriksa Mike. Louis dengan telaten segera memeriksa Mike, Mike baik-baik saja, hanya masih perlu banyak istirahat karena tekanan darahnya yang sedikit rendah, itu karena Mike tidak bisa tidur semalaman, Dr. Louis memberi vitamin tambahan untuk Mike lewat suntikan setelah memeriksa bahu dan kaki Mike.
"oh Mike..... dimana Sean?" tanya Robert
Mike hanya diam, wajahnya kembali kesal. Robert memiliki perasaan tidak enak.
‘mereka pasti bertengkar’ batin Robert, ia tidak akan menyalahkan Sean seandainya Sean marah, karena Robert sadar bagaimana sifat Mike.
Merasa tidak dijawab, Robert beranjak mencari Sean, hal yang pertama ia periksa tentu saja kamar Sean. Apa yang ia lihat kemudian membuat Robert membelalakkan matanya, panik ia berteriak
"Sean!!! Sean!! BANGUN!!"
Robert menepuk pipi Sean. Tidak ada response, langkah Robert dengan cepat menuju kamar Mike ia memanggil dokter dengan cepat
"DOKTER... DOKTER... CEPAT KEMARI!!" panggil Robert sebelum kembali menuju kamar Sean, dengan cepat mengangkat Sean ke kasur. Tubuhnya benar-benar ringan.
Mike yang mendengar teriakan Robert tentu saja ikut terkejut, ia menoleh cepat ke arah pintu, saat sang dokter bergegas keluar mengikuti Robert, Mike juga ikut berdiri, menghampiri kamar Sean dengan bantuan tongkat. Mike dapat melihat Sean yang tidak sadarkan diri sedang diperiksa oleh sang dokter, lalu sang dokter keluar untuk mengambil tas nya di kamar Mike.
"Apa yang terjadi?" tanya Mike singkat.
Ia merasa takut, mengingat Sean memiliki jantung istrinya. Ia tidak ingin jantung itu berhenti berdetak, setelah dapat tidur dengan Sean, Mike merasa istrinya belum benar-benar meninggalkannya. Ia dapat mendengarkan detak jantung istrinya yang berada di Sean.
"Saat aku menemukannya, dia sudah tidak sadarkan diri di lantai" ujar Robert
Saat itu Robert dan Mike sadar ada gelas di lantai, dan botol obat yang terbuka dengan isi yang berserakan. Mike menghampiri Sean, di saat Dr. Louis juga kembali dengan tas nya. Memeriksanya, Dr. Louis berkata
"Ia sudah tidak apa-apa. Kemungkinan besar sakit jantungnya kambuh dan rasa sakitnya membuatnya tidak sadarkan diri. Beruntung ia sempat meminum obat nya. Apa ia sempat mengeluh kan sakit sebelumnya?" papar sang dokter.
Mike diam tidak menjawab, ia tidak tahu dan hanya menggelengkan kepala, Sean tidak pernah mengeluh sakit kepadanya.
"Meski ia sudah operasi, namun ia harus menjaga kondisi fisik dan mentalnya. Jangan biarkan ia tertekan, stress, marah, terkejut atau terlalu sedih juga tidak baik untuknya, intinya emosi berlebihan tidak baik untuk jantungnya, Bagaimana pun ini tidak lama setelah dia mendapatkan donor. Dan jangan biarkan ia lupa meminum obat nya. Masih perlu waktu agar dia benar-benar pulih." tambah sang dokter
Mike terdiam sejenak, mengingat apa yang terjadi tadi, Mike merasa tau penyebab Sean pingsan.
"Apa perlu membawanya ke rumah sakit? Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan jantungnya" ujar Mike
Matanya tidak lepas dari sosok Sean yang tidak sadarkan diri. Saat orang lain mendengar mungkin itu terdengar seperti kekhawatiran Mike kepada Sean. Tapi bagi Robert yang mendengarnya, ia hanya bisa tersenyum sedih. Mike seperti itu karena jantung sang istri di tubuh Sean. Robert tmemiliki ketakutan yang tidak dapat ia jelaskan.
"Untuk saat ini tidak perlu, biarkan ia beristirahat sejenak dan ingat untuk rutin melakukan check-up. Dan.... tolong bantu aku mengganti pakaiannya. Bajunya basah, tidak baik untuk tubuhnya"
Mendengar itu Robert segera mengantikkan baju Sean dengan bantuan Louis. Robert duduk di pinggir ranjang lalu mengangkat tubuh bagian atas Sean, membuat Sean bersandar pada dadanya, lalu Robert menarik kaos Sean dibantu Louis. Mata mereka terkejut menemukan memar pada punggung dan bahu Sean, itu memar yang cukup besar. Mata Mike juga tidak lepas dari punggung Sean, karena kulit Sean yang benar-benar putih bahkan mengarah ke pucat karena jarang terkena matahari, membuat warna merah, ungu dan kebiruan begitu jelas.
Rob memandang Mike saat sadar ada bekas seperti cengkeraman di bagian bahu dan lengan Sean. Wajah Rob benar-benar menjadi serius, ia tidak buta. Jika ini Mike, maka ini sudah melewati batas. Sean masih dalam pelukan nya, kepala Sean berada di bahu Robert.. Robert dapat merasakan napas hangat Sean di lehernya, tangannya tanpa sadar memeluk Sean semakin erat saat memandang Mike.
Louis segera memeriksa punggung Sean, Louis juga tidak buta, ia memiliki firasat atas apa yang terjadi, namun memilih diam.
"Apa Sean sempat jatuh?" tanya Robert
"Ia jatuh di kamar mandi kemarin" ujar Mike. Ia merasa bersalah mengingat apa yang telah ia lakukan tadi.
"Besok, tolong pergi ke rumah sakit. Kita harus memastikan ia benar-benar tidak apa-apa. Kau Mike ikutlah, kau juga harus melepaskan jahitan pada bahu mu. Untuk saat ini biarkan saja dia istirahat dengan tenang"
Setelah selesai mengganti baju Sean mereka berbicara sejenak, tepatnya hanya Robert dan sang dokter, sedangkan Mike hanya diam, duduk di pinggir kasur, mengerutkan alis nya dan matanya tidak lepas dari Sean yang masih di pelukan Robert.
“Kalau begitu aku tidak akan mengantar dokter ke depan” ucap Robert.
Dr. Louis mengerti keadaan. Jadi ia tidak banyak berbasa-basi lagi dan segera pergi.
“Lepaskan dia” Ujar Mike dingin. Ia tidak nyaman melihat Robert memeluk Sean.
“Tidak akan sebelum kau mengatakan yang sebenarnya”
Mike semakin kesal, ia berusaha meraih Sean, namun Robert menghalau tangannya. Rob memperhatikan ekspresi Mike.
“Kau sadar bahwa ia bukan istrimu kan?”
“Aku tahu” ujar Mike, tapi ia masih meminta Rob melepaskan Sean.
“Jantung istriku di sana, kau memeluknya aku tidak peduli. Tapi karena jantungnya itu berarti kau memeluk istriku” Wajah Mike semakin mengeras.
Mendengar itu Robert tertawa sinis, sahabatnya telah kehilangan akal.
“Dengar, ku katakan bahwa bukan berarti karena jantung Bella berada pada Sean, Sean adalah Bella atau Bella adalah Sean. Mike…. kau harus merelakan Bella” Robert mengatakan kalimat terakhir dengan pelan lalu menghela napas. Sedangkan Mike diam. Ia tetap berdiri di sebelah tempat tidur Sean.
Robert akhirnya harus menaruh Sean, saat mendapatkan panggilan dari sekretarisnya. Menghela napasnya kasar, ia merasa sedikit takut untuk meninggalkan Sean sendiri dengan Mike.
“Aku akan kembali nanti” Robert bangkit hendak keluar setelah menyelimuti Sean.
“Tidak perlu” ucap Mike, ia menarik napas dan menjelaskan semuanya ke Robert secara singkat.
“Mike….. aku sudah memeriksa latar belakang Sean, dia anak yang baik. Aku yakin ia tidak bermaksud”
“Aku tau, hanya saja saat itu aku sedang emosi karena tidak dapat tidur dengan baik”
Mike benar-benar merasa bersalah. Ia sudah dewasa dan ia tau ia bersikap keterlaluan dan meluap kan emosi nya ke Sean.
"Aku harus pergi, Apa aku perlu memanggil kan orang-"
"Tidak Perlu" jawab Mike cepat dan dingin, ia tidak suka ada ide tentang orang lain memasuki rumahnya. Terlebih dengan keadaannya seperti sekarang, ia membenci pandangan mereka yang mengasihani nya, semenjak orang tuanya meninggal. Mike selalu mendapat pandangan seperti itu. Dan sekarang istrinya meninggal. Mike tidak ingin melihat tatapan mereka, Mike tidak ingin dikasihani.
'wah..... kasihan sekali dia'
'masih kecil tapi sudah yatim piatu'
'kasihan sekali hidupnya'
'yang merawat hanya kakeknya, bahkan usia kakeknya tidak lagi panjang. ckckckckc'
Suara-suara itu masih hangat di ingatan Mike. Mata-mata yang memandangnya seolah-olah ia adalah makhluk asing yang menyedihkan. Belum lagi perhatian orang lain yang berpura-pura peduli kepadanya, sedangkan di belakang berusaha mencari cara untuk menjatuhkan nya atau mendapatkan harta orang tuanya. Mike benar-benar beruntung bahwa kakeknya masih hidup saat itu, dan Mike tidak begitu bodoh untuk percaya kepada orang lain atau bahkan anggota keluarganya yang lain.
Robert akhirnya pergi, namun tetap memperingati Mike akan perilakunya. Mike hanya mengangguk, matanya kembali menatap wajah Sean yang tertidur. Mike dapat melihat dengan jelas ada jejak air mata di sana. Sean jatuh saat memandikannya, meski itu bukan sepenuhnya salah Mike. Ia ingat bagaimana Sean tidak bergerak untuk beberapa menit setelah jatuh, dan bagaimana Sean duduk dengan tidak nyaman sambil menggigit bibirnya.
‘Ia pasti kesakitan saat itu’ batin Mike
Mike ingat bagaimana Sean masih bisa tersenyum dan mengepel lantai saat itu, bahkan masih sempat mengkhawatirkan Mike, menyuruh Mike yang hendak membantunya untuk tidak bergerak karena takut Mike mengalami hal yang sama.
Lalu Mike ingat bagaimana ia mendorong Sean dan membentak nya, bahkan mencengkeram bahu dan lengan Sean kuat. Mike tidak dapat berhenti berfikir bahwa penyebab Sean seperti ini adalah karena dirinya. Mike ingat bagaimana tubuh Sean bergetar dan bagaimana Sean ter gagap saat berbicara. Jika terus diingat-ingat, wajah Sean saat itu jelas sekali menahan sakit dan pemuda di hadapannya bahkan setelah semua yang ia alami dan rasakan, masih mengingatkan Mike untuk makan. Mike merasa dirinya b******n saat ini.
Selama ini Mike, tumbuh besar di keluarga yang kaya raya, dan memiliki bisnis yang besar, Mike memiliki banyak saingan dan orang-orang yang menyembunyikan wajah aslinya. Banyak yang mendekati Mike dengan tujuan tersembunyi. Mike sudah belajar dan dituntut untuk tidak mudah mempercayai orang lain dengan mudah bahkan saudara jauhnya juga tidak dapat ia percaya. Semuanya hanya menginginkan kekayaan dan kekuasaan Mike.
Namun Mike rasa pemuda di hadapannya sedikit berbeda.
Merasa lelah, Mike naik ke tempat tidur Sean. Dengan perlahan ia menggeser Sean sedikit ke tengah, Mike ingin berbaring di sebelah Sean. namun ia tidak bisa berbaring di sebelah kiri Sean karena ia bisa memberi beban pada bahu kanannya yang masih belum pulih. Setelah ia berbaring, Mike mengelus d**a Sean, ia ingat apa yang dikatakan Robert, namun Mike tidak peduli.
"Istriku… Aku merindukanmu, baik-baiklah di sana" ujar Mike lembut sebelum menarik Sean ke pelukan nya dan memejamkan matanya.