Sean bangun dengan merasakan beban pada tubuhnya. Tubuhnya sakit namun ia juga merasa hangat. Terakhir yang ia ingat, dirinya tidak sadarkan diri di lantai yang dingin dan keras.
Sean hampir saja mendorong sosok di hadapannya saat membuka mata jika saja itu bukan Mike. Sean terkejut, matanya mencoba menangkap di mana ia sekarang. Sean berada di kamarnya. Tapi mengapa Mike bisa ada di sini? Dan bukankah Mike sedang marah dengannya? Sean berfikir mungkin Mike menemukannya, tapi mengapa Mike harus tidur di sini juga? Begitu banyak pertanyaan di kepalanya. Sean memutuskan untuk menyimpan pertanyaannya dan akan menanyakannya nanti saja. Badannya benar-benar sakit, namun ia lega bahwa jantungnya tidak sakit lagi.
Sean mencoba bangkit perlahan, namun Mike mengerat kan pelukan nya. Membuat Sean segera menatap Mike, berfikir bahwa Mike sudah bangun, namun tidak. Mike masih setia menutup matanya dan terlihat sedang tertidur lelap. Sean berusaha lagi dengan pelan.
"Tetap diam" suara berat dan rendah keluar dari Mike, suara khas orang baru bangun. Namun itu membuat tubuh Sean menegang karena terkejut dan takut, ia menoleh ke arah Mike kembali, namun mata itu masih tertutup. Sean dapat merasakan napas Mike, jarak mereka sangat dekat.
"ee... Mike.. ee...aku harus mem…buat makan malam" Bisik Sean pelan, ia masih takut dengan Mike, tidak pernah ada yang memarahi dirinya sebelumnya. Sean menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Mike yang masih setia menutup matanya. Mike tidak menjawab, dan Sean semakin tidak berani berbicara, jadi Sean hanya diam tidak berani bergerak, takut membuat Mike semakin marah.
Mike sadar pemuda di pelukan nya merasa takut, ia sedang memeluk Sean sekarang, dan tubuh Sean benar-benar kaku. Namun Mike tidak ingin melepaskan pelukan nya. Namun tidak perlu waktu lama sampai Mike melepaskan pelukan nya karena mendengar suara perut Sean yang berbunyi. Wajah Sean bersemu merah, menahan malu. Ia belum makan dari siang, dan ia tidak tahu pukul berapa sekarang. Merasa Mike melepaskan pelukan nya, Sean segera bangkit namun hal tersebut membuatnya mengerang karena sakit di punggungnya, Sean sudah berusaha menahan erangan nya dengan menggigit bibirnya, tapi hal tersebut tidak luput dari Mike.
"eee.... kenapa mmm..... kau bisa ada di sini?" tanya Sean gugup. Mike hanya diam. merasa tidak dijawab, Sean semakin gugup.
"ee... aku akan membuatkan makan malam, aku akan mengantar nya ke kamarmu" ujar Sean lalu perlahan turun dari tempat tidur. Bahu dan punggungnya sakit sekali.
'aku pasti membenturkan tubuhku lagi saat pingsan tadi' batin Sean sembari menuju dapur.
Ia menggerakkan tubuhnya, ingin merentangkan badan, namun itu sulit dan lebih sakit daripada yang ia bayangkan. Memilih menyerah Sean segera ke dapur, menghangatkan makanan tadi lalu membuat tambahan menu lain. Bagaimana pun tadi siang ia membuat makanan pas untuk 2 orang. Sean bergerak perlahan, ia berusaha untuk tidak menggerakkan tangan kirinya terlalu banyak, karena bahu kirinya sangat sakit.
"apa yang terjadi dengan bahu mu?" Sean tersentak mendengar suara berat Mike. Ia menoleh kaget melihat Mike di pintu dapur.
"ah.... kau... kau membuat ku ka…kaget... ee... hehehehe ee.... aku rasa salah tidur" ujar Sean, matanya berusaha fokus ke masakannya, tidak berani menatap Mike. Sean bahkan belum sadar bajunya sudah berganti.
Mike dapat melihat bagaimana pemuda di hadapannya menjadi sangat gugup, bahkan tadi badannya terlihat jelas bergetar dan warna wajahnya yang sudah pucat menjadi semakin pucat. Mike tidak menyangka bahwa Sean akan menjadi se takut itu kepadanya. Dan Mike merasa tidak nyaman dengan bagaimana Sean memandangnya.
'Kenapa dia berbohong?' batin Mike
Bukannya Sean seharusnya memarahi nya, namun Mike ingat bahwa Sean bekerja padanya, tidak mungkin Sean memarahi nya, namun bukannya Sean harusnya meminta tanggung jawab Mike. Atau setidaknya jujur dan meminta Mike untuk meminta maaf. Mike bukan remaja keras kepala yang tidak tau salah dan benar, meski dingin, Mike adalah sosok dewasa yang tegas serta masih memiliki hati, apalagi jika itu memang kesalahannya. Mike tau kapan ia harus bersifat keras, Mike tahu jika ia berbuat salah maka ia akan meminta maaf. Bagaimana pun Mike bukanlah orang yang penuh dengan diri sendiri.
"eee... kau… eee… kembalilah ke kamar. Aku akan membawakan makananmu nanti" ujar Sean tersenyum,
Mike dapat melihat senyum itu bukan senyum biasa yang Sean lemparkan.
"Aku akan makan di meja makan mulai malam ini, jadi besok tidak usah membawa ke kamar. Dan tidak perlu memasak banyak" ujar Mike lalu beranjak pergi menuju ruang tamu, menyalakan televisi.
Setidaknya ia tidak membuat Sean kesulitan membawa nampan berisi makanan penuh ke kamarnya, bahkan saat Mike perhatikan tadi, Sean seperti masak dengan satu tangan, dan hanya menggerakkan tangan kirinya sesekali.
‘Apakah seharusnya aku tidak perlu membiarkan dia memasak? Tapi masakannya benar-benar enak’ Mike menghela napas, ia merasa egois. Jelas Sean sedang cedera.
‘Mulai besok saja’ batinnya kembali, lagi pula Sean sudah mulai memasak dari tadi.
Namun berbeda dengan niat baik Mike, Sean mengira bahwa Mike masih marah dengan kejadian tadi siang, dan tidak ingin Sean masuk ke kamarnya. Memikirkan itu Sean sedih. Ia benar-benar tidak bermaksud untuk menjatuhkan bingkai foto Mike. Itu 100% ketidak sengajaan karena Sean terkejut. Besok Sean akan keluar untuk membeli bingkai baru, mungkin dengan begitu Mike akan memaafkan nya. Sengaja tidak sengaja, fakta nya adalah tetap Sean yang memecahkan.
Mike fokus dengan berita di televisi yang sedang menyiarkan berita tentang turunnya saham di beberapa perusahaan, dan Mike dapat melihat bahwa saham perusahaan nya masih stabil, namun tidak dikatakan tinggi seperti sebelumnya. Mike sadar ia melupakan kewajibannya sebagai seorang CEO perusahaan. Ia mengingatkan dirinya untuk menghubungi Robert nanti. Setidaknya ia dapat bekerja dari rumah sebelum benar-benar kembali ke kantor. Setidaknya ia dapat mengalihkan perhatiannya dari mendiang sang istri. Ia memang berduka, tapi perusahaan yang dibangun ayah dan kakek nya sejak lama tidak bisa ia lupakan begitu saja.
Sibuk dengan pikirannya ia tidak sadar Sean sudah di hadapannya
"Mike.... " panggil Sean membuat Mike keluar dari lamunan nya
"Aku masih perlu waktu untuk selesai memasak, aku buat kan teh hangat tanpa gula dan kue. Eeee.... aku tahu kau tidak suka manis atau camilan, aku mencoba membuatnya sesuai dengan selera mu. Aku harap kau menyukai nya" ujar Sean sedikit takut dan gugup, takut membuat kesalahan lagi dan membuat suasana hati Mike memburuk.
Mike memperhatikan Sean sejenak sebelum mengalihkan pandangannya pada kue di depannya, dilihat dari mana pun itu terlihat seperti kue coklat yang manis. Tapi ia lebih terkejut melihat bagaimana Sean begitu memperhatikannya. Akan lebih baik jika Sean berbicara tanpa rasa gugup dan takut.
"Kapan kau membuatnya?" tanya Mike
"Ah...mmmm.... itu baru tadi siang. Aku membuatnya sebelum membuat makan siang, aku kira kau akan bosan jika hanya makan masakan" ujar Sean terdengar sekali gugup kali ini, bahkan tangannya memainkan ujung bajunya, jika orang melihat, maka mereka akan mengira Mike sedang membully Sean sekarang.
Mike terdiam, itu berarti Sean membuat ini dengan keadaan bahu dan punggungnya seperti itu? Merasa tidak enak menolak setelah apa yang terjadi, Mike mencoba kue buatan Sean, mata Mike melebar, sedangkan Sean gugup menunggu reaksi Mike.
Mike tidak menyangka bahwa kue di hadapannya terasa enak dan sesuai dengan selera nya. Mike tidak suka camilan atau makan-makanan manis. Saat dia suntuk maka kopi akan menjadi pilihannya, namun kue buatan Sean benar-benar sesuai selera nya, tidak begitu manis, ada rasa pahit dari dark chocolate yang dominan dan sedikit rasa jeruk. Mike mengangguk.
"Eeee… kalau begitu aku kembali ke dapur" ujar Sean.
Mike hanya mengangguk, masih sibuk menikmati kue di hadapannya. Mike sedikit tersenyum, setelah makan kue suasana hatinya menjadi lebih baik, melihat bagaimana Sean sangat memikirkan nya, hati Mike menjadi hangat.
Tapi untuk seorang Mike, tentu saja ia tidak akan mengakuinya secara terang-terangan.
Setelah makan malam, Sean memberanikan diri memberanikan diri untuk berbicara.
"Eee..… Mike..… aku minta maaf" ujar Sean takut-takut.
Mike yang mendengar itu mengangkat sebelah alis nya. Tidak mengerti
"Maksudmu?"
"Mengenai bingkai foto mu, aku benar-benar tidak sengaja. Aku mengambilnya bermaksud meletakkannya kembali pada tempatnya saat membereskan tempat tidur" ucap Sean bersungguh-sungguh.
"Lupakan" ujar Mike cepat.
Sadar bahwa tadi emosi memang menguasainya. Mike berfikir dia harus minta maaf dengan benar juga. Besok ia akan mengajak Sean ke rumah sakit.
"Aku akan ke kamar" ujar Mike lagi.
"Aku akan membantu mu"
Sampai di depan kamar Sean hanya diam. Membiarkan Mike masuk sendiri. Mike yang melihatnya dibuat heran lagi. Biasanya Sean akan menuntunnya sampai ke tempat tidur.
"Apa yang kau lakukan di sana?" ujar Mike melihat Sean yang masih berdiri di luar.
Mendengar itu Sean terkejut lalu menundukkan kepala
"Aku.....eeee… kau mungkin tidak ingin aku untuk masuk ke kamarmu" ucap Sean pelan, namun Mike dapat mendengarnya dengan jelas karena karena kondisi rumah yang sunyi dan sepi.
Mike yang mendengar jawaban Sean mengerutkan alis nya tidak mengerti
"Darimana kau bisa mengatakan hal seperti itu?"
"Eeee...... karena kau ingin makan di ruang makan, kau pasti tidak ingin aku masuk ke kamarmu" Sean mencoba mengangkat kepalanya, namun saat matanya bertemu dengan mata biru ke abuan milik Mike, kepala Sean kembali menunduk dengan cepat.
Mike menghela napas melihat tingkah Sean
'Salah paham' batin Mike
"Tidak seperti itu. Kemari lah" ujar Mike
Lalu masuk ke kamar diikuti Sean, ia duduk di sofa dan meminta Sean untuk duduk di sebelah nya. Melihat Sean yang masih menundukkan kepalanya Mike meminta Sean untuk mengangkat kepalanya
“Sean lihat aku” ucap Mike, nada nya masih dingin, tapi ini memang nada yang biasa ia pakai.
Sean yang terkejut segera mengangkat kepalanya, matanya bertemu Mike. Mike melihat mata besar berwarna coklat itu sedang menatapnya takut. Mata yang indah itu berkilat akibat air mata yang Sean coba bendung.
"Hei…. jangan menangis, apa aku menakuti mu? Aku minta maaf atas tindakan kasar ku siang tadi. Aku tidak bermaksud menyakiti mu, karena kurang tidur, suasana hatiku benar-benar buruk" ujar Mike cepat, tangan kirinya ia angkat untuk menyentuh wajah Sean. Bahkan nada bicara Mike benar-benar berubah menjadi lembut. Jangan tanya mengapa Mike melakukan itu, Mike bahkan tidak sadar.
Sean hanya mengangguk, ia takut jika ia mengatakan sesuatu, maka ia akan menangis. Bagaimana pun ia lelaki besar berusia 28 tahun. Dan catatan yang ia perlu ingat adalah memastikan Mike untuk tidur cukup ke depan.
Mike menghela napas lagi sejenak
"Kau.... Robert menemukan mu tidak sadarkan diri di lantai, bajumu basah jadi saat menggantinya kami melihatnya. Besok kita harus memeriksakan cedera mu ke rumah sakit dan aku juga perlu melepas jahitan ku"
“Cedera?” tanya Sean bingung
Mike memandangnya heran
"Aku tau bahu dan punggungmu sedang cedera. Aku melihat memar besar di sana?"
"Eh??" Sean hanya mengerjap
"Kau tidak tahu?"
"Aku memang merasa sedikit sakit, tapi aku tidak tahu jika itu memar?" ucap Sean jujur sembari memiringkan kepalanya berfikir. Gerakan kecil yang membuat Mike merasa pemuda di hadapannya terlihat mengemaskan.
'Sedikit sakit? Bahkan kau tidak bisa bergerak bebas dan memasak dengan 1 tangan' batin Mike sembari menggelengkan kepalanya.
“Jadi jangan pikirkan masalah foto. Aku tidak marah denganmu lagi. Apa kau memaafkan ku?” tanya Mike memastikan
“Iya” Sean mengangguk, hatinya merasa lega. Seumur hidupnya ia tidak pernah memiliki hubungan buruk dengan orang lain. Jadi saat berfikir bahwa Mike akan membenci nya atau marah padanya, Sean merasa tidak nyaman dan khawatir.
Mike melihat Sean yang begitu menurut merasa senang, seperti ada perasaan puas dalam dirinya. Mengangkat tangannya, ia mengusap rambut Sean. Itu terasa lebih lembut dan halus dari pada yang ia kira. Benar-benar nyaman untuk disentuh.
Baik Mike dan Sean tidak sadar bahwa ke depan, Mike akan memiliki kebiasaan baru.