Minggu itu menjadi lebih sibuk bagi Satria. Proyek di kota cabang menghadapi masalah pada jadwal pengiriman, dan ia harus bekerja lebih lama untuk mengoordinasikan tim. Ia mengirim pesan kepada Bia bahwa panggilan mereka mungkin tertunda. Bia membalas agar ia menyelesaikan urusannya dan memberi kabar ketika bisa.
Malam itu Bia menunggu kabar sampai larut. Satria tidak menghubungi lagi. Bia mulai merasa gelisah, tetapi ia mencoba mengingat kesepakatan mereka: ia akan memberi kabar jika jadwal berubah. Ia telah melakukannya sebelumnya, namun kali ini ia tidak tahu apakah Satria sedang terlalu sibuk atau kembali menghilang.
Pagi berikutnya, Bia mengirim pesan singkat menanyakan apakah semuanya baik-baik saja. Satria membalas beberapa jam kemudian bahwa ia pulang sangat larut dan tertidur. Ia meminta maaf karena tidak memberi kabar lagi. Bia merasakan kecewa yang lama muncul kembali.
Ia tidak membalas dengan mengatakan semuanya baik-baik saja. Ia menulis bahwa ia memahami Satria sibuk, tetapi ia berharap ia tetap mengirim satu pesan singkat sebelum tidur. Satria menjawab bahwa ia seharusnya melakukan itu dan berjanji akan memperbaiki.
Bia menatap layar ponsel. Ia tidak ingin menjadikan satu kejadian sebagai bukti bahwa Satria tidak berubah, tetapi ia juga tidak mau mengabaikan pola yang pernah terjadi. Ia memutuskan berbicara langsung pada panggilan mereka berikutnya.
Satria menelepon malamnya. Ia menjelaskan masalah pengiriman dan tanggung jawabnya di proyek. Bia mendengarkan, lalu berkata ia tidak marah karena panggilan tertunda. Ia kecewa karena setelah memberi tahu jadwal berubah, ia tidak mendapat kabar lagi. Satria meminta maaf dan berkata ia bisa mengirim pesan singkat meski pulang larut.
Bia bertanya apakah ia realistis bisa menepati kebiasaan itu. Satria menjawab ia tidak bisa menjamin tidak pernah lupa, tetapi ia akan membuat pengingat dan mengabari jika ada perubahan. Bia berkata ia tidak ingin menjadi pengawas yang harus menagih kabar. Jika hal ini terus berulang, mereka perlu menilai apakah hubungan jarak jauh memang cocok.
Satria diam sejenak, lalu mengakui ia takut Bia akan mengakhiri hubungan. Bia menjawab ia tidak sedang mengancam. Ia hanya ingin mereka jujur tentang dampak kebiasaan mereka. Satria berkata ia akan berusaha bukan karena takut putus, tetapi karena ia tahu Bia berhak mendapat komunikasi yang jelas.
Percakapan berakhir tanpa pertengkaran, tetapi Bia masih merasa sedih. Ia bercerita kepada Mamak bahwa ia tidak tahu apakah perubahan Satria akan bertahan. Mamak berkata Bia tidak perlu memutuskan hari itu. Ia dapat melihat bagaimana Satria bertindak setelah meminta maaf.
Dua hari kemudian, Satria mengirim pesan sebelum rapat malamnya dimulai, mengatakan kemungkinan pulang larut dan tidak bisa menelepon. Ia bertanya apakah mereka bisa berbicara esok pagi. Bia menerima. Pesan itu membuatnya merasa didengar, meski ia tahu konsistensi masih perlu dibuktikan.
Pada pagi berikutnya, Satria menelepon tepat waktu. Ia meminta maaf lagi atas kejadian sebelumnya, tetapi Bia mengatakan ia tidak perlu meminta maaf berulang kali jika ia sudah memperbaiki tindakan. Mereka berbicara singkat sebelum Satria bekerja.
Bia merasa hubungan mereka bisa bergerak maju, tetapi hanya jika usaha tidak berhenti setelah satu percakapan. Ia ingin melihat bagaimana mereka menghadapi tekanan, bukan hanya bagaimana mereka berbicara saat keadaan tenang.
Nunu mendapat kabar bahwa ia lolos ke tahap wawancara berikutnya. Kali ini ia diminta mempresentasikan contoh rencana kegiatan pendidikan. Ia menghubungi Bia untuk menceritakan kabar itu, lalu bertanya apakah ia boleh meminta pendapat tentang susunan presentasinya.
Bia bersedia melihat drafnya. Nunu mengirim beberapa halaman dan menjelaskan bagian mana yang ia ragu. Bia memberi komentar tentang alur dan contoh yang digunakan. Nunu tidak langsung menerima semua saran; ia mempertimbangkan dan mengubah bagian yang menurutnya tepat. Bia senang melihat ia percaya diri mengambil keputusan.
Mereka berbicara melalui panggilan video sebentar. Nunu bercerita bahwa ia ingin mendapatkan pekerjaan itu, tetapi ia juga takut jika diterima harus pindah ke kota lain. Bia bertanya apakah ia akan menerima jika tawaran datang. Nunu menjawab ia akan mempertimbangkan jarak, gaji, dan kesempatan berkembang. Ia tidak akan memilih hanya karena dekat dengan Bia.
Bia mengapresiasi jawaban itu. Ia mengatakan Nunu harus memutuskan berdasarkan kehidupannya sendiri. Nunu setuju dan berkata ia tidak ingin lagi menempatkan Bia sebagai pusat dari semua rencananya.
Sementara itu, Satria memberi tahu bahwa proyeknya membutuhkan tambahan tenaga dan ia mungkin harus bekerja akhir pekan. Ia mengabari lebih awal dan bertanya apakah Bia ingin mengubah jadwal panggilan. Bia menyetujui untuk menunda. Ia menyadari Satria kini lebih sering mengomunikasikan perubahan, tetapi kejadian panggilan yang terlewat masih terasa di pikirannya.
Bia membicarakan hal itu dengan Sanah. Sanah bertanya apakah Bia merasa hubungan mereka menjadi lebih baik atau hanya lebih tertata. Bia menjawab ia belum bisa membedakan. Mereka memang lebih jujur soal jadwal, tetapi ia belum merasa dekat seperti dulu. Sanah berkata kedekatan emosional membutuhkan waktu dan tidak selalu kembali dengan sendirinya.
Bia bertanya apa yang harus ia lakukan. Sanah menjawab ia tidak perlu memaksa perasaan. Ia dapat memberi tahu Satria bahwa komunikasi membaik, tetapi ia masih merasa ada jarak. Bia tahu Sanah benar, namun ia belum siap menyampaikan semuanya melalui pesan. Ia menunggu waktu yang tepat untuk berbicara.
Akhir pekan itu, keluarga Bia mengadakan makan malam sederhana. Bia membantu Mamak, sementara Riska dan Nur menyiapkan meja. Mereka berbicara tentang hal-hal ringan. Bia merasa nyaman berada di antara keluarganya. Ia tidak ingin keputusan hubungannya membuat rumah dipenuhi ketegangan.
Satria menelepon setelah makan. Ia bertanya apakah Bia ingin berbicara lama. Bia menjawab ia lelah dan lebih baik mereka bicara esok hari. Satria berkata tidak apa-apa dan berharap Bia beristirahat.
Bia menghargai bahwa ia tidak memaksa, tetapi ia merasa percakapan mereka mulai berpusat pada penjadwalan. Ia ingin kembali berbagi hal-hal pribadi, bukan hanya menyepakati kapan bisa bicara. Ia berniat mengatakan itu ketika mereka berbicara lagi.
Malam itu, Nunu mengirim ucapan semoga Bia menikmati waktu bersama keluarga setelah melihat foto yang diunggah Riska di grup. Bia membalas terima kasih. Ia merasa tenang bahwa Nunu tidak menuntut perhatian, tetapi ia juga tidak ingin membandingkan kelembutan Nunu dengan jarak Satria. Setiap orang memiliki hubungan berbeda dengannya.