Bia dan Satria berbicara melalui panggilan video pada hari berikutnya. Satria berada di ruang kerja sementara, dan Bia duduk di kamarnya. Mereka sempat bertukar cerita tentang akhir pekan masing-masing. Bia kemudian mengatakan bahwa ia ingin membicarakan sesuatu yang tidak praktis.
Ia berkata komunikasi mereka lebih teratur, dan ia menghargai Satria memberi kabar saat jadwal berubah. Namun ia masih merasa jauh secara emosional. Mereka sering membahas pekerjaan dan waktu panggilan, tetapi jarang berbagi hal yang lebih pribadi. Bia bertanya apakah Satria juga merasakannya.
Satria tampak berpikir lama. Ia mengakui ia merasa hubungan mereka sedang hati-hati. Ia takut membuat Bia tidak nyaman jika terlalu banyak membicarakan masa depan atau perasaan. Bia berkata ia tidak meminta Satria menebak batas, tetapi ia ingin mereka berani membuka percakapan selain urusan jadwal.
Satria bertanya apa yang Bia ingin dengar. Bia menjawab ia tidak mencari kalimat tertentu. Ia ingin tahu bagaimana perasaan Satria menjalani hubungan ini dan apakah ia masih menginginkan kedekatan dengannya, bukan hanya mempertahankan status.
Satria berkata ia masih menyayangi Bia dan ingin hubungan mereka berhasil. Namun ia merasa bersalah karena proyeknya menyita waktu dan tidak bisa berada di dekat Bia. Bia bertanya apakah ia ingin tetap mencoba atau hanya takut mengakhiri. Satria menjawab ia ingin mencoba, meski ia belum tahu bagaimana membuat jarak terasa lebih kecil.
Bia berkata ia pun belum tahu. Ia tidak ingin memaksa mereka kembali menjadi pasangan seperti sebelumnya. Mereka perlu membangun kedekatan yang baru, jika memang masih menginginkannya. Satria setuju dan berkata ia akan berusaha membagi cerita yang lebih pribadi, bukan hanya kabar pekerjaan.
Mereka lalu membicarakan masa kecil, hal yang membuat mereka bangga, dan kebiasaan yang ingin mereka ubah. Satria bercerita bahwa ia sejak lama merasa harus menjadi orang yang selalu berhasil untuk keluarganya. Bia mendengarkan dan memahami mengapa ia begitu banyak bekerja, tetapi ia mengingatkan bahwa ia tidak bisa menebak semua tekanan itu jika Satria tidak bercerita.
Bia bercerita bahwa ia sering takut dianggap menuntut. Karena itu ia memilih diam dan menunggu Satria bertanya. Ia ingin berhenti melakukan hal tersebut. Satria berkata ia juga ingin berhenti menganggap diam Bia berarti semuanya baik-baik saja.
Panggilan itu berlangsung lebih lama dari biasanya. Setelah selesai, Bia merasa lebih dekat, tetapi belum yakin. Ia tidak ingin satu percakapan menyelesaikan semua jarak. Namun ia merasakan bahwa mereka masih punya keinginan untuk memahami satu sama lain.
Sore harinya, Nunu mengabari bahwa presentasi wawancaranya selesai. Ia belum tahu hasilnya, tetapi merasa cukup puas dengan penampilannya. Bia mengucapkan selamat dan bertanya apakah ia sudah beristirahat. Nunu berkata ia akan makan bersama Noval.
Bia tersenyum membaca pesan itu. Nunu sedang membangun kehidupannya, Satria sedang berusaha menjaga hubungan dari jauh, dan Bia masih belajar memahami apa yang ia inginkan. Tidak ada keputusan final pada hari itu, tetapi ia merasa sedikit lebih berani untuk tetap jujur.
Ia menutup ponsel dan keluar membantu Mamak. Hidup di rumah tetap berjalan. Bia ingin mengingat bahwa dirinya bukan hanya seseorang yang sedang memilih antara dua laki-laki. Ia juga anak, saudara, sahabat, dan seseorang yang memiliki masa depan sendiri.
Nunu menerima telepon dari lembaga pendidikan tempat ia mengikuti wawancara. Mereka menawarkan posisi yang sempat ia lamar. Nunu meminta waktu sehari untuk membaca rincian tanggung jawab dan gaji sebelum memberi jawaban. Ia tidak ingin menerima hanya karena lega akhirnya mendapat pekerjaan.
Ia mengabari Bia setelah berbicara dengan Noval. Bia mengucapkan selamat dan bertanya apakah ia merasa cocok dengan tugasnya. Nunu menjelaskan bahwa pekerjaannya akan berhubungan dengan penyusunan program belajar dan laporan kegiatan. Ia tertarik, tetapi masih perlu memahami jam kerja dan masa percobaan.
Bia menyarankan agar ia menanyakan hal-hal yang belum jelas kepada pihak lembaga. Nunu berkata ia akan melakukannya. Ia tidak meminta Bia menentukan pilihannya. Bia merasa senang melihatnya membuat keputusan secara mandiri.
Satria menelepon malam itu sesuai jadwal. Ia mendengar kabar tentang pekerjaan Nunu dari Bia dan mengucapkan selamat. Bia terkejut karena Satria tidak terdengar kesal. Satria berkata ia masih belajar mengelola rasa cemburu dan tidak ingin menghalangi keberhasilan orang lain.
Bia menghargai jawaban itu, tetapi ia mengingatkan bahwa hubungan Nunu dengannya tetap perlu memiliki batas. Satria setuju. Ia tidak meminta Bia mengurangi komunikasi atau menolak undangan jika Nunu kelak merayakan pekerjaannya.
Mereka kemudian membicarakan satu bulan waktu yang mereka sepakati untuk menilai hubungan. Satria bertanya apakah Bia siap mengevaluasi. Bia menjawab ia ingin berbicara jujur, meski belum tahu apa hasilnya. Satria berkata ia juga ingin begitu.
Sebelum menutup panggilan, Satria bercerita bahwa proyek di kota cabang berjalan cukup baik. Perpanjangan tugasnya belum diputuskan, tetapi ia menerima sinyal bahwa perusahaan ingin ia tinggal lebih lama. Bia mengingatkan bahwa mereka perlu membicarakan itu segera setelah ada kepastian.
Satria setuju. Bia merasa ada dua kabar besar yang datang hampir bersamaan: Nunu akan memulai pekerjaan baru, sedangkan Satria mungkin semakin lama tinggal jauh. Ia tidak ingin mencampuradukkan perasaan terhadap keduanya.
Keesokan harinya, Nunu bertanya kepada lembaga tentang jadwal kerja, masa percobaan, dan kesempatan pelatihan. Ia akan menjalani masa percobaan tiga bulan. Tugas awalnya membantu penyusunan bahan kegiatan, berhubungan dengan pelaksana program, dan membuat laporan di bawah pemeriksaan staf yang lebih berpengalaman. Kunjungan lapangan akan mengikuti jadwal tim, bukan berarti ia langsung dipindahkan ke kota lain.
Ia membaca kembali rincian gaji dan jam kerja bersama Noval. Tidak semua pertanyaannya berakhir dengan jawaban yang menyenangkan; beberapa hari kegiatan memang dapat jatuh pada akhir pekan. Nunu mencatat bagian itu sebelum menyatakan menerima. Setelah mengirim jawabannya, ia menutup berkas dan menghela napas.
'Sekarang jangan bilang dosen yang bikin lo telat bangun,' goda Noval.
'Gua belum pernah pakai alasan itu. Belum,' balas Nunu. Ia tertawa, lalu memasang pengingat untuk hari pertamanya.
Barulah ia mengabari keluarga Bia. Pesannya pendek, tetapi kali ini ia tidak menambahkan bahwa pekerjaan itu akan membuatnya lebih pantas dicintai. Ia sendiri yang akan menjalaninya, termasuk bagian yang melelahkan.
Bia mengucapkan selamat. Ia merasa bangga, tetapi tidak menganggap pekerjaan Nunu akan mengubah hubungan mereka. Nunu akan mulai membangun hidupnya sendiri, dan Bia ingin menghormati itu.
Malamnya, ia menulis di buku bahwa evaluasi dengan Satria semakin dekat. Ia belum tahu apakah hubungan mereka cukup kuat untuk melanjutkan jarak yang lebih panjang. Namun ia berjanji tidak akan menjawab hanya karena takut menyakiti atau kehilangan seseorang.