Bia mulai memikirkan apa yang ingin ia lakukan dalam beberapa bulan ke depan. Ia ingin mengembangkan keterampilan kerajinannya dan membantu Mamak membuat produk kecil untuk dijual di warung. Ia belum tahu apakah orang akan tertarik, tetapi ia ingin mencoba.
Ia membicarakan gagasan itu dengan keluarga. Bapak mendukung, tetapi mengingatkan agar Bia tidak mengeluarkan biaya terlalu besar sebelum tahu minat pembeli. Mamak menyarankan membuat beberapa contoh dulu. Riska menawarkan diri membantu memilih warna dan mengambil foto.
Bia menyusun rencana sederhana: membuat beberapa tempat pensil dan kantong kecil, lalu menawarkan kepada tetangga dan teman. Ia tidak ingin membebani diri dengan target besar. Ia hanya ingin melihat apakah ia menikmati prosesnya.
Nunu mendengar tentang rencana itu dari Riska. Ia mengirim pesan menawarkan bantuan memotret produk, tetapi menanyakan lebih dulu apakah Bia menginginkannya. Bia menerima tawaran itu. Nunu datang bersama Noval pada akhir pekan dan mengambil beberapa foto dengan ponsel. Mereka bekerja bersama keluarga, tanpa mengatur waktu berdua.
Bia merasa nyaman dengan cara itu. Nunu tidak menjadikan bantuan sebagai alasan untuk mengungkit perasaan. Ia memberi beberapa saran tentang pencahayaan, lalu menyerahkan pilihan akhir kepada Bia.
Setelah foto selesai, Nunu bertanya apakah Bia ingin berjalan sebentar. Bia menjawab ia ingin tetap bersama keluarga hari itu. Nunu menerima tanpa kecewa. Ia berkata mereka bisa berbincang lain kali.
Bia menyadari ia masih belum siap membangun hubungan romantis. Ia meminta Nunu duduk sebentar bersama di beranda dan menjelaskan bahwa ia ingin menjaga persahabatan, tetapi tidak bisa menjanjikan perasaan akan berubah. Nunu berkata ia memahami. Ia masih mencintai Bia, tetapi ia tidak akan meminta jawaban atau menunggu dengan syarat.
Bia menghargai kejujuran itu. Ia berkata jika persahabatan terasa menyakitkan bagi Nunu, ia boleh mengambil jarak. Nunu menjawab ia akan jujur jika itu terjadi. Mereka tidak membuat janji selamanya.
Malamnya, Bia mengunggah foto produk pertamanya di grup keluarga. Riska memberi nama pada kantong kecil itu, dan semua orang tertawa. Bia merasa senang melihat sesuatu yang ia buat sendiri mendapat perhatian.
Ia tidur dengan pikiran tentang rencana kecil untuk minggu berikutnya. Ia masih belum tahu apakah suatu hari akan mencintai Nunu. Namun ia tahu ia tidak perlu menjawab sekarang. Hidupnya mulai dipenuhi oleh pilihan yang berasal dari dirinya sendiri.
Bia sedang menata kain dan benang di meja ketika Riska menyodorkan daftar pesanan kecil dari beberapa tetangga. Ada dua tempat pensil dan satu kantong sederhana. Jumlahnya tidak banyak, tetapi cukup membuat Bia tersenyum. Ia memeriksa tanggal yang diminta, menghitung bahan, lalu berkata ia hanya akan menerima pesanan yang bisa diselesaikan tanpa terburu-buru.
Riska duduk di sampingnya dan membantu mencatat warna pilihan pembeli. Bia mengingatkan agar ia tidak menjanjikan tanggal yang belum mereka pastikan. Ketiga pemesan bersedia menunggu setelah dijelaskan jadwalnya. Ada tetangga lain yang meminta barang jadi besok; Bia menawarkan contoh yang sudah tersedia, tetapi orang itu memilih membeli di tempat lain. Bia sedikit kecewa, namun tidak menambahkan janji yang tidak sanggup ia tepati.
Mamak melihat cara Bia menyusun pesanan dan berkata ia tampak menikmati kegiatan itu. Bia menjawab ia senang, meski takut hasilnya tidak cukup baik. Mamak menyarankan agar ia menunjukkan contoh sebelum menerima pesanan berikutnya. Bia setuju.
Sore itu, Sanah datang membawa beberapa contoh kain yang mungkin bisa digunakan. Ia tidak langsung memutuskan pilihan untuk Bia. Mereka membandingkan warna dan tekstur, lalu Bia memilih sendiri. Sanah berkata ia senang Bia menemukan kegiatan yang membuatnya bersemangat.
Bia mengakui kelas kerajinan membantunya melewati hari-hari setelah berpisah dengan Satria. Namun ia tidak ingin kegiatan itu hanya menjadi cara melupakan hubungan lama. Ia benar-benar menyukai proses membuat sesuatu. Sanah berkata ia bisa menikmati hobi tanpa harus menjadikannya terapi atau usaha besar.
Nunu mengirim pesan menanyakan apakah Bia sudah menerima banyak pesanan. Bia membalas bahwa jumlahnya masih kecil dan ia sedang mengatur waktu. Nunu menawarkan bantuan mengambil foto tambahan untuk barang yang baru selesai. Bia berkata ia sudah meminta Riska membantu, tetapi ia berterima kasih atas tawarannya.
Nunu menerima tanpa tersinggung. Ia berkata ia senang Bia memiliki proyek sendiri. Bia merasa nyaman dengan respons itu. Mereka berbicara sebentar tentang pekerjaannya, lalu mengakhiri percakapan.
Malamnya Bia mulai mengerjakan tempat pensil pertama. Ia mengukur kain dengan teliti dan menjahit perlahan. Ketika satu sisi miring, ia tidak membuang seluruh hasilnya. Ia membongkar jahitan kecil dan mencoba lagi. Riska menemaninya sambil mengerjakan tugas sekolah.
Bia merasa lelah, tetapi kali ini kelelahan itu datang dari hal yang ia pilih. Ia tidak menunggu pesan dari siapa pun. Ia sedang membangun sesuatu yang bisa ia lihat dan sentuh, sesuatu yang tumbuh dari waktu dan kesabarannya sendiri.
Keesokan pagi, Bia membuat jadwal pengerjaan di kertas besar dan menempelkannya di dekat meja. Ia membagi pesanan berdasarkan tingkat kesulitan dan menuliskan kapan ia bisa mulai. Riska menyebut jadwal itu seperti jadwal kantor, tetapi Bia menjawab ia perlu mengaturnya supaya tidak menerima lebih dari kemampuannya.
Pesanan pertama selesai lebih cepat daripada perkiraan. Bia memeriksa setiap jahitan, lalu meminta Mamak memeriksa bagian dalamnya. Mamak menemukan satu benang longgar. Bia memperbaikinya sebelum menyerahkan barang. Ia merasa proses pemeriksaan itu penting, meski membuat pengerjaan sedikit lebih lama.
Tetangga yang memesan datang mengambil barang dan menyukainya. Ia membayar sesuai harga yang disepakati dan bertanya apakah Bia bisa membuat satu lagi untuk hadiah. Bia tidak langsung menjawab iya. Ia melihat jadwalnya dan mengatakan ia perlu dua minggu. Tetangga itu setuju.
Bia merasa bangga karena bisa menyampaikan waktu dengan jelas. Ia tidak lagi menganggap menolak pesanan cepat sebagai kegagalan. Kualitas dan waktu istirahat sama pentingnya. Bapak mendukungnya dan berkata usaha kecil perlu tumbuh sesuai kemampuan.
Malamnya, Bia menuliskan biaya bahan dan waktu pengerjaan. Ia menyadari keuntungan masih kecil, tetapi pengalaman itu memberinya pelajaran tentang mengelola pesanan.
Satria mengirim pesan setelah beberapa minggu tidak berbicara. Ia menanyakan kabar Bia dan berkata ia berharap semuanya baik. Bia membaca pesan itu setelah menyelesaikan satu jahitan. Ia tidak merasa marah, tetapi juga tidak ingin membuka percakapan panjang.
Ia membalas bahwa dirinya baik dan sedang sibuk dengan kegiatan kerajinan. Satria bertanya apakah ia sudah membuat banyak barang. Bia mengirim foto tempat pensil yang baru selesai. Satria memuji hasilnya dan berkata ia senang Bia menemukan hal yang membuatnya bahagia.
Bia berterima kasih. Satria kemudian bertanya apakah ia bersedia berbicara sebentar melalui telepon. Bia mempertimbangkan, lalu menjawab ia bersedia jika pembicaraan mereka tetap ringan dan tidak membahas kemungkinan kembali bersama. Satria menyetujui.
Mereka menelepon malam itu. Satria bercerita tentang pekerjaannya dan bagaimana proyek berjalan. Ia tidak meminta Bia menenangkan dirinya atau bertanya apakah ia merindukannya. Bia bercerita tentang pesanan pertamanya dan kesalahan jahitan yang harus dibongkar. Mereka tertawa mengenang hal-hal ringan.
Di akhir panggilan, Satria mengatakan ia masih memikirkan hubungan mereka, tetapi ia memahami Bia meminta jarak. Ia tidak ingin mengubah sapaan sederhana menjadi tekanan. Bia berkata ia menghargai kejujurannya, namun ia belum ingin membuka kembali pembicaraan tentang masa depan mereka.
Satria menerima. Ia berkata ia hanya ingin memastikan Bia baik-baik saja. Bia menjawab ia baik, tetapi perlu tetap menjalani jarak. Mereka menutup panggilan dengan sopan.
Setelah itu Bia merasa campur aduk. Ia senang berbicara tanpa pertengkaran, tetapi panggilan tersebut mengingatkannya pada hubungan yang baru saja ia lepaskan. Ia bercerita kepada Mamak bahwa Satria menghubunginya. Mamak bertanya apakah Bia merasa tertekan. Bia menjawab tidak, tetapi ia perlu menjaga batas.
Mamak menyarankan agar Bia melakukan apa yang terasa tepat baginya, bukan membalas karena kasihan. Bia mengangguk. Ia tidak ingin memberi Satria harapan hanya karena hubungan mereka dulu penting.
Keesokan hari, Satria mengirim pesan terima kasih karena Bia bersedia berbicara. Bia membalas singkat. Ia tidak memblokir atau menghapus nomor Satria. Ia hanya memilih untuk tidak membuka percakapan rutin.
Bia kembali mengerjakan pesanan. Ia menyelesaikan satu kantong kecil dan meminta Riska memeriksa resletingnya. Resleting itu bekerja baik. Bia merasa bangga. Ia menyadari hubungan lamanya boleh tetap menjadi bagian masa lalu tanpa menentukan setiap langkahnya sekarang.