Sanah mengajak Bia mengikuti bazar kecil di lingkungan mereka. Bazar itu berlangsung satu hari dan memberi kesempatan kepada warga menjual hasil kerajinan serta makanan. Bia ragu karena ia baru memiliki beberapa barang. Sanah berkata ia tidak perlu menjual banyak; ia bisa ikut untuk melihat apakah orang tertarik.
Bia membicarakannya dengan Mamak dan Bapak. Mereka mendukung selama ia tidak mengeluarkan biaya besar. Bia memutuskan membuat beberapa contoh tambahan dan mendaftar satu meja kecil. Riska ingin membantu menghias meja, sementara Bapak menyarankan membuat daftar harga yang jelas.
Selama beberapa hari, Bia bekerja selepas membantu warung. Ia mengatur waktu agar tidak tidur terlalu larut. Ketika merasa lelah, ia berhenti dan melanjutkan esok hari. Ia ingin bazar menjadi pengalaman menyenangkan, bukan tekanan untuk membuktikan dirinya mampu menghasilkan uang.
Sanah membantu membuat kartu nama sederhana. Mereka memilih nama yang tidak terlalu resmi karena Bia masih belum yakin apakah akan menjadikan kerajinan itu usaha. Bia menulis namanya sendiri pada kartu, bukan nama keluarga atau nama orang lain. Ia merasa senang melihat sesuatu yang sepenuhnya miliknya.
Nunu mengetahui rencana bazar dari grup keluarga dan bertanya apakah Bia ingin bantuan mengangkat barang. Bia menerima tawaran itu karena barang-barangnya cukup banyak untuk dibawa. Ia menjelaskan bahwa ia ingin tetap bersama Sanah dan keluarga selama bazar. Nunu berkata ia mengerti dan akan datang hanya sebagai teman yang membantu.
Pada hari bazar, Bia tiba lebih awal bersama Mamak dan Riska. Mereka menata barang di meja dan menyusun harga. Sanah datang membawa makanan untuk dijual di meja sebelah. Nunu tiba kemudian bersama Noval dan membantu mengangkat kotak.
Bia mengucapkan terima kasih. Nunu tidak tinggal terlalu dekat dengan meja. Ia berjalan melihat bazar bersama Noval dan sesekali kembali menanyakan apakah Bia membutuhkan bantuan. Bia merasa nyaman karena Nunu tidak menuntut perhatian khusus.
Beberapa pengunjung tertarik pada tempat pensil dan kantong kecil. Mereka bertanya apakah Bia menerima pesanan warna tertentu. Bia menjelaskan ia bisa membuat pesanan sederhana, tetapi membutuhkan waktu. Ia mencatat nama dan pilihan warna, tidak langsung menjanjikan tanggal.
Pada siang hari, satu kantong kecil terjual. Bia tersenyum lebar. Jumlah uangnya tidak besar, tetapi itu hasil dari barang yang ia buat sendiri. Mamak memeluknya dan Riska bertepuk tangan.
Nunu mengucapkan selamat tanpa membuat momen itu menjadi tentang dirinya. Bia berterima kasih dan kembali melayani pengunjung. Hari itu berjalan ramai dan melelahkan. Saat bazar ditutup, Bia merasa bangga karena berani mencoba.
Dalam perjalanan pulang, Sanah bertanya apakah Bia akan ikut lagi jika ada bazar berikutnya. Bia menjawab mungkin, setelah menghitung waktu dan bahan. Ia ingin terus mencoba, tetapi dengan cara yang sehat.
Seorang pengunjung menghubungi Bia setelah bazar dan meminta dua kantong dengan warna berbeda. Bia menyampaikan biaya dan waktu pengerjaan sebelum menerima pesanan. Pembeli itu setuju. Bia merasa lebih percaya diri karena kini ia tahu berapa lama satu barang dibuat dan berapa bahan yang dibutuhkan.
Ia menuliskan pesanan di buku lalu menentukan malam mana yang akan dipakai untuk menjahit. Ia tetap menyisakan waktu untuk keluarga dan istirahat. Mamak memuji perencanaan itu. Bia merasa kegiatan kecilnya mulai menjadi bagian nyata dari hidupnya.
Setelah bazar, Bia mendapat beberapa pesanan tambahan. Ia membuat daftar waktu pengerjaan dan memilih hanya pesanan yang sanggup diselesaikan. Bapak membantu menghitung keuntungan, sedangkan Riska membantu mengambil foto barang. Bia merasa seluruh keluarga ikut mendukung, tetapi keputusan tetap berada di tangannya.
Nunu mengirim pesan bahwa ia senang melihat Bia berhasil menjual satu barang. Bia berterima kasih. Nunu lalu mengatakan ia ingin menyampaikan sesuatu, tetapi tidak menuntut jawaban. Bia berkata ia bersedia mendengar selama Nunu memahami bahwa ia belum siap untuk hubungan baru.
Nunu menelepon malam itu. Ia berkata ia masih mencintai Bia, tetapi ia sedang belajar mencintai tanpa menganggap Bia harus membalas. Ia tidak meminta Bia memilihnya sekarang atau menjanjikan masa depan. Ia hanya ingin jujur bahwa perasaannya belum hilang.
Bia mendengarkan dengan tenang. Ia bertanya apa yang Nunu harapkan dari dirinya setelah pengakuan itu. Nunu menjawab tidak ada. Ia ingin Bia tahu, tetapi ia tidak ingin pengakuan itu menjadi beban. Jika Bia lebih nyaman menjaga jarak, ia akan menghormati.
Bia berkata ia menghargai kejujuran Nunu, tetapi ia belum dapat memberi jawaban romantis. Ia baru saja mengakhiri hubungan dengan Satria dan ingin berdiri sendiri untuk sementara. Nunu menjawab ia mengerti.
Mereka berbicara tentang masa lalu, termasuk saat Nunu tinggal di rumah Bia dan bagaimana ia sering terlalu cepat menganggap kedekatan sebagai tanda cinta. Nunu meminta maaf lagi karena pernah membuat Bia merasa harus menanggapi rayuannya. Bia berkata ia juga pernah membiarkan batasnya kabur karena takut menyakiti Nunu.
Percakapan itu membuat Bia melihat bahwa Nunu memang berubah, tetapi ia tidak ingin perubahan itu otomatis menjadi alasan untuk menerima cintanya. Ia perlu mengenal Nunu dalam bentuk yang baru dan melihat apa yang ia sendiri rasakan.
Nunu berkata ia tidak akan menunggu dengan janji yang membuat Bia merasa terikat. Ia akan melanjutkan pekerjaan dan hidupnya. Jika mereka tetap berteman, ia ingin persahabatan itu nyata, bukan cara tersembunyi untuk mendekati Bia.
Bia berterima kasih. Ia merasa lega karena dapat berbicara jujur tanpa harus menolak dengan kasar. Nunu tidak terdengar marah. Ia berkata ia berharap Bia bahagia, dengan siapa pun atau sendiri.
Setelah telepon berakhir, Bia duduk cukup lama. Ia merasakan kehangatan terhadap Nunu, tetapi belum tahu bentuknya. Ia tidak akan memburu jawaban. Ia ingin waktu menguji perasaannya, bukan tekanan dari luar.
Keesokan pagi, ia kembali bekerja pada pesanan. Ia memotong kain dengan lebih percaya diri. Ada banyak hal yang masih perlu dipelajari, tetapi ia tidak lagi merasa harus memahami semua sekaligus.
Nunu mengirim pesan kepada Bia beberapa hari kemudian, bertanya apakah ia ingin datang ke acara kecil di tempat kerjanya. Tim mereka akan mengadakan kegiatan keluarga dan ia membantu mengatur meja informasi. Nunu menambahkan bahwa Bia boleh menolak dan tidak perlu merasa datang untuk dirinya.
Bia bertanya siapa saja yang akan hadir. Nunu menjelaskan bahwa Noval dan beberapa anggota keluarganya juga datang. Bia merasa nyaman dengan itu. Ia menerima undangan, tetapi berkata ia akan datang bersama Sanah dan mungkin hanya sebentar.
Nunu menyetujuinya. Ia tidak meminta Bia datang lebih awal atau tinggal setelah acara selesai. Bia memberi tahu Mamak dan Sanah tentang rencana itu. Sanah bersedia menemani.
Pada hari acara, tempat kerja Nunu ramai dengan keluarga para pegawai dan pengunjung. Bia melihat Nunu berbicara dengan anak-anak dan menjelaskan kegiatan dengan sabar. Ia terlihat percaya diri, jauh berbeda dari mahasiswa gugup yang dulu sering bercanda untuk menutupi kecemasannya.
Nunu memperkenalkan Bia kepada beberapa rekan kerjanya sebagai teman lama. Ia tidak menyebutnya sebagai orang yang ia cintai atau memberi penjelasan lebih jauh. Bia menghargai cara itu. Mereka berjalan melihat kegiatan bersama Sanah.
Salah satu rekan Nunu bertanya apakah Bia yang membantu Nunu menyelesaikan skripsinya. Nunu menjawab Bia pernah memberi masukan kecil, tetapi sebagian besar pekerjaannya ia selesaikan sendiri. Bia senang Nunu tidak mengklaim bantuannya berlebihan.
Setelah beberapa waktu, Bia dan Sanah duduk di luar ruangan. Sanah bertanya bagaimana rasanya melihat Nunu di tempat kerja. Bia menjawab ia bangga dan senang, tetapi belum tahu apakah perasaannya lebih dari itu. Sanah berkata tidak perlu memaksa diri mengartikan semuanya hari ini.
Nunu datang membawa minuman untuk mereka. Ia duduk sebentar bersama mereka, lalu kembali membantu acara. Ia tidak mengajak Bia menyendiri. Bia melihatnya berinteraksi dengan keluarga lain dan merasa bahagia melihat ia memiliki kehidupan yang luas.
Sebelum pulang, Bia mengucapkan selamat atas acara yang berjalan baik. Nunu berterima kasih karena ia datang. Ia tidak bertanya apakah Bia berubah pikiran setelah melihatnya bekerja. Bia menyukai bahwa ia tidak mengubah hari itu menjadi ujian.
Dalam perjalanan pulang, Sanah bertanya apakah Bia ingin bertemu Nunu lagi. Bia menjawab tentu sebagai teman. Ia belum ingin hubungan romantis, tetapi merasa persahabatan mereka lebih jujur sekarang.
Malamnya, Nunu mengirim pesan terima kasih. Bia membalas bahwa ia senang melihat acara itu berjalan lancar. Mereka berbicara singkat tentang kegiatan, lalu mengakhiri percakapan.
Bia menyadari ia merasa nyaman berada dekat Nunu, tetapi ia tidak ingin terburu-buru menamai kenyamanan itu. Ia ingin tetap menjalani kerajinan, persahabatan dengan Sanah, dan hidupnya sendiri. Jika perasaannya berubah, ia akan mengakuinya dengan jujur. Jika tidak, ia juga akan jujur.