Dalam percakapan melalui telepon beberapa hari kemudian, mereka kembali membahas kebiasaan saling menghubungi. Bia menetapkan bahwa mereka tidak akan menghubungi setiap hari hanya untuk mempertahankan kedekatan. Ia ingin jika mereka berbicara, percakapan itu datang dari keinginan, bukan kewajiban. Nunu setuju. Ia berkata ia tidak ingin Bia merasa harus mengurus perasaannya.
Mereka membicarakan hal-hal yang mungkin terasa canggung. Bia mengatakan ia tidak ingin rayuan atau panggilan khusus. Nunu menjawab ia akan menghormati itu. Jika suatu saat Bia ingin mengubah batas, ia akan menunggu Bia yang membuka pembicaraan.
Bia merasa lega. Ia tidak ingin membuat Nunu berharap dengan bersikap terlalu manis, tetapi ia juga tidak ingin menjadi dingin. Ia ingin tetap menjadi teman yang peduli.
Nunu bertanya apakah Bia ingin ia bercerita jika ada orang lain yang ia sukai. Bia terdiam sesaat. Ia menyadari pertanyaan itu membuatnya sedikit tidak nyaman, tetapi ia belum tahu mengapa. Ia menjawab bahwa Nunu berhak menjalani hidupnya dan tidak perlu meminta izin darinya.
Nunu mengatakan ia akan melakukan itu, tetapi tidak sedang mencari pasangan sekarang. Ia ingin fokus pada pekerjaan dan dirinya sendiri. Bia mengangguk. Ia tidak tahu apakah rasa tidak nyaman yang muncul adalah cemburu atau hanya kejutan. Ia tidak membuat kesimpulan.
Setelah telepon, ia menceritakan percakapan itu kepada Sanah. Sanah bertanya apakah Bia takut kehilangan Nunu. Bia menjawab mungkin, tetapi ia tidak tahu apakah itu karena cinta atau karena persahabatan mereka penting. Sanah berkata Bia tidak harus mengurai semuanya hari itu.
Bia merasa lebih ringan. Ia dapat mengakui perasaan tanpa segera memberi nama. Ia ingin menunggu sampai dirinya lebih memahami.
Beberapa hari setelah percakapan itu, Bia merasa hubungan dengan Nunu berjalan lebih hati-hati. Mereka tetap saling mengirim kabar, tetapi tidak setiap hari. Nunu tidak lagi menggodanya. Bia merasa suasana menjadi lebih tenang dan mudah.
Pada suatu akhir pekan, Nunu datang bersama Noval untuk membantu keluarga Bia memasang rak tambahan untuk contoh kerajinan di samping warung. Bia ikut membantu menata barang. Mereka bekerja bersama Bapak, lalu makan siang dengan keluarga. Tidak ada percakapan tentang perasaan sampai pekerjaan selesai.
Setelah itu, Bia dan Nunu duduk di teras dengan minuman. Bia bertanya bagaimana Nunu merasa setelah mereka bicara. Nunu menjawab ia lega, meskipun sebagian dirinya masih berharap. Namun ia tidak merasa terbebani karena Bia tidak memberikan jawaban.
Bia berkata ia ingin mengenal Nunu lagi sebagai orang yang sekarang, bukan hanya sebagai laki-laki yang mencintainya sejak lama. Ia tidak tahu apakah itu akan mengarah pada hubungan romantis. Ia ingin mereka membangun pertemanan dulu, dengan jujur.
Nunu menyetujui. Ia berkata ia juga ingin Bia mengenalnya tanpa rayuan dan tanpa tekanan. Mereka sepakat sesekali bertemu atau berbicara, tetapi masing-masing tetap menjalani kegiatan sendiri.
Bia bertanya apakah Nunu masih akan mengambil jarak jika perasaannya terlalu berat. Nunu menjawab iya, dan ia berharap Bia tidak menganggap itu sebagai hukuman. Bia berkata ia akan menghormatinya.
Percakapan mereka terasa berbeda dari masa lalu. Nunu tidak mengucapkan janji bahwa ia akan menunggu selamanya. Bia tidak merasa harus memberi kepastian. Mereka hanya membicarakan bagaimana menjaga hubungan saat ini.
Sore itu, Nunu membantu Riska mengerjakan tugas dan bercanda dengan Nur. Bia melihat mereka dari dapur dan merasakan kehangatan. Ia senang Nunu menjadi bagian dari kehidupan keluarga, tetapi ia tidak menjadikan hal itu bukti bahwa mereka harus bersama.
Sebelum pulang, Nunu berterima kasih atas percakapan mereka. Bia menjawab ia juga menghargai keterbukaan Nunu. Mereka berpamitan dengan sederhana.
Malamnya, Bia berbicara dengan Sanah. Ia menceritakan bahwa ia dan Nunu sepakat untuk saling mengenal lagi sebagai teman. Sanah bertanya apakah Bia merasa lega. Bia menjawab iya, karena ia tidak lagi merasa harus menyembunyikan kebingungan.
Sanah berkata Bia boleh menjalani hubungan itu perlahan, selama ia tetap jujur. Bia setuju. Ia ingin memberi kesempatan pada pertemanan mereka tanpa menuntut hasil tertentu.
Ia lalu menyelesaikan jahitan yang tertunda. Benangnya bergerak rapi melewati kain. Bia tersenyum kecil. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Nunu, tetapi ia tahu langkah yang ia ambil kali ini berasal dari dirinya sendiri.
Bia sedang menghitung stok kain ketika menerima pesan dari kelompok warga yang akan mengadakan kegiatan pemberdayaan. Mereka membutuhkan beberapa kantong kecil untuk paket peserta dan bertanya apakah Bia sanggup membuat dalam jumlah lebih banyak dari pesanan biasanya. Bia membaca jumlahnya dua kali. Pesanan itu menarik, tetapi juga cukup besar untuk membuatnya harus mengatur waktu dengan hati-hati.
Ia tidak langsung menjawab. Ia menuliskan jumlah bahan, perkiraan waktu, dan biaya yang diperlukan. Bapak membantu memeriksa hitungannya. Mamak mengingatkan agar Bia memastikan tanggal penyerahan sebelum menerima. Bia mengirim pertanyaan kepada koordinator kegiatan, meminta rincian ukuran, warna, dan tenggat.
Koordinator menjelaskan bahwa mereka membutuhkan tiga puluh kantong dalam waktu tiga minggu. Bia merasa tegang. Ia belum pernah mengerjakan pesanan sebanyak itu. Namun ia tahu kegiatan ini bisa menjadi kesempatan untuk mengetahui apakah kerajinannya dapat berkembang.
Bia berdiskusi dengan keluarga. Bapak menyarankan ia menerima hanya jika dapat membagi pekerjaan menjadi beberapa tahap. Riska menawarkan membantu memotong kain, tetapi Bia berkata ia perlu memastikan kualitas tetap baik dan tugas Riska tidak mengganggu sekolahnya.
Bia membuat dua contoh kantong dengan jenis penutup berbeda. Ia memotret ukuran serta cara membukanya dan menjelaskan bahan yang diperlukan. Koordinator memilih penutup yang lebih sederhana. Setelah menghitung ulang biaya dan waktu berdasarkan pilihan itu, Bia mengirim harga serta tenggat. Koordinator menyetujuinya sebelum Bia mulai memotong bahan untuk seluruh pesanan.
Ia menceritakan kabar itu kepada Sanah. Sanah mengucapkan selamat dan menawarkan membantu memotret contoh produk untuk catatan. Bia berterima kasih, tetapi ia ingin mengerjakan sebagian besar sendiri agar memahami prosesnya.
Nunu mendengar kabar itu dari Bia saat mereka berbicara sebagai teman. Ia mengatakan kelompok di tempat kerjanya juga sedang menyiapkan kegiatan warga, tetapi ia tidak tahu apakah itu kelompok yang sama. Bia menjelaskan koordinatornya adalah orang lokal yang menghubunginya melalui bazar. Nunu menawarkan diri memeriksa daftar bahan, tetapi Bia menolak dengan halus karena ia sudah membuat perhitungan bersama Bapak.
Nunu menerima tanpa kecewa. Ia berkata ia senang Bia mendapat pesanan besar dan tidak ingin mengganggu cara kerjanya. Bia menghargai sikap itu. Mereka berbicara singkat tentang pekerjaan Nunu, lalu mengakhiri panggilan.
Bia membagi pesanan menjadi beberapa tahap dan menuliskannya di papan kecil. Ia menyisakan waktu memotong, menjahit, lalu memeriksa setiap barang sebelum diserahkan. Pada pertemuan kelas berikutnya, ia membawa contoh yang telah disetujui. Pengajar menunjukkan cara mengunci benang di bagian dalam agar tidak mudah lepas. Bia mencoba di potongan sisa kain sebelum menerapkannya pada pesanan. Ia pulang dengan catatan teknik baru dan jadwal yang tetap menyisakan waktu perbaikan.
Malam itu, ia menyiapkan alat dan mencoba pola pertama. Ia merasa bangga mendapat kepercayaan, tetapi ia juga tahu tanggung jawabnya besar. Ia tidak ingin mengecewakan kelompok itu atau membuat keluarganya ikut menanggung beban.
Sebelum tidur, ia memeriksa jadwal lagi. Pesanan itu akan memakan waktu, tetapi ia percaya bisa menyelesaikannya selama ia tidak memaksakan diri. Ia telah belajar bahwa kesempatan besar bukan berarti harus menerima tanpa batas. Ia bisa menyetujui pekerjaan dengan syarat yang jelas.