Bia memulai pesanan dengan memotong kain sesuai pola. Ia bekerja perlahan agar semua ukuran sama. Riska membantu menandai garis, sementara Bia memastikan jarak dan bentuknya. Mereka menyiapkan beberapa potong sekaligus, lalu menyimpannya berdasarkan warna.
Pada hari ketiga, Bia menemukan bahwa satu gulung kain memiliki warna sedikit berbeda dari contoh. Ia segera menghubungi koordinator kegiatan dan menjelaskan masalahnya. Ia menawarkan dua pilihan: memakai warna yang lebih muda dengan persetujuan mereka atau mencari bahan pengganti yang mungkin memerlukan tambahan waktu.
Koordinator memilih warna yang lebih muda setelah melihat foto. Bia merasa lega karena ia menyampaikan masalah sejak awal, bukan menyembunyikannya sampai barang selesai. Ia mencatat perubahan itu dan menyesuaikan semua pola agar warna tetap seragam.
Nunu menghubunginya untuk memberi tahu bahwa kelompok warga tempat ia bekerja akan mengadakan acara pada hari yang sama. Ia bertanya apakah Bia bersedia membuka meja kecil untuk menjual beberapa produk lain di luar pesanan. Bia berkata ia akan mempertimbangkan setelah melihat jadwal pengerjaan. Nunu menjelaskan bahwa ia hanya menyampaikan informasi; keputusan sepenuhnya milik Bia.
Bia menyukai sikap itu. Ia menghubungi koordinator acara melalui jalur resmi dan bertanya tentang waktu persiapan, biaya meja, dan aturan penjualan. Ia tidak ingin meminta kemudahan khusus karena mengenal Nunu. Koordinator memberikan informasi yang sama kepada semua peserta.
Setelah menghitung jadwal, Bia memutuskan ia sanggup ikut dengan membawa barang yang sudah tersedia. Ia tidak akan membuat produk tambahan menjelang acara. Nunu mengirim rincian lokasi dan kontak penyelenggara, lalu mundur dari urusan pendaftaran.
Bia berkata ia berterima kasih karena Nunu tidak mengurus semuanya atas namanya. Nunu menjawab ia ingin Bia memperoleh kesempatan dengan kemampuannya sendiri. Bia merasa dihargai. Mereka bukan pasangan, dan ia tidak ingin hubungan pertemanan membuat urusan kerja menjadi kabur.
Di rumah, Bia menjelaskan rencana itu kepada Bapak. Ia menunjukkan rincian biaya dan jadwal. Bapak memuji caranya memisahkan pesanan besar dari persiapan acara. Mamak menyarankan ia menjaga waktu istirahat. Bia setuju untuk berhenti menjahit jika sudah larut.
Pada malam hari, ia menyelesaikan beberapa kantong dasar. Tangannya mulai pegal, jadi ia menutup alat dan beristirahat. Dulu ia mungkin akan terus bekerja karena takut mengecewakan orang. Kini ia belajar bahwa hasil baik membutuhkan dirinya tetap sehat.
Keesokan hari, Nunu mengirim kabar bahwa ia telah menyampaikan kepada atasannya tentang pembagian tugas acara. Ia tidak akan bertanggung jawab langsung atas meja Bia agar tidak menimbulkan kesan mendapat perlakuan khusus. Bia mengapresiasi kejujuran itu. Nunu berkata ia ingin menjaga batas profesional sekaligus batas pribadi.
Bia merasa nyaman mendengarnya. Ia melanjutkan pengerjaan dan mengirim foto contoh yang sudah jadi kepada koordinator. Mereka menyetujui hasilnya. Ia kini punya gambaran lebih jelas tentang pekerjaan yang harus diselesaikan.
Hari-hari berikutnya dipenuhi kegiatan yang teratur. Bia mengerjakan pesanan setelah membantu keluarga, lalu mencatat jumlah barang yang selesai. Ia tidak lagi mencoba menyelesaikan semuanya dalam satu malam. Setiap beberapa hari ia mengirim pembaruan kepada koordinator, termasuk foto hasil kerja dan perkiraan waktu penyerahan.
Koordinator membalas bahwa hasilnya terlihat rapi. Bia merasa senang, tetapi ia tetap memeriksa setiap jahitan. Ia tidak ingin pujian membuatnya lengah. Bapak membantu menghitung biaya akhir, sementara Riska menyiapkan label kecil untuk setiap paket.
Nunu menyiapkan pembagian tugas untuk acara warga yang akan datang. Ia mengirim informasi umum kepada semua peserta, termasuk jadwal kedatangan dan aturan meja. Bia menerima pesan yang sama seperti peserta lain. Ia merasa itu tepat. Nunu tidak menggunakan kedekatan mereka untuk memberi akses khusus.
Pada suatu sore, mereka bertemu di tempat kegiatan untuk melihat ukuran meja. Sanah ikut menemani Bia. Nunu menyapa mereka dan menunjukkan area yang tersedia. Ia menjelaskan aturan dengan jelas, lalu membiarkan Bia memilih tempat yang paling sesuai.
Bia bertanya apakah ada biaya tambahan untuk membawa barang. Nunu mengatakan ia akan memastikan kepada koordinator. Ia tidak menjawab sembarangan. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan informasi resmi. Bia menyelesaikan pendaftaran sesuai prosedur.
Saat mereka selesai, Sanah mengajak Bia membeli minuman. Nunu tetap di lokasi untuk membantu peserta lain. Bia memperhatikan bahwa ia tidak merasa kecewa karena Nunu tidak mengantar mereka. Ia justru merasa senang melihatnya menjalankan tanggung jawab dengan baik.
Sanah bertanya apakah Bia mulai tertarik kepada Nunu. Bia menjawab ia menghormatinya dan senang melihat perubahan sikapnya, tetapi belum tahu apakah itu cinta. Sanah berkata Bia tidak harus membuat keputusan sebelum acara selesai atau sebelum pesanan diserahkan.
Bia pulang dan kembali menjahit. Ia menyelesaikan sebagian besar kantong tepat pada jadwal. Satu barang memiliki jahitan yang sedikit miring. Ia membukanya dan mengulang, meskipun itu memakan waktu tambahan. Ia ingin menyerahkan hasil yang ia banggakan.
Pada hari penyerahan, koordinator memeriksa barang satu per satu. Ia puas dengan kualitas dan berkata paket itu akan dipakai untuk kegiatan warga minggu depan. Bia menerima pembayaran sesuai kesepakatan. Ia merasa lega dan bangga. Ini pesanan terbesarnya sejauh ini, dan ia menyelesaikannya tanpa bekerja sampai larut setiap malam.
Setelah pulang, ia menceritakan keberhasilan itu kepada keluarga. Riska memeluknya dan Bapak berkata ia bekerja dengan disiplin. Bia merasa tersentuh. Ia menyadari keberhasilannya bukan hanya karena bakat, tetapi juga karena berani membuat batas dan meminta informasi yang jelas.
Malam itu Nunu mengirim pesan ucapan selamat setelah melihat kabar di grup warga. Bia berterima kasih dan berkata ia lega pesanan selesai. Nunu membalas bahwa ia tidak pernah meragukan kemampuannya. Bia tersenyum membaca pesan itu, tetapi kembali pada pekerjaannya menyiapkan barang untuk meja acara.
Nunu mengabari Bia bahwa atasannya menawarkan tanggung jawab sebagai koordinator program yang lebih luas. Peran itu akan mulai dijalankan setelah kegiatan warga mendatang selesai. Ia mungkin perlu lebih sering bepergian ke beberapa kota. Nunu belum menjawab dan ingin memikirkan dampaknya.
Bia mengucapkan selamat. Ia bertanya apakah Nunu tertarik pada pekerjaan itu. Nunu menjawab iya, karena ia ingin berkembang dan merasa siap belajar. Namun ia khawatir tanggung jawab tambahan membuat jadwalnya tidak seimbang.
Bia bertanya apa saja yang perlu ia ketahui sebelum memberi jawaban. Nunu menyebut durasi, frekuensi perjalanan, dukungan tim, dan apakah tugas itu bersifat sementara. Bia menyarankan agar ia meminta rincian tertulis. Nunu berterima kasih dan berkata ia akan melakukannya.
Bia merasa ada bagian dirinya yang tidak nyaman membayangkan Nunu bepergian lebih sering. Ia segera bertanya kepada dirinya sendiri, apakah itu karena ia takut kehilangan teman atau karena mulai ingin lebih dekat. Ia belum tahu. Ia tidak ingin meminta Nunu menolak kesempatan hanya untuk mempertahankan kebiasaan mereka.
Mereka berbicara tentang keputusan itu dengan jujur. Nunu berkata ia tidak ingin Bia merasa harus memberi pendapat demi mempertahankan kedekatan. Ia ingin memilih berdasarkan karier dan kehidupannya sendiri. Bia menjawab ia mengerti, dan ia akan mendukung apa pun keputusan Nunu.
Nunu mengatakan ia masih memiliki perasaan kepada Bia, tetapi ia tidak akan membiarkan perasaan itu menentukan pekerjaannya. Bia menghargai jawaban itu. Ia berkata hal yang sama berlaku untuk dirinya: ia tidak ingin membuat keputusan tentang hubungan hanya karena takut Nunu menjauh.
Mereka mengakhiri panggilan dengan tenang. Bia merasa senang atas kesempatan Nunu, tetapi juga gelisah. Ia tidak menyembunyikan perasaan itu dari Sanah. Sanah bertanya apa yang paling Bia takutkan. Bia menjawab ia takut jika Nunu pergi, hubungan mereka kembali menjadi kenangan jauh.
Sanah berkata itu mungkin terjadi, tetapi Bia tidak dapat meminta Nunu berhenti berkembang. Jika persahabatan mereka kuat, mereka bisa tetap berkomunikasi meski jarak berubah. Bia setuju, walau ia masih merasakan cemas.
Malamnya, Bia menuliskan dua hal: ia ingin Nunu berhasil, dan ia tidak ingin kehilangan kedekatan mereka. Ia tidak tahu apakah kedua keinginan itu bisa berjalan bersama. Namun ia tahu ia tidak boleh menjadikan kebingungan sebagai alasan untuk mengatur pilihan Nunu.
Keesokan hari, Nunu mengabari bahwa ia sudah menerima rincian pekerjaan. Ia akan mendapat waktu untuk mempertimbangkan selama beberapa hari. Bia membalas agar ia mengambil waktu dan bertanya semua hal yang diperlukan. Nunu berkata ia akan melakukannya.