Nunu mendapat jadwal perjalanan yang lebih teratur setelah berbicara dengan atasannya. Ia akan bepergian dua kali sebulan, bukan setiap minggu. Ia mengabari Bia dan mengatakan ia merasa lebih nyaman dengan susunan tersebut.
Bia senang mendengar Nunu menyampaikan kebutuhan kerjanya. Mereka bertemu pada hari Minggu dan berjalan di taman. Nunu terlihat lebih santai. Ia berkata ingin membicarakan hubungan mereka, tetapi memastikan Bia tidak keberatan.
Bia mengiyakan. Nunu berkata ia ingin menjadi pasangan Bia secara resmi. Ia menyukai proses mengenal kembali dan merasa ingin membangun hubungan yang lebih dekat. Namun ia tidak ingin meminta jawaban jika Bia masih ragu.
Bia terdiam. Ia memang mulai menyukai Nunu, tetapi ada ketakutan bahwa mereka akan kembali pada pola lama. Ia berkata ia perlu memahami apa arti menjadi pasangan bagi mereka. Ia tidak ingin status itu menjadi alasan Nunu merasa berhak atas waktunya atau mengatur pilihan.
Bia bertanya apakah Nunu akan tetap menghormati batas jika ia merasa cemburu. Nunu menjawab ia akan berusaha membicarakan perasaan tanpa mengubahnya menjadi larangan. Ia mengakui tidak bisa menjanjikan tidak pernah cemburu, tetapi ia dapat bertanggung jawab atas tindakannya.
Bia meminta Nunu menjelaskan apa arti hubungan resmi baginya. Nunu berkata ia ingin mereka sepakat untuk saling mengenal sebagai pasangan, terbuka tentang perasaan, dan tidak mencari hubungan lain. Ia tidak menganggap itu berarti mereka harus segera merencanakan pernikahan atau menggabungkan semua kegiatan.
Bia mengatakan ia belum siap membicarakan pernikahan. Nunu menjawab ia pun tidak meminta hal itu. Ia ingin membangun hubungan yang nyata sebelum memikirkan masa depan jauh.
Mereka membicarakan eksklusivitas. Bia bertanya apakah Nunu mengharapkan mereka tidak berkencan dengan orang lain. Nunu menjawab iya, jika mereka memutuskan menjadi pasangan resmi, tetapi ia ingin keputusan itu dibuat bersama dan tidak menjadi alat untuk mengontrol persahabatan atau pekerjaan.
Bia berkata ia dapat menerima itu, selama mereka tetap berkomunikasi jika ada perubahan perasaan. Nunu setuju. Ia tidak akan menggunakan status pasangan untuk meminta kata sandi, memeriksa pesan, atau mengatur jadwal Bia.
Sebelum mereka berpisah hari itu, Bia meminta waktu untuk mengajukan beberapa pertanyaan lain. Ia ingin tahu bagaimana Nunu membayangkan mereka menyelesaikan pertengkaran jika kelak terjadi. Nunu berpikir sejenak sebelum menjawab. Ia berkata ia ingin mereka mengambil jeda jika emosi terlalu tinggi, tetapi tetap menentukan kapan akan membicarakannya kembali. Ia tidak ingin diam berhari-hari sebagai hukuman, juga tidak ingin memaksa Bia langsung menyelesaikan semuanya saat belum siap.
Bia berkata ia kadang membutuhkan waktu untuk memahami perasaannya. Ia bisa saja terlihat tenang padahal masih memikirkan sesuatu. Nunu menjawab ia akan bertanya dengan lembut, bukan menuntut jawaban. Bia pun berjanji berusaha memberi tahu jika ia butuh jeda, supaya Nunu tidak harus menebak. Mereka tidak menganggap aturan itu akan menyelesaikan semua masalah, tetapi setidaknya memberi pegangan saat percakapan terasa sulit.
Mereka juga membicarakan cara meminta maaf. Bia mengatakan baginya permintaan maaf berarti mengakui tindakan tertentu dan mencoba memperbaikinya, bukan sekadar berkata menyesal supaya masalah cepat selesai. Nunu setuju dan mengakui ia masih perlu belajar. Bia tersenyum kecil. Ia tidak menunggu kesempurnaan; ia ingin melihat kesediaan untuk belajar. Setelah itu mereka membeli minuman di kios taman dan berbincang tentang hal remeh, memberi ruang pada percakapan serius untuk berakhir tanpa membuat seluruh hari terasa berat.
Jawaban itu terdengar jujur bagi Bia. Ia berkata ia belum bisa memberi jawaban hari itu, tetapi ingin memikirkan. Nunu menerima dan berkata ia tidak akan menganggap jeda untuk berpikir sebagai penolakan.
Mereka melanjutkan jalan dengan percakapan ringan. Nunu tidak mengulang pertanyaan atau meminta Bia menjanjikan waktu untuk menjawab. Bia merasa tenang karena ia diberi ruang.
Ia berbicara dengan Sanah keesokan harinya. Sanah bertanya apakah Nunu telah menunjukkan perubahan yang Bia butuhkan. Bia menjawab sejauh ini iya, tetapi ia ingin melihatnya dalam jangka panjang. Sanah berkata tidak ada hubungan yang dapat dijamin dari awal, tetapi Bia bisa memilih berdasarkan perilaku yang sudah ia lihat.
Bia bangun dengan perasaan lebih tenang. Ia masih memikirkan pertanyaan Nunu, tetapi kini ia tahu ia ingin melanjutkan hubungan mereka. Ia tidak merasa terpaksa. Ia ingin menjadi pasangan Nunu, selama mereka tetap menghormati batas yang telah dibicarakan.
Ia menghubungi Nunu dan meminta bertemu. Nunu menyetujui. Mereka bertemu di kedai yang sama seperti kencan pertama. Bia berkata ia telah memikirkan tawarannya dan ingin mencoba menjadi pasangan resmi, dengan kesepakatan tidak mencari hubungan romantis lain.
Nunu tampak bahagia, tetapi ia tidak langsung menganggap semua kekhawatiran Bia selesai. Ia bertanya apa yang ingin Bia sepakati sebelum mereka memulai. Bia berkata mereka perlu terus berbicara jujur, menjaga kegiatan masing-masing, dan tidak menggunakan rayuan atau kecemburuan untuk menekan.
Mereka tidak membuat janji tentang pernikahan. Bia berkata ia ingin hubungan ini tumbuh dulu. Nunu menjawab ia pun ingin menjalani hari demi hari dan mengenal Bia sebagaimana dirinya sekarang.
Nunu bertanya apakah ia boleh memanggil Bia dengan panggilan sayang. Bia tersenyum dan berkata belum. Ia ingin mereka membiasakan diri menjadi pasangan terlebih dahulu. Nunu tertawa dan berkata ia akan bertanya lagi lain waktu, bukan berasumsi.
Bia merasa bahagia mendengar itu. Mereka menyelesaikan makanan dan berjalan sebentar. Nunu bertanya apakah Bia ingin memegang tangannya. Bia mengulurkan tangan. Mereka berjalan perlahan, berbicara tentang hal-hal sederhana.
Bia memberi tahu keluarga setelah pulang. Mamak tersenyum dan bertanya apakah Bia yakin. Bia menjawab iya, ia ingin mencoba dengan Nunu, tetapi mereka tidak sedang merencanakan pernikahan. Mamak berkata ia mendukung selama Bia merasa dihormati.
Saat Nunu berkunjung keesokan harinya, Bapak juga mengucapkan selamat dan mengingatkan Nunu untuk terus menjaga batas. Nunu berkata ia akan berusaha dan berterima kasih atas kepercayaan mereka. Riska dan Nur ikut senang, tetapi Bia meminta mereka tidak menggoda berlebihan.
Malamnya, Nunu mengirim pesan bahwa ia senang mereka kini resmi menjadi pasangan. Bia membalas bahwa ia juga senang, tetapi ingin tetap berjalan pelan. Nunu menjawab ia memahami.
Hari-hari pertama Bia dan Nunu menjalani hubungan resmi terasa sedikit canggung. Mereka sudah saling mengenal sejak masa Nunu mengerjakan skripsi di desa, tetapi status baru membuat beberapa hal terasa berbeda. Nunu mengirim pesan selamat pagi dan bertanya apakah Bia ingin berbicara setelah ia menyelesaikan pekerjaan.
Bia membalas bahwa ia akan membantu warung dan kelas kerajinan sampai sore. Mereka menyepakati panggilan singkat malam hari. Bia senang Nunu bertanya tentang jadwalnya, bukan menganggap ia selalu tersedia.
Malamnya, mereka berbicara. Nunu bercerita tentang tugasnya dan Bia menceritakan pesanan kerajinan. Mereka sepakat tidak perlu berbicara sepanjang malam hanya karena baru resmi menjadi pasangan. Jika salah satu lelah, mereka akan beristirahat.
Bia berkata ia merasa senang, tetapi juga sedikit takut. Nunu bertanya apa yang ia khawatirkan. Bia menjawab ia takut pola lama kembali, ketika Nunu terlalu mengejar dan ia merasa tidak didengar. Nunu berkata ia memahami dan ingin membuktikan perubahan itu secara konsisten.
Beberapa hari kemudian, Nunu harus melakukan perjalanan kerja. Ia memberi tahu jadwal dengan jelas dan mengabari saat tiba. Bia membalas bahwa ia senang mendapat kabar. Mereka tidak melakukan panggilan panjang karena Nunu sibuk, tetapi sempat bertukar pesan.
Mereka bertemu di taman. Nunu bertanya apakah Bia merasa hubungan resmi mengubah sesuatu. Bia menjawab ia merasa lebih dekat, tetapi tidak ingin status membuat mereka berhenti bertanya dan mendengarkan. Nunu setuju.
Pada minggu kedua, mereka mencoba menjalani akhir pekan tanpa membuatnya menjadi ujian bagi hubungan. Bia memiliki pesanan yang harus diselesaikan, sementara Nunu perlu beristirahat setelah perjalanan. Mereka sempat membicarakan kemungkinan bertemu, lalu sepakat tidak memaksakan diri jika keduanya terlalu lelah. Bia menikmati waktu mengerjakan kerajinan di rumah. Nunu menggunakan hari itu untuk tidur cukup dan membantu keluarganya.
Sore harinya, Nunu bertanya apakah Bia kecewa karena mereka tidak bertemu. Bia menjawab ia sedikit merindukannya, tetapi tidak kecewa dengan keputusan mereka. Ia lebih menyukai pertemuan yang dinikmati bersama daripada bertemu hanya karena merasa wajib. Nunu berkata ia merasakan hal yang sama. Mereka menjadwalkan makan siang pada hari lain setelah memeriksa agenda masing-masing.