Tawaran itu datang dari seorang pelanggan yang pernah membeli kerajinan kain buatan Bia. Ia mengirim pesan bahwa sebuah ruang komunitas akan mengadakan bazar kerajinan lokal pada akhir bulan dan masih menyediakan satu meja untuk peserta baru. Bia membaca undangan itu berkali-kali. Ia memang ingin memperkenalkan karyanya lebih luas, tetapi membayangkan harus menyiapkan stok, mengatur harga, dan berbicara dengan banyak orang membuatnya gugup.
Mamak menyarankan agar Bia tidak buru-buru menolak hanya karena takut. Riska ikut melihat foto tempat bazar dan berkata ruangnya cukup nyaman, tidak terlalu besar. Bia akhirnya menghubungi penyelenggara untuk menanyakan biaya serta ketentuan. Jawabannya masuk akal. Ia mengisi formulir pendaftaran, lalu mulai menyusun daftar barang yang mungkin dibawa.
Malam itu ia bercerita kepada Nunu. Nunu terdengar antusias dan langsung menawarkan diri untuk mengantarnya. Bia berterima kasih, tetapi tanggal bazar bertepatan dengan perjalanan kerja Nunu ke kota lain. Mereka memeriksa jadwal tanpa berusaha memaksakan sesuatu. Nunu berkata ia mungkin bisa pulang lebih awal, tetapi belum dapat memastikan. Bia menjawab ia lebih suka membuat rencana seolah-olah ia akan pergi sendiri daripada bergantung pada kemungkinan itu.
'Aku ingin kamu datang kalau memang waktunya memungkinkan,' kata Bia, 'tapi aku tidak mau kamu merasa harus mengubah tugasmu. Aku bisa minta Sanah menemani.'
Nunu sempat diam, lalu mengangguk. 'Baik. Aku akan kabari kalau jadwalku berubah, tapi kamu tetap siapkan semuanya dengan rencanamu sendiri.'
Jawaban itu membuat Bia lega. Ia dan Sanah kemudian membagi pekerjaan. Sanah bersedia menemani sejak pagi, sementara Bia mengurus pilihan produk dan label harga. Beberapa malam berikutnya mereka bekerja di ruang tengah rumah Bia, mengelompokkan barang berdasarkan warna dan kegunaan. Mamak membantu memeriksa jahitan, sedangkan Riska membuat catatan sederhana tentang harga bahan agar Bia tidak meremehkan biaya kerjanya.
Pagi bazar, Nunu mengirim pesan sebelum berangkat ke kota tugas. Ia mengucapkan semoga acara Bia berjalan lancar dan berkata ia akan memeriksa kabar setelah kegiatannya selesai. Bia membalas dengan foto meja yang baru ditata. Ia merasa senang, lalu meletakkan ponsel dan mulai menyambut pengunjung.
Pada jam pertama, beberapa orang berhenti sebentar, tetapi belum ada yang membeli. Bia merasakan gugup merambat ke bahunya. Sanah tidak mengambil alih; ia hanya berdiri dekat dan tersenyum memberi semangat. Ketika seorang perempuan bertanya tentang tas kecil bersulam, Bia menjelaskan bahwa ia membuatnya sendiri dan menunjukkan bagian dalam yang diperkuat agar tahan dipakai. Perempuan itu membeli dua buah untuk hadiah.
Pembelian pertama membuat Bia lebih tenang. Ia mulai berbincang dengan orang-orang tentang pilihan warna dan cara merawat kain. Seorang pengunjung menyarankan agar ia menambahkan akun usahanya pada kartu nama yang sudah dibawanya. Bia mencatat saran tersebut. Tak semua orang membeli, tetapi beberapa meminta informasi untuk memesan nanti. Menjelang siang, ia merasa lelah sekaligus bangga karena tidak bersembunyi di balik meja.
Nunu baru dapat mengirim pesan beberapa jam kemudian. Ia bertanya bagaimana keadaan bazar. Bia mengirim foto meja yang mulai berkurang isinya dan menceritakan dua barang yang terjual. Nunu menjawab dengan ucapan selamat, lalu meminta maaf karena tidak bisa hadir. Bia berkata ia juga berharap ia ada, tetapi hari itu tetap menyenangkan. Ia tidak merasa perlu mengecilkan keberhasilannya demi membuat Nunu merasa lebih baik.
Dalam perjalanan pulang, Bia dan Sanah menghitung hasil penjualan. Jumlahnya belum besar, namun cukup untuk menutup biaya meja dan sebagian bahan. Lebih penting, Bia membawa pulang beberapa calon pesanan serta keberanian baru. Ia berterima kasih kepada Sanah karena menemaninya tanpa mengambil alih. Sanah menjawab bahwa Bia sendiri yang melakukan bagian tersulit: berdiri di sana dan memperkenalkan karyanya.
Keesokan paginya, Bia menata barang-barang yang tersisa di lantai ruang tengah. Ia memisahkan produk yang perlu diperbaiki dari barang yang siap dijual, lalu menghitung bahan untuk membuat ulang beberapa desain yang paling diminati. Mamak memperhatikan ia bekerja sambil sesekali mencatat ide baru. Bia tidak lagi merasa setiap barang yang belum laku adalah kegagalan. Ada produk yang memang membutuhkan waktu untuk menemukan pembelinya, dan ada desain yang perlu disesuaikan setelah mendapat tanggapan langsung.
Seorang pengunjung bazar yang sempat meminta kartu nama mengirim pesan dan menanyakan apakah Bia menerima pesanan dengan warna khusus. Bia membaca permintaan itu dengan teliti, lalu bertanya tentang jumlah dan tenggat. Kali ini ia tidak buru-buru menerima semuanya. Ia ingin memastikan pesanan tersebut sesuai kemampuan dan tidak mengganggu jadwal yang lain. Setelah pelanggan menjelaskan kebutuhannya, Bia menyanggupi sebagian jumlah dengan waktu produksi yang wajar. Ia merasa semakin berani menyampaikan batas profesionalnya.
Sanah kemudian mengirim foto saat mereka membereskan meja. Di latar belakang terlihat Bia sedang menjelaskan produk kepada seorang pengunjung. Bia tertawa saat melihat ekspresinya sendiri yang tampak serius. Ia menyimpan foto itu sebagai kenangan, bukan untuk membuktikan apa pun kepada orang lain. Ketika Nunu mengirim pesan lagi, Bia membalas dengan cerita tentang calon pesanan baru. Hari bazar itu berakhir dengan peluang yang nyata dan perasaan bahwa ia telah mengambil satu langkah atas namanya sendiri.
Dua hari setelah bazar, Bia menerima pesan dari pengunjung yang membeli tas bersulam. Perempuan itu ingin memesan beberapa buah sebagai suvenir untuk acara keluarganya. Jumlah tas bersulam itu menuntut perhitungan baru. Ia sudah pernah menyelesaikan tiga puluh kantong, tetapi bentuk dan waktu pengerjaannya berbeda. Ia membaca rincian itu dengan jantung berdebar, lalu menghitung waktu, bahan, dan ongkos kirim sebelum menjawab.
Bia hampir menulis harga yang terlalu rendah karena takut calon pelanggan berubah pikiran. Ia teringat catatan Riska dan menghitung ulang dengan teliti. Harga yang ia berikan terasa pantas untuk bahan dan jam kerja, meskipun lebih tinggi dari harga yang biasa ia pasang. Pelanggan itu meminta waktu untuk berdiskusi dengan keluarganya. Bia menaruh ponsel, berusaha tidak menganggap jeda sebagai penolakan.
Saat menelepon malam itu, Nunu bertanya tentang tenggat pesanan. Bia menjelaskan perhitungannya dan waktu istirahat yang tetap ia sisihkan. Nunu mendukung keputusan itu, lalu mengingatkan agar ia tidak menambah pekerjaan hanya karena takut mengecewakan pelanggan.
Sambil menunggu jawaban pelanggan, Bia mengunjungi toko bahan bersama Riska. Ia membawa daftar kebutuhan dan membandingkan kualitas kain, bukan hanya harga. Riska menyarankan beberapa pilihan, tetapi Bia memutuskan berdasarkan warna dan ketahanan yang ia perlukan. Mereka juga membeli kemasan sederhana yang bisa dipakai ulang. Bia mulai menghitung biaya satu per satu agar harga yang ia tawarkan tidak berubah-ubah karena rasa sungkan.
Malamnya, pelanggan mengonfirmasi pesanan dengan uang muka. Bia merasa senang, namun ia tidak langsung menerima pesanan tambahan lain yang datang dari kenalan pelanggan itu. Ia menjelaskan kapasitasnya dan menawarkan tanggal yang lebih jauh. Orang tersebut menerimanya. Bia menyadari bahwa mengatakan 'belum bisa sekarang' tidak selalu membuat orang pergi. Kadang-kadang kejujuran justru membangun kepercayaan.
Setelah uang muka diterima, Bia mengirim konfirmasi desain dan jadwal tiga minggu kepada pelanggan. Ia merasa senang, tetapi tidak menambah jumlah yang baru saja disepakati.
Keberhasilan itu membawa kesibukan baru. Bia membuat daftar bahan, menghubungi pemasok, dan menyusun jadwal harian. Ia membagi pekerjaan besar menjadi beberapa tahap supaya tidak panik menjelang tenggat. Mamak membantu menyiapkan ruang kerja, tetapi Bia menolak tawaran untuk mengerjakan bagian yang ingin ia lakukan sendiri. Ia senang keluarganya membantu tanpa mengambil alih kendali.
Di sisi lain, perjalanan Nunu makin padat. Ia memberi tahu Bia bahwa satu kunjungan kerja diperpanjang sehari karena timnya perlu menyelesaikan laporan. Mereka batal makan malam yang sebelumnya direncanakan. Bia kecewa karena ingin merayakan pesanan barunya bersama Nunu, tetapi ia juga memahami ia sendiri sedang tenggelam dalam pekerjaan. Mereka membicarakan kemungkinan bertemu setelah tenggat pesanan selesai.
Menjelang akhir pekan, Bia mulai kelelahan. Ia salah memotong satu bagian kain dan harus mengulanginya. Rasa frustrasinya muncul bukan hanya karena kesalahan, tetapi juga karena ia ingin semuanya selesai sempurna. Ia menghentikan pekerjaan, minum air, dan keluar sebentar ke halaman. Saat kembali, ia mencatat cara mencegah kesalahan yang sama alih-alih memarahi dirinya sendiri.
Sanah mampir untuk mengantarkan makanan dan melihat Bia masih bekerja. Ia menyarankan agar Bia menentukan jam berhenti malam itu. Bia awalnya ingin menolak, namun menyadari matanya sudah lelah. Mereka makan bersama, lalu Bia menyimpan alat-alatnya. Ia mengirim pesan kepada pelanggan untuk memberi kabar bahwa proses berjalan sesuai jadwal. Pelanggan membalas dengan terima kasih.
Pesanan selesai sehari sebelum tenggat. Bia membungkus setiap tas satu per satu dan memeriksa kembali jumlahnya. Ketika pelanggan menerima paket dan mengirim foto, ia memuji jahitan yang rapi. Bia membaca pesan itu sambil menahan senyum puas. Ia mengirim kabar kepada keluarganya, lalu kepada Nunu. Kali ini mereka benar-benar membuat janji makan bersama, tanpa tergesa-gesa.
Di kedai, Nunu memberikan sebuah buku catatan kecil sebagai hadiah. Katanya, ia melihat buku itu di toko dan teringat Bia yang sering membuat daftar desain. Bia menyukainya, tetapi berkata keberhasilan pesanan tersebut tetap hasil kerja dan keputusannya sendiri. Nunu tertawa dan menjawab ia tahu; ia hanya ingin merayakan. Bia membuka halaman pertama dan menuliskan tanggal hari itu, sebagai pengingat bahwa langkah kecilnya bisa tumbuh menjadi sesuatu yang berarti.