Kota MetroAddar merupakan kota metropolitan yang besar dan sibuk. Pusat bisnis juga pusat pendidikan dari jenjang awal sampai tertinggi. Populasipun termasuk besar. Dengan banyak nya pusat industri, beberapa pabrik berdiri di sekitar pusat kota itu. Namun kota yang megah dengan segala fasilitas yang ada untuk seluruh warga nya itu telah berubah. Ketakutan dan kengerian menyelimuti seluruh kota.
Gedung gedung tidak terawat, transportasi rusak parah dan terbengkalai. Banyak bangkai kendaraan tergeletak di seluruh kota dan jalan raya. Rick mengemudikan bus sekolah yang sudah dimodifikasi itu dengan perasaan was was. Seluruh bodi bus terlapisi oleh plat plat besi tipis maupun seng menggantikan lapisan kaca jendela yang sudah dilepas. Kesepuluh pemunpang nya memegang erat beberapa barang dan makanan kemasan yang di dapat dari sebuah super market terbengkalai.h
"Jam berapa sekarang Tom ?...masih lama ngga ?" Rick bertanya sambil tetap fokus kedepan.
Dia harus selaku sigap kalau tidak ingin bus yang dikemudikannya menabrak mobil mobil atau kendaraan lainnya yang banyak melintang dijalan yang mereka lewati.
"Baru juga jam 4 sore bro, kita bisa cepat sampai lah..," ujar Tom setelah melihat jam ditangannya.
Hatinya sebenar nya takut berdebar debar juga. Bagaimana tidak, orang yang bersenjata senapan di dalam bus sekolah itu hanya dirinya seorang. Lando tidak mengizinkan siapapun mempersenjatai dirinya. Sipemimpin itu begitu kejam, tidak memperhitungkan keselamatan seluruh team yang bertugas mencari makanan untuk menambah stok yang sudah menipis.
Tom membalikkan badannya, dia berjalan mendekati teman temannya yang menjaga barang barang suoaya tidak berserakan. Barang barang itu diantaranya lima dus penuh air mineral, lima dus mie instan serta bahan bahan makanan lainnya. Pak Ramli duduk disisi dinding bus sambil memeluk tas ransel berisi beberapa buku baru yang barusan di dapat nya. Donna begitu awas melihat keluar bus itu. Raut wajahnya yang manis putih terlihat ketakutan. Gadis berbaju jaket tebal itu nampak tidak tenang. Sambil tetap memeluk senapan otomatis nya, Tom duduk di sebelah Donna yang perhatiannya tetap keluar.
"Ada apa kamu mendekatiku ?" Donna melirik sambil memicingkan matanya.
"Aku hanya ingin melindungimu saja. Siapa tahu Scammer itu akan menyentuh kulit mu yang mulus ini.." goda Tom sambil mengelus punggung tangan Donna.
"Apa mimpimu benar akan terwujud Donna. Pahlawan berbaju biru itu itu ha ha ha....!" Tom tertawa sendirian.
"Aku tidak meminta pendapat mu kurus..!" Donna menjawab singkat.
Walki talki yang dipegang Tom berbunyi.
"Mampir dulu mencari obat obatan. Dokter Fanny membutuhkan banyak obat obatan sekarang..!"
Dengan raut kaget segera Tom menjawab pesan yang masuk.
"Ta..tapi bos waktu sebentar lagi gelap. A..aku..."
"Jangan membantah Tom, kamu ingin bernasib sama dengan Yurick..?" ancam seseorang dari walki talki yang di pegang nya.
Tom segera menutup komunikasi nya.
"Rick, kita mencari toko obat dulu. Bos Lando menyuruh ambil banyak obat..!" Tom berdiri sambil mengangkat senapannya.
"Apa ? Kamu tidak bercanda kan Tom ? Satu jam lagi langit gelap. Semua Scammer akan keluar memburu kita..!" ujar pak Ramli sambil beranjak.
"Coba saja kalau berani pak tua. Atau dirimu akan aku tinggalkan dijalanan ? Tidak bukan ?' ucap nya sinis.
Semua pemumpang hanya bisa diam tidak bisa melawan. Mereka harus kembali mengambil obet obatan yang banyak. Tidak betapa lama bus mendekati sebuah toko obat yang tempat nya rusak tidak terurus.
"Ayo cepat kalian semua. Ambil semua obat obatan yang ada. Waktu kita menipis..!" teriak Tom sambil mengacungkan senapannya keatas. Dengan cepat kedelapan orang itu keluar dari dalam bus dan berlari masuk ke dalam sebuah apotek.
"Donna cari antiseptik sebanyak mungkin. Teman teman kita banyak yang terluka.."
"Baik pak.." Donna bergegas membuka tas punggung nya yang berukuran besar. Beberapa botol antiseptik sudah di masukkanya ke dalam tas. Tidak lupa juga dus dus perban dan kapas diangkut juga. Setelah cukup terbawa, kedelapan orang inipun bergerak cepat masuk ke dalam bus lagi. Pintu bus segera di tutup dan perlahan bus melaju.
"Ah beruntung di dalam apotek itu tidak bertexmu dengan Scammer.." ujar pak Ramli sambil bersandar.
"Toko obat itu cukup terang sekali bila siang hari. Scammer kan bersembunyi nya di dalam tempat gelap dan lembab," ujar seorang pemuda tambun itu.
Donna beranjak dan berjalan mendekati celah jendela bus yang sudah dipasangi plat besi itu. Kedelapan orang itupun mulai terlihat cemas. Seorang gadis lainnya lalu mendekati Donna.
"Kita pasti aman, kita juga pasti sampai di rumah lagi kok.."
"Terima kasih Nissa, sudah menenangkan aku.." Donna tersenyum menatap Nissa.
Bus melaju cukup cepat, jalan yang dilalui sudah dibersihkan terlebih dulu dari puing puing maupun bangkai mobil yang melintang. Langi mulai gelap. Magrib pun menjelang.
"Itu gedung Artora sudah terlihat, kita sebentar lagi sampai.." teriak seorang pemuda bertubuh gemuk itu.
Namun wajah mereka semua berubah pucat ketakutan. Bersamaan mereka menoleh kearan kanan bus. Terdengar suara gemuruh yang kuat.
"I...itu Scammer...itu Scammer mengejar kita..!" Tom terlihat panik.
"Arahkan senapan mu keluar sana cepaaatt..!!" ujar pak Ramli sambil menatap tajam Tom. Pemuda itu hanya diam menggigil ketakutan. Dengan sigap pak Ramli mengambil senapan dari tangan Tom yang nampak gemetaran. Sementara itu dari arah kanan persimpangan jalan, meski gelap terlihat gelombang sosok manusia berlarian cepat dan terlihat beringas. Sosok sosok itu terlihat pucat dan menakutkan. Mereka berlari mengejar bus yang melaju cepat.
"Pak Ramli bagaimana ini ?" ujar Donna cemas.
Dengan sigap pak Ramli mengarahkan senapan otomatis nya kedalam celah jendela bus. Pelatukpun mulai ditariknya.
Bhum, bhum, bhum, bhum...!!!
Semua menutup telinga mendengar letusan senapan yang ditembakkan. Namun karena kalah jumlah, gelombang serbuan sosok yang mereka sebut Scammer itu tidak bisa di bendung. Pak Ramli yang tahu usahanya akan sia sia tetap menembakkan senapannya. Akhirnya amunisi yang ditembakkan pun habis juga. Dia lalu menatap Donna.
"Aku harap mimpimu menyelamatkan kita Donna.." ujar pak Ramli sambil tersenyum.
Tiba tiba sebuah hantaman keras menabrak bodi bus yang besar itu. Rupanya gelombsng terjangan Scammer yang bringas menabrak bus dengan kerasnya.
"Aaaagggrhhh...!!" Nisa menjerit panik karena terjangan ratusan Scammer yang tidak bisa mereka hindari lagi dan mengancam jiwa mereka semua.
***
Hari itu terik matahari terasa sangat menyengat. Gerobak besi yang di dorong oleh Rangga sudah terusi penuh dengan dus dua bekas. Belum lagi beberapa besi bekas juga mwnghiasi tumpukan kartus berbagai ujuran itu. Dia lalu meneguk sebotol minuman air putih yang menemani perjalanannya mencari barang barang bekas.
"Ah, itu pengepul nya sudah dekat.." gumam Rangga pelan.
Dia segera beranjak dari tempat duduknya dibawah sebuah pohon rindang itu. Lelahnya akan segera terbayarkan setelah dia berhasil mengumpulkan semua barang bekas itu selama 3 hari berturut turut berkeliling. Perlahan gerobak yang bobotnya mulai terasa berat itu didorong nya. Kalau tadi dari rumah didorong sekuat tenaga, sekarang cukup pelan saja karena sudah hampir sampai ketujuan.
Rangga lalu menyebrangkan gerobak nya menuju ke pengepul barang barang bekas. Setelah sampai, dia segera melepas ikatannya dan menurunkan semua barang yang dibawa. Sambil menunggu antrian Rangga mempersiapkan barang yang akan dikilonya.
"Rongsok besinya ada lagi ngga..?" tanya pria bertubuh tambun itu.
"Belum ada tuh bang. Nanti kalau dapet saya langsung bawa ke tempat bang Rojak deh.."
Bang Rojak mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum. Dia segera menerima semua rongsokan yang diangkut oleh Rangga. Segera dua lembar uang merah diserahkan kepada pemuda bertubuh tegap itu. Rangga nampak sumbringah bahagia menerima pembayaran hari itu.
"Nih uang nya. Jangan lupa, abang butuhnya kebanyakan mah besi bekas.."
"Siaap deh bang. Terima kasih nih uang nya. Saya pamit dulu.."
Dengan penuh suka cita Rangga berlalu dari tempat mengepul rongsokan itu. Perut mylai terasa lapar. Rangga segera menuju sebuah warteg. Ditempat itu sudah ramai oleh pengunjung yang ingin makan ditempat. Rangga lalu mendekati etalase tempat menyimpan berbagai masakan yang menggiurkan.
"Bu, saya minta nasi bungkus nya tiga.."
"Boleh, pesan apa aja dek..?"
Rangga mengamati isi etalase yang semuanya menggugah selera.
"Mm...saya minta 2 nasi rames plus ayam goreng ditambah satu nasi rames plus ikan mas goreng ya bu.."
Ibu penjaga warung itu mengangguk dan segera menyiapkan pesenan Rangga. Setelah siap tiga bungkus nasi itupun diserahkan kepada Rangga dan di balas dengan selembar uang merah. Setelah menerima kembaliannya Rangga lalu keluar dari dalam warteg itu.
"Akhirnya aku dan keluargaku bisa makan enak lagi nih.." gumam Rangga.
Namun langkahnya sesa'at terhenti ketika matanya menatap pada area parkir di sebuah restoran mewah diseberang jalan. Rangga tertegun menatap seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik berjalan hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Ibu....wanita itu mirip ibu. Dimana kah ibu sekarang..? Kasihan Amel dan bapak.." bathin Rangga sambil menatap.
Sudah 6 bulan lebih ibu Rangga, bu Mayang Sari pergi tanpa pamit dan juga khabar beritanya. Bu Mayang yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga sudah bekerja di rumah bu Erni dan pak Robby suaminya selama 2 tahun. Namun sejak 6 bulan yang lalu ibu tidak pernah pulang.
Rangga berjalan pulang sambil mengingat lagi ibunya yang pergi begitu saja. Sambil mendorong gerobaknya yang sudah kosong, Rangga juga mencari rongkosan kembali sedikit demi sedikit. Tidak berapa lama diapun sampai juga di rumahnya. Sebuah rumah sederhana dengan dinding dari bilik bambu. Setelah menyimpan gerobaknya di pinggir rumah, segera dia masuk.
"Pak, kak Rangga sudah pulang...!" ujar Amel dengan cerianya.
"Kakak bawa makan siang untuk kita bertiga.." Rangga lalu beranjak kedapur. Setelah mencuci tangan dia segera mengambil tiga piring.
Pak Arif, bapak Rangga nampak tersenyum melihat anaknya membawa makanan. Rangga kemudian mendekati pak Arif dan Amel yang sedang duduk dilantai anyaman bambu.
"Sudah belum memijit kaki bapak ?" tanya Rangga menggoda adiknya.
"Sudah dong. Sejak pulang sekolah tadi juga Amel langsung pijat kaki bapak lho kak.." ujar nya lugu.
"Adikmu ini rajin, mirip ibunya dulu. Andai saja..."
"Sudahlah pak jangan diungkit lagi. Rangga masih kuat mencari uang untuk kita bertiga. Lebih baik kita makan sekarang. Bapak suka ikan mas kan ? Ini Rangga belikan.."
Pak Arif yang sedang selonjoran kedua kakinya nampak bersemangat melihat nasi rames dengan lauk ikan mas goreng itu. Pak Arif harus menerima kenyataan kakinya lumpuh sebelah dikarenakan kecelakaan kerja tiga tahun lalu. Dia terjatuh sa'at bekerja menjadi kuli bangunan. Pesangon yang diberikan penggati kecelakaan kerja hanya bisa dipakai sebulan. Bu Mayang merasa iba atas kondisi suaminya maka diapun mencari pekerjaan hingga di terima di keluarga bu Erni sebagai asisten rumah tangga. Namun keadaan sekarang berkata lain, terjadilah kejadian yang tidak diharapkan.
"Ga, tadi ada orang datang kemari mencari kamu.."
"Mencari saya ? Siapa ya pak ?"
"Si mas Paijo. Katanya besok pagi kamu ditunggu dirumah pak Acong."
"Ooh si mas Paijo. Iya deh besok pagi Rangga kerumah nya pak Acong.."
***
Malam pun menjelang. Rangga merebahkan diri diatas lantai anyaman bambu sementara adiknya, Amel tertidur lelap atas dipan tempat tidur. Gadis kecil itu ingin selalu dekat dengan kakaknya semenjak ditinggal pergi sang ibu mereka. Rangga menatap langit langit kamar yang juga dari bilik bambu. Pikirannya teringat siang tadi kembali, sa'at Rangga mekihat seorang wanita paruh baya yang mirip bu Mayang ibunya.
Teringat 6 bulan yang lalu, ketika bu Mayang mulai menghilang. Sebelum dia pergi sebetulnya Rangga sempat bertemu ibunya. Karena sudah sebulan ibunya tidak pulang dan tidak memberi khabar, Rangga berinisiatif mengunjungi rumah tempat ibunya bekerja.
Ketika itu.....
Rangga sengaja datang menaiki sepeda bututnya menuju tempat bu Mayang bekarja. Berbekal secarik kertas alamat diapun mulai mencari alamat yang di tuju. Di perjalanan Rangga istirahat sejenak di sebuah warung kopi. Sambil menikmati minuman dingin Rangga mencoba bertanya tanya.
"Maaf bu, kalau komplek Permata Ungu dimana ya ?"
"Kompek itu mah sudah dekat dek. Di ujung jalan ini kan ada perempatan adek belok kiri, nah disitu terlihat gerbang masuk komplek nya."
"Oh iya deh kalau begitu saya mau langsung kesana. Terima kasih ya bu.."
Setelah membayar jajanannya, Rangga kembali mengayuh sepeda menuju alamat yang akan dicarinya. Dengan penuh semangat karena akan bertemu dengan ibunya yang hampir 2 bulan tidak pulang dan tidak ada khabar berita. Kompleks Permata Ungu sudah di depan dirinya. Dia lalu membawa sepedanya menuju post security penjaga gerbang.
"Maaf pak, mau nanya nih. Rumah nomer B 30 sebelah mana ya ?"
"Dari sini lurus terus di depan lapangan volley adek belok kanan. Kalau boleh tahu, adek ada keperluan apa datang ke rumah pak Robby ?"
"Saya mau bertemu ibu saya yang bekerja dirumah beliau pak."
"Oh, silakan dek. O iya pak Robby itu mau menikah lagi sama karyawannya karena istrinya meninggal. Mungkin dia dari keluarga adek.."
"Oh begitu. Terima kasih sudah di beri tahu pak. Saya permisi dulu.."
Rangga mengayuh sepeda nya kembali. Pak Robby atasan ibu mau menikah lagi ? Bukannya cerita ibu dia sehat sehat saja ? Aneh pikir Rangga. Atau dia terkena serangan jantung ? Menurut cerita ibuku, bu Erni itu sangat baik sekali pikir Rangga dalam hatinya. Lalu siapakah yang akan menjadi istri baru pak Robby bos ibunya itu ?
*************