Hari itu panas cukup menyengat kulit. Beruntung di dalam kompleks itu banyak pepohonan yang besar dan rindang sehingga membuat sejuk area sekitarnya termasuk jalan kompleks yang Rangga lalui dengan sepeda nya. Secarik keetas yang dipegang Rangga dipegang nya erat erat takut jatuh dan hilang.
"Luas sekali ini kompleks. Rupanya baru blok A yang aku lewati. Apa aku perlu tanya pada penjual bakso keliling itu ?" Rangga kalu mendekati seorang penjual gerobak bakso.
"Maaf mas mau tanya, blok B 30 sebelah mana ya ?"
"Oo itu tinggal luruus saja dari sini dek. Belok kanan itu area blok B. Kalau nomer 30 itu rumah besar yang pagar besinya warna hitam."
"Terima kasih... Mas rupanya tahu ya..?"
"Ibu pembantunya langganan saya dulu. Cantik lho dek.."
"Mas kenal gitu ?" Rangga mulai penasaran. Mungkin siapa tahu penjual mie bakso ini kenal dengan ibunya.
"Tentu saja saya kenal. Namanya mbak Sari. Tapi sekarang...adek cari siapa kerumah itu kalau boleh mas tahu ?"penjual mie bakso paruh baya itu nampak curiga.
"Bu Sari itu... Mungkin ibu saya mas. Ada tahi lalat di pipi sisi kirinya kan ?"
Mas penjual mie nampak terperanjat. Dia menaikkan alis nya kemudian menatap Rangga dari atas kebawah. Rangga dibuat semakin heran.
"Adek pernah datang kesini ?"
"Saya baru sekarang datang berkunjung ke tempat kerja ibu saya."
Mas penjual mie bakso itu nampak menghela nafas panjang. Dia seperti merasa iba menatap Rangga.
"Dek, menurut mas, ...adek urungkan saja niat nya.."
"Kenapa gitu mas?" Rangga mengkerutkan kening nya.
"Mas... Mas mie bakso ! Sinii maass..!!" teriak seorang anak kecil dari sebuah rumah besar.
"Nanti kita bicara lagi dek. Mas jualan dulu.." mas mie bakso itu bergegas mendorong gerobaknya menuju anak kecil yang memanggilnya tadi.
"Penjual mia bakso itu sikapnya mencurigakan. Apa maksudnya menyuruhku untuk mengurungkan niat ku ?" gumam Rangga dalam benaknya.
Diapun segera mengayuh sepeda nya kembali. Sesuai instruksi mas penjual mie bakso tadi, Rangga pun menemukan bok B. Perlahan dia melaju sambil mencari nomer yang di tuju. Akhir nya ditemukan juga. Rangga lalu berhenti dan turun dari sepedanya.
"Nomer B 30.. Itu ada bel," Rangga mendekati pintu pagar besi yang sangat tertutup rapat itu.
Beerrrrt..! Terasa tombol itu bergetar, namun belum ada respon dari dalam. Rangga berdiri memegang sepeda nya sambil tubuhnya kepanasan. Dari sudut pagar besi itu terbuka sebuah pintu kecil. Seorang security berbadan tegap dan tinggi besar menghampiri Rangga.
"Ada parlu apa dek ?" tanya security berkumis tebal itu sambil menatap tajam kearah Rangga.
"Maaf pak, apa betul ini tempat kerja nya bu Mayang Sari ?"
"Ini bukan tempat kerjanya ya. Ini rumah nya. Kalau adek tidak tahu.."
Rangga kembali mengkerutkan kening nya. Rumahnya ? Apa tidak salah dengar pikir Rangga. Semuanya penuh tanda tanya semenjak ucapan mas penjual mie bakso tadi membuat nya bingung.
"Ada perlu apa adek kemari ? Apa adek sudah ada janji sebelumnya?. Disini belum ada lowongan kerja," ujar bapak security itu.
Rangga semakin dibuat penasaran. Dia tidak ingin mengutarakan bahwa bu Mayang adalah ibunya, karena Rangga merasa ada yang janggal.
"Kalau boleh saya ingin bertemu sebentar saja pak dengan beliau. Saya pernah bertemu dan... Pernah meminta pekerjaan pada beliau.." Rangga sedikit berbohong.
"Mm...baiklah kalau adek mau bertemu beliau, bapak ijinkan. Tapi dengan sopan ya."
"Iya pak..."
"Tapi ibu sedang pergi. Sekitar satu jam lagi pasti pulang, acara rutin Arisan. Adek lebih baik menunggu saja ya di dalam post saya.."
Rangga pun mengangguk, pintu kecil itu rupanya cukup dimasuki Rangga dengan sepeda nya. Sejenak dia tertegun, eksterior rumah itu sangat megah dan mewah. Taman didepannya cukup luas. Rumah bertingkat 2 itu bagai istana dengan cat putih nya menambah kesan elegan. Rangga lalu membawa sepedanya kearah post penjagaan di sisi kiri dekat pagar rumah itu. Sebuah bangku papan yang panjang jadi tempat Rangga menunggu.
"Kapan adek bertemu dengan ibu ?" tanya bapak security sambil duduk disebelah Rangga.
"Saya bertemu dengan beliau sekitar 2 bulan yang lalu," Rangga menyandarkan tubuh tegap nya.
"Wah, sudah lama sekali ya. Apa dia menawarkan adek pekerjaan waktu itu ?"
Rangga mengangguk sambil tersenyum. Bunyi pintu pagar yang terbuka secara otomatis membuyarkan obrolan mereka. Bapak security itu segera beranjak menyambut nya. Pintu pagar itu cukup tinggi, ada sekitar 3 meter tingginya.
"Itu ibu pulang. Oh ternyata diantar suaminya."
Dheg..! Rangga sedikit terperanjat mendengar ucapan penjaga itu. Suaminya ? Apa mungkin bukan ibuku, lalu ibu dimana pikir Rangga. Bapak Security itu membungkukkan badannya sa'at mobil sedan Mercy putih model terbaru itu masuk ke dalam setelah pagar terbuka. Rangga yang masih diam berdiri menatap mobil mewah itu melaju pelan menuju teras rumahnya. Setelah berhenti, dari pintu supirnya keluar seorang lelaki tinggi besar dengan perut buncit. Dia terlihat memakai kaca mata hitam. Sesa'at tatapannya mengarah kepada Rangga, kemudian berjalan untuk membuka pintu di sebelahnya.
Rangga kembali terkesima, seorang wanita paruh baya keluar dari dalam mobil setelah pintunya dibuka dari luar. Mereka terlihat berbicara sebentar. Rangga begitu yakin, wanita paruh baya yang cantik itu adalah ibunya, apalagi setelah melepas kaca mata hitamnya. Rambut nya indah bergelombang, wajahnya putih bersih tidak seperti sebelumnya selalu berkerudung menutup rambut nya yang panjang. Setelah yakin itu ibunya Rangga bergegas menemuinya. Wanita itu lalu menatap Rangga yang mendekatinya.
"Bu...ibu ini Rangga datang berkunjung."
Bu Mayang nampak terkejut sedikit gugup. Dia lalu menoleh kearah pintu rumah. Lelaki tinggi besar itu menatap bu Mayang erat erat.
"Ada apa sayang ? Apa perlu mas bantu ?"
"Ti..tidak usah mas. Aku bisa mengurus nya. Mas duluan masuk aja. Saya bisa urus orang dari kampung ini. Paling juga meminta sumbangan.."
Lelaki itupun lalu masuk ke dalam rumah sambil tersenyum. Mendengar itu Rangga cukup kaget juga. Pemuda ini diam terpaku mendengar perlakuan ibunya itu.
"Ada apa kamu datang kemari ?" ujar bu Mayang ketus.
"Bapak menanyakan khabar dari ibu. Beliau cemas sekali. Bu... Kami kangen, Amel juga menanyakan terus kenapa ibu tidak pulang 2 bulan kemaren.."
"Huh, bukan urusan ku.. Laki laki cacat itu hanya jadi beban ku saja. Sekarang kamu yang harus mengurus nya. Aku sudah bahagia disini. Camkan itu anak muda. Ow...aku tahu kamu pasti meminta sumbangan ya dari ku. Baiklah .."
Gilang begitu kecewa dan marah mendengar ucapan ibu nya itu. Mengapa ibu bisa berubah ?, bukankah ibu sifat nya lemah lembut dan sangat sayang pada Amel. Sekarang telah berubah 360 derajat. Sedikitpun dia tidak menanyakan khabar si bungsu itu tidak seperti sebelumnya yang sangat perhatian. 6 lembar uang merah lalu diserahkan kepada Rangga dengan tersenyum sinis. Rangga lalu menerimanya karena dia benar benar membutuhkan untuk biaya membeli seragam olah raga dan sepatu Amel yang sudah kekecilan.
"Ambil ini dan....jangan kembali lagi mengerti ? Atau aku usir kamu dari sini. Sudah pulang sana... Urus bapakmu yang cacat itu.." ujar bu Mayang dengan sambil melotot.
Begitu teriris hati Rangga, wajah itu nampak sangat berubah. Ada guratan asing di wajah cantiknya. Entah apa itu dan sangat mendominasi jiwa ibunya.
"Security.... Usir dia..!"
"Tidak usah bu, Rangga akan pergi sekarang juga. Saya permisi..."
Rangga berlalu diantar security keluar dari gerbang besi.
"Maaf ya dek, bu Mayang memang begitu. Dia selalu tegas dan juga galak. Beruntung beliau mau memberi uang sumbangan kepada adek."
Rangga hanya tersenyum, diapun lalu berpamitan. Sambil berjalan gontai Rangga menelusuri jalan menuju keluar dari kompleks mewah itu. Dia tidak menyangka sama sekali ibunya sudah melupakan keluarga nya, bahkan yang lebih perih beliau sudah menghianati pak Arif suaminya dengan menikah lagi.
"Dek, adek...?"
Rangga yang sedang mendorong sepeda menoleh ke kanan. Mas penjual mie bakso memanggil dirinya. Rangga lalu menghampiri.
"Adek sudah dari sana ya ?, mas tahu perasaan mu dek."
Rangga menatap mas penjual mie bakso itu.
"Terima kasih mas, sudah memperingatkan saya. Mas pasti sudah tahu mengenai ibu saya."
"Duduk dulu dek, kita bicara sebentar..," mas itu lalu menyerahkan satu kursi plastik pada Rangga. Dia juga menyerahkan segelas teh hangat.
"Nama saya Tugiman. Boleh saya cerita soal rumah itu ?" tanya si mas.
"Saya Rangga mas. Tentu saja boleh."
"Saya kenal dengan mbak Sari pas sejak awal dia bekerja dirumah itu setahun yang lalu. Menurut dia pemiliknya bernama bu Erni dan suaminya bernama pak Robby. Bu Erni langganan saya lho dek, dia selalu memesan mie bakso dengan menyuruh mbak Sari. Dari situlah saya kenal dengan mbak Sari dan tahu keluarga pak Robby. Maaf juga dek..mas sempat menyukai mbak Sari dan kalipun semakin akrab..," mas Tugiman lalu menyimpan piring yang sudah dicucinya.
"Hampir setiap hari tepatnya sore hari saya selalu lewat rumah besar itu. 3 bulan lalu rumah besar itu pagar nya masih kecil tidak seperti sekarang yang tinggi nya 3 meter itu, jadi kami bisa mengobrol sejenak dengan ijin pak Toto security rumah itu tentunya yang sudah diganti..," ujar nya lesu, tatapannya menerawang keatas lalu menatap Rangga kembali.
"Mas menyatakan suka sama dia, karena saya duda. Mbak Sari hanya tersenyum lalu berkata bahwa dia punya suami dan juga anak di pinggir kota jadi bukan berarti menolak saya. Diluar dugaan mbak Sari membalas rasa suka saya itu. Saya juga sudah 2 kali mengajak dia jalan jalan ke pasar malam. Hanya sebentar lho dek, makan makan sate saja. Jam 9 malam juga sudah saya antar pulang. Ternyata bu Erni baik juga,mengijinkan saya dan mbak Sari jalan jalan sebentar."
"Terus mas, bagaimana selanjut nya ?" Rangga tetap tenang mendengar cerita mas Tugiman. Pemuda ini merasakan sedikit marah namun dia tahu mas Tugiman tidak berlebihan mendekati ibunya.
"Kami sering nya hanya mengobrol di depan rumah dan lucunya...saya ingin melamar dia he he..ma'af ya dek. Mbak Sari sudah cerita putranya bernama Rangga. Dan diluar dugaan lagi, mbak Sari mau menerima candaan pinangan saya. Dia mau menikah dengan mas Tugiman yang hanya penjual mie bakso ini hingga terbersit untuk datang melamar kesini. Namun..." mas Tugiman lalu menghela nafas panjang.
"Namun apa mas ?" Rangga memicingkan matanya.
"Tepat Tiga bulan lalu ada khabar bu Erni meninggal karena kecelakaan. Sejak itulah rumah tersebut ditutupi pagar besi rapat yang cukup tinggi. Kontak saya dengan mbak Saripun terputus. Tidak ada khabar sama sekali. Lalu yang saya heran, dirumah itu tidak ada acara berduka apapun. Saya tahu semua itu dari security lama yang diganti. Benar benar aneh.." mas Tugiman diam sejenak.
"Apa mas sempat bertemu atau melihat ibu saya lagi ?," Rangga kembali bertanya.
"Sejak rumah dipagar besi itu ?...sering dek. Namun dia telah berubah.."
"Berubah bagaimana mas ?"
"Mbak Sari jadi mahir mengemudikan mobil, padahal sebelumnya dia tidak bisa apa apa bahkan untuk memakai motorpun takut. Lalu.. Bisa berpapasan dia jadi dingin..sedikitpun tidak menoleh kepada mas. Hingga suatu saat saya menyapa nya untuk menawarkan mie bakso jualan saya. Jawaban dengan menghina saya habis habisan. Dari situlah mas Tugiman mulai curiga. Mbak Sari sedang dibawah pengaruh pelet seseorang tepat nya oleh pak Robby karena saya sering melihat mbak Sari mengedarai mobil berdua dengannya."
"Terima kasih mas sudah bercerita banyak kepada saya. Begitu detail dan lengkap.." Rangga tersenyum.
"Tidak apa apa dek. Ini hanya ungkapan permintaan maaf saya kepada dek Rangga karena sudah menganggu ibumu. Tapi bila adek membutuhkan saya, daya bisa membantu. Ini nomer handphone saya.."
Setelah itu Ranggapun berpamitan dan berlalu meninggalkan kompleks itu. Dari cerita mas Tugiman penjual mie bakso itu sedikitnya Rangga tahu apa yang terjadi dengan ibunya. Diperjalanan Rangga terus memikirkan ibunya yang telah berubah. Beliau dengan tega meninggalkan mereka sebagai keluarga nya.
Rangga lalu bercerita kepada bapaknya mengenai ibu yang sudah berubah. Betapa kecewa nya pak Arif. Beliau tidak bisa berbuat apa - apa hanya menangis tersedu. Pak Arif ingin menemui bu Mayang untuk terakhir kalinya. Rangga lalu menelpon mas Tugiman untuk membantunya nanti menemui nu Mayang. Namun menurut mas Tugiman, rumah itu sudah kosong karena hendak dijual. Keberadaan bu Mayang pun pergi entah kemana. Pak Arif pun semakin tenggelam dalam kesedihan.
Rangga menghela nafas panjang mengakhiri lamunannya. Dia yang sedang rebahan lalu menatap jam di dinding bilik bambu kamar nya yang menunjukkan pukul 11 malam. Rangga sekeluargapun perlahan bisa melupakan ibu mereka. Namun meski begitu Rangga selalu mendo'akan keselamatan ibunya yang entah berada dimana tersebut.
"Semoga kita bisa bertemu lagi bu. Rangga tahu ibu selalu dalam keselamatan..," ujar Do'a pemuda yang sebenar nya kecewa atas kepergian ibunya. Tidak berapa lama diapun terlelap.
Keesokan harinya, Rangga bersiap untuk berangkat mengunjungi rumah pak Acong setelah mengantar Amel pergi sekolah dengan sepeda butut nya. Gadis kecil itu tetap ceria meski hanya diantar menaiki sepeda kakak nya. Setelah mencium tangan Rangga, Amel lalu berlari masuk ke sekolah. Tidak berapa lama sepeda itupun melaju meninggalkan tempat itu.
****************