Satu setengah tahun yang lalu...
Kesedihan sedang menyelimuti keluarga pak Arif. Bapaknya Rangga ini baru saja terkena musibah jatuh dari atap ketika sedang bekerja sebagai tukang bangunan. Pak Arif yang terluka sempat di bawa ke rumah sakit. Mandor bangunan dengan sigap mengabari keluarga pak Arif. Siang itu bu Mayang sedang mencuci baju punya tetangga. Sa'at akan menjemur nya, seorang pengendara motor datang berkunjung ke rumah. Rangga yang sedang memilah milah ekso bekas botol botol air mineral beranjak bangkit dari duduknya.
"Assalamualaikum Ga.."
"Wa alaikum salam..eh bang Hamid. Lho kok ngga sama bapak ?"
"Tidak nih Ga. Ibumu mana ?"
Tidak berapa lama bu Mayang berjalan keluar rumah dengan raut cemas.
"Ada apa mas Hamid ?"
"Itu mbak..bang Arif masuk rumah sakit. Jatuh waktu kerja.."
Bu Mayang nampak shock, beruntung Rangga memegang badannya hingga tidak teejatuh.
"Kondisinya sekarang bagaimana bang ?," Rangga mencoba tenang walau bertanya cemas.
"Tadi sempat pingsang, tapi sekarang sudah sadar kembali. Mbak sama Rangga mau kesana ?"
Tidak berapa lama bu Mayang sekeluarga berangkat menggunakan taksi menuju rumah sakit. Sa'at disana Amel belum boleh masuk sehingga gadis kecil ini menunggu bersama Rangga kakaknya di luar RS. Bu Mayang lalu masuk bersama bang Hamid rekan pak Arif. Bu Mayang nampak berurai air mata ketika menemui suaminya.
"Aku tidak apa apa bu, cuman kaki ku.. sepertinya patah.."
Bu Mayang tidak banyak berkata apa apa, memang beliau orang yang penyabar. Sambil membelai rambut suaminya bu Mayang tersenyum menenangkan.
"Semua mfusibah siapa yang tahu pak. Yang penting bapak selamat. Itu yang ibu syukuri.."
"Biaya perawatan akan ditanggung tempat kerja bapak, bu."
Bu Mayang pun mulai tenang. Lima hari kemudian pak Arif sudah diperbolehkan untuk pulang. Beliau hanya di beri pesangan 4 juta rupiah karena besar nya biaya perawatan yang mencapai 15 juta, maka sisanya diserahkan pada keluarga pak Arif. Kini kepala keluarga itu tidak bisa bekerja lagi karena tidak bisa berjalan normal dan harus dibantu dua tongkat bahu untuk menopang berdirinya.
Seminggu setelah pak Arif dirawat dirumah, bu Mayang yang rajin membantu mencuci baju baju tetangga, menutuskan bekerja untuk menafkahi keluarga. Ketika itu mereka sekeluarga sedang makan siang.
"Pak, ibu sudah berniat untuk bekerja. Supaya bapak bisa istirahat penyembuhan. Juga membeli obat uintuk bapak.."
"Bekerja dimana bu ?" pak Arif nampak gusar.
"Tadi siang ibu bertemu dengan bu Ratna, temannya membutuhkan asisten rumah tangga. Lalu ibu diperkenalkan dengan mereka. Namanya bu Erni. "
"Rumah nya dimana ? Masih dekat sini ?" pak Arif makin penasaran.
"Bu Erni rumahnya di kompleks Permata Ungu dekat pusat kota. Nanti apabila diterima...ibu akan menginap disana dan bisa pulang 2 minggu atau sebulan sekali kan pak.."
Pak Arif menghela nafas panjang. Dia lalu menatap kedua anaknya.
"Apa tidak terlalu jauh bu. Kan kasihan anak - anak.."
"Rangga sama sekali tidak keberatan pak. Asalkan ibu bisa menjaga diri. Dan ingat selalu dengan kita iya kan Amel..?"
Gadis kecil itu mengangguk lucu mendengar ucapan kakaknya. Bu Mayang segera memeluk anak bungsunya itu.
"Terima kasih ya anak ibu yang cantik. Nanti pasti akan ibu belikan kamu boneka yang bagus setiap gajihan."
Keesokan harinya bu Mayang sudah bebenah dengan tas berisi beberapa bajunya. Pak Arif dan Rangga serta Amel mengantar kepergian ibu mereka yang dijemput oleh sebuah mobil taksi online. Bu Mayang nampak meneteskan air mata sewaktu mobil mulai bergerak menjauh.
Dua jam kemudian bu Mayang sudah sampai ke tempat yang dituju. Sebuah runah megah nan mewah menyambut kedatangannya. Setelah sampai Bu Mayang segera bertemu dengan bu Erni dan suaminya.
"Halo mbak, selamat datang. Terima kasih sudah mau bekerja dirumah saya. Ini suami saya pak Robby."
Bu Erni menoleh kearah suaminya yang sedang berdiri di sisi meja kerja nya. Ibu paruh baya yang memakai kursi roda itu nampak senang bu Mayang mau bekerja dirumahnya. Pak Robby menatap nanar kearah bu Mayang. Diapun jadi tertunduk malu.
"Mbak Sari bisa beristirahat di kamar samping rumah. Mbok Poniyem akan mengantar anda."
"Terima kasih bu.." bu Mayang lalu diantar seorang wanita tua yang merupakan ART juga.
"Ini kamar nya mbak Sari, kalau saya yang disebelahnya," ujar mbok Poniyem dengan ramah nya.
Bu Mayang menjalani pekerjaanya dengan rajin. Mbok Poniyem menyukai kinerja bu Mayang. Kebaikan bu Erni selaku bos nya begitu baik sangat terasa . Sayang kecelakaan yang menimpa nya setahun sebelumnya membuat wanita cantik itu harus selamanya duduk dikursi roda. Tugas bu Mayang untuk menyiapkan makan untuk bu Erni. Bahkan perkenalannya bu Mayang dengan mas penjual mie bakso tidak dilarang oleh nya.
"Mbak Sari, cantik deh... Wajah ayu sederhana tanpa make up membuat saya tergila gila. Saya suka sama mbak Sari.." goda mas penjual mie bakso sore itu. Bu Mayang yang berdiri di luar dekat pagar hanya tersenyum saja.
Pak Toto yang merupakan security senior hanya geleng geleng kepala. Sejak itulah keduanya semakin dekat. Penjual mie bakso yang bernama mas Tugiman itu sempat mengajak bu Mayang jalan jalan ke pasar malam. Hingga suatu peristiwa tidak terduga terjadi didepan mata bu Mayang.
Pagi itu bu Mayang hendak mengantar sarapan pagi bu Erni ke kamar nya di lantai 2. Sepiring roti selai dan segelas s**u tawar murni menjadi menu hari itu, ditambah satu buah pisang dan irisan buah kiwi. Bu Mayang segera beranjak menuju lantai 2. Setelah menaiki anak tangga, dia sudah berdiri depan pintu kamar tuannya. Bu Mayang lalu masuk katena sudah biasa langsung menyuguhkan sarapannya di tempat tidur.
Ketika sudah meletakkan meja kecil diatas tempat tidur, mata bu Mayang terperanjat. Dia melihat bu Erni sudah terlentang dengan mata terbelalak dan mulut berbusa. Bu Mayang panik, dia lalu segera ke ruang kerja pak Robby di sebelah kamar tidur itu.
"M..ma'af pak. Ibu sepertinya pingsan ..!" bu Mayang berbicara bergetar sambil menatap pak Robby yang sedang membuka laptop nya.
Pak Robby bergegas masuk kamar. Dia lalu memeriksa nadi tangan bu Erni yang rupanya sudah tidak berdenyut lagi.
"Hm... Berhasil juga aku meracuninya.." ujar pak Robby dalam hatinya. Dia lalu menatap bu Mayang yang nampak bersedih.
"Sudahlah mbak Sari.. Istriku sudah pergi. Kita ikhlaskan saja. Satu lagi mbak. Tolong rahasiakan hal ini pada siapapun ya. Mengenai istriku akan saya urus.."
Bu Mayang yang terisak lalu mengaggukkan kepalanya. Dia tidak menyangka bu Erni pergi secepat itu. Bu Mayang mulai curiga, dari kondisi bu Erni yang mulut nya berbusa bisa diambil kesimpulan dia meninggal karena diracun. Siapa lagi yang selalu dekat dengan beliau selain suaminya. Bu Mayang menatap pak Robby penuh curiga. Setelah pak Robby membungkus jenazah bu Erni, dia lalu bergegas mendekati lemari baju yang cukup besar dan mengambil sebuah kotak hijau yang berbentuk persegi pipih.
"Mbak Sari ma'af sebelumnya. Sebenar nya semenjak mbak Sari datang, saya sangat menyukai mu. Sebagai tanda cinta..terimah mutiara ini. Khusus untukmu.."
Bu Mayang yang semula hendak keluar jadi diam terpana menatap kemilau mutiara putih nan anggun di depan dirinya. Seolah ada sesuatu yang menarik bu Mayang, hatinya ingin segera memakai. Pak Robby lalu memasangkan kalung mutiara itu dileher putihnya.
"Kau akan tunduk pada padaku Sari, kau pun secara perlahan melupakan keluarga mu hingga hanya tergila gila pada ku, rasakan hipnotis dari mutiara ku ini..," bathin pak Robby sambil tersenyum puas.
Sejak sa'at itulah, efek kalung mutiara itu begitu mempengaruhi bathin bu Mayang hingga diapun jatuh ke pelukan pak Robby dan melupakan semua yang ada didekat nya.
***
Rangga menatap adiknya, Amel berlari masuk ke dalam sekolah. Bel pun berbunyi tanda belajarpun dimulai. Gerbang sekolah segera ditutup oleh penjaga nya. Rangga lalu mendorong perlahan kendaraan goesnya dan berlalu dari tempat itu. Kurang lebih satu jam mengayuh, Rangga dengan sepeda nya sudah sampai di depan rumah pak Acong. Rumah itu lumayan besar juga dengan arsitektur klasiknya. Pak Acong sengaja tidak merenovasi rumahnya karena agkan menghilangkan estetika aslinya.
Sepeda lalu disimpan di dalam teras rumah itu. Rangga lalu berjalan mendekati pintu rumah. Setelah memencet bel beberapa sa'at, keluarlah seorang bapak tua dengan sikap ramah nya menyambut Rangga.
"Oh nak Rangga...bapak sudah menunggu kamu dari kemarin. Ayo masuk dulu."
Pemuda inipun masuk ke dalam rumah. Dia lalu duduk diruang tengah yang cukup luas karena tidak banyak perabotan. Pak Acong lalu duduk di kursi depan Rangga. Tidak berapa lama seorang asisten rumah tangga datang membawa segelas sirup dingin.
"Terima kasih Bi. Ayo minum dulu, kamu pasti kepanasan di jalan."
Rangga lalu minum seteguk air dingin itu. Dia lalu kembali menatap pak Acong.
"Maaf kalau boleh tahu ada perlu apa ya, pak Acong memanggil saya ?."
"Begini Rangga, bapak kan kenal kamu sudah lima bulan ini semenjak kamu menolongku dari perampokan waktu itu. Kembali aku berterima kasih pada keberanian mu."
"Sama sama pak Acong, yang penting kita sudah selamat," ujar Rangga dengan ramah nya.
"Begini, kamu tahu kan mobil putih itu? Dua hari yang lalu mobil itu saya jual.."
"Dijual ? Pak Acong bagaimana dong kalau ada keperluan kesana ke mari ?," Rangga nampak kaget.
"Saya tidak akan pergi ke mana mana lagi Ga. Hanya ingin beristirahat saja disini. Dirumah penuh kenangan ini. O iya sebentar..."
Pak Acong beranjak lalu berjalan mendekati lemari bukunya. Dia lalu mengambil dua benda dari dalamnya. Sesudah itu kembali duduk didepan Rangga.
"Saya ada perlu sama kamu. Pertama..ini ada tips untuk kebaikan mu. Saya harap kamu mau menerimanya.."
Rangga nampak segan juga menerima bungkusan itu yang diyakininya berisi sejumlah uang. Pak Acong nampak tersenyum bahagia. Dia lalu menatap benda yang dipegang nya.
"Satu lagi Rangga, saya mau meminta tolong padamu untuk menjaga sebuah benda wasiat. Mohon ini kamu pegang dan jangan kamu berikan kepada siapapun. Paham..?"
Rangga mengangguk, dia lalu menerima sebuah kotak kayu berukir yang sangat kecil. Kotak itu terlihat sangat usang. Perlahan Rangga membukanya. Seketika itu matanya terbelalak. Dia lalu menatap kearah pak Acong, untuk apa benda karatan ini pikirnya.
"Ini kunci pintu rumah pak ? Bentuk nya klasik sekali."
"Iya, itu hanya sebuah kunci. Nanti juga kamu akan tahu kegunaannya. Ingat jangan diserahkan kepada siapapun..," pak Acong mengulang nya tanda benda itu harus hati hati untuk dijaga.
TRangga kembali mengangguk dan menyimpan lagi kunci itu kedalam kotaknya. Merekapun berlanjut mengobrol ngalor ngidul tentang segala hal. Semantara itu tanpa diketahui, obrolan mereka di matai matai oleh asisten rumah tangga pak Acong sambil tersenyum.
***
Siang itu Rangga berpamitan untuk pulang. Diapun mengayuh sepedanya dengan penuh kebahagiaan. Hari itu dia sengaja tidak mencari dan mengumpulkan rongsokan dahulu karena sudah memegang uang pemberian pak Acong yang sudah melelang mobilnya. Kembali Rangga memikirkan ucapan teman baiknya itu. Apa maksud nya tidak akan pergi kemana - mana lagi ? Ah semoga apapun itu baik untuknya pikir Rangga.
Sesampai di rumah nya Rangga segera bercerita kepada bapak dan adiknya mengenai uang yang diterima. Sungguh diluar dugaan, jumlah uang itu adalah 10 juta. Bapak dan Rangga tidak henti hentinya bersyukur.
"Pak, Rangga mau belikan kursi roda untuk bapak. Lalu mau belikan boneka baru lagi untukmu dek. Lebih besar dari yang itu," Rangga menunjuk pada sebuah boneka yang dibiarkan kotor tidak pernah disentuh karena selalu ingat ibunya.
Amel yang sedang memijat kaki bapaknya sontak bersorak loncat - loncat kegirangan. Pak Arif nampak kembali tersenyum bahagia. Sore itu Rangga menjagak adiknya berbelanja. Setelah membeli sebuah kursi roda dan siap membawanya pulang, Rangga mampir juga pada sebuah toko swalayan besar dan membeli boneka keinginan Amel.
Malampun tiba, Rangga sedang duduk diruang tengah sambil nenonton TV 14 inc yang baru dia beli. Tangannya memegang kotak kayu yang tadi siang di berikan oleh pak Acong. Kunci karatan itu lalu di lap, tetap karatnya tidak hilang. Untuk apa kunci ini, toh tidak ada pintu nya. Apa aku buang saja pikir Rangga. Tapi demi kebaikan dan amanat dari dari pak Acong, Rangga tidak ingin mengingkarinya. Dia lalu bberanjak dan mengambil sebuah tali putih kecil, sebuah benang kasur.
Dengan seksama Rangga mengikat nya sehingga jadi sebuah kalung lalu dipakai dilehernya. Dia tersenyum sambil mengamati kalung kunci itu. Rasa kantukpun mulai membelai. Setelah TV dimatikan Ranggapun mulai terlelap.
"Ga...Rangga ?. Saya pak Acong.."
"Iya pak ada apa ?," Rangga menatap bapak tua itu yang berdiri di depan cahaya putih.
"Saya mau pamit pergi. Saya hanya memberitahumu, kunci itu sudah bisa kamu pakai. Gunakan lah untuk kebaikan. Ditempat yang kamu datangi mereka pasti akan membutuhkan mu. Jadilah orang baik Rangga..selamat tinggal.."
"Pak, pak Acong tunggu... Uang dari mu terlalu banyak dan.."
Rangga tersentak sambil matanya terbelalak. Rupanya dia baru bermimpi aneh. Belum pernah dia bertemu pak Acong di dalam mimpinya. kunci yang dikalungkan dilehernya di tatap kembali. Apa maksud semua ini, kunci ini untuk apa dan dimana ? Aku harus menemui pak Acong lagi esok hari, menanyakan kegunaan kunci ini. Apa ada pintu rahasia di rumah besar nya itu. Semua begitu penuh tanda tanya.
****************