"Baiklah aku pamit dulu," ucap No lesuh meninggalkan Jo.
"Anak itu...ck" ucap Jo berdecak menggeleng lalu tersenyum.
Tok...tok..
"Apa aku boleh masuk?!" tanya No.
"Nona..." panggil Zip.
Kenapa dia suka sekali memanggil nama depan ku dengan lengkap?!
"Apa?!"
"Bantu aku susun bon-bon di dalam laci ku." perintah Zip yang membuat No langsung melakukannya.
No membuka laci di samping sebelah kiri Zip menemukannya penuh dengan tumpukan kertas, saat Zip menggakat wajahnya ia juga menemukan wajah no di sisinya No berkedip lalu Zip juga tersadar ia mengambil pulpen yang ada di sisi kiri kepala No di atas meja.
"Aku mengalbil pulpen" beritahu Zip menunjukkan pulpen di tangannya.
No mengguk dengan canggung "baiklah aku akan membawa ini semua ke meja ku" ucap No sebagai solusi.
No membawa semuanya tanpa terkecuali menghindari jika ia harus kembali ke meja Zip. Meja No berhadapan dengan meja Zip tapi itu berjarak Zip di sisi kanan dan No di sisi kiri di belakang mereka adalah kaca besar dan di samping kanan mereka pun kaca besar.
Zip memejamkan matanya menolak apa yang baru saja telintas di pikirannya.
"Aku akan melihat bagian produksi," pamit Zip keluar dari ruangan dengan dua ace dan satu kipas angin. No mengguk tanpa melihat Zip.
Setelah Zip keluar dari ruangan itu Barulah No bernapas lega, No menyalakan seluruh ace dan kipas angin bahkan No juga membuka pintu ruangannya karna merasa masih sangat panas.
...
"Apa sebaiknya kita lembur saja Zip?! Permintaan hari ini benar-benar gila," ucap Jo.
"Tidak, kita harus mengaturnya agar tidak berlebih untuk memproduksinya habiskan saja dulu barangnya baru kita akan memproduksi lagi. Jika tidak mereka tidak mau barang yang lama dan itu akan menjadi kerugian untuk kita" beritahu Zip.
"Begitu menurut mu?! Baiklah kalau begitu aku akan pulang besok kita ada peledakan bukan" ucap Jo.
Mengambil barang-barangnya dan memasukkannya dalam satu tas.
"Ohh...sampaikan salam ku pada No," ucap Jo sebelum pergi.
Zip mendelik. "Kau pikir aku mau melakukannya?!" ketus Zi.
Saat Zip masuk kedalam ruangannya dan No ia melihat No tanpa baju, maksudnya No sedang tidak mengenakan atasan pri itu mengipaskan kertas di depan wajahnya. Zip menelisik tubuh No benar-benar baik. Tanpa sadar ia menelan ludahnya sendiri.
"Kenapa kau membuka bajumu?!" tanya Zip tampak tak peduli.
"Apa kau tidak kepanasan? Aku benar-banar merasa panas!" keluhnya.
Zip menutup pintu agar dingin yang di hasilkan dari ace tidam keluar.
"Kenapa kau menutupnya?"
"Karena aku ingin, kenapa?" tantang Zip.
"Tidak!" balas No ketus.
"Kulit ku terbakar," keluh No lagi mengipaskan kertas tadi di sepanjang tubuh dan lengannya.
Zip dapat melihatnya lengan No benar-benar merah saat ini, "Apa kau pernah ikut aku pergi melihat sekeliling?" tanya Zip masih pura-pura fokus dengan yang ia baca.
"Tadi itu yang pertama kali," jawab No cepat sekaligus kesal jika bukan karna Zip ia tidak akan begitu lama berada di bawah sinar matahari.
"Ck..." Zip berdecak keras "kenapa kau payah sekali! Tunggu di sini aku akan kembali" lalu Zip keluar dari ruangannya lagi.
"Kenapa dia ini, menyabalkan!" keluh No lagi.
Saat Zip kembali No masih dengan kegiatan awalnya mengipaskan kertas pada dirinya.
Zip melirik No lalu menarik kursinya hingga berdampingan dengan kursi yang No duduki,
"Menghadap pada ku," ucap Zip merintah.
"Kenapa?!..."
Malas dengan ocehan No Zip memutar kursi No dengan paksa. Ia mengeluarkan satu botol lotion dari dalam keresek yang ia bawa tadi.
Zip menuangkannya ke tangannya terlebih dahulu lalu mengoleskannya pada kulit lengan No, saat pertama menyentuhnya Zip seperti menyentuh bulu angsa dalam bantal.
"Kemapa kau begitu payah? Ini hanya panas matahari dan kulit mu telah terbakar bagai mana dengan debu? Apa kau akan kerumah sakit setelah itu?" Omel Zip.
"Aku tidak lemah atau pun payah! Apa kau pikir anak baru seperti ku akan kuat dengan matahari yang begitu terik?! Kau jelas sudah terbiasa tapi aku tidak. Dan ya aku juga benci kotor dan debu lalu kenapa? Apa aku meminta mu untuk membersihkannya atau bertanggung jawab? Kenapa kau menjadi repot!" Omel No untuk pertama kalinya pada Zip jika No dalam keadaan normal dan mengingat hal ini mungkin ia berpikir ia sedang dalam ke adaan gila saat itu.
"Hey..."
"Lepaskan!" tukas No marah menepis lengan No di tubuhnya ia berniat menggunakan bajunya lalu pulang ke rumah.
"Aku belum selesa," ucap Zip tegas mencekal lengan No mencegasnya memakai kembali bajunya. "Duduklah kembali," ucap Zip lebih pelan dan No menurut saja, mungkin kewarasannya sudah kembali.
No diam dengan marah
Tapi Zip tidak peduli ia suka menyentuh kulit harus No dan lotion yang ia tuang ke lengannya membuatnya mudah untuk menerusuri tubuh No. Dari lengannya hingga ke bahu lalu leher mulus No perlahan-lahan membuat Zip mendapat serangan yang ia pancing sendiri tatapannya tidak lagi sama. Orang di depannya ini...
Dengan sadar Zip medekatkan wajahnya di leher halus No berniat hanya mencium aromanya tapi Zip mau lebih ia mencium pipi No pelan dan membuat No kaget karenanya tapi tidak membuat No menghentikannya lebih mendekar pada bibir ranum milik No.