Ferdinand turun dari mobil mewahnya dengan elegan, membuat semua mata tertuju padanya, masih mengenakan setelan jas rapih serta menenteng tas kerja Ferdinand berjalan kedalam Kafe sederhana yang biasa digunakan oleh karyawan dari sekolah Bintang Kejora. Karyawan wanita berbisik-bisik sedangkan karyawan lelaki ikut penasaran siapa gerangan pria tampan nan menawan ini datang ke sekolah Bintang Kejora. Ferdinand berjalan menuju meja pojok dimana Vanessa dan Carmen duduk.
"Heiii Ferdinand, apa kabar? Bagaimana meetingnya hari ini?"
"semuanya lancar dan ada beberapa hal
yang perlu aku bicarakan kepadan kalian"
"kami?, Ada apa?" Carmen terlihat antusias
"tenang ini sesuatu yang sangat luar biasa dan kalian pasti suka"
"oh benarkah? baiklah katakan"
"Begini, perusahaan kami sedang mengadakan kegiatan amal untuk berbagai daerah di kona seni maupun diluar kota seni dan dalam bulan ini kami akan menunjuk beberapa sukarelawan untuk ikut bersama kami di berbagai daerah pelosok jadi kita butuh guru untuk melakukan beberapa kegiatan dengan anak-anak disana, dan tentu harus menginap, bagaimana? ikut!"
"tunggu, maksudmu kita akan pergi ke sebuah tempat terpencil tanpa internet?" Vanessa terlihat ragu dan Carmen termenung.
"ya bisa saja ada maupun tidak ada"
"berapa hari kita akan berada disana?" Vanessa makin penasaran
"tidak tentu, tergantung kegiatannya kalau memungkinkan satu minggu"
"apa yang perlu kami bawa?"
"apapun yang kalian butuhkan untuk mensupport kalian disana" Vanessa bertanya dengan teliti karena dia orang yang cukup detail
"Carmen kenapa kamu diam saja?, katakan sesuatu"
"Ferdinand aku ikut" Carmen bersuara dengan mantap, karena keinginan terbesarnya adalah berbagi ilmunya dengan orang lain terutama anak-anak di pelosok negeri, apalagi menjadi sukarelawan.
"ok, baiklah. Akan aku kabari untuk detailnya"
"Vanessa bukankah besok kamu terbang ke London? aku pikir kamu tidak akan ikut untuk kegiatan amal"
"ah ya benar, aku akan membatalkan penerbanganku saja, dan pergi lain waktu, aku ingin merasakan pengalaman yang berbeda bukan hanya sekedar liburan saja"
"Wah Vanessa kamu luar biasa, aku bangga padamu"
"Anyway, ayo pesan sesuatu" Vanessa
menimpali
"aku sudah makan siang saat meeting tadi, kalian pesanlah aku yang traktir"
Pertemuan siang di kafe sekolah itu menyisakan banyak tanya untuk beberapa orang, ada hubungan penting apa Vanessa dan Carmen dengan pria berkharisma berwajah tampan tersebut, terutama tatapannya pada Carmen sangat berbeda dan intens, bukankah ada sesuatu dibalik ini semua?
"aku harus pulang untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi, dan kalian kembali bekerja, sampai jumpa lagi" Ferdinand menyalami Vanessa lalu memeluk dan menciumi pucuk kepala Carmen dengan lembut seperti di film romantis hal itu mengundang reaksi karyawan wanita yang terlihat iri, Carmen hanya terdiam dan merasa canggung dan Vanessa tersenyum geli, dasar lovebird.
"wah Carmen, Ferdinand memang sangat romantis padamu, aku jadi iri. Aku harus segera mencari pacar"
"Vanessa ayolah, aku jadi semakin tidak nyaman, ayo ke kelas"
"Eh Carmen tadi itu siapa?" seorang karyawan wanita dengan rasa penasaran yang tinggi menghampiri mereka
"ah ah itu teman saya, teman masa SMA tadi kami hanya melakukan reuni kecil-kecilan" Carmen menjawab seadanya
"tapi kenapa dia hanya memeluk kamu saja, kenapa tidak memeluk Vanessa juga?"
"aku tidak ingin dipeluk" Vanessa menimpali dengan tegas
"oh okay baiklah, soalnya dia sangat tampan dan mempesona"
"ya begitulah, anyway kami harus kembali ke kelas"
"ya tentu" sedikit lagi kejadian ini akan tenar dan banyak gosip bertebaran, secara yang bertanya tadi adalah inang gosip di sekolah ini, banyak informasi yang tidak akurat tapi dikelas dikemasnya semenarik mungkin.
***
Hanson melanjutkan meeting keduanya masih di gedung Amal Mulia dengan beberapa rekan kerja dari cabang impor ekspor barang antik, ada rumor bahwa beberapa barang antik langka dicuri oleh saingan bisnisnya saat perjalanan menuju pelabuhan, hal ini cukup membuat Hanson dan Edmund Johannes pusing, karena barang langka tersebut bernilai puluhan miliar, dan rencana dana itu untuk membangun sekolah di kota dingin.
"Tuan Hanson, maafkan kelalaian kami, kami pastikan barang antik itu akan kami temukan sebelum hari pelelangan" Dengan gugup dan hati-hati kepala keamanan menyampaikan informasi yang sangat sensitif ini, karena kalau sudah menyangkut masalah bisnis Hanson jadi seperti singa kelaparan.
"Baiklah, pastikan semua beres secepatnya!
"Baik Tuan, kami berjanji" setelah itu kepala keamanan meninggalkan Hanson yang masih berkutat dengan beberapa pekerjaan lagi, sedangkan diluar ruangan terdengar kegaduhan yang tidak biasa. Rosa Rain memaksa untuk masuk ke ruangan meeting untuk bertemu dengan Hanson
"maaf Tuan Muda, kami sudah melarangnya tapi dia terus saja memaksa"
"tidak apa-apa, kalian boleh pergi" Rosa Rain berlari kecil kearah Hanson lalu memeluknya dengan erat, Hanson heran juga bertanya-tanya
"apa yang kamu inginkan Rosa?"
"ah tadi ayahku menelpon, kalau kamu mengadakan meeting dengan perusahaan B untuk kegiatan amal diluar kota seni, kenapa kamu tidak mengajak aku untuk ikut meeting"
"Rosa sejak kapan kamu tertarik dengan hal seperti ini, bukankah kamu terlalu sibuk dengan dunia keartisan mu?"
"tapi Ayahku bilang kamu akan turun tangan langsung ke daerah pelosok itu"
"ya, lalu apa maumu?"
"aku ingin bergabung jadi sukarelawan" Rosa Rain berkata dengan mantap tanpa memikirkan bahwa ditempat itu dia mungkin tidak akan melakukan swa foto untuk diposting karena tidak akan ada akses Internet, bahkan dia tidak akan menyentuh make-up karena dia sibuk menyampaikan pidato atau mengurus anak-anak di pelosok negeri itu, namun semangatnya boleh diuji
"kamu yakin mau ikut dan jadi sukarelawan?"
"ya aku yakin"
"Baiklah"
"Hanson kenapa bicaramu irit sekali, dasar pelit bicara, anyway kamu sudah makan siang?"
"Sudah"
"ah benarkah, dengan siapa?"
"dengan rekan bisnis"
"tapi bisa temani aku makas siang, aku sangat lapar, shooting hari ini sangat melelahkan" Hanson mengiyakan untuk mengapresiasi keinginan Rosa Rain yang ingin jadi relawan saat acara amal nanti.
"kamu mau makan apa?" Rosa Rain tersenyum manis, bahwa ajakannya diiyakan oleh Hanson.
"hore, aku ingin makan sushi dan sup miso"
"tapi ada satu hal yang harus kamu patuhi, tidak ada wartawan yang meliput ini, dan tidak ada gosip miring, apalagi tentang kencan atau semacamnya, aku tidak suka hal sepele seperti ini menjadi berita viral, paham?" Rosa Rain mengangguk pasrah, lalu dengan cepat mengirim pesan singkat pada tim kameramen untuk tidak mengikuti mereka, karena dia tahu persis siapa itu Tuan Muda Hanson Johannes, kata-katanya adalah perintah.
"Baiklah, ini hanya makan siang biasa, tidak ada kamera yang ikut" Rosa Rain berbicara dengan gugup. Mereka memasuki area mall di gedung Amal Mulia yang terkenal sangat megah dimana tempat ini hanya untuk menjual barang barang mewah dan terkenal. Vanessa sering mengajak Carmen untuk berbelanja tas mewah disini atau sekedar makan es krim yang harganya ratusan ribu.