Karena kondisiku tidak terlalu parah, aku diijinkan pulang lebih awal. Aku merasa sedikit oleng karena lutut dan siku ku mengeluarkan banyak darah. Namun itu bukan masalah besar, yang membuatku bingung sekarang adalah siapa itu Peter Smith.
Aku dan mama memesan taksi online, aku ingin cepat pulang. Dan setelah aku pulih aku akan mencari tau siapa pria misterius itu.
Satu Minggu kemudian...
Luka di lutut dan siku ku sudah sembuh, aku sudah bisa bergerak dengan normal. Satu Minggu terakhir aku benar-benar menyusahkan mama dan Kaka. Dalam seminggu itu pun aku tidak pernah berhenti memikirkan Peter Smith. Dia bagai malaikat yang turun ke bumi untuk menyelamatkan aku, tapi dia juga bagai misteri yang harus aku pecahkan. Memikirkannya membuatku tidak fokus.
Aku memutuskan untuk mencari pekerjaan lagi, yang tertunda satu Minggu lalu karena kecelakaan. Aku mengendarai sepeda motor menyusuri jalanan padat, benar-benar hiruk pikuk kota yang melelahkan, setiap orang punya aktivitas masing-masing, entahlah. Ada yang lari pagi, ada yang berjualan, ada yang ngopi dan sarapan di restoran mahal.
Aku terbelalak melihat tulisan mencari karyawan baru di restoran dimana orang-orang kaya menghabiskan uangnya. Dengan semangat aku memarkirkan motorku dan bergegas masuk untuk bertanya soal pekerjaan yang ditawarkan. Jika aku diterima aku tidak akan menjadi beban keluarga lagi.
"Permisi, aku ingin bertanya soal pekerjaan yang ditawarkan di depan"
"ya, mari silahkan duduk, apakah Anda berminat untuk bekerja bersama kami di restoran ini?"
"ia Bu, sangat, saya bisa kerja apa aja, di bagian dapur atau pelayan pun bisa"
"iya akan saya pertimbangkan ya, saya akan memutuskan satu atau dua hari lagi, Anda silahkan tinggalkan nomor handphone yang bisa dihubungi, akan saya diskusikan dengan atasan saya dulu"
"Baik Bu, terima kasih banyak untuk kesempatannya, saya menunggu kabar baiknya dari Ibu"
Aku keluar dari ruangan itu dengan perasaan berdebar, semoga saja mereka mau mempertimbangkan aku untuk bekerja disini. Tadi aku tidak sempat sarapan jadi aku memutuskan untuk sekalian saja sarapan di restoran tempat aku mencari kerja tadi, tidak salah kan sebelum nantinya aku menjadi karyawan disini aku dilayani dulu sebagai tamu.
Aku duduk dipojok restoran sambil melihat menu makanan yang tertera di buku menu, aku memesan yang paling murah, aku tidak punya cukup uang untuk memesan yang terlalu mahal.
Aku terlalu fokus dengan sarapanku sampai aku tidak menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikan aku dengan seriusnya. Aku mengangkat wajahku dan mataku dan matanya bertatap langsung. Yang membuatku kaget adalah ia mengenakan kaos putih penuh noda darah.
"Kamu gadis kecil yang waktu itu kecelakaan kan?, bagaimana keadaanmu? apa sudah sembuh?"
"A a a aku sudah sembuh!, k k k kamu Peter Smith?"
"Bukan! Aku kembarannya"
"lalu kenapa kamu tau kalau waktu itu aku kecelakaan? dan kenapa kamu mengenakan baju yang penuh noda darah ini?"
" sudah cukup pertanyaan mu gadis kecil?, kamu bertanya banyak sekali sampai aku tidak bisa menjawabnya"
"maaf, aku hanya penasaran saja, tapi tolong sampaikan rasa terima kasih ku pada saudara kembar mu"
"Kembaran ku sudah mendengarnya, katanya 'sama-sama', hehehe"
"Tuan tolong jangan bercanda, aku serius dengan perkataan ku"
"Gadis kecil aku adalah Peter Smith, aku tidak punya kembaran, aku hanya bercanda"
"k k k k kamu Peter Smith? oh Tuhan, terima kasih banyak atas pertolonganmu waktu itu, maaf karena darah dari lukaku m*****i baju mu. Kalau kamu tidak keberatan aku akan mencuci baju mu sampai bersih"
tanpa basa basi Peter melepaskan kaos putih miliknya didepan ku tanpa merasa malu, beberapa orang melihat ke arah kami sambil tersenyum geli, bagaimana tidak? kelakuan lelaki dewasa ini sangat tidak sopan.
"ini ambil kaos ini dan cucilah sampai kembali putih bersih tanpa noda sedikitpun"
aku terbelalak dengan tingkahnya yang berlebihan, Peter memamerkan tubuh kekarnya di dalam restoran dengan begitu percaya diri, beberapa pasang mata terpukau namun aku merasa geli.
"baik Pak Peter, temui aku besok pagi di restoran ini. Akan aku kembalikan bajumu"
Peter berlalu ke belakang menuju ruangan utama restoran tersebut lalu kembali dengan setelan jas berwarna abu-abu yang sangat cocok untuk tubuh kekarnya. Dia menghampiri aku lalu mengedipkan matanya dengan nakal, dengan wajah cuek aku mengabaikannya.