Aku sangat gugup menunggu waktu berlalu, hari pertama bekerja aku tidak fokus karena memikirkan hal-hal yang tidak begitu penting. Baju kaos putih milik Peter membuat ku benar-benar kewalahan. Aku menelepon mama berharap mama bisa membantuku mencucikan baju Peter.
"Halo mam, mama lagi di rumah atau di luar?"
"Ada apa Scar kok suaramu panik begitu?"
"mama aku minta tolong ya, mama bisa cucikan baju kaos putih yang aku gantung di balik pintu kamar?"
"iya, emang kamu kenapa Scar, perkara baju doang sampai panik begitu, nggak usah khawatir nanti mama segera cuci"
"makasih ya mam, bajunya di rendam pakai pemutih ya, sampai hilang nodanya!"
"ia bawel, udah tutup telfonnya biar mama langsung cuci tuh baju"
"thanks ya mam.
aku sedikit lega, palingan sebelum jam 22:00 bajunya sudah bisa aku antar ke rumah bos. Seharusnya baju itu dibuang saja, atau mungkin baju itu kesayangan bos? sampai sudah noda pun masih ingin dipakai.
sudah berjam-jam bekerja aku tidak melihat bos sama sekali, mungkin dia sedang sibuk atau sedang pergi, bukan urusanku memikirkan bos tapi aku sedikit penasaran saja.
kalau ku pikir-pikir usia bos pasti sudah 30 tahun, sedangkan aku baru berusia 18 tahun, perbedaan umur yang sangat jauh. ku dengar-dengar bos belum menikah, hm apa mungkin bos ku tidak ingin punya istri? kalau pun bos ku punya pacar pasti sangat cantik, atau paling kurang pacarnya terlihat seperti model. walaupun baru satu hari bekerja aku mendapat cukup banyak berita soal bos ku, dia orang yang tertutup, dan tidak suka urusan pribadinya di ketahui oleh orang lain. bahkan sangat jarang bos ku membawa wanita ke restoran. sangat private.
aku akui bos ku sangat mempesona, banyak wanita cantik yang tertarik padanya namun dia enggan merespon, tubuhnya kekar, tinggi dan sangat rupawan. beruntung sekali wanita yang mendapatkan hati bos ku.
ah kenapa aku jadi memikirkan bos ku? aku disini untuk bekerja bukan mencari tau kehidupan bos yang bukan urusanku. aku tidak pernah jatuh cinta dan tidak pernah terlibat dalam percintaan dengan siapapun, lagipula umurku masih sangat muda, yang aku pikirkan sekarang adalah bekerja dengan giat.
Pukul 16:00 jam kerjaku selesai, lega rasanya, hari pertama kerja dan semua berjalan dengan baik. karena aku masih punya urusan, aku memutuskan untuk langsung pulang.
"Mama, mama udah cuci belum baju yang tadi aku suruh?"
"udah, kamu kenapa sih Scar belum juga dimatiin motornya langsung tanya baju"
"mam baju itu penting buat Scar, makanya Scar panik"
"kamu tuh ya keterlaluan ya, perkara baju aja bisa heboh begini"
"mam nggak ngerti, posisi Scar di tempat kerja bergantung banget sama baju itu!"
"ini baju siapa? coba ceritakan ke mama!"
"i i ini baju bos aku mam, mama ingat nggak waktu Scar kecelakaan, itu baju orang yang nolongin aku mam, mama tadi lihat kan banyak noda bekas darah gitu, itu darah Scar, waktu itu bajunya kena darah Scar, dan ternyata tempat Scar kerja dia pemilik restorannya"
"oh ini yang buat kamu panik? makanya lain kali pake tuh otaknya, kamu yang punya urusan mama yang repot"
"hehehe iya mam. makasih loh udah bantuin Scar, baju udah kering mam?"
"udah tuh, udah mama setrika, mama gantung lagi di balik pintu kamar, trus mau kamu apakan bajunya?"
"mau Scar antar ke rumah bos aku mam. tadi Scar udah janji mau kasih sebelum jam sepuluh"
"ya udah deh terserah kamu, kalau gitu mandi sana trus makan malam,baru dah tuh antar bajunya"
"oke mam"
entah kenapa aku merasa sedikit aneh dengan diriku yang dari tadi memikirkan bos Peter, aku tidak sabar ingin menemuinya, tapi aku gugup. aku melihat alamat rumah yang tertera di secarik kertas yang Peter tuliskan dengan sangat rapih. Aku menunjukkan alamat itu pada kak Hendrik, dan betul saja itu alamat perumahan elit yang dijaga ketat oleh sekuriti, bagaimana aku bisa kesana?.
pukul 19:00 aku berangkat dari rumah, alamat rumahnya tidak begitu jauh, 15 menit perjalanan dan sampai.
"Permisi Pak, apa betul ini perumahan Sky Garden?"
"iya betul Mbak, ada yang bisa saya bantu?"
"eh begini Pak, saya mau nganter baju milik Pak Peter Smith, apa bapa bisa membantu saya?"
"Oh Pak Peter? sini saya antar, emangnya Mbak siapanya Pak Peter?"
"saya karyawannya, saya ada sedikit keperluan"
"Baik Mbak, silahkan lewat sini"
aku mengekor mengikuti Pak sekuriti, perumahan Sky Garden adalah perumahan paling mewah di daerah ini, semua penghuninya pasti kaya raya, mobil mewah terparkir rapih, rumah dengan desain elegan dan klasik. aku terpukau.
"Mbak, ini rumahnya Pak Peter, silahkan masuk"
"baik pak terima kasih banyak ya"
aku memencet bel rumah dengan gugup, entah siapa yang akan membukakan pintu untukku, rumahnya cukup sepi, tapi semua lampu ruangan menyalah. aku memencet bel lagi, tidak menunggu lama seseorang dengan perawakan tinggi berambut pirang berantakan menyambut ku dengan muka mengantuk, jam berapa ini masa udah tidur?.
"selamat malam Pak Peter, aku datang untuk mengantarkan baju milikmu yang aku janjikan tadi pagi di restoran"
"Hi gadis kecil, mari silahkan masuk, duduk dulu"
aku melangkah masuk dengan sedikit enggan, aku merasa horor dengan keadaan rumah Pak Peter, tidak ada siapapun selain aku dan dia. Rumah semewah ini namun tidak ada yang mengurusnya, sayang sekali.
Ku lihat mata Peter memerah karena mengantuk, dia mengenakan baju kaos hitam, celana santai dan sendal jepit, walaupun dalam keadaan mengantuk Peter tetap saja memukau. aku mencium bau alkohol saat dia bicara, namun aku tidak ambil pusing.
"Pak ini bajunya, saya langsung pamit ya, terima kasih banyak"
"hanya terima kasih?"
"maksud bapak?".
"aku bilang hanya terima kasih?"
bukankah kamu ingin berterima kasih?"
aku terpaku mencerna apa maksud dari Pak Peter, apakah terima kasih mempunyai tindakan lain? bukankah ketika seseorang mengatakan terima kasih kita harus membalas dengan kata sama-sama?
lalu apa maksud Pak Peter?
Rasanya aneh sekali berdiam diri terpaku karena tidak memahami apa yang dikatakan Pak Peter.