Aku masih terpaku dengan pernyataan Peter, apa maksudnya? apakah kata-kata terima kasih yang aku sampaikan kurang jelas terdengar?
Dengan keadaan yang sangat berantakan Peter mendekat, aku refleks mundur dan terjatuh di sofa. Aku tidak punya pilihan selain terduduk dan terkunci di sofa.
"Pak Peter, apa yang Anda lakukan? aku tidak bisa bergerak!"
"Gadis kecil, kamu imut sekali saat panik, aku suka"
aku makin kesal, Peter terlihat makin mengada-ada, pasti ini karena pengaruh alkohol. aku berusaha mendorong tubuh kekarnya tapi aku tidak punya cukup tenaga.
"Peter, tolong menjauhlah aku ingin pulang, ini sudah larut mama pasti sangat khawatir"
"Tinggallah disini lima menit lagi, aku ingin memandangi wajah imutmu"
"maksudnya? cukup Pak Peter, aku mau pulang"
dengan kedua lengan kekarnya Peter meraih tubuh mungilku, memelukku begitu erat, sampai aku tidak bisa bernafas dengan baik, sekujur tubuhku kaku, mencerna apa yang sedang terjadi saat ini, dengan bibir merah meronanya Peter mengecup pelan pucuk kepalaku. aku menutup mata menahan air mata.
"Gadis kecil, aku suka padamu!"
"apa yang Anda katakan Pak Peter? kembalikan pelukan dan ciuman pertamaku!"
"pelukan dan ciuman pertama? wah maafkan aku gadis kecil, hei jangan menangis".
aku sedikit terisak, aku tidak ketakutan, tapi aku merasa tidak nyaman karena diperlakukan seperti ini. aku tidak pernah membayangkan hal-hal seperti ini akan terjadi pada diriku. apalagi oleh orang dewasa seperti Pak Peter, dan bahkan dia adalah atasanku. Aku menganggap Pak Peter lebih seperti seorang Kaka. aku tidak memahami cinta antar sepasang kekasih.
"Pak jangan lakukan ini lagi, aku tidak nyaman, lagipula umurku masih kecil, carilah wanita seusia mu. maka akan sepadan"
"kamu menasehati aku?, gadis kecil?"
Aku terdiam seribu bahasa, mendapati Peter menatap mataku begitu intens. apa salah aku mengatakan itu pada Pak Peter? bukankah orang dewasa lebih cocok dengan orang dewasa?
"T t t tidak Pak, aku tidak menasehatimu aku hanya menyampaikan pendapatku"
"pendapat? itu pendapat mu untuk diriku? Scar, dengarkan aku, aku muak dengan cinta orang dewasa, mereka tidak tulus"
tersirat jelas dimatanya bahwa Peter pernah disakiti oleh orang yang paling ia sayangi. aku tidak memahami sakit seperti apa yang Peter rasakan, dan aku tidak punya hak untuk menyelidiki perasaannya.
aku terdiam, bingung mau menjawab apa, pengaruh alkohol membuatnya tidak bisa mengontrol emosi.
sudah pukul 21:00, ini sudah larut, handphoneku berdering, pasti mama atau Kaka Hendrik yang menelpon. aku ingin menjawab panggilan itu, tapi Peter mengisyaratkan untuk tidak menjawab semua terlihat jelas dari sorotan matanya yang tajam.
"Gadis kecil, kemarilah beri aku satu pelukan dan aku akan mengantarmu pulang"
"tidak perlu Pak, saya membawa kendaraan kesini, aku akan pulang sendiri".
"Gadis kecil, ini sudah larut jangan membantah perintahku"
"t t t tapi..."
"Scarletta Maria!"
suara Peter begitu lantang, membuatku kaget dan terpaku, apakah orang dewasa semuanya berpendirian keras? atau hanya Peter saja yang begini? tanpa basa-basi aku menuruti perintah Pak Peter. aku bingung bagaimana dengan motorku.
"Gadis kecil, motormu akan diantar oleh sekuriti pagi nanti ke alamat rumahmu"
"Baik Pak"
"tunggu disini aku akan mengeluarkan mobil"
"baik Pak"
aku sungguh bingung dengan sikap bos ku ini, apa yang dia inginkan. apakah dia seseorang yang kesepian dan membutuhkan orang lain untuk menghiburnya? atau dia hanya ingin bermain-main dengan ku karena dia mabuk? memikirkan bos yang mabuk membuat ku was-was. Peter membunyikan klakson mobil membuat ku kaget.
"Gadis kecil, apakah kamu ingin nginap di rumahku? apa yang kamu pikirkan ayo cepat naik"
"eh iya Pak"
aku duduk di bangku belakang, bos ku keheranan, aku makin bingung karena matanya mengintimidasi diriku.
"apa yang kamu lakukan di belakang sana? sini duduk denganku di kursi depan! aku bukan supirmu"
"iya Pak, maaf".
"kencangkan sabuk pengamanmu, kita akan ngebut"
"ngebut? Pak tolong bisa pelan-pelan saja jalannya?"
"Gadis kecil, aku bukan supirmu!"
aku pasrah, percuma bersih keras dengan orang mabuk yang tidak sabaran dan terutama sangat menjengkelkan ini. mobil melaju cukup kencang. aku menutup mataku. menikmati jalanan Bali yang indah, Tuhan ini Indah sekali.