Aku cukup canggung berada di restoran hari ini, bos terus saja memanggilku ke ruangannya. Aku yakin nanti akan timbul salah paham diantara karyawan yang lain. Entah kenapa sejak bekerja disini aku semakin dekat dengan bos ku yang konyol itu. Permintaannya aneh-aneh, kadang dia menyuruhku menyeduh teh namun saat aku mengantarnya dia malah menyuruhku untuk menghabiskan teh-nya. Dan yang lebih menyebalkan lagi kadang dia memanggilku tanpa alasan, ketika aku ke ruangannya yang aku lakukan hanyalah duduk lima menit, lalu disuruhnya aku keluar lagi.
"Scar, kok kamu di panggil bos melulu ya? ada apa sih antara kamu dan bos?"
"aku dan bos? tidak ada apa-apa?"
"Kok saya perhatikan kamu selalu saja masuk ke ruangan bos, padahal kan masih ada karyawan yang lain"
"Nah itu dia Mbak Nova, aku juga bingung kenapa selalu aku yang dipanggil"
"jangan-jangan bos suka lagi sama kamu"
"Suka? maksud mbak Nova?"
"Scar kamu b**o apa pura-pura b**o sih, kamu peka nggak sih kalau bos itu naksir sama kamu"
"Naksir? Maksudnya?"
"Ya Tuhan Scar!!! capek emang ngomong sama kamu, sana ikut kursus pacaran biar tau"
"emang ada ya mbak kursus pacaran"
"Demi apa? kamu kok polos banget sih Scar!. malas aku tuh ngobrol sama kamu soal beginian, nggak nyambung"
Karena terlanjur kesal dengan kepolosanku Mbak Nova pergi begitu saja tanpa pamit, aku tidak punya perasaan apa-apa pada bos apalagi sampai suka, malah aku sangat kesal padanya karena memperlakukan aku seperti anak kecil, terlebih lagi tingkah bos akan membuat orang semakin salah paham.
Hari ini rasanya jam berlalu begitu lama, aku semakin tidak nyaman berada di restoran, aku bertugas di bagian belakang sebagai asisten koki, kadang aku dengan sengaja disuruh mencuci panci dan wajan besar, beratnya membuatku sering lelah, tapi inilah tanggung jawabku. sering juga aku melayani tamu kalau restoran sedang sibuk-sibuknya. Aku mencintai pekerjaanku, ya walaupun kadang sering timbul salah paham antar karyawan karena bos memperhatikan aku secara khusus.
"Scar, bisa kamu angkat wajan di kompor pojok" perintah Mas Wayan padaku
"Iya Mas"
ternyata wajannya sangat berat dan panas, tanpa sengaja aku menjatuhkannya di lantai dan BOOM bunyinya menggelegar memenuhi dapur restoran, aku panik dan ketakutan. Wajannya penyok, sial. Aku langsung menjadi pusat perhatian. Ku lihat bos berlari kecil dari ruangannya menuju dapur dengan wajah tak kalah panik. Mas Wayan terdiam seribu bahasa melihat tingkahku.
"Scar apa yang terjadi? kamu baik-baik saja?, kamu lagi Wayan kenapa kamu menyuruh Scar mengangkat wajan panas dan berat itu!"
"Maaf bos, saya pikir Scar bisa makanya saya menyuruhnya"
"kamu nggak lihat apa? tubuh Scar ini sangat kecil apa sepadan dengan wajan berat itu? kamu tahu bahwa wajan koki tidak ada yang ringan!"
Aku bingung namun terdiam tak berkutik mendengar bos menceramahi Mas Wayan, bos benar-benar gusar. Matanya tajam menusuk, memandangi Mas Wayan penuh amarah. Aku merasa bersalah karena akulah yang menjatuhkan wajan itu bukan mas Wayan tapi malah mas Wayan lah yang dimarahi, aku menahan perih di tanganku karena terkena wajan panas, aku meringis membuat bos makin panik.
"Scar kamu nggak apa-apa?" seru mas Wayan ketika melihat tanganku memerah.
" nggak papa mas cuman melepuh dikit aja"
"melepuh, tanganmu melepuh?" bos semakin gusar, lalu menyeretku ke ruangannya tanpa memperdulikan mas Wayan.
Bos membanting pintu membuat suasana restoran semakin gaduh, aku yakin diluar ruangan ini aku telah menjadi bahan gosip karyawan yang lain.
"Scarletta Maria mana tanganmu, sini aku oleskan salep peredam panas"
tanpa basa-basi bos memegang tanganku, mengoles salep peredam panas dengan lembut. Dia begitu serius, namun masih saja wajahnya terlihat panik. Aku meringis namun tidak bersuara, wajahku dan wajah bos begitu dekat, saat aku menghembuskan nafas perlahan bos bisa merasakan hangat nafasku.
"Gadis kecil, lain kali hati-hati. aku tidak ingin kamu terluka, kamu simpan salepnya kalau tanganmu terasa perih tinggal oleskan saja salepnya"
"terima kasih banyak pak, aku tidak tahu harus bagaimana kalau bos tidak menolongku tadi"
"ini sudah tugasku melindungi karyawanku, kamu jangan khawatir ya"
"iya pak, sekali terima kasih, tapi pak bagaimana dengan wajan yang penyok tadi?"
"Gadis kecil, tidak usah dipikirin, nanti mas Wayan yang mengurusnya"
"potong saja gajiku untuk biaya wajan tadi"
"Oh Gadis kecil, tidak perlu. tapi bagaimana kalau kamu ganti rugi dengan satu ciuman?"
" Bos Peter! saya tidak bercanda"
aku cemberut setengah mampus, siapa yang tidak kesal coba? saat serius seperti ini bos malah mengambil kesempatan untuk menggodaku, aku melotot padanya tanpa merasa bersalah aku tidak peduli jika dia bos ku, kali ini bos Peter benar-benar menyebalkan.
"siapa yang bercanda gadis kecil, aku suka lihat wajah panikmu, kamu sangat imut dan menggemaskan"
"Pak Peter terima kasih, saya keluar dulu"
aku berdiri meninggalkan bos, namun sial tubuh kecilku kalah cepat dengan gerakan bos yang tidak dapat ku prediksi, dia mencegat tubuh mungilku dalam dekapannya membuatku kaku dan melotot. Kali ini bos jauh lebih liar pelukannya sangat lekat hingga aku bisa merasakan detak jantungnya.
Aku tidak membalas pelukannya sama sekali karena terpaku.