Sunyi.
Lalu beberapa saat kemudian…
Dewa tertawa lepas, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, suara itu pecah begitu saja, ringan namun tulus, menghapus ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.
Ia menggeleng pelan, masih dengan sisa senyum di wajahnya.
“Saya suka tipe wanita seperti itu,” katanya, nada suaranya kini lebih hangat, lebih hidup, “membuat saya tetap waras.”
Ameera tidak ikut tertawa, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis, cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya dingin seperti yang ia kira.
Dewa kemudian melirik sesuatu di atas meja, pandangannya jatuh pada ponsel Ameera yang sejak tadi tergeletak begitu saja, seolah dilupakan di tengah percakapan yang terlalu penting.
“Tolong dibuka, Dok,” ujarnya sambil mengambil ponsel itu dan mengulurkannya kembali.
Ameera menerima ponselnya, membuka kunci layar dengan cepat, lalu menyodorkannya kembali dengan dahi sedikit berkerut, tanda tanya jelas tergambar di wajahnya.
Dewa tidak menjelaskan. Ia hanya mengambil ponsel itu dan mulai mengetik, jemarinya bergerak cepat dan pasti, seolah hal kecil seperti ini pun sudah menjadi kebiasaan yang efisien baginya.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Lalu ia mengembalikan ponsel itu.
“Maaf, saya harus menghadiri meeting,” katanya, kembali pada nada profesional yang rapi, seolah tawa tadi hanyalah selingan singkat yang tidak akan ia ulangi dengan mudah. “Nanti kalau ada apa-apa, hubungi saya.”
Ia memberi jeda singkat sebelum menambahkan, “Nomor saya sudah saya simpan di kontak Anda.”
Ameera menatap layar ponselnya sekilas, melihat nama yang baru saja muncul di sana, terasa aneh bagaimana hal yang begitu sederhana bisa menjadi awal dari sesuatu yang begitu besar.
“Oke,” jawabnya pelan, lalu mengangkat wajahnya kembali, “terima kasih.”
Mereka mengulurkan tangan hampir bersamaan.
Dewa menjabat tangan Ameera lebih dulu, sikapnya formal, tetapi genggamannya hangat dan mantap ketika Ameera menyambutnya.
Tak terlalu lama. Tak berlebihan. Namun cukup untuk menegaskan bahwa apa yang baru saja mereka sepakati bukanlah sesuatu yang bisa dianggap ringan.
Ameera melepaskan genggaman itu lebih dulu. Lalu berbalik. Langkahnya terdengar tenang saat meninggalkan ruang meeting tersebut, tetapi di dalam dirinya, sesuatu sedang bergerak pelan—antara ragu, berani, dan harapan yang belum berani ia beri nama.
Sementara di belakangnya, pintu kembali tertutup. Dan tanpa mereka sadari sepenuhnya, roda takdir mereka sudah mulai berputar… menuju arah yang tidak akan bisa mereka hentikan lagi.
**
Mesin mobil berdengung halus, membelah jalanan yang mulai ramai oleh aktivitas siang, sementara Ameera duduk di balik kemudi dengan pikiran yang justru terasa lebih sunyi daripada biasanya—sunyi yang tidak menekan, melainkan seperti ruang kosong yang perlahan diisi oleh sesuatu yang baru.
Ia menghela napas pelan.
Percakapannya dengan Dewa terus berputar di kepalanya, potongan-potongan kalimat yang seharusnya terasa berat justru melintas dengan ringan, seolah mereka bukan dua orang yang baru saja dikhianati, melainkan dua orang yang sedang merancang sesuatu dengan kepala dingin dan hati yang anehnya… tidak lagi berantakan.
‘Ajaib bener.’ Sudut bibirnya terangkat tipis.
Bagaimana mungkin ia bisa berbicara tentang pernikahan—tentang seumur hidup—dalam kondisi seperti itu, tanpa histeris, tanpa tangis, tanpa rasa kehilangan yang menggerogoti seperti sebelumnya?
Mungkin karena mereka merasa senasib.
Pikiran itu muncul begitu saja, sederhana, tetapi cukup masuk akal. Dua orang yang jatuh di lubang yang sama… terkadang justru lebih mudah saling memahami tanpa perlu banyak penjelasan.
Dan Dewa…
Ameera mengingat cara pria itu berbicara, tenang, terukur, tidak emosional, seolah badai yang menerpanya sudah ia lewati lebih dulu sebelum hari ini datang. Pasti bukan pertama kalinya dia diuji seperti ini. Dan mungkin… justru karena itu, dia jadi lebih kuat. Lebih tahan banting.
Tanpa sadar, Ameera tersenyum. Kali ini bukan senyum pahit seperti sebelumnya, melainkan sesuatu yang lebih ringan, lebih lega, bahkan sedikit… hangat. Dadanya yang tadi terasa sesak kini perlahan longgar, seperti beban yang sejak tadi menekan akhirnya diberi ruang untuk mengendur.
Untuk pertama kalinya sejak pengkhianatan itu terbongkar, ia tidak merasa hancur. Ia hanya… sedang beradaptasi.
Mobilnya berbelok memasuki halaman klinik, suasana langsung berubah menjadi lebih familiar—bau antiseptik yang samar, suara langkah kaki yang terburu-buru, dan percakapan singkat para perawat yang terdengar dari kejauhan.
Ameera mematikan mesin, mengambil tasnya, lalu turun dengan langkah yang kini jauh lebih mantap dibanding beberapa jam sebelumnya.
Begitu memasuki lorong utama, sosok yang tidak asing langsung menarik perhatiannya.
“Dokter Ameera?”
Suara itu datang dengan nada sedikit terkejut.
Ameera menoleh, dan di sana berdiri dokter Yoga, masih mengenakan jas dokter dengan map di tangan, alisnya sedikit terangkat saat melihat ekspresi Ameera yang—anehnya—tidak seperti seseorang yang baru saja mengalami hari buruk.
“Kamu… kelihatan beda,” kata Yoga sambil mendekat, menatapnya lebih saksama, seolah mencoba memastikan apa yang ia lihat bukan sekadar perasaannya saja.
Ameera mengangkat alis, pura-pura tidak mengerti. “Beda bagaimana?”
Yoga menghela napas kecil, lalu menyipitkan mata, seperti sedang mencari kata yang tepat.
“Biasanya kalau kamu lagi banyak pikiran, aura kamu itu…” ia menggerakkan tangan, mencari kata-kata yang tepat, “kayak mendung mau hujan.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Ameera lagi. “Sekarang malah cerah. Terlalu cerah, malah.”
Ameera terkekeh pelan, suara itu terdengar ringan, bahkan sedikit mengejutkan bagi dirinya sendiri.
“Mungkin lagi nggak hujan,” jawabnya santai.
Yoga menggeleng, tidak sepenuhnya percaya. “Kamu yakin semuanya baik-baik saja?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Ameera terdiam sepersekian detik. Bayangan kejadian tadi sempat melintas di pikirannya, bayangan masalah yang mereka hadapi, dan pernikahan yang tiba-tiba berubah.
Namun anehnya, semua itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang menghancurkannya, namun menjadi awal dari sesuatu yang kelak akan dia doakan.
“Semua baik-baik saja, kok.”
Yoga masih menatapnya, seolah ingin bertanya lebih jauh, tetapi akhirnya hanya mengangguk, memilih untuk tidak memaksa.
“Kalau begitu bagus,” ujarnya, lalu tersenyum tipis, “soalnya pasien pertama kamu sudah nunggu dari tadi, dan sepertinya dia lebih butuh dokter yang cerah daripada yang mendung.”
Ameera ikut tersenyum. “Siap, Dokter Yoga. Jangan sampai lupa untuk datang dan bawa pencuri hatinya ya, Dok?”
Ia melangkah melewati Yoga, menuju ruang praktiknya, dan di setiap langkahnya ada perasaan baru yang belum sepenuhnya ia pahami. Bukan lagi sekadar perasaan legadan menjadi lebih kuat, melainkan sesuatu yang perlahan tumbuh.
Harapan.
Dan yang mengejutkan Ameera, nama Dewa ikut melintas di benaknya, diam-diam mengambil tempat di antara kemungkinan yang belum berani ia definisikan.
Ameera melangkah ke ruang praktinya dengan langkah ringan.
Klinik belum sepenuhnya ramai, tetapi denyut kesibukannya sudah terasa sejak pintu kaca otomatis terbuka dan tertutup tanpa henti, menghadirkan siluet pasien yang datang dengan harapan masing-masing, sementara aroma antiseptik yang bersih bercampur lembut dengan wangi floral dari diffuser di sudut ruangan, menciptakan suasana yang akrab bagi siapa pun yang sudah lama bekerja di sana—termasuk Ameera.
Ia berdiri di balik meja kerjanya, masih mengenakan jas dokter yang rapi, rambutnya disanggul sederhana namun tetap elegan, seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya, seolah tidak ada yang berubah, seolah tidak ada badai yang diam-diam mengendap di dalam dirinya.
Tangannya bergerak perlahan, menyentuh satu map pasien, lalu memindahkannya ke sisi kiri meja, kemudian membuka map berikutnya hanya untuk memastikan tidak ada catatan yang tertinggal, tidak ada detail yang terlewat, meskipun ia tahu semuanya sudah ia selesaikan dengan sempurna sejak semalam.
Namun pagi ini ia tetap melakukannya lagi, seolah dengan memastikan semua berkas berada di tempat yang benar, ia bisa memastikan hidupnya juga tidak sepenuhnya berantakan.
“Dokter Ami…”
Suara ringan itu datang dari samping, diiringi langkah santai yang sudah sangat ia kenal.
Ameera menoleh sedikit. Asistennya, Ida, berdiri sambil menyandarkan bahu di kusen pintu, kedua tangannya bersedekap dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.
“Serius ini? Dua minggu cuti, Dok?” tanyanya, nada suaranya penuh godaan yang bersahabat.