Ruangan Gerld penuh dengan gelembung udara, bahkan beberapa gelembung raksasa menelan orang orang yang ada disana. Tidak terkecuali Putri Freya dan patung Pangeran Aldric.
Bukannya mampu untuk membantu Pangeran Aldric kembali seperti semula. Yang ada Becca justru makin membuat keadaan makin kacau.
"Ahhh...," teriak Valeria karena salah satu gelembung udara menelan dirinya juga.
Bisa di pastikan kalau kolaborasi sihir yang di lakukan dilakukan oleh Becca dan Valeria gagal total. Kedua orang itu tidak ada satu pun yang mampu untuk kembali membuat Pangeran Aldric seperti semula.
"Becca... hentikan sihir mu, gelembung nya menelan ku. Kau sudah gila ya?"
"Tapi aku tidak bisa menghentikannya. Tadi saat aku mencobanya semua baik baik saja kan? Astaga... Valeria!"
Bukan nya malah membantu Valeria yang ada pada saat ini Becca terus panik dan berlari kesana kemari. Dia benar benar tidak mengerti harus melakukan apa.
Becca sudah mengepal kedua tangannya, namun gelembung udara tetap muncul terus menerus. Berulang kali dia mencoba untuk menghentikan hal tersebut. Namun gagal.
"Dasar gasis bodoh. Kau berniat untuk membunuh kami semua? Hentikan ini hei."
Aldric terus berteriak saat gelembung itu makin membawa tubuhnya ke atas dan perlahan gelembung itu membesar, mendorong langit langit ruangan sampai nyaris jebol.
Dari luar, tampak gelembung itu lemah dan akan hancur dengan satu kali tekan jari telunjuk. Tapi sepertinya semua tidak semudah yang dia bayangkan. Karena pada saat ini saja, gelembung tidak mampu untuk pecah meski tertusuk oleh benda benda tajam.
"Rebecca... hentikan ini. Kenapa kalian membuat kekacauan ini!"
Nyonya Gerld menjadi satu satunya orang yang tidak ikut terbawa gelembung udara tersebut. Dia merasa stress karena harus melihat semua orang tampak melayang di langit langit.
"Tapi Nyonya. Saya tidak tahu bagaimana cara menghentikan sihir ini. Bantu saya Nyonya. Sepertinya salah satu gelembung ingin memakan saya. Ahhhh... Nyonya Gerld, tolong saya!"
Becca berlarian dan berusaha untuk menghindari salah satu gelembung yang ingin menelan dirinya.
Entahlah, dia tidak mengerti dengan sihir yang dia ucapkan sendiri.
"Dasar tidak berguna. Bukanya meringankan beban ku, justru malah menambah!"
Nyonya Gerld mulai mengeluarkan tongkat sihir kemudian mengarahkannya pada gelembung gelembung udara, namun sayang, seakan punya nyawa, ratusan gelembung itu menghindar dari sihir Nyonya Gerld. Dan malah salah satu gelembung berhasil untuk menjebol ruangan, hingga kini berhasil untuk membawa Pangeran Aldric dan yang lainnya keluar dari ruangan itu.
"Sial. Menambah pekerjaan ku saja!" umpat Nyonya Gerld yang langsung berlari keluar dari ruangan. Dia harus segera menyelamatkan para murid, sebelum gelembung gelembung itu akan membawa mereka semua entah kemana.
***
"Aku rasa terjadi sesuatu yang buruk di dalam sana. Gotta kita tidak bisa tinggal diam saja kan?"
Arabella sudan memegang knop pintu. Dia bingung harus mengambil keputusan apa. Jika dia diam. Ini sudah ketiga kali dia mendengar teriakan dari Becca. Tapi jika dia memaksa masuk, bisa saja Nyonya Gerld akan marah besar.
"Aku juga tahu. Tapi kamu tahu aturannya kan? Kalau kita tidak boleh masuk sebelum Nyonya Grace yang menyuruh. Bagaimana kalau kita mengintip saja?"
Gotta juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dalam ruangan Nyonya Gerld hingga terdengar suara keributan. Tapi dia juga agak bingung, jika memaksa masuk. Nyonya Gerld pasti akan menganggap mereka lancang.
"Mengintip bagaimana? Sekarang saja semua pintu di tutup rapat. Tapi... coba kau tempelkan telinga di pintu. Kamu akan mendengar teriakan yang lain. Valeria... Putri Freya, bahkan Nyonya Gerld terdengar berteriak. Bukan... tapi sepertinya semua orang."
Rasa penasaran yang Arabella rasa makin besar. Dia tidak tahu kenapa semua orang berteriak begitu keras hingga terdengar sampai keluar ruangan.
Jika awalnya Arabella menyangka kalau Becca disiksa, namun saat ini dia harus memikirkan ulang. Karena pada kenyataannya semua orang berteriak ketakutan di dalam sana.
"Ck... kau tahu kan dua teman kita itu sangat bodoh. Mereka saja tidak tahu bagaimana cara menggunakan sihir. Tapi memaksakan diri untuk menyembuhkan Pangeran Aldric dari kutukan. Hanya karena ingin jadi istri dari Pangeran Bath. Astaga... aku justru takut, mereka memindahkan semua binatang purba di hutan terlarang ke ruangan Nyonya Gerld!" ucap Gotta dengan begidik ngeri.
Sejak tadi, dia terus saja menempelkan telinga, namun tidak mendapat jawaban apa apa. Kekhawatiran muncul, dia hanya takut, jika kedua temannya yang tidak kompeten itu justru menciptakan malapetaka alih alih menciptakan solusi.
"Jangan berfikir yang aneh aneh dulu. Mungkin mereka berteriak karna sangat bahagia karena berhasil melepaskan kutukan Pangeran Aldric?"
Arabella masih mencoba untuk berpositif thinking. Dia berusaha keras untuk berfikiran yang baik baik.
"Astaga... Arabella. Pasang telinga mu baik baik. Itu semua adalah teriakan ketakutan. Teriakan orang bahagia bukan seperti itu-"
Brak.
Gotta menghentikan ucapan saat melihat atap bangunan terbuka, setelah sesuatu benda bening memaksa untuk keluar.
Baik Arabella atau pun juga Gotta membuka mulut lebar lebar, saat melihat satu persatu gelembung keluar dari jebolan itu, persis seperti perayaan ulang tahun. Dimana balon balon beterbangan.
"Waw... sangat hebat. Mereka sedang mengadakan pesta? Perayaan Pangeran Aldric lepaa dari kutukan? Valeria atau pun Becca akan menikah dengan pangeran Aldric?"
Gotta yang tidak percaya kalau teriakan tadi adalah teriakan kebahagiaan. Namun pada saat ini dia sendiri yang tidak mau menghentikan mulutnya untuk membicarakan perayaan Becca yang berhasil menyembuhkan Pangeran Aldric.
Sebenarnya Gotta tidak ingin percaya. Tapi apa yang dia lihat hari ini sudah cukup menjelaskan semua.
Bruk.
Gotta dan Arabella tersungkur ke lantai saat sedang melamun tiba tiba pintu yang mereka sandari terbuka dengan keras.
"Ahhh... pinggang ku. Kenapa kalian tiba tiba datang dan tanpa ada aba aba?" tanya Gotta sambil memegangi pinggulnya yang terasa nyeri. Dia tidak mengerti kenapa seseorang itu membuka pintu secara tiba tiba hingga membuat Ara dan dirinya terjerembab.
"Apa yang kalian lakukan. Kenapa hanya diam? Cepat kejar gelembung gelembung itu. Sebelum mereka terbang jauh!" suruh Nyonya Gerld dengan mata yang melotot saat melihat pada saat ini tidak ada yang bergerak maju sedikit pun untuk mengejar Aldric dan teman teman nya yang pada saat ini sedang dibawa terbang gelembung udara.
"Mengejar gelembung? Untuk apa Nyonya?" tanya Gotta dengan bodoh.
"Bodoh. Gelembung itu membawa Pangeran Aldric dan yang lainnya terbang. Cepat kejar dan ajak yang lainnya!" perintah Nyonya Gerld sambil berlari. Tidak ada waktu lagi. Dia harus cepat ebelum semua terlambat.
"Becca dan yang lain juga? Gotta cepat!"
Arabella melupakan rasa sakit yang pada saat ini dia rasakan. Gadis itu buru buru berdiri dan segera mengejar salah satu gelembung.
Pandangan Arabella mengarah pada gelembung yang terbang rendah dengan Valeria yang ada di dalamnya.
"Gotta kamu kejar gelembung Becca. Aku yang akan mengejar gelembung Valeria."
"Lalu Pangeran Aldric dan putri Freya?"
"Aku rasa Nyonya Gerld akan menyelamatkan keduanya. Jadi kita fokus pada Valeria dan Becca saja!"
Rasanya Arabella dan Gotta tidak perlu khawatir dengan keadaan Pangeran Aldric atau pun juga putri Freya, keduanya pasti akan diselamatkan oleh Gerld. Yang paling harus mereka fikirkan adalah Becca dan Valeria. Kedua orang itu sangat butuh pertolongan.
***
Arabella berlari tampa menghiraukan segala marabahaya yang pada saat ini ada di depannya. Dia terus berlari tanpa memandang ke tanah. Dia hanya sibuk pada gelembung yang pada saat ini sedang membawa Valeria.
Berulang kali Arabella berusaha untuk menembakkan anak panah. Sayang, selalu saja melesat dan justru gelembung itu makin terbang tinggi.
Seharusnya pekerjaan dari Arabella akan sedikit lebih mudah, andai saja dia bisa terbang seperti penyihir yang lain. Sayang, Arabella tidak punya kemampuan itu. Jadi yang bisa dia lakukan hanyalah mengandalkan kekuatan kaki.
Arabella berharap, jika dia akan mampu mengejar Valeria dan menyelamatkan gadis itu dengan selamat.
"Vale cobalah untuk merobek gelembung itu dengan kekuatan sihir atau pun juga benda yang kamu bawa. Aku rasa gelembung itu sangat pandai menghindari tombakan anak panah!"
Dengan nafas yang terengah. Arabella masih berusaha berbincang dengan Valeria yang pada saat ini terbang rendah diatas kepalanya.
Gelembung itu seakan mempermainkan Ara, saat Arabella mendekat untuk memanah, gelembung itu terbang tinggi. Namun saat Arabella tidak lagi melakukan suatu perlawanan, gelembung itu ada tepat diatas kepala Ara.
Ara rasa, Valeria harus merobek gelembung itu sendiri dari dalam.
"Tidak bisa. Aku sudah mencoba untuk merobek gelembung ini. Namun sepertinya dia tidak terbuat dari udara. Dia keras seperti batu, Ara! Dan dia... makin menyempit!"
Valeria berusaha memberi tahu keadaan nya di dalam gelembung.
Kuku kuku panjang Valeria telah patah semua karena mencoba untuk mencengkram gelembung itu. Bukan robek, justru kuku Valeria yang terluka.
Meski seperti air bening. Gelembung itu lebih keras dari pada batu sekali pun.
Kabar buruknya. Gelembung itu bukan semakin membesar kemudian meletus, justru sebaliknya, gelembung itu menciut dan menghimpit tubuh Valeria, hingga membuat gadis itu jadi sesak nafas.
Valeria hanya takut. Jika semakin lama. Dia justru akan makin kesakitan. Atau lebih buruknya, tulang tulang dari gadis itu akan remuk.
"Lalu sihir mu? Apa tidak juga mempan? Aku tidak bisa terbang Valeria. Jadi akan kesusahan jika harus menghancurkan nya dari luar!"
Nafas Arabella mulai habis. Dia menghentikan langkah, karena tidak sanggup lagi berlari. Jika dia paksakan. Yang ada dia akan ikut mati.
"Tidak bisa Arabella. Semua sihir ku seperti ikut terkurung dalam gelembung. Ara... tolong aku. Aku tidak mau mati hanya karena gelembung sialan ini. Terkutuk kau Becca, karena ingin menikah dengan Pangeran Aldric kau justru membuat aku dalam neraka!"
Sumpah serapah tidak juga kunjung selesai dari bibir Becca. Wanita itu tidak segan segan mengutuk Becca yang dia nilai membuat awal mulai kekacauan terjadi.
Dan bodohnya. Gadis itu tidak tahu cara untuk menghentikan sihir.
"Ara...."
Ketakutan Arabella benar benar terjadi. Gelembung yang membawa Valeria makin memciut dan kini terbang makin tinggi. Arabella tidak dapat mengejarnya lagi.
"Astaga... aku tidak mungkin membiarkan Valeria terus terusan seperti ini! Tidak ada jalan lain!"
Suit.
Suit.
Suit.
Arabella melakukan siulan tiga kali. Untuk memanggil burung emas yang ada di dalam hutan. Jika perkiraan Ara benar. Burung itu tidak benar benar masuk kedalam hutan terlarang saat terakhir kali burung itu mengantarkan dirinya ke hadapan Nyonya Gerld kemarin.
Sebenarnya Arabella sudah berjanji tidak akan menunjukkan kekuatannya di depan siapa pun. Menolong Pangeran Aldric kemarin adalah yang terakhir kali.
***
Gotta mengejar Becca yang terus berteriak seperti orang kesetanan menggunakan sapu terbang miliknya. Dia tidak habis fikir. Kenapa gelembung itu seperti seorang atlit lari yang semakin di kejar justru akan semakin menjauh. Tunggu... Gotta rasa sejak tadi, gelembung itu sedang main main dengan dirinya. Benar benar membuat Gotta kesal bukan kepalang.
"Becca... sebenarnya dari mana kamu mempelajari sihir itu. Kenapa bisa sampai mencelakakan orang seperti ini? Kau ini benar benar tukang buat masalah ya!"
Gotta berusaha menusuk gelembung dengan pedang, namun yang terjadi justru pedangnya mental.
Sama persis seperti yang terjadi pada Valeria. Gelembung yang melingkupi Becca juga keras dan tidak mudah diletuskan.
"Kau ingat buku sihir yang diberikan guru? Nah aku membaca dan langsung mempraktikkan nya. Namun sepertinya itu tidak berhasil Gotta. Justru malah membuat aku celaka!"
Minggu depan sekolah sihir akan dimulai. Buku pelajaran telah dibagikan. Dan Becca sudah tidak sabar untuk mempraktikkannya. Tanpa fikir panjang, Becca membaca salah satu mantra yang menurutnya sangat bagus. Sayang, Becca yang belum mahir nyatanya justru menciptakan kekacauan.
Membuat semua orang melayang dan tidak bisa turun ke tanah.
Tidak disangka, ternyata Gotta telah melakukan kecerobohan yang bisa membahayakan nyawa semua orang. Seperti pada saat ini.
"Dasar beban. Tidak berguna. Kau belum tahu bagaimana tahapan menggunakan sihir itu. Dan bisa bisanya justru mempraktikkan itu?" Gotta ingin sekali menyumpahi Becca dengan segala segala umpatan.
Bisa bisanya gadis itu nekat menggunakan sihir yang sama sekali tidak dia mengerti hanya karena ingin menikah dengan Aldric.
Mungkin lain kali. Seharusnya Gotta mengganti isi kepala Becca dengan otak yang lebih berfungsi.
Apa Becca tidak belajar dari kesalahan yang dilakukan oleh Putri Freya? Karena keteledoran, membuat sihir yang bahkan tidak dia ketahui penangkalnya. Dan dengan sangat bodohnya. Becca justru mengulangi itu.
"Gotta... bisa tidak jangan cerewet? Nyawaku sedang di ujung tanduk. Dan bisa bisanya kamu tidak juga kunjung mau berhenti bicara. Cepat keluarkan aku. Aku sudah sesak nafas!" ujar Becca dengan setengah membentak.
"Sudah merepotkan. Bisa bisanya justru membentak ku!" maki Gotta balik. Meski sangat kesal dengan sikap Becca, namun Gotta tetap melakukan yang terbaik untuk membantu teman satu kamarnya.
Gotta mengeluarkan tongkat sihir, lantas kemudian mengarahkannya pada gelembung udara yang ada di depannya.
"Abracadabra...."
Api langsung menyulut tinggi. Membakar gelembung yang meliputi Becca. Perlahan, gelembung itu mencair lantas meletus. Menjatuhkan Becca yang ada di dalamnya. Untung saja Gotta datang tepat waktu dan berhasil menyelamatkan Becca hingga terhindar membentur di tanah.
"Ingat... kau hutang budi padaku. Kalau tidak ada aku. Kamu sudah akan mati di telan gelembung sialan itu. Jadi bersikap baiklah padaku."
Gotta terus mengoceh sambil terus mengendalikan laju sapu yang terbang tinggi. Sementara Becca hanya duduk terdiam, hanya mendengarkan perkataan dari Gotta dengan mata yang berkunang kunang.
"Aku sungguh berterimakasih karena kamu telah menolong aku, Gotta. Tapi bisa tidak? Tidak perlu juga membuat seluruh tubuhku jadi hitam begini. Bagaimana kalau warna hitam ini tidak akan hilang!" jerit Becca tepat pada telinga Gotta. Karena melihat pada saat ini seluruh tubuhnya menghitam karena terkena lelehan dari gelembung udara yang di bakar api.
"Ck... masih untung kau selamat. Dari pada kau mati? Akan lebih tragis mana kau fikir? Sudahlah. Jangan banyak protes. Nikmati saja!" ungkap Gotta dengan santai yang sama sekali tidak peduli para warna kulit Becca yang pada saat ini berubah menjadi hitam pekat.
"Lalu yang lain bagaimana? Mereka juga selamat kan?" tanya Becca yang menanyakan keadaan yang lainnya. Jujur, Becca khawatir jika orang lain akan celaka karena perbuatan yang dia lakukan.
Becca sungguh tidak mau jika ada korban karena mantra yang dia buat.
"Entahlah... aku juga tidak tahu. Berdoa saja supaya yang lainnya juga akan selamat seperti dirimu," terang Gotta tidak yakin. "Arabella sedang berusaha untuk menyelamatkan Valeria. Sedangkan Nyonya Gerld sedang berusaha menyelamatkan Pangeran Aldric dan Putri Freya. Ya mudah mudahan mereka bisa menyelamatkan semua bisa selamat, karena kamu tahu sendiri. Bagaimana tangguhnya gelembung udara ciptaan mu itu!"
Gotta tidak bermaksud untuk meremehkan. Namun dapat dilihat sendiri. Bagaimana gelembung tadi sangat kuat hingga nyaris membuat Gotta kewalahan. Untung Gotta punya semburan naga api. Jika tidak, mungkin nyawa Becca tidak akan dapat di tolong lagi.
***
"Ck...Tuan Putri, anda tidak apa apa kan? Maaf saya sedikit telat untuk menyematkan anda."
Gerld baru mampu mengalahkan gelembung nakal yang membawa Freya setelah Gerld menggunakan tongkat sihir nya.
Dan dia bersyukur karena Freya selamat. Meski pun pada saat ini sang putri tidak pernah berhenti terbatuk.
"Ya Gerld. Itu bukan kesalahan mu. Kamu tidak perlu minta maaf. Dengan kamu menyelamatkan kamu. Semua sudah lebih dari cukup."
Freya seperti kehabisan nafas saat berada di dalam gelembung tadi. Lepas dari dalam sana cukup membuat Freya bersyukur.
"Aldric? Kau berhasil menyelamatkan dia juga kan?"
Putri dari keluarga Signur itu tadi melihat gelembung itu begitu semangat membawa Aldric pergi. Freya khawatir jika Gerld tak mampu untuk mengejar nya.
"Aku rasa Arabella atau Gotta pergi untuk menyematkan nya. Jadi tidak perlu khawatir Putri."