"Jadi gadis itu yang menyelamatkan Aldric? Kenapa aku tidak pernah mendengar nama Klan dari gadis itu?"
Fredrick tidak mengerti kenapa putranya memaksa dirinya untuk mengirim hadiah kepada Klan Sigyn dengan dalih hutang budi. Hanya karena gadis itu membantu meletuskan gelembung yang akan membawa kabur Pangeran dari Bath itu.
Ya, memang secara tidak langsung, Arabella telah menyelamatkan Aldric, tapi tentu saja penyelamatan itu sama sekali tidak berarti. Itu hanya sebuah kebetulan. Dan siapapun yang ada di dekat Aldric pada saat itu pasti akan dengan mudah menyelamatkan sang pangeran. Namun mau apa di kata? Aldric sudah terlanjur memaksa untuk Frederick memberi gelar persahabatan untuk Klan gadis itu.
"Ck... sayang sekali. Peperangan itu tidak terjadi. Padahal aku sudah menyiapkan pasukan khusus untuk membidik Freya! Sial... malah gagal!"
Tanpa peduli dengan pertanyaan sang Ayah. Eric justru sibuk membelai anak panah yang gagal dia gunakan. Harusnya jika peperangan benar terjadi. Maka akan sangat menyenangkan bisa membidik Freya tepat pada jantungnya.
Eric ingin, Fay, kakak dari Freya tahu, jika dia bisa membalas dendam dengan menggunakan Freya.
Kepala Eric hingga saat ini tidak bisa berubah menjadi seperti sedia kala. Akan sangat menarik kan? Jika Eric menghadiahi Fay sebuah kepala, terlebih itu adalah kepala dari adiknya sendiri.
"Ck... kau masih saja memikirkan tentang dendam. Sekarang lebih baik kamu bubarkan semua pasukan. Katakan penyerangan dibatalkan. Dan lain kali, jangan mudah mengibarkan benderang perang. Negeri kita negeri yang damai, Eric!"
Wajar saja jika Frederick merasa kesal kepada putranya itu. Karena Eric bahkan sudah membuat keputusan sebelum dia mengatakan apapun. Putranya benar benar tahu cara membuat keributan.
Harusnya Eric mempelajari sejarah dengan benar. Agar tahu dan juga mengerti kalau selama ini. Kwanta adalah negeri yang damai. Tidak ada perpecahan. Satu satunya perpecahan yang terjadi sekitar ratusan tahun yang lalu. Perpecahan yang hampir saja memusnahkan Kwanta dari peradaban.
Andai saja saat itu Kwanta tidak dipimpin oleh Raja yang hebat. Pada saat ini Kwanta hanyalah tinggal nama.
Diceritakan lebih dari sepertiga penduduk asli Kwanta telah mati karena melawan suatu makhluk yang begitu menyeramkan. Tidak satu pun penyihir mampu untuk menghadapinya.
Satu satunya yang bisa mengirim mahluk itu ke akhirat hanya sang raja. Sayang, setelah pertempuran besar itu Raja hilang beserta semua Klan nya. Ratu dan sang pangeran juga lenyap.
Pesan terakhir Raja, hanya ingin semua orang di Kwanta hidup damai. Atau jika tidak, kepunahan akan kembali melanda Kwanta, hal itu lah yang membuat Frederick enggan untuk melakukan peperangan. Dia ingin Kwanta ada untuk selama lamanya.
***
"Pangeran Aldric... aku minta maaf karena hampir saja membuat mu celaka. Tapi percayalah. Aku tidak pernah bermaksud untuk melukai kamu. Aku hanya tidak pandai saja menggunakan kekuatan. Kedepannya aku akan lebih hati hati lagi," ungkap Becca dengan penuh rasa penyesalan.
Kedatangan Pangeran Aldric kemari pasti untuk memberi perhitungan kepada dirinya. Namun Becca berani bersumpah kalau tidak ada niatan untuk membuat Aldric celaka. Semua murni ketidak sengajaan.
Jika pun Aldric akan marah kepada dirinya. Becca tidak akan mempermasalahkan nya. Karena memang dia patut untuk disalahkan. Semua terjadi karena keteledoran Becca.
Entahlah harus dengan cara apa Becca meminta maaf kepada pangeran Bath itu.
"Tidak masalah. Aku sudah melupakan kejadian tadi. Justru aku merasa senang karena kejadian tadi. Jika kejadian tadi tidak terjadi, maka aku tidak akan pernah melihat kekuatan yang sangat spektakuler!" ujar Aldric penuh dengan keyakinan.
Sedang Arabella mulai tidak nyaman jika ada Aldric di dekatnya. Dia tahu jika maksud dari perkataan Aldric adalah dirinya.
Pangeran Bath itu pasti tengah menggoda dirinya. Entah harus dengan cara apa Arabella menghentikan semua kekonyolan yang dilakukan oleh Aldric.
Bahkan disaat ini, Aldric lebih memilih untuk bergabung dengan para anak anak Ilvemory dari pada harus berada di asrama Hugvindor. Sungguh, terkadang Arabella tidak mengerti dengan Aldric.
"Benarkah? Astaga... kamu memang sangat baik hati sekali pangeran Aldric. Tidak heran jika pada saat ini kamu menjadi Pangeran. Hati dan juga perasaan mu sangatlah lembut. Aku sangat terpesona!" ungkap Becca dengan memberi pujian. Dia berharap Aldric akan senang dengan pujian yang dia berikan.
"Meski kamu akan menjilat Pangeran Aldric, itu tidak akan membuat dia jatuh cinta kepadamu Becca. Jadi tolong sadar diri!" cibir Gotta yang kini sudah selesai dengan makan malamnya.
Dia menatap Becca dengan geli. Baru saja dia mengatakan tidak akan pernah mendekati Pangeran Aldric. Namun rupanya dia sendiri yang mengingkarinya.
Dibandingkan untuk bisa menjadi nomor satu di Acavalati, Gotta rasa, Becca jauh lebih senang untuk mengejar cinta dari Aldric. Mungkin pencapaian terbesar dari Becca adalah mendapatkan hati dari Aldric.
"Gotta... kamu memang tidak pernah bisa membaca peluang dengan baik. Jika kamu tidak bisa mengalahkan musuh, maka jalan satu satunya adalah menjadi Sekutu. Itu adalah yang diajarkan oleh Ayahku! Setidaknya!" ungkap Becca dengan mulut yang komat kamit.
Persaingan di Acavalati sangatlah ketat. Banyak sekali penyihir hebat yang di punya oleh sekolah sihir terbaik di Kwanta itu. Untuk Becca bisa jadi nomor satu adalah sebuah hal yang tidak mungkin. Jadi untuk mengambil momentum. Dia ingin mendekati Aldric.
Semua juga tahu, paling tidak, Aldric akan mencapai final guna melawan Putri Freya. Jadi keinginan dari Becca adalah menjadi pendamping dari Aldric.
"Eitts... sudah para gadis. Aku kesini bukan untuk mendengar kalian ribut. Tapi karena ingin menawarkan sesuatu. Sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kita!" ujar Pangeran Aldric penuh dengan keseriusan.
"Pangeran... sudahlah jangan membuat hal yang tidak tidak. Nyonya Gerld akan sangat marah jika sampai tahu soal hal ini."
Semua yang berhubungan dengan Aldric pasti tidak akan beres. Semua akan menyebabkan masalah yang besar. Dan Arabella tidak ingin jika pangeran Bath itu membawa serta orang lain dalam permasalahan ini.
"Lihat... aku bahkan belum memberi tahu apa yang hendak aku lakukan, tapi dia sudah mengatakan hal yang buruk lebih dulu!" balas Aldric kepada Arabella, yang dia nilai sama sekali tidak mengerti tawatan menguntungkan yang akan mereka lakukan.
"Ara... lebih baik kita dengarkan saja apa yang akan Pangeran Aldric katakan. Mungkin saja itu akan berguna untuk kita!" sahut Valeria yang seakan mengerti kalau Aldric pasti punya hal bagus untuk masa depan mereka semua.
"Benar sekali. Pilihan ini akan membuat hidup kita semua menjadi lebih mudah. Aku... ingin mengajak kalian untuk bersekutu dalam pertandingan besok. Apa kalian bersedia? Kita akan membuat pemenang baru!" ungkap Aldric kemudian.
***
"Apa yang kamu bicarakan Baladia. Kenapa kamu mengatakan hal tidak masuk akal itu. Apa maksud mu!"
Nerthus langsung saja meradang setelah mendengar pernyataan dari Baladia. Apa yang diucapkan oleh temannya itu terasa sangat menganggu telinganya. Nerthus sama sekali tidak mengerti.
"Saat itu aku masih sangat kecil Nerthus. Aku masih tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh para orang orang tua. Mereka menyebut kamu dan suami mu selalu disebut sebagai Pangeran dan Putri yang kabur. Aku ingat itu betul Nerthus."
"Kau hanya salah mendengar. Aku bukan Putri seperti yang kamu kira. Sepertinya otak mu sedikit rusak karena terlalu banyak bermimpi ingin tinggal di Kerajaan!" ungkap Nerthus dengan membuang muka.
Dia buru buru meninggalkan Baladia. Sebelum temannya itu akan bicara sampai kemana mana dan hanya akan membuat dirinya semakin pusing saja. Dia akan membiarkan Baladia berfikir sesuka hatinya sendiri saja.
"Aku sudah gila? Aku rasa tidak. Aku mendengar itu benar benar. Dan aku rasa telingaku belum tuli pada saat itu. Apa iya aku salah dengar?" tanya Baladia dengan diri sendiri.
Selama ini dia begitu meyakini apa yang dia dengar dulu. Tapi entah kenapa saat ini justru menjadi ragu setelah mendengar jawaban Nerthus.
"Ck... jadi tidak ada Pangeran dan Tuan Putri dalam Klan Sigyn?"
Baladia masih berusaha merapalkan apa yang dia tahu. Tapi sepertinya semua tidak benar.
"Tapi aku benar benar mendengar kalau mereka menyebut kamu sebagai Tuan Putri baru. Kamu berasal dari desa ini. Jika kau adalah Tuan Putri baru. Itu artinya suamimu adalah pangeran kan? Kamu hanya berusaha untuk menutupi ini semua."
Baladia tetap saja kukuh pada pendiriannya. Dia tidak mau menyerah begitu saja untuk menanyakan apa yang pernah dia dengar dulu.
"Yang pertama Baladia, aku dan juga suamiku berasal dari desa ini. Itu jika kamu lupa. Lalu bagaimana kamu bisa bicara kalau aku dan suamiku berasal dari kaum bangsawan. Apa khayalan mu tidak keterlaluan?"