Dua hari kemudian Dion mengumumkannya di sarapan seperti mengumumkan cuaca. 'Niken mulai Senin di holding. Magang komunikasi. Tiga bulan. Gaji kecil, tapi pengalaman. Aku sudah bilang HRD.'
Sendok Lara berhenti di mangkuk. 'Tanpa diskusi denganku.'
'Dia adikmu. Ini kabar baik.' Dion menyeruput kopi. 'Kamu yang bayar kuliahnya dulu. Sekarang biar aku yang buka pintu. Etis. Keluarga.'
'Etis adalah tidak mempekerjakan saudara istri di bawah kendali langsung suami tanpa batas yang jelas,' kata Lara. 'Benturan. Gosip. Dan setelah yang kulihat di ruang kerja—'
'Demi Tuhan, Lar.' Dion meletakkan cangkir. 'Jangan bawa tuduhan ke keputusan SDM. Niken butuh arah. Mama sudah telepon, bilang terima kasih. Kamu mau jadi satu-satunya yang tidak senang adikmu maju?'
Bu Endang memang menelepon sepuluh menit kemudian, suara penuh haru. 'Mas Dion baik sekali. Niken menangis bahagia. Jangan iri sama adikmu, Lar. Kamu sudah dapat suami kaya. Biar Niken juga dapat kesempatan.'
Iri. Kata yang dilontarkan ibu seperti pipi yang ditampar lembut. Lara menatap dinding dapur. 'Aku tidak iri, Bu. Aku khawatir.'
'Khawatir berlebihan membuat perempuan tua sebelum waktunya,' sahut Bu Endang. 'Dukung adikmu. Itu darah.'
Darah. Lara menutup telepon sebelum kalimatnya jadi pedas.
Senin, Niken datang ke kantor pusat Pramudya Property dengan blazer baru — Lara yang belikan tahun lalu. Di grup keluarga, Niken mengunggah foto meja kerja, caption: *Berkat Kak Lara & Mas Dion.* Dion me-like. Lara menatap layar sampai buram.
Malam itu konflik rumah tangga resmi naik satu tingkat. 'Turunkan dia dari laporan langsung ke kamu,' kata Lara. 'Pindahkan ke divisi lain. Atau batalkan. Pilih.'
Dion tertawa pendek. 'Kamu posesif. Bukan cuma padaku — ke panggung juga. Niken boleh bersinar sedikit tanpa izin kakaknya, kan?'
'Sinar di perusahaan suami kakaknya setelah aku melihat tanganmu di rambutnya bukan bersinar. Itu api,' kata Lara.
Dion berdiri, mengambil jas. 'Aku tidur di klub malam ini. Kalau kamu sudah tenang, bicara lagi. Jangan ajar aku soal etik perusahaan. Aku CEO-nya.'
Pintu garasi turun. Lara duduk di tangga, memeluk lutut. Florist di dapur kecilnya terasa jauh. Yayasan CSR yang ia jaga untuk nama baik Pramudya terasa seperti kostum.
Niken mengirim chat: *Kak, Senin pertamaku lancar. Mas Dion sabar banget ngajarin. Kamu beruntung. Aku juga sekarang hehe. Jangan marah-marah mulu ya, Kak. Mama bilang kamu lagi stres.*
Lara membalas: *Selamat. Jaga batas.*
*Batas apa?* balas Niken cepat. *Kita keluarga.*
Lara tidak menjawab. Ia membuka spreadsheet pribadi — kebiasaan dari mengurus vendor bunga: tanggal, kehadiran Niken di rumah, perjalanan Dion 'survey', foto yang sempat ia ambil diam-diam dari jauh saat menjemput dokumen di lobby kantor: Niken dan Dion masuk lift eksekutif di luar jam magang.
Kerjaan yang terlalu cocok. Pintu yang terlalu cepat terbuka. Dan ibu yang terlalu cepat memilih bungsu.
Lara menulis di catatan:
*Magang tanpa diskusiku. Mama: jangan iri. Dion: posesif. Pola dimulai.*
Di kamar kosong, ia tidur sendirian tanpa deklarasi perang — belum.
Tapi di holding Pramudya, nama Niken Maharani sudah tercetak di kartu akses. Dan setiap beep di pintu putar itu, bagi Lara, terdengar seperti detik jam yang menghitung pengkhianatan.