iPad keluarga biasanya hanya untuk Netflix bersama dan resep Bu Endang. Malam itu Dion lupa logout dari sesi pesan yang tersinkron — kecerobohan orang yang merasa rumah adalah wilayah aman.
Lara membuka Folio, bukan untuk menggeledah. Notifikasi muncul di layar kunci sebelum redup: *Niken: Jangan di rumah Lar malam ini. Aku kangen survey kemarin.*
Tangan Lara dingin. Ia membuka utas — tidak ada sandi di sesi aktif. Bukan kata-kata porno murahan. Lebih buruk: keakraban. Jadwal. 'Suite dekat lokasi' yang dibungkus bahasa proyek. Emoji. Foto kaki dua orang di bawah meja restoran. Satu pesan Dion: *Kakakmu mulai curiga. Lebih hati-hati. Kamu tetap di holding; itu cara kita dekat tanpa drama.*
Lara memotret layar dengan ponsel kedua, menutup aplikasi, meletakkan iPad seperti semula. Ia masuk kamar mandi, membuka keran, membiarkan air menutupi napas yang patah. Tidak histeris. Histeria adalah kemewahan orang yang belum punya adik untuk tetap dijaga di depan ibu.
Ia menyalin semuanya ke hard disk di laci florist — tempat Dion jarang menyentuh karena 'bau tanah dan batang'.
Keesokan harinya Lara ke kantor pusat dengan dalih yayasan. Di lobi ia bertemu Armand, kepala legal, sahabat profesional yang pernah menolongnya merapikan kontrak CSR.
'Ibu Lara,' sapa Armand. 'Anda jarang ke sini pagi-pagi.'
'Saya butuh konsultasi pribadi,' kata Lara pelan. 'Bukan di ruang meeting holding. Kopi di luar. Soal benturan kepentingan keluarga dalam struktur karyawan — hipotetis dulu.'
Armand menatapnya sebentar, lalu mengangguk. 'Saya tahu arti hipotetis di wajah orang. Jam empat. Kafe di seberang. Saya tidak membawa logo perusahaan.'
Sore itu Lara tidak menunjukkan chat dulu. Ia bertanya soal prosedur hibah aset, batasan mempekerjakan keluarga, dan apa yang terjadi jika ada dugaan hubungan personal antara direktur dan staf. Armand menjawab netral, lalu berkata, 'Kalau hipotetis itu berubah jadi nyata, jangan hadapi sendirian di rumah. Bawa ke orang yang terikat rahasia profesinya.'
'Saya ingat,' kata Lara.
Malam di Menteng, Dion pulang membawa kue untuk Niken — 'adikmu bilang suka'. Lara menaruh kue di kulkas tanpa potong.
'Kamu diam sekali,' kata Dion.
'Saya mendengarkan,' sahut Lara. 'Lebih baik daripada berbicara tanpa bukti. Orang bilang saya paranoia. Saya sedang belajar jadi orang yang arsipnya rapi.'
Dion mengerutkan kening. 'Maksudnya?'
'Tidurlah. Survey besok, kan?' Lara tersenyum tipis. 'Niken ikut? Magang komunikasi butuh melihat lokasi, katanya.'
Dion mematung. 'Siapa bilang?'
'Kalender,' bohong Lara sebagian. 'Atau firasat. Pilih yang membuatmu lebih tenang berbohong.'
Ia naik ke kamar tamu dengan bantal. Dion tidak menyusul. To black — jarak, pintu, dan iPad yang kini Lara logout paksa dari semua perangkat bersama.
Di catatan:
*Chat tersinkron. 'Cara kita dekat tanpa drama.' Armand: pintu legal. Saya tidak meledak. Saya menyalin.*
Di lantai bawah, Dion menelepon — suara rendah, marah tertahan. Lara tidak perlu mendengar nama di ujung sana.
Ia sudah tahu. Darah yang ia jaga duduk di kalender suami dengan nama panggilan yang terlalu manis untuk magang.