Bu Endang meminta makan malam keluarga di Menteng — 'syukur Niken dapat kerja'. Empat kursi. Empat piring. Satu perang yang belum diumumkan.
Niken datang dengan gaun pastel, duduk di kursi yang biasanya untuk tamu — tepat di sisi Dion, bukan di sisi Lara. Dion menyuapkan salad ke piring Niken duluan, otomatis, seperti kebiasaan rumah tangga yang salah alamat. Bu Endang tersenyum bangga. 'Mas Dion perhatian. Niken kurus.'
Lara menuang air ke gelasnya sendiri. 'Semoga magangnya tidak mengganggu batasan profesional.'
Niken terkikik. 'Kakak mulai jadi HRD. Tenang, Mas Dion galak di kantor. Di rumah baru baik.'
Di rumah. Kata itu menusuk. Dion melirik Lara, peringatan diam. Lara mengangkat gelas. 'Toast. Untuk keluarga yang jujur. Semoga yang duduk di meja ini tidak meminjam ranjang orang lain — secara kiasan maupun tidak.'
Keheningan. Bu Endang memaksa tawa. 'Lara dan humor gelapnya. Minum saja.'
Makan malam berjalan. Niken bercerita soal 'survey' dan 'belajar dari Mas Dion'. Dion tertawa di tempat yang tepat. Lara mengunyah daging yang terasa seperti kertas. Saat dessert, jari Niken menyentuh lengan Dion meminta tisu — terlalu lama. Bu Endang tidak melihat. Atau tidak mau.
Setelah ibu dan Niken pulang, Lara menutup pintu dan melepaskan senyum. 'Di meja makan saya. Di kursi tamu. Kamu melayani dia duluan. Kamu gila atau merasa tak terkalahkan?'
Dion melempar dasi ke sofa. 'Kamu mempermalukan adikmu dengan toast itu. Mama hampir tersedak. Cukup. Niken tidak bersalah hanya karena kamu insecure.'
Lara mengeluarkan ponsel, menaruhnya di meja — layar menampilkan satu cuplikan chat yang sudah ia cetak mental. Ia tidak buka semua. Satu baris: *Kakakmu mulai curiga.*
Wajah Dion memutih. 'Kamu—'
'Membaca iPad yang kamu lupa logout,' kata Lara. 'Bukan meretas. Selamat. Sekarang kita bisa bicara tanpa kata paranoia.'
Dion melangkah mendekat, suara rendah. 'Hapus. Itu bisa hancurkan holding. Hancurkan Niken. Mama tidak akan tahan. Kamu mau bunuh keluarga karena cemburu?'
'Sebut cemburu tidak mengubah isi chat,' kata Lara. 'Saya tidur di kamar tamu. Jangan masuk. Jangan bawa Niken ke rumah ini tanpa saya. Mulai Senin, saya bicara ke Armand soal posisi magangnya — resmi.'
Dion menangkap pergelangan tangannya — bukan memukul, menahan. 'Jangan. Saya turunkan dia pelan. Diamlah dua bulan. Saya bereskan.'
Lara menarik tangannya. 'Dua bulan adalah waktu orang menghapus jejak. Saya bukan vendor yang bisa kamu reschedule.'
Ia masuk kamar tamu, mengunci. To black. Di balik pintu, Dion membentur dinding sekali — tertahan, marah. Lalu menelepon. Lara mendengar potongan: 'Jangan datang... dia tahu sebagian...'
Lara duduk di lantai, memeluk bantal, membiarkan air mata jatuh tanpa suara. Bukan karena masih cinta buta. Karena enam tahun ia mengira darah adalah tempat paling aman di dunia.
Ternyata darah bisa duduk di kalender suami — dan tersenyum di meja empat kursi seolah toast keluarga masih suci.