Brankas kecil di ruang kerja Dion biasanya berisi paspor, sertifikat emas, dan surat tanah. Lara hafal kombinasinya sejak renovasi tahun lalu — Dion menyebutnya di depan kontraktor tanpa curiga istri akan mengingat.
Ia membuka saat Dion 'survey' seharian. Di antara map biru, ada draft belum ditandatangani: hibah atas satu unit ruko di lokasi strategis kepada *Niken Maharani*, alasan 'bantuan keluarga & apresiasi kontribusi komunikasi awal proyek'. Nilai yang membuat perut Lara mengeras. Bukan hadiah ulang tahun. Pengalihan aset.
Lara memotret setiap halaman, mengembalikan map, mengunci brankas. Di kafe seberang kantor, ia meletakkan foto di depan Armand.
'Bukan hipotetis lagi,' kata Lara pelan. 'Saya butuh dua hal: apakah draft ini bisa dihentikan sebelum jadi akta, dan bagaimana memisahkan staf magang dari direktur tanpa saya terlihat sebagai istri histeris di mata dewan.'
Armand membaca, rahang mengeras. 'Draft ini bodoh. Atau berani. Kalau sempat jadi akta tanpa persetujuan yang tepat, kita lawan. Soal magang: benturan kepentingan bisa saya angkat lewat compliance — Anda sebagai pihak terkait keluarga boleh menyampaikan keprihatinan tertulis. Saya yang formulasi bahasanya agar tidak berbau perang rumah tangga di permukaan.'
'Lakukan,' kata Lara. 'Dan Armand... ada chat. Ada pola. Saya tidak ingin tabloid. Saya ingin aset saya dan nama saya tidak ikut digadaikan untuk adik saya.'
Armand mengangguk. 'Saya terikat kerahasiaan. Kirim salinan terenkripsi. Jangan konfrontasi Niken sendirian — orang yang digantung aset bisa digigit.'
Malam itu Dion pulang lebih awal, gelisah. 'Armand tanya-tanya soal magang keluarga. Itu ulahmu?'
'Saya menjaga perusahaan yang namanya melekat di buku nikah saya,' kata Lara dari sofa kamar tamu. 'Dan saya menemukan draft hibah untuk Niken di brankasmu. Jelaskan sebelum saya anggap itu mahar perselingkuhan.'
Dion tersandung kata, lalu menyerang. 'Kamu bongkar brankas? Kamu mencuri?'
'Saya istri. Itu brankas rumah. Draft itu mencuri masa depan dari pernikahan ini,' sahut Lara. 'Batalkan. Keluarkan Niken dari holding. Atau saya gerakkan apa yang Armand dan saya sudah mulai — diam-diam, rapi, legal.'
Dion duduk, wajah retak. 'Niken tidak punya apa-apa. Saya hanya mau amankan dia. Kalau kamu cerai nanti—'
'Kalau,' potong Lara. 'Kamu sudah memikirkan cerai sambil menulis hibah untuknya. Selamat. Sekarang saya juga berpikir.'
Ia berdiri. 'Satu lagi: jangan libatkan mama sebagai senjata. Kalau Niken mengadu, saya yang bawa bukti ke meja mama. Saya tahan selama ini karena darah. Draft itu menghabisi kesabaran darah saya.'
Dion memanggil namanya saat Lara kembali ke kamar tamu. Lara tidak menoleh. To black. Pintu. Kunci. Napas.
Di hard disk, folder baru: *Hibah*. Cliff itu tajam dan sederhana — perselingkuhan sudah menjadi angka.
Dan Lara Pramudya, kakak yang dulu menjual cincin pertama untuk SPP Niken, kini memegang bukti bahwa adiknya bukan hanya mengambil suami.
Ia sedang disiapkan untuk mengambil properti.
Pelatuk belum ditarik. Senjata sudah di tangan. Minggu depan, perang akan pindah dari kamar tamu ke meja ibu — dan ke pena yang tidak peduli air mata bungsu.