Sudah 3 hari lama nya Lana berada di sini, di Yogyakarta.
Sudah waktunya untuk kembali.
Ia bahkan sudah siap apabila ada sebuah kejutan yang akan menyambut nya, jikalau itu terjadi.
Alana memasukan koper nya ke dalam bagasi taksi, karena bang Devan tak bisa mengantarkan nya ke bandara. Sedangkan Lisa, adiknya lebih memilih tinggal di Yogyakarta, ia berniat mencari sebuah apartemen di dekat sini
dia ingin melamar bekerja di perusahaan kakak ipar bang Devan.
"yakin gabakal pulang sama ini dulu dek?" ucap perempuan berambut pendek itu.
"ga kak Lana, aku akan di sini sementara" ucap Lisa pada sang kakak.
"ok... baiklah jaga dirimu yaa ini bakal pulang" ucap Lana tersenyum.
"auntyy Ale pasti bakal rindu aunty" ucap Alexa.
"yaudah ikut aunty aja ke Padang yuk!" ucap Alana bercanda.
"gaa ah... Daddy pasti gabakal izinin" ucap Ale.
"yaudah aunty berangkat yaa ale, kakak berangkat dulu ya Lis!" ucap Lana melambaikan tangan berjalan menuju taksi dan berangkat menuju bandara.
Hampir 2 jam lama nya Alana di dalam pesawat dan akhirnya tibalah di rumah nya di Padang.
Ia memasuki pekarangan rumah nya, ini sudah pukul 10:35 pagi namun ia melihat mobil Bryan masih terparkir dengan manis di depan rumah.
"Bryan ga ke kantor yaa?" ucap Alana.
Ia berjalan menuju teras rumah.
"ah sepatu siapa ini? aku bahkan paling tidak suka memakai sepatu heels" ucap Alana.
karena ia tak tau ini sepatu siapa ia asal ambil saja dan memasukan nya ke dalam tas sandang nya, biar yang di dalam tau rasa.
Alana POV...
Aku membuka ganggang pintu rumah ku sayup - sayup ku mendengar suara wanita dari arah kamar tamu.
aku meletakan koper ku di dekat meja ruang tamu, lalu aku menuju ke kamar yang berada di lantai dasar itu
click...
kedatangan ku tak pula di sadari dua sejoli yang sedang bercanda tawa di kamar ini. Bisa ku lihat tawa keduanya seperti merencanakan masa depan nya.
"sayang, apakah kau tak berniat untuk menceraikan si cupu itu?" tanya wanita itu.
Ah aku sampai lupa bilang bahwa dua sejoli tak punya malu itu adalah Bryan dan Mira dalam keadaan... ah, ternyata mereka masih berbusana ucap ku dalam hati.
"Entahlah aku tak ingin menceraikan nya, aku tak mau di salahkan ayah ku karena menceraikan nya biar saja dia yang menggugah ku terlebih dahulu.
maka aku akan terlihat seperti korban di sini bukan??"-ucap Bryan.
"sayang bagaimana kalau kita membuat permainan terlebih dahulu untuk manusia cupu itu" ucap Mira.
"apa rencana mu" ucap Bryan dengan mata berbinar.
Alana pun keluar ia sengaja tak mendengarkan nya ,ia terlalu bosan untuk itu, lagian rencana di balik rencana huhh itu bukanlah hal yang buruk sepertinya.
ku tutup pintu itu dengan pelan.
aku pergi ke kamar ku,aku bahkan tak berniat untuk menata kain di dalam koper ku.
aku hanya meletakan nya di samping lemari, bagaimana dengan sepatu itu?
aku Takan sebodoh itu, aku akan menyimpan nya terlebih dahulu di suatu tempat, namun aku terlebih dahulu berhati-hati,bagaimana kalau Bryan menyimpan kamera di sini?.
aku tak risau, aku punya solusinya, aku merogoh tas kecil ku tadi dan mengambil sebuah remote, ini adalah remote yang berfungsi untuk mematikan cctv/kamera/ataupun apapun itu alat perekam di kamar ku ini secara otomatis .
aku sungguh ber terimakasih pada prof Sam yang dulu memberi ku remote ini saat wisuda ku dulu,hanya saja aku jarang memakai nya.
setelah di pastikan aman aku menyembunyikan sepatu itu.
lalu setelah selesai, aku kembali memencet tombol di remote itu, jikalau ada kamera juga di sini sih.
aku berjalan ke luar sudah tak ku dengar orang yang berbincang di luar sana, aku pun acuh lalu aku pergi ke sofa ruang tamu untuk menonton televisi.
lalu tiba-tiba saja ada tangan yang bertengger di bahu ku ,aku menoleh ke arah asal nya.
ternyata itu Bryan, ah apakah itu adalah salah satu bagian dari rencana mereka?.
"ada apa??" ucap ku.
"katanya kau ke sana satu Minggu kenapa kau sudah pulang" tanya Bryan.
"lalu, apakah aku tak boleh pulang ke rumah ku?... ya terserah ku mau pulang kapan toh aku juga sengaja melakukan ini padamu" ucap ku sambil mengeluarkan senyuman andalanku yang tak pernah ku tunjukan pada siapapun.
Alana Pov end...
'mengerikan'.
Itulah satu kata yang terucap di batin Bryan.
"k-kenapa begitu?" tanya Bryan.
"aku hanya ingin menonton drama mu dan kekasih mu yang tadi berkunjung ke sini, bahkan kamar tamu saja sudah terlihat menjijikan karena sudah di tiduri kalian berdua,ah ralat maksudku Mira" ucap Lana santai.
"apa?... mau apa kau" ucap Lana ketika melihat Bryan yang ingin protes.
"Dari mana kau tau?" tanya Bryan.
"entahlah,mungkin angin yang memberi tahu nya pada ku, angin sungguh baik bisa menyelamatkan ku dari manusia munafik seperti kalian berdua" ucap Alana yang terdengar sedikit ngawur itu.
Bagaimana dengan Bryan?.
dia hanya tertawa canggung.
"na, jalan - jalan yukk ke taman aja gapapa atau nemenin kamu ke swalayan gitu buat beli keperluan dapur" ucap Bryan.
"aku akan makan di luar" ucap Lana dan beranjak pergi ke kamar.
Bryan mengikuti Alana, lalu bagaimana dengan Mira?. ia sudah seperti orang bodoh di depan pintu rumah sana, ia kehilangan high heels merah nya, seingatnya ia meletakan nya di sini.
"aduh mana ya??" ucap nya kebingungan.
Drttt...
Drttt...
Drttt...
Terdengar suara hp Mira berbunyi.
"iya om, aku akan ke sana sesuai janji kita kemarin" ucap Mira pada si penelepon di seberang sana
ia mematikan sambungan nya dan pergi tanpa memakai heels ataupun sepatu, ia hanya berjalan tanpa alas.
Lalu ia menghentikan taksi, dan taksi menuju ke arah Cl*b malam.
Di sisi lain...
"Hei ayolah apakah kau akan terus begini sayang?" ucap Bryan pada Lana.
Alana hanya diam mengotak Atik laptop nya untuk melihat laporan perkembangan keadaan pasien yang kemaren dia rawat.
dia terlihat sedang melakukan percakapan Vidio dengan seorang dokter laki-laki.
"Baik dokter Nelson, terimakasih atas informasinya... saya turut bahagia mendengar pasien itu mulai berangsur membaik" ucap Lana sambil tersenyum pada layar laptop itu.
"hei sayang, ayolah" ucap Bryan pada Alana.
Ia sengaja membesarkan suaranya supaya di dengar seseorang yang mengajak istri nya berbicara.
Alana tak menghiraukan nya.
"sayangg... Lana sayangg ayolah"-ucap Bryan merengek.
"dokter Alana, siapa itu?... apakah itu suami mu?" ucap dokter Nelson.
"iya! aku suami nya mau apa kau!" ucap Bryan tanpa melihat layar laptop Lana.
"heh! sopan lah sedikit dokter Nelson lebih tua dari mu"-ucap Alana memandang Bryan sengit.
Bryan menoleh ke arah laptop.
Ia sempat kaget, sepertinya dr Nelson sudah tua, mungkin seumuran ayah nya.
Namun,Bryan tak berniat untuk meminta maaf.
"yasudah saya akhiri dulu ya dokter, silahkan urus suami anda dulu terimakasih atas waktu nya" ucap dokter Nelson buru - buru menutup sambungan sambil tersenyum menggoda Lana dan Bryan.
"tung-"panggilan di akhiri.
"gu"-ucap Alana menyambung kata nya tadi.
Bryan segera menarik tangan Alana menuju keluar sambil membawa kunci mobil nya yang menggantung di dekat pintu keluar.
"ayo sayang, aku sudah lapar ayo memasak" ucap Bryan seperti anak kecil.