Di lantai dua butik Maharani, di antara dua dinding cermin dan rak gaun yang diterangi lampu sorot, Sekar Ayuningtyas sedang menyemat jarum pentul di pinggang seorang perempuan yang tak mau berhenti mengeluh.
"Kainnya kaku begini, Mbak. Saya mau yang jatuh, yang melangsai. Bisa, kan?"
Sekar berlutut di lantai marmer dingin, mulut menggigit tiga jarum, tangannya menarik lipatan rok agar tirai kain itu mengalun saat perempuan itu memutar badan. Ia tahu betul kain di tangannya: sutra cetak dari pabrik di selatan kota, dua ratus ribu per meter, motifnya dipindai dari batik entah dari mana lalu dicetak ribuan meter dalam semalam. Kain yang tak punya tangan di belakangnya. Tak ada penenun yang menua karenanya, tak ada akar yang direbus untuk warnanya.
"Bisa, Bu," kata Sekar setelah melepas jarum dari bibir. "Saya kasih kupnat di sini, biar mengikuti badan. Besok pagi sudah jadi."
Perempuan itu mendengus puas, menatap pantulannya sendiri seolah pantulan itu yang menjahit. Sekar berdiri, menahan ngilu di lutut, dan untuk sesaat menatap pergelangan tangannya sendiri di cermin. Ada bekas tipis di sana, garis pucat yang sudah lama tak ia hiraukan: bekas benang lungsin yang dulu menggesek kulitnya selama bertahun-tahun, waktu ia masih kecil dan tangannya belajar menahan helai demi helai di atas alat tenun neneknya. Empat tahun di kota, dan tubuhnya hampir lupa pernah jadi tubuh penenun.
Hampir.
Teleponnya bergetar di saku celemek. Sekar mengabaikannya. Bu Maharani, pemilik butik, tak suka karyawannya mengangkat telepon di lantai pelanggan. Getaran itu berhenti, lalu mulai lagi. Berhenti, mulai lagi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sekar merasakan sesuatu mengetat di dadanya bahkan sebelum ia membaca nama di layar. Tak ada orang yang menelepon tiga kali kecuali kalau ada yang salah.
Ia permisi, menyelinap ke ruang ganti yang kosong, dan mengangkat.
"Sekar." Suara Bujang, sepupunya, jauh dan berdesir karena sinyal kampung yang buruk. "Mbah Sumirah ambruk. Tadi pagi, di depan tenun. Sekarang di puskesmas kecamatan."
Dunia di sekitar Sekar—rak gaun, lampu sorot, bau pengharum ruangan yang manis dan asing—seolah surut menjauh.
"Ambruk gimana? Parah?"
"Mantri bilang darah tingginya naik. Bisa stroke ringan, katanya. Dia masih bisa ngomong, tapi tangan kirinya... agak susah digerakin." Bujang berhenti. "Kamu balik, Sekar. Nggak ada yang ngurus bengkel. Mbah terus-terusan nanyain kamu."
Sekar bersandar ke dinding ruang ganti. Di cermin di hadapannya ia melihat perempuan dua puluh enam tahun berseragam hitam butik, rambut diikat rapi, wajah yang sudah terbiasa tersenyum kepada pelanggan. Dan di balik wajah itu, ia melihat anak perempuan berkaki telanjang yang dulu duduk di kolong rumah panggung, menggulung benang yang dicelup nenek, menghirup bau akar mengkudu yang asam dan tanah basah.
"Aku pulang," katanya. "Besok."
Ia pulang lusa, sebenarnya, karena harus menyelesaikan dulu jahitan-jahitan yang sudah dijanjikan dan karena Bu Maharani memotong gajinya untuk hari yang ia tinggalkan. Perjalanan dari kota provinsi ke Watu Lawang menempuh tiga jam: satu jam jalan tol, satu jam jalan provinsi yang ramai truk, lalu satu jam terakhir menanjak di jalan berkelok yang aspalnya retak-retak dimakan air gunung. Sekar tidak turun dari bus di ujung jalan seperti perantau dalam sinetron. Ia menumpang motor Bujang dari pertigaan pasar kecamatan, ranselnya berdebu, dan ia mencium kampungnya sebelum melihatnya: bau kayu bakar, bau tanah yang baru kena hujan sore, dan—di antara semua itu—bau benang yang basah, bau khas yang tak ada namanya dalam bahasa kota.
Watu Lawang terbentang di lereng, rumah-rumah panggung kayu berimpit di antara petak sayur dan pohon kopi. Dulu, kalau kau melewati kampung ini di pagi hari, kau akan mendengar paduan suara yang aneh dan indah: derit alat tenun bukan mesin dari kolong rumah-rumah, kayu yang menggesek kayu, hentakan pemadat benang yang berirama seperti detak jantung kampung. Belasan, bahkan puluhan tenun bekerja bersamaan, masing-masing dengan tempo perempuan yang menjalankannya.
Sekar menajamkan telinga begitu motor memasuki gang utama. Ia mendengar derit itu.
Tapi cuma satu.
Satu derit, lambat, dari kolong rumah neneknya di ujung gang. Dan dari rumah-rumah lain, hanya sunyi. Beberapa kolong sudah kosong, alat tenunnya ditutup terpal, kakinya berdebu, benangnya menggantung putus dan tak diselesaikan siapa pun. Satu rumah malah sudah memakai kolongnya untuk kandang ayam.
"Sepi banget," gumam Sekar.
Bujang mematikan mesin. "Sudah lama begini. Yang masih nenun tinggal Mbah, Bu Ngatiyem, sama Bu Lastri. Tiga orang." Ia menyandarkan motor. "Sisanya tua, sakit, atau pindah ke pabrik di kota."
Tiga orang. Sekar masih ingat saat ada lebih dari tiga puluh.
Rumah neneknya berdiri seperti yang selalu ia ingat, hanya lebih reyot, catnya lebih pudar, tangga kayunya lebih melengkung di tengah. Di kolong, di bawah keremangan, Bu Lastri sedang menjalankan satu-satunya tenun yang masih hidup, kakinya menginjak pedal, tangannya melempar teropong dari kiri ke kanan, dan kayu itu mendesah—itulah derit yang tadi Sekar dengar dari jauh. Di sudut kolong, bertumpuk di atas para-para bambu, ada gulungan-gulungan kain jadi yang tak terjual. Sekar bisa melihatnya bahkan dalam gelap: kain tenun ikat, warna indigo tua dan merah akar, motif yang ia kenal sejak lahir, tergulung berdebu, menunggu pembeli yang tak kunjung datang.
Bu Lastri mengangkat wajah. Garis-garis di wajahnya lebih dalam dari yang Sekar ingat. "Sekar," katanya, dan suaranya pecah sedikit. "Mbahmu di atas. Sudah pulang dari puskesmas tadi pagi. Naiklah. Dia nungguin kamu dari kemarin."
Sekar melepas sandal di anak tangga, dan kaki telanjangnya menyentuh kayu yang dingin dan halus—kayu yang sudah dipoles oleh ribuan langkah kaki perempuan selama puluhan tahun. Tubuhnya ingat tangga ini. Setiap papan, setiap deritnya. Ia menaiki rumah masa kecilnya, dan di dalam, di atas amben dekat jendela, terbaring neneknya: tubuh yang dulu kekar memutar benang kini terlihat kecil dan ringkih di bawah selimut batik tua.
Mbah Sumirah membuka mata. Tangan kanannya, yang masih bisa bergerak, terangkat sedikit.
"Kamu pulang," bisik perempuan tua itu. Bukan pertanyaan. Lebih seperti sesuatu yang sudah lama ia tahu pasti terjadi. "Tenunku berhenti, Nduk. Tanganku berhenti."
Sekar berlutut di samping amben, menggenggam tangan itu—tangan yang kapalan, dingin di ujung jari, dengan kuku yang masih membiru samar oleh tarum. Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kampung empat tahun lalu, Sekar tak tahu lagi apakah ia perempuan butik yang menjahit kain pabrik, atau cucu penenun yang baru saja pulang ke reruntuhan warisannya. Di luar, derit satu-satunya tenun yang masih hidup terus berbunyi, pelan, seperti napas yang berusaha tidak berhenti.