Malam pertama, Sekar tidak tidur. Ia menemani neneknya sampai napas tua itu teratur, lalu turun ke kolong dengan senter telepon, mencari sesuatu yang ia tahu pasti ada di mana-mana di rumah penenun: catatan.
Mbah Sumirah tak pernah sekolah tinggi, tapi ia mencatat segalanya. Bukan di buku akuntansi—di buku tulis anak sekolah bersampul karton, di sobekan kalender, di balik bungkus rokok suaminya yang sudah lama meninggal. Sekar menemukan tumpukan itu di dalam kaleng biskuit di bawah para-para, di samping gulungan kain yang tak terjual. Ia membawanya naik, menyalakan lampu neon yang berdengung di ruang tengah, dan mulai membaca.
Butuh sampai dini hari untuk Sekar menyusun angka-angka itu jadi gambaran utuh. Dan gambaran itu membuat perutnya mual.
Kolom paling tebal, yang terus berulang di hampir setiap lembar, ditulis dengan satu nama: Koh Bandi. Tengkulak benang dari kota kecamatan. Selama tiga tahun terakhir, harga benang katun pakan terus naik—Sekar tahu ini bukan dari catatan neneknya saja, tapi dari kerjanya di kota, dari pembicaraan para pedagang tekstil tentang kurs dan impor kapas. Tapi penenun kampung tak bisa membeli benang tunai dalam jumlah besar. Mereka membon. Mereka mengambil benang dulu dari Koh Bandi, menenun, menjual kain, lalu membayar. Dan ketika kain tak terjual—seperti gulungan-gulungan berdebu di kolong itu—utang benang tetap berjalan, beranak bunga.
Sekar menghitung dengan kepala yang sudah terlatih menghitung di butik. Bunga bonan Koh Bandi tidak ditulis sebagai persen di kertas mana pun. Itu cara tengkulak: tak ada angka resmi, hanya "tambahan" yang muncul tiap bulan, "ongkos kirim", "selisih harga", yang kalau Sekar terjemahkan ke bahasa bunga butik berarti hampir sepuluh persen sebulan. Pokok utang neneknya untuk benang kini bertumpuk menjadi sembilan juta lebih. Sembilan juta, di kampung tempat satu lembar kain hasil tiga minggu kerja keras dijual—kalau laku—seharga dua ratus, paling banter tiga ratus ribu.
Dan kain itu tidak laku. Itu masalahnya. Tumpukan di kolong itu adalah modal yang membatu, uang yang sudah jadi benang lalu jadi kain lalu jadi debu.
Pagi harinya, Mbah Sumirah lebih kuat. Ia bisa duduk bersandar bantal, menyeruput bubur yang disuapi Sekar, tangan kirinya masih malas tapi mulai mau menurut sedikit. Matanya, di antara wajah yang melayu, masih tajam.
"Kamu lihat buku-bukuku semalam," kata neneknya. Lagi-lagi bukan pertanyaan.
Sekar tak bisa berbohong pada perempuan yang membesarkannya. "Iya, Mbah. Utang ke Koh Bandi... besar."
Neneknya mengangguk pelan, seolah angka itu hal yang sudah lama ia gendong di punggung. "Koh Bandi orang dagang. Dia nggak jahat, Nduk. Dia cuma... pintar. Dia tahu kita nggak punya pilihan lain mau ambil benang ke mana." Ia berhenti, menarik napas yang berderak halus. "Dulu, waktu pakdemu masih ada, kita beli benang tunai. Kain laku. Sekarang kain nggak laku, harga benang naik. Yang muda pada pergi. Aku ambil bon, ambil bon, sampai... ya, sampai begini."
Sekar meletakkan mangkuk bubur. "Berapa lama lagi tenggatnya, Mbah?"
"Bandi tadinya sabar. Tapi sebulan lalu dia ke sini, bilang dia juga lagi butuh muter uang. Dia kasih waktu sampai panen kopi. Tiga bulan, mungkin kurang." Mbah Sumirah menatap cucunya. "Kalau nggak bisa bayar, dia mau ambil tenun-tenunku sebagai gantinya. Alat tenunnya, Nduk. Bukan kainnya. Kainnya nggak ada harganya buat dia."
Sekar merasa dingin menjalar di tengkuknya. Alat tenun bukan mesin di kampung ini bukan sekadar kayu. Beberapa di antaranya berusia lebih tua dari Mbah Sumirah, diwariskan dari ibu ke anak, kayunya dipoles tangan dan keringat lima generasi. Mengambil ATBM dari penenun sama dengan mengambil tangannya. Tanpa alat, tak ada tenun. Tanpa tenun, kampung ini cuma kumpulan rumah panggung tua di lereng yang anaknya semua sudah pergi ke pabrik.
"Aku akan urus," kata Sekar, dan ia mengucapkannya dengan keyakinan yang tidak ia rasakan.
Neneknya menggenggam tangannya, dengan tangan kanan yang masih kuat, lebih kuat dari yang Sekar duga. Cengkeraman penenun.
"Sekar. Dengar Mbah." Suaranya turun, hampir berbisik, tapi setiap kata jatuh seperti batu. "Utang bisa dibayar. Tenun bisa dibeli lagi. Tapi ada satu yang nggak boleh hilang, apa pun yang terjadi. Lungsin tujuh gunung. Motif itu. Itu bukan punyaku, bukan punyamu. Itu titipan. Kalau kampung ini harus jual segalanya, jual saja kain, jual alatku kalau perlu—tapi jangan pernah, jangan pernah, kasih motif itu keluar. Janji sama Mbah."
Sekar menatap mata neneknya, dan ia berjanji, karena itu yang diminta orang yang membesarkannya, karena di saat itu janji terasa mudah—motif hanyalah motif, hanyalah pola garis di atas benang, apa susahnya menjaganya?
Ia belum tahu, saat itu, bahwa janji termudah yang pernah ia ucapkan akan menjadi yang paling mahal.
Siang itu Sekar berjalan keliling kampung dengan buku catatan butiknya sendiri—buku rapi bergaris, beda jauh dari sobekan kalender neneknya. Ia mencatat: tiga penenun aktif. Lima belas ATBM, hanya satu yang jalan. Tujuh puluh dua lembar kain jadi tak terjual di tiga rumah. Utang gabungan kampung ke Koh Bandi, kalau digabung dengan Bu Ngatiyem dan Bu Lastri yang juga ngebon, lebih dari dua belas juta. Dan di kolom terakhir, yang ia tulis dengan tangan agak gemetar, ia mencatat satu kalimat yang bukan angka: "Waktu tersisa sebelum tenun Watu Lawang berhenti selamanya: kurang dari tiga bulan."
Ia menutup buku itu, duduk di tangga rumah neneknya, dan menatap kampung yang sunyi. Empat tahun di kota ia belajar membaca selera, harga, tren. Ia tahu kain mana yang laku, warna mana yang dicari, berapa harga yang bisa ditawar. Pengetahuan itu, di kota, hanya membuatnya jadi penjahit yang baik. Di sini, di lereng yang sekarat ini, pengetahuan itu mungkin satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan kampungnya—atau, ia mulai diam-diam takut, satu-satunya hal yang akan mengubah kampungnya menjadi sesuatu yang tak lagi dikenali neneknya.