Kain itu masih ada di kolong, tergulung di antara tumpukan yang tak terjual, tapi Bu Ngatiyem mengeluarkannya seakan mengeluarkan sesuatu yang hidup. Ini bermula bukan dari pelajaran, melainkan dari pertengkaran kecil.
Sekar, dengan kepala butiknya, sudah mulai memilah tumpukan kain tak terjual untuk memutuskan mana yang bisa ia bawa coba jual ke kota. Ia memisahkan kain bermotif geometris sederhana ke satu sisi—itu yang menurutnya "lebih bisa diterima pasar muda"—dan kain bermotif rumit ke sisi lain. Saat tangannya hendak menyingkirkan satu lembar dengan tujuh garis vertikal yang membelah bidang ikat, Bu Ngatiyem, yang sedang melintas membawa benang, berhenti mendadak.
"Jangan ditaruh sembarangan," kata perempuan itu, suaranya tajam. Bu Ngatiyem yang paling tua di antara tiga penenun tersisa, paling keras, dan paling kering pujiannya. "Itu lungsin tujuh gunung."
Sekar menahan kain itu di tangan. "Saya tahu, Bu. Saya cuma misahin yang kira-kira bisa laku—"
"Kamu nggak tahu apa-apa," potong Bu Ngatiyem, lalu seakan menyesali nada kasarnya, ia menurunkan benang yang ia bawa dan duduk di bangku kayu rendah. Cahaya dari celah dinding kolong jatuh ke kain di tangan Sekar, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Sekar benar-benar melihatnya.
Tujuh garis. Ia selalu menganggapnya tujuh garis. Tapi di bawah cahaya itu, dengan mata yang sudah empat tahun melihat motif-motif cetak pabrik yang datar dan sempurna, Sekar melihat bahwa tujuh garis ini tidak satu pun lurus sempurna. Setiap garis sedikit bergetar, sedikit melebar di tengah lalu menyempit, persis seperti siluet gunung yang dilihat dari jauh: kaki yang lebar, puncak yang meruncing. Dan di sela-sela ketujuh garis itu, ada pola ikat samar yang dulu tak pernah ia perhatikan—pola kecil berulang yang, kalau diperhatikan lama, menyerupai sesuatu yang mengalir ke bawah dari setiap puncak.
"Air," gumam Sekar tanpa sadar.
Bu Ngatiyem mengangkat alis, sedikit terkejut. "Hujan," koreksinya. "Yang turun dari tujuh gunung, masuk ke sungai, ngasih hidup ke sawah di bawah. Mbahmu yang ngajarin aku itu, empat puluh tahun lalu, persis di kolong ini." Ia mengambil kain dari tangan Sekar, jemarinya yang keriput menyusuri tiap garis. "Tujuh gunung itu bukan gunung sembarangan, Nduk. Itu tujuh leluhur yang pertama buka kampung ini. Tiap garis satu nama. Ngatiyem ya hafal ketujuhnya, mbahmu hafal, Bu Lastri hafal. Kamu?"
Sekar diam. Ia tidak hafal. Ia tahu motifnya, tangannya bahkan pernah mengikatnya sebagai anak kecil, tapi ia tak pernah diberi tahu nama-namanya, atau ia diberi tahu lalu lupa di kota.
"Kenapa nggak ditulis aja, Bu?" tanya Sekar, dan begitu kalimat itu keluar ia tahu itu pertanyaan orang kota. "Maksud saya, kalau ditulis, kalau digambar di kertas, nggak akan hilang kalau—"
Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Kalau penenun tua wafat. Tapi Bu Ngatiyem mendengar yang tak terucap.
"Karena yang ditulis bisa dicuri, bisa dijiplak, bisa dibawa orang yang nggak ngerti," jawab perempuan tua itu. "Kalau cuma di kepala dan di tangan, motif ini cuma bisa diwarisin sama orang yang mau duduk berbulan-bulan belajar ikatnya. Orang yang sabar. Orang yang menghormati. Mbah-mbah kita sengaja nggak nulisnya, Nduk. Itu pagar. Selama nggak ada di kertas, nggak ada yang bisa ngambil tanpa belajar."
Sekar merasa ada yang janggal dalam logika itu, dan juga ada yang sangat benar. Di kota, ia melihat motif-motif kampung dipindai, diunggah, dicetak ulang ribuan meter tanpa satu pun penenun pernah disebut. Motif yang ada di kertas atau di file digital memang tak punya pagar. Tapi motif yang hanya hidup di tangan tiga perempuan tua yang salah satunya baru saja kena stroke ringan—pagar itu juga berarti pengetahuan ini berdiri di tepi jurang. Satu generasi salah, dan tujuh gunung itu hilang selamanya, tak bisa dipugar dari kertas mana pun karena tak pernah ada kertasnya.
"Boleh saya belajar?" tanya Sekar. "Nama ketujuhnya. Cara ikatnya."
Bu Ngatiyem menatapnya lama, menimbang, seakan mengukur apakah cucu Sumirah yang sudah berbau kota ini layak. "Bukan aku yang berhak ngajarin kamu lungsin tujuh gunung," katanya akhirnya. "Itu hak mbahmu. Selama dia masih bisa ngomong, kamu belajar dari dia. Aku cuma penjaga. Mbahmu pemegang."
Sore itu, Sekar membawa kain itu naik dan menggelarnya di pangkuan neneknya yang masih terbaring. Mbah Sumirah, yang sejak pagi lebih banyak diam, menyentuh kain itu dengan tangan kanannya, dan sesuatu menyala di matanya yang melayu.
"Gunung pertama," kata neneknya, jari menelusuri garis paling kiri, suaranya pelan tapi tak ragu, "namanya Gunung Wungkal. Tempat leluhur kita pertama berhenti dan bilang, di sini kita berhenti lari. Garisnya paling tebal, karena dia yang pertama." Jari itu bergeser. "Gunung kedua, Sela Putih..."
Sekar mendengarkan, dan untuk pertama kalinya ia tak mencatat di buku butiknya. Ia menyimpannya di kepala, paksa, garis demi garis, nama demi nama, karena ia mulai paham bahwa pengetahuan ini hanya hidup kalau ada yang mau menggendongnya tanpa kertas. Di luar, langit lereng menguning, dan derit satu-satunya tenun yang masih jalan terus berbunyi dari kolong, Bu Lastri yang menjalankannya, lambat dan sabar.
Malam itu, sebelum tidur, Sekar menyadari sesuatu yang membuatnya gelisah. Ia kini satu-satunya orang di bawah enam puluh tahun yang tahu nama ketujuh gunung. Beban itu, yang tadi siang terasa seperti kehormatan, kini terasa seperti tali yang mengikat lehernya ke tiang yang sedang miring. Kalau ia gagal menyelamatkan kampung, bukan cuma tiga perempuan tua yang kehilangan tenun. Tujuh gunung itu akan padam di kepalanya, dan ia akan jadi orang terakhir yang pernah memegangnya.