Sekar butuh tangan. Itu kesimpulan dingin yang ia tarik setelah seminggu di kampung. Tiga penenun tak akan pernah cukup untuk menghasilkan kain dalam jumlah yang bisa membayar utang, apalagi menghidupkan kembali bengkel. Ia butuh penenun muda. Maka ia membuat daftar, mengetuk pintu, dan satu per satu menemukan ke mana mereka pergi.
Warni, dua puluh dua tahun, yang dulu dijuluki "tangan tercepat angkatan baru" oleh Bu Lastri, kini menjahit lengan kemeja di pabrik garmen di kota provinsi. Sekar meneleponnya. Suara Warni di seberang penuh deru mesin jahit ratusan unit.
"Mbak Sekar, jujur ya," kata Warni, hampir berteriak menahan bising. "Di sini aku digaji per bulan, tiga juta lebih sedikit, ada lemburan, ada BPJS. Aku bisa kirim uang ke ibu tiap tanggal lima. Pasti. Nggak usah nunggu kain laku, nggak usah deg-degan tengkulak nagih. Dulu nenun sebulan penuh, kalau kainnya nggak laku, aku dapat apa? Capek doang." Ia berhenti sebentar. "Aku kangen nenun, Mbak. Sumpah. Tapi kangen nggak bisa dimakan."
Sekar menutup telepon dengan rasa yang sulit ia namai. Ia tak bisa marah pada Warni. Logika Warni adalah logika yang sama yang membuat Sekar sendiri dulu pergi ke kota. Gaji pasti. Tanggal yang pasti. Di kampung, segalanya bergantung pada laku-tidaknya kain, pada cuaca yang menentukan celupan, pada tengkulak yang menentukan harga benang. Ketidakpastian itu mewah hanya bagi orang yang punya tabungan. Bagi yang tidak, ketidakpastian adalah kemewahan yang tak terjangkau.
Dari sepuluh nama di daftar Sekar, tujuh sudah di pabrik, dua menikah dan pindah ke kampung suami, satu meninggal tahun lalu. Tinggal nol penenun muda di Watu Lawang. Generasi penenun terakhir adalah tiga perempuan tua, dan dirinya sendiri—yang bahkan belum bisa disebut penenun penuh.
Malam itu Bujang datang ke rumah Mbah Sumirah membawa dua bungkus nasi dan sebotol kopi. Sepupunya itu dua tahun lebih muda dari Sekar, badannya kekar karena kerja serabutan, dan ia punya kebiasaan bicara terus terang yang kadang menyakitkan justru karena benar.
"Kamu keliling nyari penenun muda, ya?" tanya Bujang sambil membuka bungkus nasi. "Bu Lastri cerita."
"Iya. Nggak ada yang tersisa."
Bujang mengunyah, menatap Sekar dengan tatapan yang sudah ia siapkan jawabannya. "Sekar. Aku mau ngomong, dan tolong jangan tersinggung. Kamu orang pinter. Kamu kerja di kota empat tahun, kamu ngerti uang. Jadi kamu harusnya ngerti ini juga." Ia meletakkan bungkus nasinya. "Tenun tangan udah nggak ada masa depan. Bukan karena jelek—kainnya bagus, aku tahu—tapi karena hitungannya nggak masuk. Satu kain tiga minggu kerja, dijual tiga ratus ribu kalau laku. Itu nggak sampai lima ribu rupiah sejam buat penenunnya. Lima ribu, Sekar. Tukang parkir di kecamatan dapat lebih."
Sekar tahu angka itu. Ia sudah menghitungnya sendiri, dan angka itu yang membuatnya tak bisa tidur. Tapi mendengarnya dari mulut Bujang, telak dan tanpa pemanis, membuatnya ingin membantah.
"Kalau semua mikir gitu, kampung ini mati, Jang."
"Kampung ini emang lagi mati," balas Bujang, tidak kejam, hanya jujur. "Pelan-pelan. Yang muda pergi bukan karena nggak cinta kampung. Mereka pergi karena di sini nggak bisa hidup. Cinta nggak bayar listrik, Sekar. Cinta nggak bayar utang Koh Bandi." Ia menyeruput kopi. "Aku sayang Mbah Sumirah. Aku hormat sama tenun. Tapi aku nggak mau lihat kamu ngabisin lima tahun ke depan buat sesuatu yang dari hitungannya udah kalah duluan. Mending kamu balik ke kota. Gajimu di butik lebih masuk akal daripada di sini."
"Terus tenun Mbah?"
Bujang diam sebentar. "Jual aja kainnya yang masih ada. Lunasi yang bisa dilunasi. Sisanya... ya sudah. Mbah udah tua, Sekar. Mungkin emang ini waktunya berhenti."
Kalimat itu menggantung di udara, dan Sekar merasakan kemarahan yang panas dan tak berdaya sekaligus, karena ia tahu Bujang tidak salah dalam hitungan—dan justru karena tidak salah dalam hitungan itulah kalimatnya menyakitkan. Ini bukan soal angka versus perasaan. Sekar tahu angka. Sekar fasih angka. Yang membuatnya tak bisa setuju adalah sesuatu yang tak masuk ke dalam kolom mana pun di buku akuntansi: tujuh nama gunung yang baru ia hafal dari mulut neneknya yang setengah lumpuh, yang tak akan pernah bisa ditulis, yang akan padam bersama tiga perempuan tua.
"Coba kamu jawab satu pertanyaan, Jang," kata Sekar pelan. "Kalau kain tenun ini cuma soal hitungan untung rugi, kenapa orang kota mau bayar dua juta buat satu lembar batik tulis, tapi cuma dua puluh ribu buat batik cetak yang motifnya sama persis? Sama-sama kain. Sama-sama motif. Bedanya cuma satu: yang satu ada tangan manusia di belakangnya, yang satu cuma mesin."
Bujang mengerutkan dahi.
"Berarti hitungannya bukan nggak masuk," lanjut Sekar, lebih ke dirinya sendiri daripada ke sepupunya, suaranya menajam karena ia baru saja menemukan sesuatu sambil mengucapkannya. "Hitungannya cuma belum ketemu pembelinya. Kita selama ini jual kain tangan dengan harga kain pasar. Ke orang yang salah. Dengan cerita yang salah. Atau tanpa cerita sama sekali."
Bujang menatapnya, antara skeptis dan—untuk pertama kalinya malam itu—sedikit penasaran. "Kamu mikir ada orang yang mau bayar mahal buat kain kampung?"
"Aku tahu ada," kata Sekar. "Aku ngelayani mereka empat tahun di butik. Aku cuma belum tahu caranya bawa kain ini sampai ke tangan mereka." Ia menatap kolong yang gelap, tempat tujuh puluh dua lembar kain tak terjual tertumpuk berdebu. "Tapi aku akan cari tahu."
Ia belum punya jawabannya malam itu. Yang ia punya hanya satu keyakinan tipis dan satu daftar penenun yang semuanya kosong. Tapi ada perbedaan, ia mulai sadar, antara kalah dalam hitungan dan kalah karena belum menghitung dengan benar. Dan Sekar, yang keras kepala dan pandai berhitung, memutuskan untuk percaya pada perbedaan tipis itu—setidaknya cukup lama untuk membuktikan Bujang salah.