Sekar membawa dua belas lembar kain ke kota. Ia memilihnya dengan teliti: warna paling bersih, tenunan paling rapat, motif yang menurut matanya yang sudah terlatih punya peluang. Ia mengemasnya dalam kain blacu, naik bus pagi, dan kembali ke kota provinsi tempat ia menghabiskan empat tahun—kali ini bukan sebagai penjahit butik, tapi sebagai penjual.
Pemberhentian pertama: Pasar Klewer kecil di kota itu, los grosir tekstil tempat para pedagang membeli kain per kodi untuk dijual lagi. Sekar menggelar kainnya di hadapan Pak Tarno, pedagang yang dulu sesekali memasok ke butik Maharani.
Pak Tarno menyentuh kain itu, membaliknya, menggosokkan ibu jari ke permukaannya dengan gerakan otomatis pedagang berpengalaman. "Tenun tangan," katanya, dan dalam dua kata itu sudah terdengar penolakan. "Bagus barangnya. Halus. Tapi, Mbak..." Ia menatap Sekar dengan tatapan yang bukan tidak ramah, hanya realistis. "Saya jual per kodi. Dua puluh lembar sekali transaksi. Kamu bisa kasih saya dua puluh lembar yang sama persis? Warna sama, ukuran sama, motif sama?"
"Tenun tangan nggak bisa sama persis, Pak. Tiap lembar—"
"Nah, itu masalahnya," potong Pak Tarno, tidak kasar, hampir simpatik. "Pelanggan saya beli karena sama. Mereka jahit seragam, jahit baju koko buat dijual lagi. Kalau tiap lembar beda, mereka bingung. Dan harga." Ia menggeleng. "Kain ini berapa kamu lepas?"
"Dua ratus lima puluh."
Pak Tarno tertawa kecil, bukan mengejek, lebih seperti orang yang sudah lama tahu betapa kejamnya pasar. "Mbak, kain printing motif batik di los sebelah, lima belas ribu semeter. Motifnya rame, warnanya ngejreng, ada ribuan meter. Pelanggan saya, yang jualan baju ke pasar bawah, mereka beli yang lima belas ribu. Kain Mbak bagus, jujur, tapi buat siapa? Buat saya jual ke mana?"
Sekar menggulung kembali kainnya. Pak Tarno tidak salah. Di los sebelah, ia melihatnya sendiri: gulungan demi gulungan kain cetak, motif batik dan tenun yang dipindai entah dari mana, dijual semeter seharga upah satu jam menenun di kampung. Pasar grosir bukan tempat kain tangan. Pasar grosir adalah tempat kain yang sama, banyak, dan murah. Kain neneknya kalah di ketiga-tiganya.
Pemberhentian kedua: butik. Bukan Maharani—Sekar belum siap bertemu mantan bosnya—tapi sebuah butik baru di ruko dekat kampus, yang menjual pakaian "etnik modern" untuk perempuan muda kota. Pemiliknya, Mbak Vira, perempuan tiga puluhan dengan kacamata bulat dan akun media sosial yang ramai, menerima Sekar dengan lebih hangat.
"Wah, tenun ikat asli ya?" Mbak Vira mengangkat selembar ke cahaya. "Cantik. Pewarna alam?"
"Iya, Mbak. Indigo dari daun tarum, merahnya dari akar mengkudu. Dikerjakan tangan, motifnya namanya lungsin tujuh gunung, dari kampung saya di lereng—"
"Hmm." Mbak Vira memutar kain itu, dan Sekar melihat antusiasmenya meredup sedikit. "Motifnya... gimana ya. Ini agak kuno, sih, buat pasar saya. Anak-anak muda yang belanja di sini sukanya yang clean, minimalis. Garis-garis gini"—ia menunjuk tujuh gunung—"agak berat, agak tua. Kayak punya nenek-nenek."
Sekar menahan diri untuk tidak berkata bahwa motif itu memang punya nenek-nenek, dan justru itu intinya.
"Warnanya juga," lanjut Mbak Vira. "Indigo sama merah tanah ini... gelap. Anak muda sukanya warna pastel, warna lembut, krem, sage. Kalau Mbak bisa bikin yang motifnya lebih simpel, warnanya lebih muda, ukurannya pas buat outer atau dress, mungkin saya tertarik. Tapi yang model gini—jujur ya, Mbak—susah laku di sini. Saya nggak mau ambil risiko stok mati."
Sekar pulang ke kampung malam itu dengan dua belas lembar kain yang utuh, tak satu pun terjual, dan kepala yang penuh. Di dalam bus yang gelap menanjak ke lereng, ia menyusun apa yang baru ia pelajari, bukan sebagai kekalahan, tapi sebagai data—cara berpikir yang ia bawa dari butik.
Di grosir, kain tangan kalah karena tak bisa seragam dan tak bisa murah. Itu bukan kelemahan yang bisa diperbaiki; itu sifat dasar kain tangan. Maka grosir bukan pasarnya. Membawa kain tenun ke grosir sama dengan membawa ikan ke toko sayur—salah tempat sejak awal.
Di butik anak muda, kain tangan ditolak bukan karena tak bisa murah, tapi karena motif dan warnanya dianggap tua. Ini menarik, pikir Sekar. Mbak Vira tidak menolak harga—ia bahkan tak menanyakannya. Ia menolak rupa. Dan rupa, tidak seperti harga, bisa dijembatani. Bisa diubah.
Tapi di situlah letak jurang yang sesungguhnya, jurang yang membuat tengkuk Sekar dingin saat bus mengayun di tikungan. Untuk laku di butik Mbak Vira, ia harus mengubah motif jadi "lebih simpel", mengubah warna jadi "lebih muda". Mengubah tujuh gunung. Mengubah indigo dan mengkudu. Dan ia baru tiga hari lalu berjanji pada neneknya untuk tak pernah membiarkan motif itu keluar, tak tersentuh.
Selera kota ada di kepalanya, jelas dan terukur. Pakem kampung ada di hatinya, dan di mata neneknya yang setengah lumpuh. Sekar menatap kegelapan di luar jendela bus, lereng yang ia daki menuju kampung yang sekarat, dan untuk pertama kalinya ia merumuskan pertanyaan yang akan menghantuinya berbulan-bulan ke depan: apakah ada cara membuat kain ini diinginkan kota tanpa membuatnya berhenti menjadi kain kampung? Atau apakah menyelamatkan tenun dan menjaga jiwanya adalah dua hal yang, pada akhirnya, tak bisa dimiliki sekaligus?
Ia belum punya jawabannya. Tapi diam-diam, di bangku bus yang berderak, benih sebuah gagasan mulai tumbuh—samar, belum berbentuk, dan ia belum tahu bahwa untuk menumbuhkannya, ia harus melawan kota, melawan kampung, dan paling sulit dari semuanya, melawan dirinya sendiri.