Bagas Wirasena datang ke Watu Lawang dengan mobil yang terlalu bersih untuk jalan lereng.
Ia tidak datang begitu saja. Tiga hari sebelumnya, Sekar mengunggah foto—satu lembar kain lungsin tujuh gunung digelar di atas lantai kayu, cahaya pagi jatuh miring, ditemani keterangan singkat tentang penenun tua dan kampung yang sekarat. Sekar mengunggahnya tanpa banyak harap, sekadar mencoba apa yang ia pelajari di kota tentang cerita dan gambar. Foto itu dibagikan ulang oleh seseorang, lalu seseorang lagi, dan di antara ratusan komentar yang sebagian besar memuji lalu lupa, ada satu pesan masuk ke kotak Sekar dari akun bernama PT Rasaraya.
Dan kini orang dari akun itu berdiri di kolong rumah neneknya, menunduk agar kepalanya tak membentur balok, mengamati alat tenun bukan mesin dengan mata yang—Sekar harus mengakuinya—benar-benar tertarik.
Bagas Wirasena tampak awal tiga puluhan. Kemeja linen yang lipatannya disengaja, sepatu kulit yang sudah berdebu lereng tapi tetap mahal, dan cara bicara yang halus, terdidik, tanpa tinggi hati yang Sekar duga akan ia bawa. Ia tak banyak basa-basi tentang udara sejuk atau pemandangan—keluhan turis yang biasa—melainkan langsung berjongkok di depan tenun yang sedang dijalankan Bu Lastri dan bertanya hal yang membuat penenun tua itu mengangkat alis.
"Ini lungsinnya dipasang dulu semua, baru pakannya dimasukkan satu-satu?" tanya Bagas. "Berapa lama masang lungsinnya saja?"
Bu Lastri, yang biasanya pendiam pada orang asing, menjawab pelan, "Dua hari, Mas. Kalau motifnya rumit, tiga."
Bagas mengangguk, dan Sekar melihat sesuatu di wajahnya yang bukan basa-basi—semacam hormat yang tulus pada kerja yang ia tak sangka serumit itu. Itu mengganggu Sekar, justru karena ia datang dengan tembok di dadanya, siap menghadapi pemodal yang merendahkan. Bagas tidak merendahkan. Itu membuatnya lebih sulit dibaca.
Mereka duduk di amben ruang tengah, jauh dari Mbah Sumirah yang sedang tidur di kamar. Bujang berdiri di pintu, lengannya bersedekap, menatap tamu itu dengan curiga terbuka. Sekar menuangkan teh.
"Saya jujur saja, Mbak Sekar," buka Bagas, memutar gelas teh di tangannya tanpa meminumnya. "Keluarga saya punya pabrik garmen. Rasaraya. Kami besar di kain cetak—printing, sublim, produksi massal. Kami pemain di pasar yang Mbak mungkin nggak suka." Ia tersenyum kecil, mengakui sesuatu sebelum ditanya. "Tapi saya generasi yang... gelisah. Pasar printing sekarang berdarah-darah, semua banting harga, semua sama. Konsumen muda mulai bosan. Mereka mulai nanya: ini kain dibuat di mana, oleh siapa, dengan cara apa. Mereka mulai cari yang punya cerita. Yang punya jiwa." Ia menatap Sekar. "Dan kampung Mbak punya jiwa yang nggak bisa dibeli pabrik mana pun. Itu yang bikin saya naik mobil tiga jam ke lereng ini."
Sekar mendengarkan dengan dua telinga: satu telinga kampung yang waspada, satu telinga kota yang mengenali setiap kata yang Bagas pakai—"cerita", "jiwa", "konsumen muda yang gelisah". Itu kosakata yang sama yang ia dengar di butik, di seminar pemasaran, di mulut orang-orang yang menjual. Bagas fasih dalam bahasa yang Sekar pahami betul. Dan justru karena ia memahaminya, Sekar tahu kata-kata seperti itu bisa tulus, dan bisa juga jadi pintu masuk yang dilapisi madu.
"Mas Bagas mau apa, tepatnya?" tanya Sekar, langsung.
Bagas tersenyum, menghargai pertanyaan yang tak berputar-putar. "Untuk sekarang, belum apa-apa. Saya nggak datang bawa kontrak. Saya datang lihat dulu, ngobrol dulu." Ia meletakkan gelas tehnya. "Tapi terus terang, saya lihat peluang. Kampung ini punya yang nggak punya pabrik kami: keaslian, sejarah, motif yang nggak ada duanya. Pabrik kami punya yang nggak punya kampung ini: akses pasar, modal, jaringan toko, kemampuan bikin barang sampai ke tangan konsumen di seluruh negeri. Bayangkan kalau dua hal ini ketemu." Matanya berbinar, dan Sekar tak bisa memastikan apakah binar itu serakah atau sungguh-sungguh. "Mbak punya masalah utang, kan? Saya dengar dari obrolan di pasar kecamatan tadi. Saya bisa bantu selesaikan itu. Bukan sumbangan—saya bukan dermawan. Tapi kerja sama yang bikin kampung ini hidup dan pabrik kami punya sesuatu yang beda."
Di pintu, Bujang mendengus pelan. "Kerja sama gimana? Kalian cetak kain kami pakai mesin, terus?"
Bagas menoleh, sama sekali tak tersinggung. "Itu salah satu kemungkinan. Ada banyak model. Saya belum tahu mana yang paling cocok, dan jujur, saya pengen dengar dari Mbak Sekar—karena Mbak ini menarik. Mbak ngerti dua dunia. Saya jarang ketemu orang kampung yang bisa ngomong pakai bahasa pasar." Ia menatap Sekar lagi. "Kita berdua bisa nerjemahin. Saya nerjemahin pasar ke kampung, Mbak nerjemahin kampung ke pasar. Itu langka."
Kalimat itu, Sekar harus akui, menyentuh tepat di tempat yang ia banggakan diam-diam: bahwa ia satu-satunya yang fasih dua bahasa. Bagas pandai. Ia memuji bukan dengan rayuan kosong, tapi dengan melihat sesuatu yang memang benar pada diri Sekar. Dan pujian yang benar jauh lebih berbahaya daripada pujian yang palsu.
Setelah Bagas pergi—meninggalkan kartu nama tebal dan janji untuk "ngobrol lebih serius kalau Mbak sudah siap"—Bujang langsung membuka mulut.
"Aku nggak percaya orang itu, Sekar. Orang pabrik nggak naik gunung tiga jam buat kebaikan."
"Aku juga nggak percaya," jawab Sekar, memandang debu yang ditinggalkan mobil Bagas di gang. "Tapi aku juga nggak bisa langsung nolak." Ia memegang kartu nama itu. "Dia bener satu hal, Jang. Kampung punya yang pabrik nggak punya. Pabrik punya yang kampung nggak punya. Pertanyaannya cuma satu: kalau dua-duanya ketemu, siapa yang lebih banyak ngasih, dan siapa yang lebih banyak ngambil."
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak pulang, Sekar tidur dengan secercah harapan di dadanya. Ada jalan, mungkin. Ada uang yang bisa melunasi Koh Bandi. Ada orang yang, anehnya, melihat nilai kampungnya. Ia belum tahu bentuk tawaran sesungguhnya, belum tahu syaratnya, belum tahu apa yang akan diminta sebagai gantinya. Tapi untuk sekarang, di antara utang yang menumpuk dan tenun yang sekarat, secercah itu cukup untuk membuatnya tidur nyenyak.
Ia tak tahu bahwa harapan yang datang terlalu mudah biasanya datang dengan harga yang tertulis di halaman yang belum sempat ia baca.