Untuk memahami harga sesungguhnya dari kain yang akan ia jual—atau jual jiwanya—Sekar memutuskan ia harus kembali masuk ke prosesnya. Bukan sebagai cucu pemilik bengkel, tapi sebagai tangan. Maka pada subuh yang dingin, ketika Bu Ngatiyem dan Bu Lastri turun ke halaman belakang untuk menyiapkan celupan tarum, Sekar ikut.
Ini bukan keputusan sentimental. Sekar punya alasan dingin: Mbak Vira di kota meminta "warna lebih muda", dan sebelum Sekar tahu apa yang bisa atau tak bisa ia ubah, ia harus tahu persis dari mana warna itu datang dan mengapa warna itu seperti itu. Ia harus tahu apa yang ia pertaruhkan sebelum mempertaruhkannya.
Bak tarum berdiri di sudut halaman, gerabah besar berisi cairan gelap yang permukaannya berbusa biru kehijauan—busa yang Bu Ngatiyem sebut "bunga". Bau yang naik darinya tajam, sedikit busuk, seperti dedaunan yang difermentasi berhari-hari, karena memang begitulah cara membuatnya.
"Tarum nggak bisa diburu-buru," kata Bu Ngatiyem sambil mengaduk pelan dengan sebatang bambu. "Daun tarum direndam, difermentasi, dikasih kapur, diaduk tiap hari sampai berbusa. Salah suhu, mati. Salah waktu, warnanya nggak keluar. Tarum itu hidup, Nduk. Kayak ragi. Kamu kasar sama dia, dia ngambek."
Sekar mengangkat segulung benang yang sudah diikat motifnya—bagian yang akan tetap putih ditutup tali rafia rapat-rapat, sisanya terbuka untuk menyerap warna. Ini bagian yang dulu ia kerjakan sebagai anak kecil, mengikat, dan tangannya, meski empat tahun absen, masih ingat tegangan yang benar pada simpul.
"Masukkan," kata Bu Ngatiyem.
Sekar mencelupkan benang itu ke dalam tarum. Dan ketika ia mengangkatnya, terjadi keajaiban kecil yang ia lupa: benang itu keluar berwarna hijau kekuningan, bukan biru.
"Tunggu," kata Bu Lastri, yang berdiri di sampingnya. "Lihat."
Di udara, di bawah sinar matahari pagi yang mulai naik, benang hijau itu perlahan berubah. Hijau menjadi hijau tua, lalu kebiruan, lalu—dalam hitungan menit—menjadi biru indigo yang dalam, biru yang Sekar kenal sejak lahir. Oksidasi, kata kepala kotanya, kata kimianya. Tapi di tangan, di mata, di pagi yang dingin itu, prosesnya terasa seperti sihir tua: warna yang lahir dari pertemuan benang, daun yang difermentasi, dan udara.
"Sekali celup, warnanya muda," jelas Bu Ngatiyem. "Mau tua, celup lagi. Jemur. Celup lagi. Jemur. Indigo tujuh gunung yang dipakai buat motif sakral itu tujuh kali celup, tujuh kali jemur. Tiga hari, kalau cuaca bagus. Kalau hujan, bisa seminggu, karena nggak bisa dijemur."
Dan di sanalah, di tengah bau tarum dan tangan yang mulai membiru, Sekar memahami sesuatu yang tak bisa ia pahami dari balik meja butik. Mbak Vira meminta "warna lebih muda". Warna lebih muda berarti lebih sedikit celupan. Lebih sedikit celupan berarti lebih cepat, lebih murah—dan juga berarti melanggar pakem tujuh celup untuk indigo tujuh gunung. Permintaan pasar yang terdengar sederhana, "warna lebih muda", ternyata bukan sekadar soal selera. Itu menyentuh angka tujuh yang sama dengan tujuh gunung. Warna dan motif kampung ini terikat oleh angka yang sama, makna yang sama.
Ia duduk di bangku rendah, tangannya membiru, dan mengamati Bu Lastri yang kini mencelup gulungannya sendiri dengan gerakan yang sudah dilakukan ribuan kali. Bu Lastri sudah enam puluh empat tahun. Tangannya gemetar halus karena usia, tapi tegangan celupnya sempurna, ritmenya sempurna. Berapa lama lagi tangan itu bisa mencelup? Lima tahun? Tiga? Dan ketika tangan itu berhenti, siapa yang akan tahu kapan tepatnya mengangkat benang dari tarum, kapan oksidasi cukup, kapan celupan ketujuh sudah pas—pengetahuan yang tak ada di buku mana pun, yang hanya hidup di jemari yang sudah membiru selama puluhan tahun?
"Bu," kata Sekar pelan, "kalau ibu sama Bu Lastri sama Mbah... kalau kalian bertiga berhenti nenun, ada yang bisa nerusin cara nyelup ini?"
Bu Ngatiyem berhenti mengaduk. Untuk waktu yang lama ia tak menjawab, hanya menatap busa biru di permukaan tarum.
"Kamu," katanya akhirnya. "Kalau kamu mau belajar. Kalau kamu mau duduk di sini tiap subuh, bukan cuma pas perlu jual kain." Ia menatap Sekar lurus, dan ada tantangan dalam tatapan itu, sekaligus harapan yang ia coba sembunyikan. "Yang lain pergi ke pabrik, Nduk. Kamu satu-satunya yang balik. Tapi kamu balik bawa kepala kota. Kamu mikir jual, mikir untung, mikir pasar. Itu nggak salah—kita emang butuh jual—tapi tarum nggak peduli sama pasar. Tarum cuma peduli sama tangan yang sabar."
Kalimat itu menusuk, karena benar. Sekar datang ke halaman ini pagi tadi dengan alasan dagang: mencari tahu apa yang bisa diubah untuk Mbak Vira. Tapi tarum, motif, tujuh celup, tujuh gunung—semuanya menolak diburu, menolak dipangkas, menolak "diefisienkan". Itulah jiwa yang Bagas sebut. Dan jiwa itu, Sekar mulai paham dengan rasa takut yang tumbuh perlahan, justru terletak pada hal-hal yang membuat kain ini tak bisa bersaing di pasar: kelambatannya, ketidakseragamannya, kemahalannya yang tak terhindarkan.
Siang itu, ketika benang-benang indigo dijemur di tali bambu, berjajar biru di bawah langit lereng, Sekar memotret mereka. Bukan untuk Mbak Vira. Bukan untuk Bagas. Untuk dirinya sendiri, sebagai pengingat akan apa yang dipertaruhkan. Setiap helai biru itu adalah tiga hari kerja, tujuh celupan, dan tangan yang membiru. Setiap helai adalah hal yang bisa diselamatkan, atau hal yang bisa hilang.
Ia menatap tangannya sendiri, jari-jari yang kini bernoda biru samar seperti jari neneknya, seperti jari Bu Ngatiyem dan Bu Lastri. Noda yang dulu, di butik kota, akan ia gosok bersih dengan malu sebelum melayani pelanggan. Kini ia membiarkannya. Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia merasa tangannya kembali menjadi tangan penenun—dan justru karena itu, beban untuk menyelamatkan kampung terasa semakin berat, karena kini ia tahu, dengan tubuhnya sendiri, persis apa yang akan mati kalau ia gagal.