Sekar membuat keputusan: ia akan mencoba menjembatani. Kalau pasar grosir bukan tempatnya dan butik anak muda menolak rupa lamanya, maka jalannya adalah membuat sesuatu yang baru—kain yang lahir dari tenun kampung tapi berbicara dalam bahasa yang dimengerti kota. Ia menggambar di buku butiknya selama tiga malam: motif yang lebih renggang, warna indigo yang lebih muda, ukuran yang pas untuk dijahit jadi outer perempuan kota. Ia menamainya, dalam hati, "jembatan".
Ia membawanya ke rapat penenun.
Rapat itu sederhana—lima orang di ruang tengah rumah Mbah Sumirah: Sekar, Bu Ngatiyem, Bu Lastri, Bujang yang ikut karena penasaran, dan Mbah Sumirah yang kini sudah bisa duduk di kursi rotan, lemah tapi hadir, matanya mengikuti semuanya. Sekar menggelar gambar-gambarnya di lantai.
"Saya sudah keliling kota," mulai Sekar. "Kain kita ditolak di mana-mana. Di grosir kalah harga, di butik dibilang kuno. Saya nggak mau bohong sama kalian. Kalau kita terus bikin kain yang sama persis kayak dulu, kain itu nggak akan laku, dan kampung ini habis dalam hitungan bulan." Ia menarik napas. "Jadi saya coba bikin yang bisa laku. Bukan ganti motifnya—tujuh gunung tetap tujuh gunung—tapi diatur lebih renggang, warnanya saya bikin lebih muda, ukurannya saya sesuaikan biar pas buat baju perempuan kota. Ini supaya kita punya kain yang bisa dijual mahal ke orang yang mau bayar mahal."
Bu Ngatiyem mengambil gambar itu, mengamatinya lama. Wajahnya yang keras tak berubah, tapi rahangnya mengeras. "Kamu jarangin garisnya," katanya, suara datar yang lebih menakutkan daripada bentakan. "Tujuh gunung kamu kasih jarak. Kamu pisahin mereka."
"Biar lebih ringan dilihat, Bu. Lebih—"
"Tujuh gunung itu berdiri rapat karena leluhur kita berdiri rapat," potong Bu Ngatiyem, dan kini suaranya naik. "Jaraknya itu ada artinya, Nduk. Rapat artinya satu kampung, satu keturunan, saling jaga. Kamu kasih jarak, kamu pisahin mereka, kamu bikin mereka jadi tujuh gunung yang nggak saling kenal. Itu bukan jembatan. Itu motif lain. Itu bukan tujuh gunung lagi."
Sekar merasakan panas naik ke wajahnya, campuran malu dan kekeraskepalaan. "Bu, dengan segala hormat, kalau kita nggak ubah apa-apa, nggak ada yang beli. Mendingan mana, tujuh gunung yang sedikit berubah tapi hidup, atau tujuh gunung yang murni tapi mati di kolong jadi debu?"
Ruangan hening. Bahkan Bujang, yang biasanya berpihak pada "realistis", tak bersuara.
"Kamu pikir kamu kasih kami pilihan antara berubah atau mati," kata Bu Ngatiyem, pelan kembali, dan justru ketenangannya yang membuat kata-katanya menghunjam. "Tapi kamu salah, Nduk. Pilihannya bukan itu. Pilihannya: kalau kita ubah motif ini sampai dia laku di kota, terus apa bedanya kita sama pabrik printing yang kamu benci? Mereka juga ngubah motif kampung biar laku. Mereka juga jarangin garis, ganti warna, sesuaikan ukuran. Bedanya cuma, mereka pakai mesin, kita pakai tangan. Tapi motifnya sama-sama mati. Sama-sama bukan tujuh gunung lagi."
Kalimat itu mengenai Sekar tepat di ulu hati, karena ia benar dengan cara yang tak bisa Sekar bantah. Selama ini Sekar membenci kain printing bukan karena ia kain mesin, tapi karena ia mencabut motif dari maknanya, menjadikannya sekadar pola dekoratif tanpa akar. Dan kini, dalam usahanya menyelamatkan kampung, ia diam-diam melakukan hal yang sama—dengan tangan, bukan mesin, tapi dengan logika yang persis sama.
"Saya nggak bermaksud—" Sekar memulai, suaranya goyah.
"Bu Ngatiyem." Suara itu datang dari kursi rotan. Mbah Sumirah, yang sejak tadi diam, kini bicara, lemah tapi jelas. Semua menoleh. "Cucuku nggak salah niat. Dia mau kampung ini hidup. Itu niat baik."
Bu Ngatiyem menunduk sedikit, menghormati pemegang motif.
"Tapi," lanjut Mbah Sumirah, matanya yang melayu kini menatap Sekar dengan tajam yang membuat cucunya merasa kecil, "niat baik bisa bunuh sesuatu sama cepatnya kayak niat jahat, Nduk. Kamu mau selamatkan kampung dengan ngubah yang bikin kampung ini kampung. Itu kayak nyelamatin orang dengan ganti darahnya sampai dia bukan dia lagi. Dia hidup, ya. Tapi dia siapa?"
Sekar menatap gambar-gambarnya di lantai—garis yang ia renggangkan, warna yang ia mudakan, semua yang tadinya ia banggakan sebagai "jembatan" kini terlihat seperti pengkhianatan kecil yang ia lakukan tanpa sadar. Ia mengumpulkannya, melipatnya, dan tak berkata apa-apa.
Rapat bubar tanpa kesepakatan. Bu Ngatiyem dan Bu Lastri turun ke kolong, dan tak lama derit tenun terdengar lagi—pelan, keras kepala, menolak berubah. Bujang menepuk bahu Sekar sebelum pergi. "Aku nggak ngerti urusan motif," katanya, "tapi aku ngerti kamu lagi mentok. Dua-duanya bener, Sekar. Itu yang bikin susah. Kalau salah satu salah, gampang milih."
Malam itu Sekar duduk lama di depan tenun yang diam di kolong, gambar-gambarnya di pangkuan. Hari ini ia belajar sesuatu yang lebih keras daripada penolakan pasar. Garis pertempuran ternyata tidak hanya antara kampung dan kota, antara tradisi dan industri. Garis itu juga membelah kampung sendiri, dan—yang paling menyakitkan—membelah dirinya sendiri. Sebagian dirinya berdiri bersama Bu Ngatiyem, menjaga tujuh gunung tetap rapat. Sebagian lagi berdiri di kota, tahu persis bahwa tanpa perubahan, kerapatan itu akan mati di kolong jadi debu.
Ia belum tahu jalan ketiga. Yang ia tahu malam itu hanyalah bahwa jalan yang ia kira jembatan ternyata jurang, dan bahwa setiap usaha menyelamatkan kampung dengan mengubahnya adalah usaha yang, kalau berhasil, mungkin justru menghapus yang ia coba selamatkan. Di tengah kebuntuan itu, kartu nama tebal Bagas Wirasena yang terselip di buku butiknya terasa semakin berat—satu-satunya pintu yang belum ia coba, satu-satunya tawaran yang belum ia dengar utuh.