Kantor PT Rasaraya berada di lantai sembilan sebuah gedung kaca di pusat kota provinsi, dan dari jendela ruang rapatnya, Sekar bisa melihat kawasan industri membentang di kejauhan—atap-atap seng pabrik garmen, cerobong, lalu lintas truk kontainer. Dunia yang menelan anak-anak muda kampungnya satu per satu, kini terbentang di bawah kakinya seperti peta.
Bagas menyambutnya hangat, tanpa formalitas berlebihan. Di meja sudah tersedia kopi dan, yang membuat Sekar sedikit gentar, sebuah map biru tipis.
"Saya senang Mbak akhirnya datang," kata Bagas, duduk berhadapan, bukan di kepala meja—pilihan yang Sekar catat sebagai kesengajaan untuk tampil setara. "Saya nggak mau buang waktu Mbak dengan basa-basi. Saya sudah mikir keras tentang kampung Mbak, dan saya punya tawaran konkret. Boleh saya jelaskan?"
Sekar mengangguk. Map biru itu belum dibuka.
"Mbak punya utang ke tengkulak. Kampung Mbak punya kain yang nggak laku numpuk di kolong. Penenun tinggal tiga, semua tua. Itu kenyataannya, dan saya nggak mau pura-pura itu bukan masalah serius." Bagas bicara tanpa nada menggurui, hanya menyusun fakta yang memang Sekar tahu benar. "Sekarang, yang kampung Mbak punya dan nggak ternilai: motif lungsin tujuh gunung. Saya sudah riset. Motif itu nggak ada di katalog manapun, nggak terdaftar, unik. Di mata pasar yang lagi haus keaslian, itu emas."
Ia membuka map. Di dalamnya, dokumen tercetak rapi, dan di halaman pertama, sebuah angka yang membuat napas Sekar tertahan sesaat.
"Rasaraya menawarkan lisensi motif lungsin tujuh gunung," kata Bagas. "Kami bayar di muka. Angka ini." Ia menunjuk. "Cukup untuk melunasi seluruh utang kampung ke tengkulak—saya sudah perkirakan kasar dari obrolan di pasar, dan saya lebihkan. Cukup juga untuk biaya berobat nenek Mbak, dan sisanya bisa jadi modal kerja. Lalu, setiap tahun, kampung dapat royalti dari penjualan—persentase dari tiap meter kain bermotif tujuh gunung yang kami produksi."
Sekar menatap angka itu. Ia sudah terlatih membaca angka, dan angka ini tidak berbohong: ini lebih dari cukup. Ini melunasi Koh Bandi dua kali lipat. Ini membayar puskesmas, bahkan rumah sakit yang lebih baik untuk neneknya. Ini, untuk pertama kalinya sejak ia pulang, adalah jalan keluar yang nyata, terukur, di atas kertas.
"Royalti tiap tahun," ulang Sekar pelan. "Tanpa kami harus nenun."
"Tanpa kampung harus pusing soal laku-tidaknya kain," kata Bagas, mencondongkan badan, dan untuk pertama kalinya Sekar mendengar antusiasme yang benar-benar tulus dalam suaranya—dan justru ketulusan itu yang membuat tawaran ini berbahaya. "Mbak Sekar, dengar. Saya tahu Mbak mungkin mikir saya mau menghancurkan tenun tangan. Saya nggak. Justru sebaliknya. Pikir baik-baik: selama ini kampung Mbak ngandelin tiga penenun tua buat ngehidupin puluhan orang. Itu nggak adil dan nggak akan bertahan. Kalau motif ini kami cetak, kami bisa bikin ribuan meter, jual ke seluruh negeri, dan tiap meter ngasih royalti ke kampung. Penenun tua Mbak nggak perlu kerja sampai mati. Anak-anak muda yang di pabrik bisa pulang, karena kampung punya pemasukan tetap dari royalti. Tujuh gunung jadi terkenal, dipakai orang di mana-mana, dikenal seluruh Indonesia. Bukannya itu yang Mbak mau? Motif kampung Mbak hidup, dikenal, dan kampungnya makmur?"
Dan di sinilah Sekar merasakan tanah di bawahnya goyah, karena Bagas tidak bicara seperti penjahat. Bagas bicara seperti orang yang sungguh-sungguh percaya ia sedang menawarkan keselamatan. Ia membayangkan motif itu hidup di mana-mana, kampung makmur, penenun tua beristirahat—dan dalam bingkai yang ia susun, itu semua terdengar seperti kebaikan. Itulah yang paling menggetarkan: tawaran ini tidak datang dari kejahatan, melainkan dari keyakinan tulus yang Sekar tak punya argumen mudah untuk membantahnya saat itu juga.
"Motifnya dicetak mesin," kata Sekar, mencoba memegang sesuatu yang padat di tengah pusaran. "Bukan ditenun tangan."
"Iya. Tentu. Kalau ditenun tangan, kita cuma bisa bikin puluhan meter setahun, dan harganya selangit, dan kampung tetap miskin." Bagas mengangkat tangan, menengahi keberatan sebelum diucapkan. "Tapi pikir gini: yang kampung jaga itu motifnya, kan? Maknanya? Tujuh gunung leluhur? Makna itu nggak hilang cuma karena dicetak. Justru makin banyak orang yang tahu, makin terjaga. Yang penting motifnya hidup di kain, dikenal orang. Cara bikinnya—tangan atau mesin—itu cuma teknis."
Sekar diam. Ada sesuatu yang sangat salah dalam kalimat terakhir itu, ia merasakannya di tulangnya, tapi ia tak bisa langsung merumuskannya. Cara bikinnya cuma teknis. Tangan atau mesin cuma teknis. Tapi ia baru saja menghabiskan subuh demi subuh di bak tarum, tangannya membiru, belajar bahwa tujuh celup bukan teknis—itu makna. Bahwa kerapatan tujuh garis bukan teknis—itu kekerabatan leluhur. Di kampung, cara bikin dan makna tak bisa dipisahkan. Bagas memisahkan keduanya dengan satu kalimat, dan dalam pemisahan itu terletak seluruh jurang antara dua dunia mereka.
Tapi angka di atas meja itu tetap di sana, nyata, menatap balik Sekar dengan janji melunasi Koh Bandi, menyelamatkan neneknya, menghidupi puluhan orang. Dan Sekar, yang mudah merasa bersalah, tak bisa mengabaikan bahwa setiap hari ia ragu, bunga utang neneknya bertambah dan kesehatan Mbah Sumirah tak menunggu.
"Saya butuh waktu," kata Sekar akhirnya. "Saya butuh baca kontraknya. Lengkap. Setiap baris."
Bagas tersenyum, sama sekali tak terganggu, malah seperti menghargainya. "Tentu. Saya nggak mau Mbak tanda tangan sesuatu yang Mbak nggak ngerti. Bawa pulang." Ia menutup map dan menyodorkannya. "Baca pelan-pelan. Tanya pengacara kalau perlu. Saya percaya Mbak orang yang ngerti angka—Mbak akan lihat sendiri ini tawaran yang jujur. Saya nggak nyembunyiin apa-apa."
Sekar membawa map biru itu pulang dalam bus yang menanjak ke lereng, dan map itu terasa berat di pangkuannya, jauh lebih berat dari kertas yang ada di dalamnya. Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia memegang jalan keluar yang nyata. Untuk pertama kalinya, ia bisa membayangkan Koh Bandi pergi, neneknya dirawat, kampung bernapas. Yang ia rasakan bukan kelegaan, melainkan ketakutan—karena ia tahu, dari nada Bagas yang terlalu yakin dan dari kalimat "cuma teknis" yang terus berdengung di kepalanya, bahwa pasti ada sesuatu di halaman-halaman itu yang belum ia cerna. Sesuatu yang harganya tak tertulis dalam angka.