Sekar membaca kontrak itu tiga malam berturut-turut di bawah lampu neon yang berdengung, dengan kamus istilah hukum di ponselnya dan secangkir kopi yang selalu dingin sebelum habis. Bagas tidak berbohong—angkanya persis seperti yang dijanjikan, royaltinya tertulis jelas, jadwal pembayarannya rapi. Di permukaan, semuanya seperti yang dikatakan: jujur, terbuka, menyelamatkan.
Lalu, pada malam ketiga, di halaman keenam, di antara klausul-klausul yang berbahasa hukum kaku, Sekar menemukannya. Ia membacanya sekali, lalu sekali lagi, lalu untuk ketiga kalinya dengan jari menahan baris itu agar matanya tak melompat, karena ia ingin yakin ia tak salah baca.
Pasal tentang "eksklusivitas". Dalam bahasa hukum yang dingin, klausul itu menyatakan: dengan memberikan lisensi ini, pihak kampung menyerahkan hak eksklusif atas motif lungsin tujuh gunung kepada PT Rasaraya. Dan eksklusif, Sekar tahu sekarang, tidak berarti kampung dapat royalti sambil tetap menenun. Eksklusif berarti hanya Rasaraya yang boleh memproduksi motif itu. Pihak kampung—penenun yang menciptakannya, mewariskannya tujuh generasi—dilarang memproduksi, menjual, atau bahkan menenun motif tujuh gunung tanpa izin tertulis dari Rasaraya.
Sekar duduk diam sangat lama, kopinya dingin, dengung lampu neon tiba-tiba terdengar keras. Ia memahami sekarang, dengan kejelasan yang membuatnya mual, apa yang sebenarnya dibeli oleh angka besar itu. Bukan kerja sama. Bukan kemitraan. Rasaraya membeli hak untuk mencetak tujuh gunung dengan mesin, ribuan meter, murah dan seragam—dan sekaligus membeli hak untuk melarang Bu Ngatiyem, Bu Lastri, dan Mbah Sumirah menenun motif yang mereka jaga seumur hidup. Tangan-tangan yang menciptakan motif itu akan dilarang menyentuhnya. Yang membunuh tenun kampung bukan pencurian—Sekar bahkan tak bisa menyebutnya curian, karena kampung akan menandatanganinya sendiri, sukarela, sah, dengan tinta dan saksi. Itulah yang paling mengerikan. Pengkhianatan ini legal. Pengkhianatan ini disetujui.
Kalimat Bagas berdengung kembali: cara bikinnya cuma teknis. Sekar paham sekarang mengapa kalimat itu terasa salah di tulangnya. Bagi Bagas, motif adalah pola yang bisa dipindahkan dari tangan ke mesin tanpa kehilangan apa pun. Bagi kampung, motif tak bisa dipisahkan dari tangan yang membuatnya. Menandatangani kontrak ini berarti menyetujui pandangan Bagas—bahwa tujuh gunung hanyalah pola, dan tangan yang membuatnya hanyalah teknis yang bisa dibuang. Berarti mengkhianati setiap subuh di bak tarum, setiap nama gunung yang neneknya wariskan tanpa kertas, setiap derit tenun Bu Lastri yang menolak berhenti.
Ia belum sempat memutuskan apa pun ketika dunia memutuskan untuk mempercepat segalanya.
Pagi berikutnya, Koh Bandi datang. Mobil bak terbukanya berhenti di mulut gang, dan ia berjalan ke rumah Mbah Sumirah dengan dua orang di belakangnya, wajahnya bukan wajah jahat—seperti kata neneknya, Koh Bandi bukan orang jahat, ia hanya pedagang yang juga sedang dijepit—tapi keputusannya keras. "Sekar, aku minta maaf," katanya, dan ia tampak benar-benar menyesal. "Aku juga lagi ditagih orang. Aku nggak bisa nunggu sampai panen kopi. Aku butuh dibayar dalam seminggu, atau aku terpaksa ambil tenun-tenun sebagai gantinya. Aku nggak mau, tapi aku nggak punya pilihan. Maaf." Ia menatap kolong tempat lima belas ATBM berdiri. Tenggat tiga bulan menyusut menjadi tujuh hari.
Dan seakan langit ikut bersekongkol, sore itu Mbah Sumirah drop.
Sekar sedang di kolong, kontrak masih membara di kepalanya, ketika Bu Lastri berteriak dari atas. Ia berlari naik dan menemukan neneknya tersungkur di samping amben, wajah perot sebelah, napas pendek-pendek, tangan kanan—satu-satunya yang masih kuat—kini juga lemas. Stroke yang kedua, dan kali ini bukan yang ringan. Bujang membawa mobil pinjaman, dan mereka melarikan Mbah Sumirah menuruni lereng yang gelap, ke rumah sakit kabupaten yang tiga jam jauhnya, Sekar memangku kepala neneknya yang tak lagi bisa bicara, hanya matanya yang bergerak, mencari wajah cucunya.
Di ruang gawat darurat, di bawah lampu yang menyilaukan, dokter bicara cepat tentang penanganan, tentang biaya, tentang ruang perawatan yang harus dibayar di muka. Angka-angka itu, angka rumah sakit, berjajar di kepala Sekar bersama angka utang Koh Bandi, dan di sebelahnya—seakan menunggu—angka di kontrak Rasaraya yang bisa menutup semuanya, dua kali lipat, hari ini juga.
Dan seperti dipanggil oleh keputusasaan itu sendiri, ponsel Sekar bergetar di koridor rumah sakit. Pesan dari Bagas. Ia mendengar kabar—entah dari mana, kabar di kampung kecil bergerak cepat—tentang nenek Sekar, tentang Koh Bandi. Nadanya simpatik, tulus, dan justru karena itu menghancurkan: "Mbak Sekar, saya turut prihatin. Saya nggak mau memanfaatkan keadaan, tapi saya cuma mau ingatkan—tawaran itu masih ada, dan bisa cair dalam dua hari kalau Mbak teken. Utang lunas, biaya rumah sakit tertutup. Saya bawa kontraknya. Saya menunggu di lobi."
Sekar mendongak. Di ujung koridor rumah sakit, di bawah lampu lobi yang dingin, Bagas Wirasena benar-benar berdiri—datang sendiri, membawa map biru, wajahnya bukan wajah pemangsa melainkan wajah orang yang sungguh percaya ia datang menolong. Itulah yang membuat segalanya tak tertahankan: ia tidak salah secara hati, hanya salah secara nilai, dan ia menyodorkan keselamatan dengan tangan terbuka.
Sekar berjalan ke arahnya seperti orang berjalan dalam mimpi. Di belakangnya, di balik pintu ICU, neneknya berbaring dengan tujuh nama gunung tersimpan di kepala yang kini mungkin tak akan pernah bisa mengucapkannya lagi. Di lereng, tujuh hari lagi tenun-tenun akan disita. Di tangan Sekar, atau di tangan Bagas, ada pena dan ada garis tanda tangan dan ada angka yang menyelamatkan semua orang yang ia cintai—hari ini.
Bagas membuka map. Membalik ke halaman terakhir. Menyodorkan pena. "Cuma di sini, Mbak," katanya lembut. "Satu tanda tangan. Dan semuanya beres."
Sekar menerima pena itu. Tangannya, tangan yang kapalan oleh benang dan bernoda samar oleh tarum, tangan yang baru belajar lagi mengikat tujuh gunung, menggenggam pena dingin itu. Ia menatap garis kosong di atas kertas. Di garis itu, satu coretan tinta akan melunasi Koh Bandi, membayar rumah sakit, menyelamatkan neneknya, menghidupi puluhan orang—dan di garis yang sama, satu coretan tinta akan melarang tangan-tangan yang ia cintai menyentuh tujuh gunung selamanya, menyerahkannya pada mesin, membunuh derit tenun yang menolak berhenti.
Janji pada neneknya berdengung: jangan pernah kasih motif itu keluar. Angka rumah sakit berdengung. Tenggat tujuh hari berdengung. Dengung lampu neon, dengung mesin pabrik, dengung tarum, semuanya berdengung sekaligus.
Ujung pena menyentuh kertas. Tinta mulai keluar, titik hitam kecil di awal garis tanda tangan.
Dan tangan Sekar berhenti.