Tinta itu sudah menyentuh kertas. Titik hitam kecil di pangkal garis tanda tangan, seperti benih yang baru saja jatuh ke tanah dan belum tahu akan tumbuh jadi apa.
Dan tangan Sekar berhenti.
Bukan karena ia tiba-tiba berani. Bukan karena ada keyakinan gagah yang menyala di dadanya. Ia berhenti karena, di detik itu, di bawah lampu lobi rumah sakit yang dingin dan putih, ia mendengar sesuatu yang seharusnya tak mungkin ia dengar di tempat sejauh ini dari lereng: derit tenun. Bukan derit sungguhan—rumah sakit kabupaten penuh dengung mesin lain, monitor, roda brankar di lantai keramik. Tapi di dalam kepalanya, jelas seperti pagi, ia mendengar derit Bu Lastri yang menolak berhenti, lambat dan keras kepala, napas yang berusaha tidak putus.
Dan ia teringat tangan kanan neneknya, satu-satunya yang masih kuat sampai sore tadi, yang kini juga lemas di balik pintu yang tertutup itu. Cengkeraman penenun. "Jangan pernah kasih motif itu keluar. Janji sama Mbah."
Sekar mengangkat ujung pena dari kertas. Titik tinta itu tetap di sana, kecil, hampir tak terlihat, tapi ia tahu Bagas melihatnya, tahu Bagas paham apa artinya pena yang naik bukannya bergerak.
"Saya nggak bisa, Mas Bagas," kata Sekar. Suaranya tidak gemetar, dan ia sendiri heran ke mana perginya gemetar yang sejak tadi mengguncang lututnya. "Bukan malam ini."
Bagas tidak langsung menjawab. Ia menatap Sekar lama, dan di wajahnya tidak ada kemarahan yang Sekar siapkan diri untuk hadapi—tidak ada bujukan yang lebih keras, tidak ada ancaman terselubung. Hanya semacam keterkejutan halus, lalu sesuatu yang menyerupai keprihatinan yang Sekar tak tahu apakah tulus atau terlatih.
"Mbak," kata Bagas pelan, "nenek Mbak di dalam. Saya nggak mau ikut campur, tapi biaya rumah sakit ini—"
"Saya tahu biayanya," potong Sekar. "Saya yang bayar uang muka tadi. Saya yang tahu persis berapa." Ia menarik napas, dan untuk pertama kalinya ia menyodorkan map biru itu kembali ke arah Bagas, bukan menerima pena. "Justru karena saya tahu angkanya, saya tahu apa yang Mas tawarkan. Mas nggak menawarkan saya jalan keluar. Mas menawarkan saya tukar tambah. Nenek saya hidup, motif kami mati. Itu bukan menyelamatkan, Mas. Itu cuma mindahin yang mati."
Bagas diam. Di tangannya, map biru itu tergantung, tak ia tarik dan tak ia tutup.
"Saya minta waktu," lanjut Sekar. "Sampai Mbah Sumirah stabil. Sampai saya bisa mikir tanpa ada orang sekarat di balik pintu. Kalau tawaran Mas memang sejujur yang Mas bilang, tawaran itu nggak akan hilang cuma karena ditunggu beberapa hari."
Itu jebakan kecil, dan Sekar melihat Bagas menyadarinya. Kalau Bagas mendesak sekarang, di lobi rumah sakit, di hadapan perempuan yang neneknya baru saja kena stroke kedua, ia akan membuktikan bahwa tawarannya bukan kebaikan melainkan perangkap yang menunggu mangsa lemah. Bagas terlalu cerdas untuk jatuh ke situ.
"Tentu," kata Bagas akhirnya. Ia menutup map biru itu pelan, tapi—dan ini yang Sekar catat—ia tidak menyimpannya ke dalam tas. Ia tetap memegangnya, di tangan, di samping badan, seolah benda itu adalah bagian dari dirinya yang tak ia letakkan. "Saya minta maaf datang malam ini. Saya kira... saya kira saya bisa meringankan. Ternyata saya cuma nambah beban." Ia berdiri. "Saya tunggu kabar Mbak. Semoga nenek Mbak lekas pulih."
Ia berjalan keluar, sepatu kulitnya mengetuk pelan di keramik, dan map biru itu ikut keluar bersamanya, masih di tangan, masih siap.
Sekar tinggal di koridor, pena Bagas masih di genggamannya—ia lupa mengembalikannya, dan kini benda itu terasa seperti bukti dari sesuatu yang hampir terjadi. Ia memasukkannya ke saku, lalu duduk di kursi besi yang dingin di luar ICU.
Bujang menemukannya di sana, membawa dua gelas teh dari kantin yang sudah hampir tutup. "Tadi itu... orang Rasaraya?" tanyanya, menyodorkan satu gelas. "Aku lihat dari jauh. Dia ke sini?"
"Iya." Sekar menerima teh itu, menggenggamnya untuk menghangatkan tangan. "Dia bawa kontrak. Pena. Semuanya."
Bujang duduk di sampingnya, dan untuk beberapa saat tak ada yang bicara. Di balik pintu ICU, mesin-mesin berdengung pelan, menjaga napas seorang perempuan tua yang seumur hidup menjaga tujuh nama gunung.
"Kamu teken?" tanya Bujang akhirnya, suaranya hati-hati, dan Sekar tahu pertanyaan itu bukan tuduhan. Bujang yang realistis, Bujang yang menyuruhnya menyerah—bahkan Bujang pun bertanya dengan nada yang tak ia mengerti, antara berharap ia teken supaya semua selesai, dan takut ia teken supaya tak ada yang hilang.
"Nggak," kata Sekar.
Bujang menghela napas panjang, dan dalam helaan itu Sekar tak bisa membedakan kelegaan dari keputusasaan. "Berarti masalahnya masih utuh," kata sepupunya. "Utang Koh Bandi tujuh hari. Rumah sakit Mbah yang dibayar harian. Dan sekarang kamu nggak punya jalan keluar yang gampang lagi."
"Aku nggak pernah punya jalan keluar yang gampang, Jang," balas Sekar. "Aku cuma sempat ngira aku punya, selama tiga malam." Ia menatap pintu ICU. "Jalan keluar yang gampang itu cuma jalan yang sakitnya ditunda. Bayarnya nanti. Bayarnya pakai sesuatu yang nggak bisa dibeli lagi."
Bujang tak menjawab. Ia hanya menyandarkan punggung ke dinding, dan mereka berdua duduk di koridor itu sampai dini hari, di antara dengung mesin dan keramik dingin, menjaga seseorang dan, tanpa kata, menjaga sebuah janji yang harganya baru saja membengkak menjadi tujuh hari dan biaya rumah sakit yang dihitung per malam.
Menjelang subuh, seorang perawat keluar dan berkata kondisi Mbah Sumirah mulai stabil, meski tangan kirinya dan kini bicaranya tak akan kembali seperti semula. Sekar mengangguk, berterima kasih, dan untuk pertama kalinya sejak pena menyentuh kertas, ia membiarkan dirinya menangis—pelan, tanpa suara, di kursi besi yang dingin. Bukan tangis kalah. Tangis seseorang yang baru saja menolak satu-satunya pintu yang terlihat, dan kini harus mencari pintu lain yang ia bahkan belum tahu ada di mana, di rumah yang dindingnya semua tertutup.