Tujuh hari. Sekar menuliskannya di halaman baru buku butiknya, di atas, dengan tinta tebal, lalu di bawahnya ia menggambar kotak-kotak kecil, satu untuk tiap hari, seperti narapidana yang mencoret tembok sel. Dua kotak sudah terisi: hari di rumah sakit, hari perjalanan pulang. Lima tersisa.
Ia mulai dari kas. Itu cara butik mengajarinya: sebelum panik, hitung dulu apa yang benar-benar ada. Hasilnya membuat perutnya kosong. Di kaleng biskuit tempat neneknya menyimpan uang tunai, ada empat ratus dua puluh ribu rupiah. Di dompet Sekar sendiri, sisa setelah membayar uang muka rumah sakit dan bensin mobil pinjaman, ada dua ratus ribu lebih sedikit. Itu seluruh uang cair yang dimiliki rumah ini.
Dan utang ke Koh Bandi, dengan tambahan-tambahan yang tak pernah ditulis sebagai angka resmi, kini menyentuh sepuluh juta.
"Kain," gumam Sekar pada dirinya sendiri, turun ke kolong dengan senter. Tujuh puluh dua lembar tergulung di para-para bambu. Kalau ia bisa menjual semuanya hari ini, dengan harga dua ratus ribu per lembar, itu lebih dari empat belas juta—cukup melunasi Koh Bandi dan tersisa. Tapi ia sudah tahu, dari Pak Tarno dan Mbak Vira, bahwa kain itu tidak laku dalam hitungan hari. Kain itu modal yang membatu. Tujuh puluh dua lembar di kolong dan sepuluh juta tenggat di depan adalah dua angka yang tak bisa bertemu dalam tujuh hari, karena yang satu butuh pembeli yang belum ada, dan yang lain butuh uang yang sudah harus ada.
Sekar memutuskan untuk menemui Koh Bandi langsung. Bukan untuk memelas—ia sudah belajar dari kota bahwa memelas membuat penjual menaikkan harga, bukan menurunkannya. Ia datang dengan buku, dengan angka, dengan tawaran.
Toko Koh Bandi di kota kecamatan adalah ruko sempit yang penuh dari lantai sampai langit-langit dengan gulungan benang—katun, rayon, polyester—warna-warni dalam plastik berdebu. Bau benang baru, bau yang Sekar kenal, tapi di sini bercampur bau kardus dan asap rokok kretek. Koh Bandi sedang menghitung di belakang meja kasir, kacamata baca melorot di hidungnya, dan ia mengangkat wajah dengan ekspresi yang langsung berubah waspada saat melihat siapa yang datang.
"Sekar." Ia melepas kacamata. "Gimana Mbahmu?"
"Stabil. Masih di rumah sakit." Sekar menarik bangku plastik tanpa diminta dan duduk di hadapan tengkulak itu. Ia meletakkan buku butiknya di meja, terbuka pada halaman hitungan. "Koh, saya nggak mau buang waktu kita berdua. Saya nggak datang buat minta belas kasihan. Saya datang buat nawar."
Koh Bandi menyandarkan punggung, sedikit terkejut, sedikit—Sekar bisa melihatnya—lega bahwa percakapan ini akan jadi percakapan dagang, bukan tangisan. "Nawar apa? Utangnya udah jelas, Sekar. Sepuluh juta. Aku udah kasih waktu bertahun-tahun ke Mbahmu."
"Saya tahu. Dan saya nggak ngebantah angkanya." Sekar membalik bukunya menghadap Koh Bandi. "Tapi tujuh hari itu mustahil, dan Koh tahu itu. Kalau Koh ambil tenun-tenun kami, Koh dapat apa? Lima belas ATBM tua. Mau Koh apain? Dijual kiloan jadi kayu bakar? Paling laku berapa, satu juta semuanya? Koh rugi sembilan juta, dan saya tetap nggak bisa bayar, karena tanpa tenun saya nggak bisa bikin kain buat dijual."
Koh Bandi diam. Sekar melihat hitungan berjalan di belakang matanya—hitungan pedagang yang sama yang ia pakai sendiri. Tengkulak bukan orang bodoh. Menyita alat tenun adalah ancaman yang lebih berguna sebagai ancaman daripada sebagai tindakan.
"Aku juga lagi ditagih, Sekar," kata Koh Bandi akhirnya, dan untuk pertama kalinya nadanya tak seperti penagih, lebih seperti orang yang juga punya tali di lehernya. "Aku ambil benang dari pemasok di kota. Aku juga ngebon. Mereka naikin harga, mereka percepat tagihan. Aku nggak nekan Mbahmu karena aku jahat. Aku nekan karena ada yang nekan aku." Ia mengusap wajahnya. "Tahun ini berat buat semua yang main benang, Nduk. Bukan cuma kampungmu."
Sekar menyimpan kalimat itu di kepalanya—Koh Bandi juga terjepit—karena ia merasa itu penting, meski belum tahu untuk apa. "Kalau gitu kita sama-sama lagi dijepit," katanya. "Jadi kita cari yang masuk akal buat kita berdua. Saya nggak bisa bayar sepuluh juta dalam tujuh hari. Tapi saya bisa bayar separuh—lima juta—dalam sepuluh hari. Sisanya bertahap, dua bulan, plus tambahan yang wajar buat Koh. Koh dapat lima juta cash buat nutup tagihan Koh sekarang, dan saya jaga tenun tetap jalan biar bisa bayar sisanya. Daripada Koh dapat kayu bakar dan saya bangkrut, mendingan Koh dapat uang dan saya tetap kerja."
Koh Bandi memutar gelas teh dinginnya, lama. Di luar, suara klakson angkot dan teriakan pedagang pasar mengisi keheningan di antara mereka.
"Lima juta sepuluh hari," ulang Koh Bandi pelan. "Dari mana kamu dapat lima juta, Sekar? Aku tahu kas Mbahmu kosong."
"Itu urusan saya," kata Sekar, menahan agar suaranya tetap rata, karena jujurnya ia belum tahu dari mana. "Yang Koh perlu tahu cuma: kalau Koh sita tenun, Koh dapat satu juta dan saya mati. Kalau Koh kasih saya celah, Koh dapat lima juta sekarang dan sisanya pelan-pelan. Mana yang lebih baik buat dompet Koh?"
Koh Bandi menatapnya, dan sesuatu di matanya berubah—bukan kebaikan, Sekar tahu, tapi pengakuan dagang, rasa hormat yang muncul ketika satu pedagang melihat pedagang lain berpikir jernih di tengah desakan. Ia mengangguk pelan.
"Sepuluh hari. Lima juta," katanya. "Bukan karena aku kasihan. Karena hitunganmu benar. Tapi, Sekar—" ia menunjuk dengan jari yang berbau benang dan rokok, "—kalau hari kesepuluh kamu nggak bawa lima juta, aku ambil tenun. Semua. Aku nggak bisa nahan lebih lama dari itu. Penagihku juga nggak bisa nahan lebih lama dari itu. Ngerti?"
"Ngerti." Sekar berdiri, mengulurkan tangan. Koh Bandi menjabatnya—tangan yang kering, kapalan oleh menghitung dan mengangkat gulungan benang puluhan tahun.
Di luar toko, di trotoar pasar kecamatan yang ramai, Sekar berdiri sejenak menahan getaran yang baru sekarang berani datang. Ia telah membeli sepuluh hari, ditukar tiga. Tapi ia membelinya dengan janji lima juta yang ia belum tahu dari mana, dan satu-satunya tempat di dunia yang ia tahu menyimpan uang sebanyak itu adalah rekening tabungan empat tahun kerja butiknya sendiri—uang yang ia kumpulkan helai demi helai, lembur demi lembur, untuk masa depan yang dulu ia bayangkan jauh dari lereng ini. Ia menatap angka di kepalanya, dan untuk pertama kalinya taruhan itu berhenti menjadi taruhan kampung. Ia mulai menjadi taruhan dirinya sendiri.