Sebelum menyentuh tabungannya, Sekar memutuskan untuk mencoba dulu menjual yang bisa dijual. Logikanya sederhana dan dingin: kalau ia bisa mencairkan sebagian kain di kolong, ia tak perlu menguras seluruh tabungannya. Setiap rupiah dari kain adalah rupiah yang tak harus ia ambil dari masa depannya sendiri.
Tapi menjual kain dalam sepuluh hari, dengan harga yang mau dibayar orang dalam sepuluh hari, berarti satu hal yang membuat Sekar mual bahkan saat memikirkannya: obral.
Ia dan Bujang menggelar kain-kain itu di halaman, memilah. Bujang yang punya banyak kenalan di kecamatan—pedagang kaki lima, pemilik toko oleh-oleh, penjual baju di pasar—menjadi mulut yang menyebarkan kabar. "Kain tenun tangan, murah, butuh uang cepat." Kalimat itu sendiri sudah seperti pisau di perut Sekar. Kain yang butuh tiga minggu kerja, tujuh celup, tangan yang membiru, dijajakan dengan tiga kata: murah, butuh uang.
Pembeli pertama datang sore itu. Seorang pemilik toko oleh-oleh dari jalur wisata, perempuan paruh baya bernama Bu Tini, yang membalik-balik kain dengan cara yang membuat Bu Ngatiyem—yang kebetulan sedang di kolong—mengernyit.
"Berapa nih sehelai?" tanya Bu Tini.
"Biasanya dua ratus lima puluh," kata Sekar. "Tapi karena saya lagi butuh cepat, saya lepas seratus dua puluh."
Bu Tini mendengus. "Seratus dua puluh? Mahal, Mbak. Saya jual ke turis paling laku enam puluh, tujuh puluh. Mereka maunya oleh-oleh murah, buat selendang, buat taplak. Saya kasih delapan puluh, ambil dua puluh lembar."
Delapan puluh ribu. Untuk kain tujuh celup. Sekar membuka mulut untuk menolak, tapi angka di kepalanya—lima juta, sepuluh hari—berbicara lebih keras. Delapan puluh kali dua puluh adalah satu juta enam ratus ribu. Itu sepertiga jalan menuju lima juta, dalam satu transaksi, hari ini.
"Seratus," kata Sekar. "Dua puluh lembar, seratus per lembar. Itu sudah saya rugi, Bu."
Bu Tini berpikir, lalu mengangguk. "Sembilan puluh. Dua puluh lembar. Cash sekarang."
Sekar menatap Bujang. Bujang menatap balik, dan dalam tatapan itu ada pertanyaan yang sama: ambil, atau tahan? Sekar mengangguk pada Bu Tini.
Saat Bu Tini menghitung lembaran uang dan Bujang memilih dua puluh kain—motif geometris sederhana, bukan tujuh gunung, Sekar memastikan itu—Sekar merasakan sesuatu menatap punggungnya. Ia berbalik. Bu Ngatiyem berdiri di mulut kolong, kain di tangannya, wajahnya seperti batu yang baru saja retak.
Sekar mengikuti tatapan perempuan tua itu. Di antara dua puluh kain yang dipilih Bujang, ada satu yang Bu Ngatiyem kenali—Sekar tahu dari cara matanya menempel di sana. Kain bermotif kawung sederhana, tapi tepinya, sudut-sudutnya, dikerjakan dengan kerapatan yang hanya bisa dilakukan tangan yang sangat sabar.
"Itu kain Lastri," kata Bu Ngatiyem, suaranya rendah. "Yang dia kerjain pas suaminya sakit, dua tahun lalu. Dia nenun itu sambil nungguin suaminya di amben sebelah. Tiap helai dia ikat sambil berdoa." Ia menatap Sekar. "Sekarang kamu jual sembilan puluh ribu, buat ditaruh di rak oleh-oleh, jadi taplak meja turis."
Udara di halaman seakan menebal. Bu Tini, yang tak mengerti apa-apa, terus menghitung uangnya. Bujang berhenti melipat, tangannya menggantung.
"Bu," kata Sekar pelan, dan ia merasa suaranya kecil. "Kalau saya nggak jual, hari kesepuluh Koh Bandi ambil semua tenun. Termasuk tenunnya Bu Lastri. Termasuk tenunnya Mbah. Saya jual dua puluh kain dengan harga rugi biar saya bisa selamatin lima belas alat tenun. Itu hitungannya, Bu. Saya nggak suka, tapi itu hitungannya."
Bu Ngatiyem tidak menjawab. Ia hanya menatap kain Bu Lastri di tumpukan jual, lalu menatap Sekar, dan dalam tatapan itu Sekar membaca sesuatu yang lebih menyakitkan daripada marah: kekecewaan yang lelah. Kekecewaan orang yang sudah melihat terlalu banyak hal berharga dilego murah, dan kini melihat satu lagi.
Perempuan tua itu berbalik, turun ke kolong, dan tak lama derit tenun terdengar lagi—tapi kali ini lebih keras, lebih cepat, seperti orang yang menenun untuk menahan diri agar tidak menangis.
Bu Tini pergi membawa dua puluh kain dan meninggalkan satu juta delapan ratus ribu di tangan Sekar. Sepanjang sisa minggu itu, Bujang membawa lebih banyak pembeli—penjual baju pasar yang mengambil lima belas lembar untuk dijahit jadi kemeja murah, seorang pengepul dari kota yang membayar borongan dengan harga yang membuat Sekar menahan diri untuk tidak menjerit. Helai demi helai, kerja bertahun-tahun perempuan-perempuan tua itu mengalir keluar dari kolong dengan harga sepertiga, seperempat, dari nilainya.
Pada hari ketujuh, Sekar menghitung. Dari obral itu, ia mengumpulkan dua juta tiga ratus ribu. Tujuh puluh dua lembar kain telah menyusut menjadi dua puluh sembilan—sisanya yang motifnya terlalu sakral atau terlalu rumit untuk dilego murah, yang Sekar simpan mati-matian.
Dua juta tiga ratus ribu. Ia butuh lima juta dalam tiga hari lagi.
Sekar duduk di tangga rumah neneknya malam itu, buku butik di pangkuan, dan menatap angka itu sampai matanya perih. Ia telah menjual sebagian jiwa kampung dengan harga taplak meja turis, melukai Bu Ngatiyem, mungkin melukai Bu Lastri yang belum tahu kain doanya kini jadi oleh-oleh, dan ia bahkan belum sampai separuh jalan. Dan kebenaran yang paling pahit, yang baru sekarang ia berani tatap lurus-lurus: menjual stok lama hanya menunda kiamat, tidak mencegahnya. Bahkan kalau ia berhasil mengumpulkan lima juta, ia hanya membeli waktu—dan ketika kain lama habis terjual murah, kampung tetap tak punya cara membuat uang baru. Ia sedang memakan kakinya sendiri untuk mengisi perut, dan kaki tak tumbuh kembali.