Pembeli pertama itu bernama Bu Renata, dan ia tidak memesan satu kain. Setelah Sekar menjawab pesannya—menjelaskan kain tujuh gunung Bu Lastri, mengirim foto lebih banyak, menetapkan harga sembilan ratus ribu yang ia ucapkan dengan jantung berdebar takut ditolak—Bu Renata membalas dengan sesuatu yang membuat Sekar harus duduk: ia mau kain itu, dan ia juga mau memesan dua lagi, untuk dua temannya yang "sudah lama mencari kain seperti ini." Tiga kain. Dengan satu syarat yang terdengar sederhana tapi ternyata adalah ujian pertama kampung: ia membutuhkannya dalam tiga minggu, untuk sebuah acara, dan ia ingin ketiganya berkualitas terbaik, dengan kartu lengkap.
Tiga kain dalam tiga minggu. Sekar menghitung di kepalanya, dan hitungan itu langsung mengetatkan perutnya. Satu kain tujuh gunung penuh butuh tiga minggu kerja satu penenun—dari memasang lungsin, mengikat motif, mencelup tujuh kali, menjemur, menenun. Tiga kain dalam tiga minggu berarti tiga penenun bekerja serempak, penuh, tanpa jeda. Dan kampung punya tepat tiga penenun: Bu Ngatiyem, Bu Lastri, dan dirinya sendiri yang baru belajar lagi mengikat dan masih jauh dari layak menjual.
Ia membawa pesanan itu ke kolong, dan untuk pertama kalinya sejak ia pulang, ada sesuatu yang menyerupai semangat di antara para penenun tua—bukan karena uangnya, meski sembilan ratus ribu per kain adalah angka yang membuat mata Bu Lastri membesar, tapi karena seseorang di kota besar menginginkan kain mereka dengan nama mereka di atasnya.
Tapi semangat dan kapasitas adalah dua hal berbeda, dan tiga minggu itu mengajari Sekar perbedaannya dengan keras.
Masalah pertama datang dari tarum. Tiga kain butuh tiga set benang dicelup tujuh kali, dan bak tarum kampung hanya satu. Mereka tak bisa mencelup tiga set serempak tanpa menipiskan larutan, dan tarum yang ditipiskan menghasilkan biru yang pucat, tak rata. Bu Ngatiyem menolak keras mempercepat—dan Sekar, yang masih ingat pelajaran bahwa warna dan motif terikat angka tujuh yang sama, tak berani memintanya. Maka mereka harus mencelup bergantian, set demi set, dan itu memakan waktu yang mereka tak punya.
Masalah kedua datang dari langit. Pada minggu kedua, hujan turun tiga hari berturut-turut—hujan lereng yang dingin dan tak kenal ampun—dan benang yang sudah dicelup tak bisa dijemur. Tanpa jemur, oksidasi tak sempurna, warna tak mengunci. Mereka kehilangan tiga hari penuh menunggu langit, tiga hari dari tiga minggu yang sudah sempit, dan Sekar berdiri di kolong menatap hujan dengan rasa tak berdaya yang baru—rasa tak berdaya seorang pedagang yang baru sadar bahwa pemasoknya adalah cuaca, dan cuaca tak bisa ditawar.
Masalah ketiga adalah dirinya sendiri. Sekar bersikeras menenun kain ketiga, karena tiga penenun butuh tiga tangan, dan tangannya harus jadi yang ketiga. Tapi tangannya, meski sudah pulih sebagian lewat subuh-subuh belajar, belum cukup. Tenunannya tak serapat Bu Lastri, tegangannya tak sekonsisten Bu Ngatiyem, dan pada hari kesepuluh, saat ia memeriksa hasil kerjanya di bawah cahaya, ia melihatnya: satu bagian yang tenunannya merenggang, tak rata, cacat halus yang mungkin tak terlihat mata awam tapi pasti terlihat mata Bu Renata yang membayar sembilan ratus ribu untuk kesempurnaan.
Sekar membongkarnya. Berhari-hari kerja, ia urai kembali benang demi benang, dan mulai lagi. Bu Ngatiyem mengawasinya tanpa berkata apa-apa, tapi malam itu, untuk pertama kalinya, perempuan tua itu menenun di samping Sekar sampai larut, menyelesaikan sebagian kain ketiga yang Sekar tak akan sempat rampungkan sendiri—bukan dengan kata-kata, hanya dengan tangan, dengan kehadiran, dengan diam yang berkata: kau belum bisa sendiri, tapi kau tak sendiri.
Mereka mengirim ketiga kain itu pada hari terakhir, hari kedua puluh satu, dikemas Bujang dengan kerapian yang ia pelajari dari menonton Sekar mengemas barang butik di ingatannya. Sekar menyertakan kartu di tiap kain—nama Bu Lastri, nama Bu Ngatiyem, dan untuk yang ketiga, dengan ragu dan jujur, namanya sendiri ditambah keterangan bahwa kain itu "dikerjakan bersama," karena ia tak mau berbohong bahwa ia menenunnya sendirian.
Bu Renata menerima ketiganya, dan balasannya datang dua hari kemudian—sebuah pesan panjang, hangat, penuh kekaguman, dengan foto ketiga temannya mengenakan kain itu di acara mereka, dan kalimat yang Sekar simpan: "Teman-teman saya bertanya di mana saya menemukannya. Saya bilang, dari perempuan-perempuan di lereng yang masih menenun dengan tangan. Mereka semua ingin satu."
Kampung berhasil. Tapi malam itu, saat Sekar menatap kolong tempat tiga penenun lelah beristirahat, ia melihat dinding yang sesungguhnya—dinding yang sembilan ratus ribu per kain tak bisa runtuhkan. Tiga kain dalam tiga minggu telah hampir menghancurkan mereka. Cuaca, satu bak tarum, tiga pasang tangan tua. Pasar premium yang baru ia temukan ternyata menuntut bukan hanya keaslian, tapi keandalan—kemampuan mengirim, tepat waktu, berkali-kali, tanpa retak. Dan keandalan butuh tangan. Lebih banyak tangan. Tangan muda yang kini semuanya ada di pabrik garmen di kota, menjahit lengan kemeja demi gaji yang pasti. Model edisi terbatas ini bisa hidup—ia kini tahu pasti—tapi tak bisa tumbuh, tak bisa naik dari satu Bu Renata ke seratus, tanpa memanggil pulang tangan-tangan yang sudah pergi. Dan untuk memanggil mereka pulang, ia butuh sesuatu yang lebih dari cerita indah. Ia butuh bukti bahwa kampung bisa membayar.