Bagas datang lagi pada akhir bulan, dan kali ini Sekar tidak terkejut. Kampung kecil, kabar bergerak cepat, dan keberhasilan kecil bergerak lebih cepat lagi—pesanan Bu Renata, unggahan yang dibagikan ratusan kali, kain tujuh gunung yang dipakai di acara kota besar. Sekar sudah menduga Bagas mendengarnya. Yang tidak ia duga adalah wajah yang Bagas bawa.
Mobil yang terlalu bersih itu berhenti lagi di mulut gang, tapi kali ini Bagas tidak menunduk masuk ke kolong untuk mengagumi alat tenun. Ia langsung ke ruang tengah, di mana Mbah Sumirah berbaring di amben—dan hal pertama yang ia lakukan, sebelum bicara bisnis, adalah menghampiri amben itu, berjongkok, dan menyapa perempuan tua yang tak bisa lagi membalasnya kecuali dengan mata.
"Selamat siang, Mbah," katanya pelan, tulus, dan Mbah Sumirah menatapnya dengan mata yang tajam, mata yang Sekar tahu sedang mengukur tamu ini sampai ke dasar. Bagas tak lama, tak berpura-pura akrab. Ia bangkit, dan duduk di hadapan Sekar.
"Saya dengar kabar baik, Mbak," katanya. "Kain kampung Mbak laku di kota besar. Dengan cara Mbak sendiri." Tak ada kepahitan di suaranya; kalau ada, justru sesuatu yang menyerupai kekaguman. "Saya akan jujur, itu mengejutkan saya. Saya kira pasar untuk kain semahal itu, sekecil produksinya, nggak cukup buat menghidupi kampung. Saya masih kira begitu, sebenarnya. Tapi saya salah soal apakah pasarnya ada. Pasarnya ada."
"Ada," kata Sekar, hati-hati, menunggu. Bagas tak pernah datang tiga jam ke lereng untuk memuji.
"Tapi pasarnya kecil, dan Mbak nggak bisa besar," lanjut Bagas, dan di sinilah ia membuka kartunya, perlahan, halus. "Mbak baru ngirim tiga kain dan hampir kewalahan. Saya tahu—saya nggak menghina, saya cuma menghitung. Tiga penenun tua, satu bak tarum, cuaca yang nggak bisa diatur. Mbak nemu pasar yang mau bayar mahal, tapi Mbak nggak punya tangan buat ngisinya. Bu Renata mau lagi, kan? Teman-temannya mau juga. Tapi Mbak nggak bisa janji kapan. Dan pasar premium itu, Mbak lebih tahu dari saya, paling nggak sabar sama yang nggak bisa janji."
Sekar diam, karena Bagas tepat. Tepat sampai ke dinding yang persis ia lihat malam itu di kolong.
Bagas membuka tas, tapi bukan map biru yang keluar. Sebuah map abu-abu, lebih tipis. "Saya nggak datang bawa lisensi lagi, Mbak. Saya dengar—dan saya hormati—Mbak nolak motif ini dicetak mesin. Saya udah berhenti minta itu." Ia meletakkan map abu-abu di meja, tak membukanya. "Yang saya tawarkan sekarang beda. Rasaraya kasih modal—buat bak tarum tambahan, buat alat, buat ngajak penenun muda pulang dengan gaji yang kampung sendiri belum mampu bayar. Kain tetap ditenun tangan, di sini, oleh tangan kampung. Motif nggak disentuh. Kami nggak nyetak apa-apa." Ia menatap Sekar. "Yang Rasaraya kasih cuma yang kampung nggak punya: modal dan akses ke toko-toko kami di seluruh negeri. Kain tangan Mbak masuk ke butik Rasaraya di lima belas kota, dengan kartu, dengan nama penenun, dengan cerita. Mbak nggak perlu nyari Bu Renata satu-satu lagi. Kami yang bawa kain Mbak ke ribuan Bu Renata."
Sekar mendengarkan, dan untuk sesaat—ia harus jujur pada dirinya sendiri—ia tergoda. Lebih tergoda dari malam di lobi rumah sakit, karena tawaran ini menjawab persis dinding yang menghadangnya. Modal untuk tangan muda. Akses untuk menjual lebih dari yang tiga penenun bisa buat. Dan tidak ada cetak mesin, tidak ada motif disentuh, tidak ada eksklusivitas yang melarang kampung menenun—setidaknya tidak yang Bagas sebutkan. Ini bukan tukar tambah. Ini, di permukaan, seperti kompromi yang benar.
Tapi ia sudah belajar, dengan harga tiga malam membaca kontrak di bawah lampu neon, bahwa yang penting selalu di halaman yang belum disebutkan. "Boleh saya baca, Mas?" tanyanya, menunjuk map abu-abu. "Lengkap. Seperti dulu."
"Tentu." Bagas menyodorkannya, dan kali ini Sekar menangkap sesuatu—Bagas menyodorkannya sedikit terlalu cepat, sedikit terlalu mudah, seperti orang yang tahu apa yang akan ditemukan pembaca dan sudah menyiapkan jawabannya.
Sekar membaca di tempat, perlahan, jari menahan tiap baris, sementara Bagas menunggu dengan teh yang ia tuangkan sendiri. Dan ia menemukannya—bukan di pasal eksklusivitas kali ini, karena memang tak ada larangan menenun. Ia menemukannya di pasal yang lebih halus, lebih sopan, lebih mudah terlewat: tentang penetapan harga dan distribusi. Rasaraya, sebagai pemegang akses toko dan modal, berhak menentukan harga jual akhir kain di butik-butiknya, dan berhak mengatur volume serta jadwal pasokan dari kampung. Kampung tetap menenun dengan tangan, tetap memegang motif—tapi berapa kain dibuat, kapan, dan dijual seharga berapa, semua ditentukan oleh Rasaraya.
Sekar mengangkat wajah, dan Bagas sudah menatapnya, menunggu, dan ia tahu—Bagas tahu ia menemukannya.
"Harga ditentukan Rasaraya," kata Sekar. "Volume diatur Rasaraya. Jadwal diatur Rasaraya."
"Karena kami yang paham pasarnya, Mbak," jawab Bagas, lembut, masuk akal, dan justru kemasukakalannya yang membuatnya berbahaya. "Mbak nenun, kami jual. Masing-masing kerja di bidangnya. Itu wajar dalam bisnis."
"Wajar," ulang Sekar pelan. "Tapi artinya, kalau suatu hari Rasaraya mutusin kain kami dijual lebih murah biar bersaing, kami nggak bisa nolak. Kalau Rasaraya mau kami bikin lebih banyak dari yang sehat buat tangan-tangan tua kami, kami harus ngikut. Kami tetap nenun tangan, tetap pegang motif—tapi kemudinya di tangan Mas." Ia menutup map abu-abu. "Motif aman. Tapi nasib kampung diatur orang lain. Itu bukan kemitraan, Mas. Itu kampung jadi pemasok yang nurut."
Bagas tidak menyangkal. Ia tersenyum kecil, dan dalam senyum itu ada pengakuan, juga kesabaran yang membuat Sekar lebih waspada daripada kalau ia marah. "Mbak menolak lagi," katanya.
"Saya menolak lagi."
"Saya menghormati itu." Bagas mengemasi mapnya, berdiri, tak terburu, tak kecewa. Dan sebelum keluar, ia berkata sesuatu yang menempel di kepala Sekar lama setelah mobilnya menghilang di kelok jalan. "Saya akan datang lagi, Mbak. Bukan ancaman—saya cuma jujur. Tiap kali Mbak nolak, saya belajar tawaran macam apa yang Mbak tolak. Lain kali, saya datang dengan yang lebih sulit Mbak tolak. Saya orang sabar. Dan Mbak"—ia menatap ruang tengah yang sederhana, amben tempat Mbah Sumirah berbaring, kolong tempat tiga tangan tua bekerja—"Mbak punya banyak hal yang harus Mbak biayai, dan tangan-tangan Mbak nggak muda lagi. Waktu di pihak saya, bukan di pihak Mbak."
Ia pergi. Dan Sekar berdiri di tangga, menatap debu yang ditinggalkan mobilnya, dan untuk pertama kalinya ia mengerti bentuk sebenarnya dari pertarungan ini. Bagas tak akan datang sekali dengan satu tawaran yang bisa ia tolak dan selesai. Bagas akan datang lagi dan lagi, tiap kali menanggalkan satu klausul yang ia tolak, menyesuaikan, mendekat, sampai tawarannya begitu masuk akal sehingga menolaknya terasa seperti kebodohan. Dan di belakang Bagas, waktu memang berjalan ke arahnya: tangan-tangan tua yang menua, utang yang masih lima juta, kampung yang baru bisa membuat tiga kain dalam tiga minggu. Bagas tak perlu mengalahkan Sekar. Ia hanya perlu menunggu Sekar lelah. Dan Sekar, berdiri di tangga rumah neneknya pada senja yang menguning, tahu bahwa untuk tidak lelah, kampung tak cukup hanya bertahan—kampung harus tumbuh, lebih cepat dari kesabaran Bagas, dan untuk itu ia harus memanggil pulang tangan-tangan yang telah pergi ke pabrik, dengan bukti, bukan janji, di tangannya.