Kabar itu datang lewat ponsel, bukan surat sungguhan, tapi Sekar terus menyebutnya surat di kepalanya karena nada pesan itu seperti surat—panjang, ragu, ditulis seseorang yang tak terbiasa menulis panjang dan karena itu memilih tiap kata dengan susah payah.
Pengirimnya Warni. Sepupu jauh Sekar dari sisi ibu, dua tahun lebih muda, yang empat tahun lalu pergi ke kota bersama gelombang anak-anak muda Watu Lawang ketika tenun mulai senyap dan pabrik garmen membuka lowongan. Mereka tak pernah benar-benar dekat, tapi Warni masih menyimpan nomor Sekar, dan kini menulis padanya bukan untuk menyapa, melainkan karena, Sekar segera mengerti, tak ada lagi orang yang bisa ia tanya.
"Mbak Sekar," tulis Warni, "katanya Mbak sekarang di kampung, ngurus tenunnya Mbah Sumirah. Aku mau nanya. Di kampung sekarang ada kerjaan nggak? Apa aja. Di sini lagi nggak enak."
Sekar membalas, menanyakan ada apa, dan jawaban Warni datang sepotong-sepotong sepanjang malam, di sela jam istirahat yang pendek di pabrik. Sedikit demi sedikit gambarnya terbentuk, dan gambar itu mengejutkan Sekar bukan karena ia tak pernah membayangkannya, tapi karena selama ini ia membayangkan pabrik sebagai lawan yang menang—surga yang menyedot anak-anak muda kampung dan tak pernah melepaskannya. Surga yang menggaji pasti, tiap tanggal sama, jumlah sama, tanpa cuaca, tanpa tarum yang harus ditunggu tiga hari.
Ternyata surga itu sedang menyusut.
Pabrik tempat Warni bekerja—pabrik besar yang menjahit pakaian untuk merek-merek yang Sekar kenal dari etalase kota—kehilangan pesanan. Sebuah merek besar memindahkan order ke negara lain yang upahnya lebih murah, dan dalam semalam ribuan potong kemeja yang seharusnya dijahit menguap dari papan produksi. Manajemen merespons seperti yang selalu dilakukan pabrik: memotong. Pertama lembur dihapus—dan lembur, Warni menjelaskan, adalah tempat sebenarnya gaji menjadi cukup; gaji pokok hanya menutupi kos dan makan, lembur yang menyisakan untuk dikirim pulang. Lalu shift dipangkas. Yang dulu enam hari kini empat. Yang dulu masuk pagi penuh kini dirumahkan bergiliran tanpa upah pada hari-hari kosong itu.
"Gaji pasti, Mbak," tulis Warni, dan Sekar bisa mendengar kepahitan di balik huruf-huruf datar itu. "Itu yang dulu bikin kami ke sini. Pasti tiap bulan. Sekarang yang pasti cuma satu: tiap bulan makin sedikit. Dan kalau pesanan nggak balik, katanya bakal ada PHK. Yang masuk belakangan duluan. Aku masuk belakangan, Mbak."
Sekar meletakkan ponselnya dan duduk lama di tangga, menatap kolong yang gelap. Di amben, Mbah Sumirah tidur dengan napas yang berat dan teratur. Di kepalanya, sesuatu bergerak—bukan rencana, belum, tapi celah yang baru terlihat, seperti retak tipis di tembok yang dulu ia kira utuh.
Selama ini ia menghitung kampung dan pabrik sebagai dua kekuatan yang timpang. Di satu sisi tenun tangan yang lambat, mahal, tak pasti, dengan tiga penenun tua yang menua. Di sisi lain pabrik dengan gaji pastinya, yang menyedot tiap anak muda yang punya kaki untuk pergi. Ia menghitung seolah pabrik itu kokoh, abadi, dan satu-satunya yang bisa ia tawarkan adalah cerita dan martabat melawan angka yang dingin dan tetap.
Tapi pabrik tidak kokoh. Pabrik bergantung pada pesanan dari jauh yang bisa pergi semudah datang, ke negara mana pun yang lebih murah, kapan pun. Gaji pasti itu pasti hanya selama merek di seberang lautan memutuskan untuk tetap memesan—keputusan yang dibuat oleh orang-orang yang tak pernah tahu nama Warni, tak peduli Warni masuk belakangan atau duluan, yang melihat anak-anak muda kampung sebagai angka di kolom biaya yang harus selalu bisa dipindahkan ke tempat lebih murah. Anak-anak muda Watu Lawang lari dari tenun yang bergantung pada cuaca, hanya untuk masuk ke pekerjaan yang bergantung pada cuaca yang lain—cuaca pasar dunia, yang lebih dingin dan lebih jauh dari cuaca lereng mana pun.
Di tenun, pikir Sekar perlahan, yang menentukan upah penenun adalah tangan penenun itu sendiri dan orang yang menghargainya. Di pabrik, yang menentukan adalah seseorang di kantor yang tak pernah mereka lihat. Tak ada yang lebih bermartabat secara otomatis—tenun juga bisa mencekik, ia tahu itu lebih dari siapa pun—tapi setidaknya di tenun, jika kampung memegang kemudinya sendiri, nasib mereka ada di tangan yang mereka kenal.
Ia membuka buku butiknya dan menulis satu nama di halaman baru: Warni. Lalu, di bawahnya, ragu, ia menulis sederet pertanyaan yang ia belum punya jawabnya. Berapa yang bisa kampung bayar sebulan? Berapa kain yang harus terjual untuk membayar satu tangan muda dengan layak? Cukupkah Bu Renata dan ratusan orang seperti Bu Renata untuk itu?
Karena memanggil Warni pulang dengan tangan kosong bukan menyelamatkannya. Itu hanya memindahkannya dari ketidakpastian yang satu ke ketidakpastian yang lain, dari pabrik yang menyusut ke kampung yang belum bisa berjanji apa-apa. Sekar tahu benar bahaya menjual harapan; ia hampir membeli harapan sendiri dari Bagas dua kali. Ia tak akan melakukan pada Warni apa yang Bagas coba lakukan padanya.
Ia bisa membayangkannya—itu yang berbahaya. Membayangkan kolong yang ramai lagi, sepuluh ATBM berderit, tangan-tangan muda belajar dari tangan-tangan tua. Tapi membayangkan tidak menggaji siapa pun. Ia menutup buku itu dan menatap kalimat terakhir yang ia tulis berhari lalu, kalimat Bagas yang menempel: waktu di pihak saya, bukan di pihak Mbak.
Mungkin tidak, pikir Sekar, untuk pertama kalinya tanpa yakin tapi juga tanpa putus asa. Mungkin waktu sedang berpaling. Pabrik menyusut. Anak-anak muda mulai mencari jalan pulang. Tapi ia hanya bisa membuka pintu itu jika di balik pintu ada sesuatu yang nyata—pendapatan yang bisa ia tunjukkan, bukan diceritakan. Dan untuk itu, sebelum ia membalas Warni dengan janji apa pun, ia harus duduk dengan bukunya dan membuat angka-angka itu berhenti menjadi mimpi dan mulai menjadi rencana yang tak berbohong.