Sekar menghabiskan tiga malam dengan buku butiknya, lampu minyak, dan kepala yang menolak tidur, menyusun untuk pertama kalinya sejak pulang sesuatu yang utuh: bukan daftar utang, bukan catatan penolakan, melainkan rencana. Rencana usaha yang sesungguhnya, dengan kolom-kolom yang dulu ia isi untuk butik Maharani—hanya kini kolom-kolom itu berisi nama-nama yang ia cintai, dan tiap angka yang salah berarti seseorang tak makan.
Ia mulai dari yang ia tahu pasti. Satu kain tujuh gunung penuh butuh tiga minggu kerja satu penenun. Itu berarti satu penenun, bekerja tanpa henti, menghasilkan kira-kira empat belas kain setahun—dan itu pun jika cuaca bersahabat, jika tarum tak menipis, jika tangan tak sakit. Bu Renata membayar sembilan ratus ribu. Sekar tahu, dari pesan-pesan yang terus masuk sejak unggahan itu, bahwa ia bisa menaikkannya—ada yang bertanya tanpa menawar, ada yang menyebut angka lebih tinggi dari yang ia berani sebut sendiri. Ia memutuskan, dengan jantung berdebar menuliskannya, untuk mematok satu juta dua ratus ribu per kain edisi penuh bernomor.
Empat belas kain setahun kali satu juta dua ratus ribu. Hampir tujuh belas juta dari satu pasang tangan. Angka itu, ditulis di kertas, membuat Sekar harus berhenti dan menarik napas, karena ia ingat berdiri di grosir Pak Tarno yang menolak kain yang sama dengan harga dua ratus lima puluh ribu.
Lalu ia mulai mengurangi, karena hitungan yang hanya menambah adalah hitungan yang berbohong, dan ia tak akan membangun apa pun di atas hitungan yang berbohong. Benang dari Koh Bandi. Tarum dan mengkudu—yang ini murah, tumbuh di lereng, tapi tetap butuh tenaga memetik dan mengolah. Penyusutan: kain yang gagal, yang harus dibongkar, yang dijual ke pasar bawah karena tak cukup sempurna untuk bernomor. Kemasan, ongkos kirim, kartu, sertifikat. Dan—ini yang membuatnya ragu paling lama—bagian untuk dirinya sendiri dan Bujang yang mengurus dagang, kemasan, foto, percakapan dengan pembeli, yang juga kerja, juga waktu, juga harus dibayar jika ini mau hidup setelah ia tak ada.
Di akhir pengurangan, dari satu pasang tangan yang menghasilkan tujuh belas juta setahun, yang tersisa untuk si penenun—upah bersih untuk tangan yang menenun—adalah sekitar sepuluh juta. Delapan ratus ribu sebulan, kira-kira, jika dibagi rata sepanjang tahun.
Sekar menatap angka itu lama. Delapan ratus ribu sebulan. Lebih rendah dari gaji pokok pabrik di kota. Lebih rendah dari yang dulu Warni kirim pulang di bulan-bulan baik dengan lemburnya.
Ia hampir menutup buku. Hampir, karena angka itu tampak seperti kekalahan—bukti bahwa Bagas benar, bahwa tenun tangan tak bisa mengalahkan pabrik dalam hal yang paling dasar: perut.
Tapi ia memaksa dirinya menatap lebih lama, dengan kepala butik yang tak boleh berhenti pada angka pertama. Delapan ratus ribu sebulan di kampung, di mana Warni tak membayar kos, tak membayar makan yang dibeli dari warung, tak membayar ongkos pulang yang menggerogoti gaji tiap lebaran. Delapan ratus ribu yang utuh, di rumah sendiri, dekat orang tua sendiri. Dibandingkan gaji pabrik yang lebih besar di atas kertas tapi tergerus kos, makan, ongkos, dan kini tergerus pemotongan shift sampai mungkin nol jika PHK datang. Angka yang tampak kalah, ketika diletakkan di tempat yang benar, ternyata tidak sejauh itu kalah. Dan ada satu kolom yang tak bisa Sekar tuliskan dengan rupiah tapi tahu nilainya nyata: di pabrik Warni adalah operator nomor sekian; di sini Warni adalah pencipta yang namanya ada di kartu, yang kainnya diinginkan seseorang di kota besar yang berkata jangan dikurangi ceritanya.
Namun di sebelah perhitungan yang menghiburkan itu, Sekar menulis kebenaran yang menakutkan, karena rencana yang hanya berisi kabar baik juga rencana yang berbohong. Seluruh angka ini—tujuh belas juta per tangan, sepuluh juta upah bersih, delapan ratus ribu sebulan—seluruhnya bergantung pada satu hal yang belum terbukti: bahwa pasar premium ini stabil. Bahwa Bu Renata bukan keberuntungan satu kali. Bahwa orang-orang yang membagikan unggahan itu akan benar-benar membayar, lagi dan lagi, bulan demi bulan, tahun demi tahun, cukup banyak untuk membeli empat belas kain dari tiap penenun setiap tahun tanpa pernah surut. Satu Bu Renata bisa dijawab tiga penenun tua. Sepuluh penenun butuh seratus empat puluh kain terjual setahun—seratus empat puluh orang yang mau membayar lebih dari sejuta untuk sehelai kain. Apakah pasar sebesar itu ada? Sekar tak tahu. Ia hanya tahu pasar itu ada untuk satu, untuk tiga; ia belum tahu apakah ia ada untuk seratus.
Dan inilah letak taruhannya. Untuk membuktikan angka itu bisa hidup, ia harus mempertaruhkan apa yang tersisa: sisa tabungannya, tiga juta yang ia simpan untuk obat dan benang; reputasinya pada penenun muda yang ia panggil pulang, yang jika kampung gagal akan kembali ke pabrik dengan kepercayaan yang patah dua kali; dan reputasinya pada para penenun tua, yang baru sehelai-sehelai mulai memberinya celah. Jika ia memanggil Warni pulang lalu kampung tak bisa membayar, ia tak hanya gagal—ia menjadi versi kecil dari Bagas, orang yang menjual harapan yang tak bisa ia tepati.
Sekar menutup buku menjelang subuh. Di luar jendela, langit mulai kelabu, dan dari kolong terdengar Bu Ngatiyem yang selalu bangun lebih dulu, menyiapkan tarum. Angkanya menjanjikan dan rapuh sekaligus, seperti benang lungsin yang ditegangkan terlalu kencang—kuat menahan seluruh kain, tapi bisa putus jika satu saja meleset. Ia tahu sekarang apa yang harus ia lakukan, dan tahu pula bahwa ia tak bisa melakukannya hanya dengan kepala pedagang. Untuk memimpin kampung membuktikan angka ini, ia harus lebih dulu menjadi sesuatu yang selama ini ia tunda menjadi: bukan pedagang yang menjual tenun, tapi penenun yang berdagang. Dan untuk itu, tangannya yang masih setengah lupa harus benar-benar pulih.