Maka Sekar mulai datang ke kolong tiap subuh, sebelum cahaya, sebelum siapa pun di kampung bangun kecuali Bu Ngatiyem dan ayam-ayam.
Bukan untuk berdagang. Bukan untuk membahas Warni, pasar, atau angka. Ia datang dengan tangan kosong dan kepala yang ia paksa kosongkan, duduk di bangku rendah di samping Bu Ngatiyem, dan belajar mengikat motif penuh tujuh gunung—bukan motif sederhana yang dulu ia lego ke Bu Tini, bukan kawung pemula, tapi lungsin tujuh gunung yang utuh, dengan tujuh garis yang masing-masing punya nama dan tempat dan tak boleh meleset seujung benang.
Tangannya ingat lebih sedikit dari yang ia kira. Sebagai anak ia pernah diajari—tiap anak Watu Lawang dulu diajari—tapi empat tahun di butik, dan bertahun sebelumnya di sekolah kota, telah membuat jari-jarinya lupa cara membaca benang lewat sentuhan. Di butik tangannya belajar menjahit lurus, mengukur kain pabrik yang seragam, menempel label. Tangan itu cepat dan rapi untuk pekerjaan yang seragam. Tapi mengikat tujuh gunung bukan pekerjaan seragam. Tiap ikatan adalah keputusan: seberapa kencang, seberapa lebar, di mana persis simpul jatuh agar warna nanti membentuk garis gunung yang benar setelah dicelup dan ditenun. Mata harus melihat hasil akhir yang belum ada, di benang yang masih putih, tiga minggu sebelum kain jadi.
"Salah," kata Bu Ngatiyem pada ikatan pertama Sekar, tanpa kasar, hanya datar seperti orang menyebut cuaca. "Kekencengan. Nanti pas dicelup, putihnya kemakan, garisnya ketipisan. Watu Gentong itu garisnya tebal di pangkal, kayak kendi yang dasarnya lebar. Kamu iket kayak gitu, jadinya kendi yang dasarnya runcing. Salah gunung."
Sekar membongkarnya dan mengulang. Salah lagi. Bongkar lagi. Bu Ngatiyem tidak memujinya saat benar dan tidak mengejeknya saat salah; ia hanya menunjukkan, sekali, lalu menunggu, dan Sekar belajar bahwa diam Bu Ngatiyem bukan kekejaman tapi cara mengajar yang lebih tua dari kata-kata—biarkan tangan yang salah merasakan salahnya sendiri, karena tangan yang dikoreksi mulut akan lupa, tapi tangan yang merasakan salahnya tak akan lupa.
Pada subuh keempat, sambil jari-jari Sekar mulai membiru lagi oleh tarum, Bu Ngatiyem mulai bicara saat mengajar—tidak banyak, tapi lebih dari sebelumnya. Ia menyebut tujuh gunung satu per satu sambil mengikat, seperti doa yang dianyam ke benang. Gunung Wungkal, yang pertama, batu asah tempat leluhur mengasah parang dan niat. Sela Putih, celah putih tempat kabut masuk ke lembah. Watu Gentong, gunung ketiga, kendi tempat air pertama ditemukan—yang dulu tergelincir dari ingatan Sekar dan kini ia ikat dengan tangannya sendiri sampai tak mungkin lagi lupa, karena tangan tak lupa seperti mulut lupa. Lalu yang keempat, kelima, keenam, ketujuh—nama-nama yang Bu Ngatiyem ucapkan dengan suara yang merendah, hampir berbisik, seakan menyebutnya terlalu keras akan mengusangkan mereka.
Sekar menulis ketujuhnya di buku butiknya malam itu, lalu menutup buku itu dan menyebutnya lagi tanpa melihat, lalu mengikat lagi tanpa melihat, sampai nama dan tangan dan garis menjadi satu hal yang sama. Karena ia tahu kini—lebih dari sekadar tahu, ia merasakannya—bahwa untuk memimpin kebangkitan ini ia tak bisa berdiri di luar tenun dan mengaturnya seperti mengatur stok butik. Penenun muda yang ia panggil pulang nanti tak akan menghormati pedagang yang tak bisa menenun. Bu Ngatiyem tak akan menyerahkan tujuh gunung pada cucu Sumirah yang hanya bisa berhitung. Dan pembeli yang membayar untuk tangan tak boleh dilayani oleh seseorang yang tak punya tangan.
Ia harus menjadi penenun sungguhan. Bukan jadi-jadian, bukan untuk foto, bukan untuk cerita di kartu. Sungguhan, dengan jari yang membiru dan punggung yang pegal dan mata yang bisa melihat gunung di benang putih.
Pada subuh kesembilan, Sekar menyelesaikan ikatan motif penuh pertamanya yang tidak disuruh dibongkar. Bu Ngatiyem mengangkatnya ke cahaya yang baru masuk lewat celah dinding kolong, memutarnya, memeriksa tiap gunung dengan mata yang sudah enam puluh tahun membaca benang. Sekar menahan napas.
"Watu Gentong-mu masih agak tipis," kata Bu Ngatiyem akhirnya. "Wungkal-mu kependekan." Ia meletakkan benang itu kembali ke pangkuan Sekar. "Tapi ini tujuh gunung. Bukan tujuh garis asal. Ini bisa dicelup."
Bukan pujian. Sekar tahu Bu Ngatiyem tak memuji. Tapi dalam kalimat itu—ini bisa dicelup—ada sesuatu yang lebih berharga dari pujian: izin. Pengakuan bahwa tangan cucu Sumirah, untuk pertama kalinya, telah membuat sesuatu yang layak masuk ke bak tarum bersama kerja para penenun tua, tak akan mempermalukan kain yang lain.
Dan ada hal lain, lebih kecil, yang Sekar tangkap dan simpan. Saat ia membereskan benang untuk pulang ke rumah menjaga Mbah Sumirah, Bu Ngatiyem berkata, tanpa menoleh, sambil meneruskan kerjanya sendiri: "Besok subuh dateng lagi. Sela Putih-mu belum pernah bener."
Besok subuh dateng lagi. Sebuah undangan yang dibungkus koreksi. Rasa hormat setipis benang, tapi benang yang Sekar tahu, kini, bisa menahan seluruh kain jika ditegangkan dengan benar—dan ia berjalan pulang di pagi yang dingin dengan jari biru dan punggung pegal, lebih dekat menjadi penenun, dan karena itu lebih dekat menjadi orang yang berhak memimpin tenun.