Bujang adalah orang terakhir yang Sekar kira akan berubah, dan justru karena itu perubahannya berarti lebih dari siapa pun.
Sejak hari pertama Sekar pulang, Bujang adalah suara yang menyuruhnya realistis—menyuruhnya menerima bahwa tenun tangan tak punya masa depan, menyuruhnya tak membuang tabungan, menyuruhnya, di lobi rumah sakit, hampir menandatangani. Bukan karena Bujang jahat atau pengecut; Sekar tahu betul Bujang menyayangi kampung, menyayangi Mbah Sumirah, membantu mengangkat tandu dan mengemas kain dan mencari pembeli obral tanpa diminta dua kali. Bujang realistis bukan karena tak peduli, tapi justru karena peduli—ia tak tahan melihat Sekar mengejar sesuatu yang menurut hitungannya hanya akan menghancurkannya.
Maka ketika Bujang datang ke rumah pada suatu sore dengan wajah yang lain, Sekar langsung tahu sesuatu telah bergeser.
"Bu Renata," kata Bujang, duduk di tangga, memutar gelas teh di tangannya. "Yang beli tiga kain itu. Dia bayar lunas, kan? Sembilan ratus per kain, dua koma tujuh juta, masuk semua?"
"Masuk semua," kata Sekar. "Kenapa?"
Bujang diam sebentar. "Aku yang ngemas tiga kain itu, Sekar. Aku yang nempel kartunya, aku yang nulis alamat, aku yang nganterin ke ekspedisi di kecamatan. Aku ikutin terus. Aku setengah nungguin kamu gagal—jujur ya, aku nungguin itu, biar kamu nyerah dan kita semua bisa berenti ngarep." Ia menatap kebun. "Tapi nggak gagal. Tiga kain, dua koma tujuh juta, dari satu orang di kota yang bahkan belum pernah kita temui. Itu... itu lebih dari yang kampung ini dapet dari jualan kain berbulan-bulan."
Sekar tak berkata apa-apa. Ia sudah belajar bahwa Bujang yang sedang berpikir keras tak boleh dipotong.
"Aku masih nggak yakin ini bakal terus jalan," lanjut Bujang. "Aku masih takut ini cuma keberuntungan. Tapi aku capek juga jadi orang yang cuma bilang nggak bisa, nggak bisa, nggak bisa, sementara kamu terus jalan. Dan aku liat satu hal, Sekar." Ia menoleh, dan untuk pertama kalinya nadanya bukan nada orang yang membantah, tapi nada orang yang menawar peran. "Kamu nggak bisa ngerjain semua sendirian. Subuh kamu di kolong belajar nenun sama Bu Ngatiyem. Siang kamu jagain Mbah. Malem kamu di buku butik ngitung-ngitung. Dan di sela-selanya kamu mesti foto, balesin orang yang nanya, ngurusin kemasan, nganter ke ekspedisi, ngitung ongkir, nawar sama Koh Bandi soal cicilan. Itu kerja enam orang, Sekar. Kamu bakal tumbang sebelum kampung ini ketolong."
Sekar membuka mulut untuk membantah—refleks orang yang sudah terbiasa memikul sendiri—tapi Bujang mengangkat tangan.
"Aku nggak bisa nenun. Tangan kasar, nggak sabar, Bu Ngatiyem bakal ngusir aku dari kolong dalam sehari." Bujang tersenyum kecil, getir. "Tapi aku bisa yang lain. Aku kenal semua orang ekspedisi di kecamatan, aku tahu ongkir ke mana-mana, aku bisa nawar kardus dan plastik di grosir lebih murah dari kamu. Aku bisa ngurus yang bukan tenun—kemasan, kirim, nyatet pesanan, nagih yang belum bayar. Biar kamu fokus ke dua hal yang cuma kamu yang bisa: nenun, sama mikirin ke mana kampung ini jalan."
Sekar menatap sepupunya, dan sesuatu menghangat di dadanya—bukan kemenangan, lebih seperti kelegaan seseorang yang baru sadar betapa berat beban yang ia pikul, tepat ketika seseorang menawarkan untuk memikul setengahnya. Ia tahu apa arti tawaran ini. Bujang tak berubah jadi pemimpi; ia masih realistis, masih akan jadi suara yang menahan Sekar dari melayang terlalu tinggi. Dan justru itu yang Sekar butuhkan. Ia tak butuh sekutu yang juga bermimpi—ia butuh sekutu yang membumi, yang akan menanyakan ongkir dan margin saat Sekar terbawa cerita, yang menjaga rencananya tetap menyentuh tanah.
"Kamu yakin?" tanya Sekar. "Ini bukan kerjaan dengan gaji pasti, Jang. Aku belum bisa janji bayar kamu berapa. Hitungan aku masih tipis."
"Aku tahu hitungan kamu tipis. Aku yang bantuin kamu ngecek nanti." Bujang menghabiskan tehnya. "Tapi kerjaan di kecamatan juga lagi sepi. Dan kalau aku mesti milih antara kerja serabutan buat orang yang nggak peduli, atau kerja buat kampung yang mungkin gagal tapi mungkin juga jadi—setidaknya kalau jadi, aku ada di dalamnya. Bukan cuma nonton." Ia berdiri. "Kasih aku daftar pesanan yang masuk. Aku rapihin. Aku bikin sistem nomor, biar nggak ada yang ketuker, biar tiap kain ketauan punya siapa, kapan dikirim, udah dibayar belum. Kamu nenun, aku yang ngangkut."
Dan begitulah Sekar mendapatkan tangan keduanya—bukan tangan yang menenun, tapi tangan yang membawa hasil tenun ke dunia, dan, sama pentingnya, suara yang akan menahan kakinya tetap di tanah saat kepalanya mulai membayangkan kolong yang ramai. Malam itu, untuk pertama kalinya, Sekar tidur tanpa daftar tujuh pekerjaan berputar di kepalanya, karena tiga di antaranya kini ada nama lain di sampingnya. Ia tahu kampung masih jauh dari selamat. Tapi untuk pertama kalinya, ia tak menanggungnya sendirian—dan beban yang dibagi, ia mulai paham, bukan beban yang diringankan saja, tapi beban yang akhirnya bisa diangkat.