Cicilan kepada Koh Bandi jatuh tempo pada akhir bulan, dan kali ini Sekar tak perlu menjual jiwa apa pun untuk membayarnya.
Ia menghitungnya pagi itu di buku butiknya, dengan Bujang di sampingnya yang memeriksa ulang tiap angka—kebiasaan baru yang Sekar mulai syukuri. Pendapatan dari Bu Renata, dua koma tujuh juta, telah masuk utuh. Beberapa pesanan kecil lain menyusul sejak unggahan itu—dua kain ke seorang kolektor di kota lain, satu syal tujuh gunung yang Bu Lastri kerjakan dalam ukuran lebih kecil untuk pembeli yang anggarannya terbatas tapi hatinya ingin. Tak banyak. Tapi nyata, masuk ke kas yang dulu hanya berisi empat ratus dua puluh ribu di kaleng biskuit.
Dari pendapatan itu, setelah menyisihkan untuk benang, obat Mbah Sumirah, dan bagian kecil untuk para penenun tua—yang Sekar bersikeras dibayar lebih dulu sebelum dirinya sendiri—tersisa cukup untuk membayar cicilan Koh Bandi bulan ini, dan sedikit lebih.
Koh Bandi datang menagih sendiri, seperti biasa, naik motor bebek tua ke kampung, dengan buku catatannya yang lusuh. Ia duduk di tangga rumah, menerima teh dari Sekar, dan untuk sesaat tak ada yang menyebut uang—dua pedagang yang telah berhadapan cukup sering untuk tak perlu langsung ke pokok.
"Mbahmu?" tanya Koh Bandi.
"Masih sama," kata Sekar. "Belum bisa ngomong. Tapi makannya udah lebih baik."
Koh Bandi mengangguk, menyeruput tehnya. Lalu, karena ia tetap pedagang yang sedang ditagih penagihnya sendiri, ia membuka bukunya. "Cicilan bulan ini."
Sekar mengambil amplop yang sudah ia siapkan dan menyodorkannya. Koh Bandi membukanya, menghitung lembarannya dengan jari yang berbau benang, lalu mengangkat alis—bukan banyak, tapi cukup untuk Sekar tangkap.
"Penuh," kata Koh Bandi. "Dan lebih sedikit dari yang dijadwalin."
"Saya bayar lebih kalau bisa," kata Sekar. "Biar cepat lunas. Biar Koh juga bisa nutup tagihan Koh lebih cepat."
Koh Bandi memasukkan uang itu ke saku dalamnya, lalu menatap Sekar lama, dengan tatapan yang berbeda dari tatapan-tatapan sebelumnya. Dulu ia menatap Sekar seperti menatap utang berkaki—sesuatu yang harus ditagih, dijaga, ditakuti tak bisa membayar. Kini ada sesuatu yang lain di matanya, sesuatu yang menyerupai keingintahuan pedagang terhadap pedagang.
"Dari mana uang ini, Sekar?" tanyanya. "Beberapa bulan lalu kas kamu kosong. Kamu hampir jual semua kain murah ke Bu Tini. Sekarang kamu bayar cicilan penuh, malah lebih." Ia menyandarkan punggung. "Aku denger-denger kamu jual kain ke kota. Mahal. Bener?"
Sekar tak melihat alasan untuk menyembunyikannya. "Bener, Koh. Kain tujuh gunung, edisi terbatas, bernomor, ada kartu nama penenunnya. Satu juta dua ratus. Ada yang beli."
Koh Bandi diam, dan Sekar bisa melihat angka berjalan di belakang matanya—angka yang sama yang dulu menghitung berapa juta ruginya jika menyita lima belas ATBM tua. "Satu juta dua ratus," ulangnya pelan. "Kain yang sama yang dulu nggak laku dua ratus lima puluh."
"Bukan kain yang sama, Koh. Cara jualnya yang beda." Sekar menyebutnya tanpa kemenangan, karena ia tahu kemenangan ini masih terlalu kecil untuk disombongkan. "Tapi iya. Kampung mulai bisa bikin uang. Pelan. Tipis. Tapi bisa."
Koh Bandi mengangguk lambat, dan sebelum ia pergi, ia berkata sesuatu yang Sekar simpan—karena ia tahu, dari nada Koh Bandi, bahwa ini bukan basa-basi. "Kalau kampungmu mulai jalan, kamu butuh benang lebih banyak. Benang yang bagus, bukan yang murahan. Kamu tahu di mana cari aku." Ia menyalakan motornya. "Aku lebih suka jual benang ke kampung yang hidup daripada nyita kayu bakar dari kampung yang mati. Lebih untung, dan lebih nggak bikin susah tidur."
Ia pergi, dan Sekar berdiri di tangga, memegang buku butiknya, dan untuk pertama kalinya sejak pena menyentuh kertas di lobi rumah sakit, ia membayar utang tanpa menjual apa pun yang tak bisa dibeli lagi—tanpa menjual kain murah, tanpa menguras tabungan, tanpa menandatangani lisensi, tanpa memindahkan tali ke leher kampung. ATBM aman. Tujuh gunung utuh, tak tercetak mesin, tak disentuh satu garis pun. Bu Ngatiyem masih menenun di kolong. Bu Lastri masih. Mbah Sumirah masih bernapas di amben. Dan kas, untuk pertama kalinya, tidak kosong.
Tapi Sekar tak membiarkan dirinya menyebut ini kemenangan, karena ia tahu—dengan kejernihan yang dingin, kepala butik yang tak pernah benar-benar bisa ia matikan—bahwa yang baru saja ia capai bukan menang, melainkan bertahan. Kampung tak lagi tenggelam. Tapi tak tenggelam bukan berenang. Tiga penenun tua tetap tiga, tetap menua. Pasar premium masih terbukti hanya untuk segenggam pembeli, belum untuk seratus. Utang masih ada, hanya menyusut. Dan Bagas masih di luar sana, sabar, menunggu Sekar lelah, menyusun tawaran berikutnya yang lebih sulit ditolak.
Untuk benar-benar hidup—bukan sekadar tidak mati—kampung harus tumbuh. Dan tumbuh berarti risiko yang lebih besar dari bertahan: memanggil pulang tangan-tangan muda yang ia belum pasti bisa gaji, menerima pesanan yang lebih besar dari kemampuan saat ini, mempertaruhkan reputasi yang baru ia bangun setipis benang. Bertahan adalah berdiri diam di tempat yang aman. Tumbuh adalah melangkah ke tempat yang ia tak tahu menahan beratnya atau tidak.
Sekar menatap kolong, tempat tiga tangan tua menenun, dan tahu babak pertama perjuangannya—babak bertahan hidup, babak menolak menjual jiwa—telah selesai. Ia menang sebatas tidak kalah. Babak berikutnya, ia rasakan di tulang, akan menuntut sesuatu yang lebih berani dan lebih mungkin menghancurkannya. Karena untuk membawa kampung naik, ia harus berani gagal lebih besar dari yang pernah ia berani gagal sebelumnya.