Sekar kembali ke kota untuk pertama kalinya sejak ia pulang, dan kota itu terasa asing dengan cara yang tak ia duga.
Dulu kota adalah dunianya—butik Maharani, jalan-jalan yang ia hafal, selera yang ia baca seperti membaca cuaca. Kini, turun dari bus di terminal yang sama tempat dulu ia naik untuk pulang, ia merasa seperti orang yang membawa lereng di punggungnya. Bau benang dan tarum sudah masuk ke pakaiannya, ke jarinya yang masih samar membiru, dan ia menatap etalase-etalase yang penuh baju seragam dengan mata yang berbeda dari mata empat tahun lalu—mata seseorang yang kini tahu berapa banyak tangan yang tak punya nama berdiri di balik tiap potong yang murah dan seragam itu.
Ia pergi menemui Warni, di kawasan kos-kosan sempit dekat pabrik garmen tempat anak-anak muda kampung tinggal berdesakan. Kamar Warni petak kecil, satu kasur tipis dibagi dengan seorang teman, dinding penuh jemuran karena tak ada tempat lain. Warni lebih kurus dari yang Sekar ingat, matanya lebih lelah, dan ketika ia menyambut Sekar, ada kewaspadaan di wajahnya—kewaspadaan orang yang sudah terlalu sering ditawari sesuatu yang ternyata jebakan.
Mereka bicara di warung dekat kos, di atas dua piring nasi yang Sekar bayar, dan Sekar tak membuang waktu dengan basa-basi. Ia menjelaskan, sejujur yang ia bisa, apa adanya, tanpa membaguskan: kampung mulai menjual kain dengan cara baru, edisi terbatas, mahal, ada pembelinya. Ia butuh tangan muda. Ia ingin Warni pulang, menenun.
"Berapa gajinya, Mbak?" Itu pertanyaan pertama Warni, dan Sekar menghormatinya karena itu pertanyaan yang benar, pertanyaan orang yang sudah belajar pahit bahwa cerita indah tak mengisi perut.
Sekar tak berbohong. Ia menyebut angka yang ia hitung—delapan ratus ribu sebulan, mungkin sedikit lebih jika kain laku lebih banyak, dengan bagi hasil di akhir tahun jika kampung untung. Ia melihat wajah Warni jatuh sedikit, karena angka itu di bawah gaji pokok pabrik, jauh di bawah gaji pabrik dengan lembur penuh di bulan-bulan baik.
"Tapi dengar dulu," lanjut Sekar cepat, sebelum angka itu menutup percakapan. "Itu di kampung, Warni. Kamu nggak bayar kos. Nggak bayar makan warung. Nggak ngirim ongkos pulang tiap lebaran. Delapan ratus di kampung utuh, masuk kantong. Di sini gajimu lebih gede di kertas, tapi habis berapa buat kos, makan, ongkos? Coba hitung yang kamu beneran simpan, bukan yang tertulis di slip."
Warni diam, dan Sekar melihatnya menghitung—hitungan yang mungkin belum pernah ia buat dengan jujur pada dirinya sendiri.
"Dan ada satu hal yang nggak bisa aku tulis di angka," kata Sekar pelan. "Di sini kamu operator nomor sekian. Kamu jahit lengan kemeja, ribuan, tiap hari sama, dan nggak ada yang tahu namamu. Kalau pesanan pindah ke negara lain, kamu dirumahin, dan nggak ada yang nanya. Di kampung, kalau kamu nenun kain tujuh gunung, namamu ada di kartu. Ada orang di kota besar yang beli kainmu dan nanya, ini tangan siapa. Kamu pencipta, Warni. Bukan mesin yang dikasih tangan."
Warni menatap piringnya lama. Lalu ia berkata, dengan kejujuran yang menyakitkan, "Mbak, aku ngerti yang Mbak omongin. Beneran. Tapi gaji pasti itu... walau lagi dipotong, masih ada. Tanggal sekian, masuk. Aku bisa rencanain. Kalau aku pulang, aku pulang ke yang belum tentu. Mbak bilang ada pembelinya, tapi Mbak juga baru mulai. Gimana kalau bulan depan nggak ada yang beli? Aku udah ninggalin yang pasti buat yang mungkin." Ia mengangkat wajah, matanya basah tapi keras. "Aku udah pernah ninggalin kampung buat yang katanya pasti. Sekarang Mbak suruh aku ninggalin yang pasti buat kampung. Aku capek dijanjiin, Mbak."
Kalimat itu menohok Sekar, karena ia mengenalinya. Itu kalimatnya sendiri, di lobi rumah sakit, di hadapan Bagas. Aku capek ditawari jalan keluar yang ternyata jebakan. Dan kini ia berada di pihak yang lain—pihak yang menawarkan, yang meminta seseorang mempertaruhkan yang pasti untuk yang mungkin. Ia mengerti, dengan rasa malu yang dingin, betapa mudahnya menawarkan dari kursi yang aman.
"Kamu bener," kata Sekar akhirnya, dan ia melihat Warni terkejut. "Aku nggak bisa janji pasti. Aku nggak akan bohong dan bilang aku bisa. Yang aku punya cuma ini." Ia mengeluarkan ponselnya, menunjukkan pesan Bu Renata, foto kain dipakai di acara kota besar, angka yang masuk ke kas. "Bukti kecil, bukan janji besar. Aku nggak minta kamu pulang sekarang. Aku cuma minta kamu inget: kalau pabrik makin nyusut, kalau PHK beneran datang, kampung ada. Dan di kampung, kalau gagal, kita gagal bareng di rumah sendiri, bukan dirumahin sendirian di kota."
Ia pulang ke lereng malam itu tanpa jawaban pasti, dan ia tak memaksanya—karena ia tahu, lebih dari siapa pun, bahwa jawaban yang dipaksa adalah jawaban yang akan menyesal. Tapi di bus yang membawanya naik ke pegunungan, dalam gelap dan dingin yang ia kenal, Sekar merasakan sesuatu yang bukan kekalahan. Ia telah membuka pintu. Ia tak bisa menyeret Warni masuk; tapi ia telah memastikan pintu itu terbuka, dan terlihat, dan tak terkunci—agar ketika yang pasti di kota akhirnya runtuh, Warni tahu ke mana harus melangkah, dan tahu bahwa di lereng ada seseorang yang menunggunya dengan bukti di tangan, bukan janji di mulut.