Jawaban Warni datang tiga minggu kemudian, dan datang dengan cara yang membuat Sekar tak bisa menyebutnya kemenangan.
Pabrik melakukan apa yang sudah lama mengintai: PHK gelombang pertama. Yang masuk belakangan dipulangkan duluan, persis seperti yang Warni takutkan. Warni termasuk. Begitu juga seorang temannya, Yanti—gadis dari kampung sebelah, Watu Lawang juga dulunya keluarga penenun, yang Sekar kenal samar dari masa kecil. Dalam satu hari keduanya kehilangan yang pasti itu, gaji pasti yang demi kepastiannya mereka tinggalkan lereng empat tahun lalu, dan yang pasti itu ternyata pasti hanya selama merek di seberang lautan memutuskan untuk tetap memesan.
Warni menelepon, bukan menulis kali ini, dan suaranya datar dengan kelelahan yang Sekar kenal. "Mbak, pabrik nutup sebagian. Aku sama Yanti dirumahin. Pesangonnya nggak seberapa, habis buat bayar kos sama balik kampung. Mbak... tawaran Mbak masih ada?"
Masih ada. Sekar mengatakannya tanpa ragu, dan setelah menutup telepon ia duduk lama, karena di dadanya bercampur dua hal yang tak nyaman berdampingan. Kelegaan—tangan muda akan pulang, kampung akan punya lebih dari tiga pasang tangan tua. Dan rasa getir, karena ia tahu persis bentuk kepulangan ini. Warni dan Yanti tidak pulang karena terpanggil, tidak pulang karena yakin tenun punya masa depan, tidak pulang karena cerita kartu menyentuh hati mereka. Mereka pulang karena pabrik membuang mereka, dan kampung adalah pilihan terakhir, bukan pilihan pertama. Sekar mendapatkan tangannya bukan karena ia menang dalam perebutan hati, tapi karena lawannya tersandung.
Mereka pulang minggu berikutnya, turun dari bus dengan tas-tas yang isinya seluruh hidup mereka di kota selama empat tahun, dan Sekar menyambut mereka di mulut gang. Warni memeluknya singkat, canggung. Yanti hanya mengangguk, matanya menyapu kampung—rumah-rumah panggung, kolong dengan ATBM, jalan tanah—dengan ekspresi seseorang yang kembali ke tempat yang dulu ia tinggalkan justru untuk pergi, dan kini terpaksa pulang ke sana sebagai kekalahan.
Sekar tak berpura-pura tak melihatnya. Malam pertama, saat mereka makan bersama di rumah Mbah Sumirah, ia berkata terus terang, "Aku tahu kalian nggak pulang karena pengen. Kalian pulang karena kepaksa. Nggak apa-apa. Aku juga pulang karena kepaksa—Mbah sakit, bukan karena aku kangen tenun." Ia menatap keduanya. "Tapi alasan orang datang nggak nentuin alasan orang tinggal. Aku pulang kepaksa, sekarang aku di sini karena milih. Mungkin kalian juga bakal gitu. Mungkin nggak. Kita lihat. Yang penting sekarang kalian punya tempat, ada kerjaan, ada makan. Sisanya pelan-pelan."
Kepulangan itu getir, tapi kegetiran itu jujur, dan Sekar lebih percaya pada yang jujur daripada yang manis.
Lalu mulailah pekerjaan yang lebih sulit dari memanggil mereka pulang: melatih ulang tangan mereka.
Di sinilah Sekar belajar sesuatu yang tak ia duga. Ia mengira Warni dan Yanti, yang pernah diajari menenun sebagai anak sebelum pergi, akan lebih cepat dari dirinya sendiri kembali ke tenun. Ternyata empat tahun di pabrik tidak meninggalkan tangan mereka kosong—justru sebaliknya, empat tahun itu mengisi tangan mereka dengan kebiasaan yang harus dibongkar lebih dulu sebelum diisi ulang. Di pabrik, tangan dilatih untuk cepat. Mesin jahit berputar ribuan jahitan per menit, target produksi diukur per jam, dan tangan yang lambat adalah tangan yang dimarahi mandor. Empat tahun mereka dilatih bahwa cepat adalah baik, bahwa berhenti untuk merasakan adalah membuang waktu, bahwa seragam adalah sempurna.
Dan tenun menuntut yang sebaliknya. Tenun menuntut lambat. Menuntut tangan berhenti, merasakan tegangan benang, mendengar derit, membaca kapan teropong harus pelan dan kapan boleh cepat. Tenun menuntut menerima bahwa tiap helai berbeda, bahwa tak-seragam bukan cacat melainkan tanda tangan. Tangan Warni, ketika ia mulai menenun, bergerak terlalu cepat, menarik teropong dengan tergesa, menabrak pakan dengan kekuatan mesin sampai benang tegang tak rata. Hasilnya kain yang rapat di satu tempat dan renggang di tempat lain—tenunan yang dibuat oleh tangan yang masih berpikir seperti mesin.
"Pelan, Warni," kata Bu Ngatiyem, yang Sekar minta mengajar—karena tangan tua yang tak pernah tahu kecepatan mesin justru paling tahu cara mengajarkan kelambatan. "Tenun bukan kejar setoran. Tenun nungguin benang. Kamu yang ngikut benang, bukan benang yang ngikut kamu. Di pabrik kamu maksa kain jadi cepat. Di sini kamu nemenin kain jadi pelan."
Benturan tempo itu tak mudah, dan ada hari-hari Yanti melempar teropong dengan frustrasi, ada hari-hari Warni menangis diam karena tangannya menolak melambat, karena empat tahun lebih kuat dari ingatan masa kecil. Sekar mengawasi, dan ia paham bahwa ini bukan sekadar melatih tangan—ini membongkar cara seluruh tubuh memahami kerja, dari kerja yang diukur kecepatan ke kerja yang diukur kesabaran. Tapi ia juga melihat, pada hari-hari yang baik, sesuatu mulai bergeser: saat Warni untuk pertama kalinya berhasil menenun satu jengkal yang rata, dan berhenti, dan menatapnya, dan ada sesuatu di wajahnya yang tak pernah ada di pabrik—bukan kelelahan setelah memenuhi target, tapi sesuatu yang lebih dekat ke bangga. Kampung mendapatkan dua tangan kembali. Tangan yang harus diajari lupa cepat sebelum diajari ingat sabar—tapi tangan, dan tangan adalah awal.