Dengan dua tangan muda yang harus dilatih ulang, dan dengan bayangan tangan-tangan lain yang mungkin menyusul jika pabrik terus menyusut, Sekar menyadari kampung tak bisa lagi mengandalkan cara lama mewariskan tenun: satu murid menempel pada satu guru selama bertahun-tahun, menyerap lewat sentuhan dan diam, sampai tangan murid menjadi tangan guru. Cara itu indah, dan dalam, dan menghasilkan penenun sejati—tapi cara itu makan tahun, dan kampung tak punya tahun. Kampung punya pesanan yang menunggu dan utang yang menyusut terlalu lambat.
Maka ia memulai sesuatu yang ia, dalam hati, menyebutnya sekolah tenun kecil—meski ia tak pernah mengucapkan kata sekolah di depan para penenun tua, yang akan mengernyit pada apa pun yang berbau kantoran dan kota.
Susunannya sederhana. Tiap pagi setelah subuh, di kolong rumah Mbah Sumirah yang ATBM-nya paling banyak, Bu Ngatiyem dan Bu Lastri mengajar yang paling dasar dan paling sulit: ikat dan celup. Bu Ngatiyem mengajar mengikat motif—mulai dari yang sederhana, kawung dan garis lurus, jauh sebelum menyentuh tujuh gunung. Bu Lastri, yang tangannya lebih lembut dan kesabarannya lebih panjang, mengajar tarum: cara meracik, cara mencelup, cara membaca warna yang berubah dari hijau ke biru di udara, cara menjemur agar warna mengunci. Dan Sekar mengajar yang tak bisa diajarkan tangan tua karena mereka tak pernah membutuhkannya: cara membaca selera, cara membedakan kain yang layak bernomor dari kain yang harus turun kelas, apa yang dilihat pembeli kota saat memegang kain, mengapa cacat tertentu memaafkan dan cacat lain membunuh harga.
Ketegangan muncul cepat, dan Sekar sudah menduganya. Itu ketegangan antara dua tempo, dua filosofi tentang apa artinya belajar tenun.
Bu Ngatiyem mengajar seperti ia diajar: lambat, lengkap, tanpa kompromi. Seorang murid tak boleh menyentuh tujuh gunung sebelum bertahun menguasai yang dasar. Seorang penenun sejati butuh lima tahun, sepuluh, sebelum tangannya benar-benar bisa dipercaya. "Aku diajar gitu, Mbahmu diajar gitu, semua penenun bener diajar gitu," katanya pada Sekar. "Kamu mau bikin penenun dalam tiga bulan? Itu bukan penenun. Itu tukang tenun setengah jadi yang bikin kain jelek dan ngerusak nama kampung."
Dan Bu Ngatiyem benar—itu yang membuatnya sulit. Sekar tak bisa membantah bahwa tangan yang dilatih terburu menghasilkan kain yang buruk. Ia telah melihatnya pada tenunannya sendiri, pada tenunan Warni yang masih berpikir seperti mesin. Tapi Sekar juga tak bisa membantah kenyataan lain: kampung tak punya lima tahun. Warni dan Yanti butuh menghasilkan kain yang layak jual dalam bulan, bukan tahun, atau mereka tak bisa digaji, dan jika tak bisa digaji mereka akan kembali ke kota, dan jika mereka kembali kampung kehilangan tangan mudanya lagi.
Mereka bertabrakan di kolong suatu pagi, di hadapan Warni dan Yanti yang menunduk canggung di antara dua perempuan yang memperebutkan masa depan mereka. Bu Ngatiyem menuntut Warni mengulang ikatan kawung untuk kesekian kali, sempurna, sebelum boleh maju. Sekar berkata Warni perlu menghasilkan kain yang bisa dijual—tak perlu tujuh gunung, tak perlu sempurna untuk bernomor, tapi cukup baik untuk pasar yang lebih rendah, agar ada pendapatan, agar ada gaji, agar Warni tak putus asa dan pergi.
"Kamu mau jual kain setengah jadi," kata Bu Ngatiyem, suaranya tajam. "Kamu mau ulang kesalahan kamu sendiri."
Dan kalimat itu menghentikan Sekar, karena ia tahu apa yang Bu Ngatiyem maksud—hari obral, kain Bu Lastri yang dilego jadi taplak. Bu Ngatiyem mengingatkannya bahwa terburu menjual yang belum matang adalah dosa yang sudah pernah Sekar buat.
Tapi kali ini Sekar tak mundur, karena ia melihat perbedaan yang Bu Ngatiyem belum lihat. "Bukan, Bu," katanya, pelan tapi tegas. "Dulu saya jual kain sakral murah. Itu salah. Ini beda. Saya nggak mau jual kawung Warni sebagai tujuh gunung. Saya mau jual kawung Warni sebagai kawung—kain bagus untuk pasar yang lebih sederhana, dengan harga yang jujur, bukan dengan nama yang dipinjam. Tujuh gunung tetap cuma buat tangan yang udah matang. Warni belajar di kawung dulu, jual kawung dulu, sampai tangannya siap. Yang sakral kita simpan. Yang dasar kita pakai buat hidup sambil belajar."
Bu Ngatiyem diam, dan Sekar melihat sesuatu bergeser—bukan persetujuan penuh, tapi pertimbangan. Karena yang Sekar usulkan tidak melanggar pakem; ia justru menjaganya. Tujuh gunung tetap di tangan matang. Yang muda belajar dan menghasilkan dengan motif sederhana yang memang boleh untuk pemula, dijual sebagai dirinya sendiri, bukan menyamar jadi yang sakral.
Mereka berkompromi pada pagi itu, dan kompromi itu menjadi aturan sekolah tenun kecil: motif sederhana untuk pemula, dijual jujur sebagai motif sederhana dengan harga yang sesuai, menjadi jalan bagi tangan muda untuk belajar sambil menghasilkan. Tujuh gunung disimpan, dijaga, hanya untuk tangan yang telah membuktikan diri lewat bertahun—atau, dalam kasus mendesak kampung, lewat ketekunan yang luar biasa yang Bu Ngatiyem sendiri akan menilai. Kelambatan tradisi dan kebutuhan pasar tidak benar-benar berdamai—ketegangan itu akan selalu ada, Sekar tahu, denyut yang menyertai tiap keputusan—tapi mereka menemukan tempat di mana keduanya bisa berdiri tanpa saling mematikan. Yang sakral dijaga utuh oleh kelambatan. Yang sederhana dilepas untuk menghidupi sambil tangan matang. Dua tempo, satu kolong, dan derit ATBM yang—untuk pertama kalinya sejak Sekar pulang—mulai terdengar dari lebih dari tiga arah.